Jatuh Cinta di Tanah Lada
Tak Ada Awal di Hujung 2
“Maaf,” ujar Atikah lirih.
Lalu keduanya terjebak dalam lamunan masing-masing. Sayup terdengar suara musik dan alunan lagu berbahasa Lampung yang berasal dari lokasi Pesagi Festival Culture.
Nursan memandang jauh seakan menembus Gunung Pesagi yang tampak begitu maskulin. Perlahan kepalanya mulai bisa mencerna situasi. Mengurai pertemuannya dengan Atikah dan menafsirkan pertanyaan Atikah barusan.
“Tik, kita sudah berakhir di Lipek Pageh. Tamat. Aku turut berduka dan prihatin atas kepergian suamimu. Jujur, aku nggak tahu dan nggak bisa menebak tujuan kamu sebenarnya datang ke sini tuh apa. Tapi, kalau ada sedikit saja benih harapan tentang hubungan kita yang tumbuh di pikiran kamu, tolong bunuh sebelum benih itu bertunas. Kamu juga tak perlu risau dengan keadaanku yang masih belum menemukan jodohku.” Nursan berhenti sejenak, menghela napas. “Aku percaya, kalau memang ada seseorang yang ditakdirkan untukku, semesta akan punya caranya sendiri untuk menyatukan kami.”
Sekelebat kenangan melintas di benak Nursan. Bagaimana dulu dia menyusul Atikah ke Lipek Pageh namun dia malah dipaksa untuk menceraikan Atikah yang masih berstatus sebagai istrinya. Abak hanya diam meskipun Nursan tahu abak juga terluka. Terlalu banyak hal yang harus dikorbankan jika Nursan dan Atikah tetap memaksa ingin kembali bersama.
“Kamu membenciku?”
“Sampai beberapa tahun lalu, mungkin iya. Tapi saat ini, jangankan benci, sisa cinta pun sepertinya sudah tandas. Percaya atau tidak, benci itu adalah perasaan cinta yang terbalik. Kita harus mencintai dulu baru bisa membenci. Aku sudah pernah mencintaimu sampai pada batas aku membencimu. Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku sekarang, tak ada lagi benci karena semuanya sudah berlalu.”
“San, apa sudah nggak ada sama sekali kesempatan kedua untuk kita? Saat ini, aku mungkin bisa ikut denganmu tinggal di sini. Kita mulai lagi dari awal.”
“Tak ada awal di Hujung atau di mana pun.”
“Aku sempat berpikir, takdir kembali mempertemukan kita supaya kita bisa memulai lagi hubungan kita dan mewujudkan mimpi yang sempat kita bangun.”
“Kenapa kamu tidak berpikir sebaliknya? Takdir pertemuan kita ini adalah cara semesta menunjukkan bahwa kita memang tidak berjodoh sebagai pasangan hidup. Maaf ya, Tik, mungkin kata-kataku ini terdengar kasar dan menyakitkan. Aku cuma mau ngasih kejelasan. Mari kita sama-sama melanjutkan hidup. Toh, lebih dari sepuluh tahun ini kita baik-baik saja.” Nursan menarik napas dalam, “Sudah menjelang siang, Tik. Lebih baik kita balik.”
Atikah tak menjawab. Namun tak juga membantah saat Nursan berdiri, menuruni tangga, dan berjalan menyusuri pematang sawah. Dalam diam, Atikah tetap mengikuti langkah Nursan.
Hubungan yang mereka kukuhkan di Jatinangor, berpisah di Lipek Pageh dan kini benar-benar tamat di Pekon Hujung. Atikah mendekap hatinya. Kali ketiga hati yang dia miliki harus kembali patah. Terluka dan berdarah. Entah ini karma atau buah yang harus dia tuai karena pernah meninggalkan Nursan dan memilih keluarga serta Firman.
***
Arum terhanyut menikmati penampilan para peserta nyambai ketika Nursan tiba-tiba saja duduk di kursi sebelah kanannya.
“Udah macam jelangkung aja, datang nggak diundang tahu-tahu ada di sini,” gerutu Arum sambil melirik ke arah Nursan.
“Beres diskusinya?”
“Beres dong. Makanya aku bisa nonton lomba nyambai di sini.”
Nursan mencondongkan tubuhnya, sedikit mendekat ke Arum. "Kamu tahu nyambai itu apa, Rum?"
"Apa itu?" Arum balik bertanya, menoleh pada Nursan, berusaha mengalahkan riuhnya suara musik yang mengiringi para peserta nyambai.
