Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Wajah dibalik Layar
Rumah masih sunyi seperti biasanya, namun ada sesuatu di udara yang terasa lebih tegang dari hari-hari sebelumnya. Para pengawal terlihat lebih sigap, langkah mereka lebih cepat dan komunikasi