"Berasal dari kata cambai. Kalau dalam Bahasa Lampung, cambai itu artinya sirih. Kamu tahu, selama ini sirih itu simbol keakraban bagi masyarakat Lampung."
“Tapi aku lihat mereka yang di atas panggung itu nggak ada yang makan sirih.”
“Aku tanya, di generasi kita saja, berapa banyak sih yang mengenal sirih? Apalagi anak-anak sekarang. Jangan-jangan bentuk sirih pun mereka nggak tahu.”
“Bisa jadi. Kalau begitu, sekarang nyambai sudah nggak pakai sirih lagi ya?”
“Nggak.”
“Tadi saat diskusi, aku sempat ngobrol sama Pak Eka. Beliau bilang, nyambai bisa jadi ajang cari jodoh. Betul?”
“Betul. Tari Nyambai, atau yang sering disebut nyambai oleh warga sini, itu tari yang dilakukan oleh kelompok pasangan gadis (muli) dan bujang (mekhanai). Mereka biasa bertemu dan berkumpul saat nyambai diadakan, terutama di acara adat seperti perkawinan. Banyak muli mekhanai, yang sebelumnya tinggal di perantauan, akhirnya saling kenal dan berjodoh lalu menikah lewat acara ini. Jadi bisa dibilang, nyambai itu semacam ajang pertemuan buat para muli dan mekhanai mencari jodoh.”
“Kamu sendiri?”
“Hmmm. Kenapa dengan aku?”
“Kenapa kamu nggak mencari jodoh dengan ikutan nyambai?”
“Kamu pikir aku mau?”
“Siapa tahu kamu bisa ketemu jodoh di sana.”
“Coba kamu balik ke kamarmu. Di sana ada kaca kan? Kamu bisa ngaca sambil tanya ke diri sendiri. Kenapa kamu nggak ikutan nyambai, siapa tahu kamu juga bisa dapat jodoh.”
“Sialan.”
Nursan terbahak. Arum terpana. Sudah lama sekali tidak melihat raut muka bahagia Nursan disertai renyah tawa yang menular.
Semesta kenangan Arum melayang ke masa sekolah dulu. Seingatnya, Nursan adalah tipe pemaksa. Harus diakui, dulu hampir setiap hari Nursan menjejali Arum dengan cerita tentang kampung halamannya. Nursan mengabaikan wajah Arum yang jelas-jelas merasa terganggu.
“Kalau kamu tinggal di Lampung, kamu harus tahu tentang Lampung.” Nursan mengucapkan kalimat itu saat Arum misuh-misuh.
Misi besar Nursan kala itu sepertinya me-Lampung-kan Arum. Bagi Nursan, mengenalkan Lampung ke Arum memiliki tantangan tersendiri. Arum bahkan tidak memahami Bahasa Lampung sedikit pun. Sampai mereka lulus SMA, Arum tetap Arum yang berhasil membuat Nursan fasih berbahasa Sunda dan menjadi modal besar saat Nursan melanjutkan kuliah di Jatinangor.
Nursan adalah teman sekelas di SMA. Dengan bangga, dia mengaku putra Liwa asli. Darah murni. Liwa yang jauh dari Tanjungkarang tempat mereka tinggal, menjadi sebuah tempat yang menurut Arum berada di antah berantah. Masih berdasarkan informasi dari Nursan, gempa bumi di awal Ramadan tahun 1994-lah yang mampu membuat semua mata berpaling memperhatikan Liwa.
“Kamu bayangkan, waktu itu emakku baru selesai masak untuk sahur. Aku dan adikku masih tidur. Aku bangun mendengar teriakan bak sama emak. Sepertinya mereka kaget saat merasakan bumi yang seperti disentak. Aku juga takut. Bumi bergoncang hebat, kayak digoyang-goyang gitu. Aku hitung, lebih dari tiga kali bumi bergoyang. Kami berlarian keluar. Aku bersyukur karena rumahku tidak hancur.”
Nursan menggambarkan dahsyatnya gempa Liwa dengan begitu heroik. Tiap kali ada kesempatan ngobrol, Arum akan hanyut dalam cerita Nursan.
“Kakakku kuliah di Karang. Dia pulang karena mendengar kabar ada gempa di kampung kami. Kata kakakku, dia jalan kaki dari Sekincau. Jaraknya jauh. Tapi mau bagaimana lagi, mobil nggak bisa masuk. Pokoknya, Liwa itu kayak dikunci longsoran tanah. Bantuan pun cuma bisa lewat udara. Banyak tentara dan polisi yang berjuang menembus daerah-daerah terparah akibat gempa.”
***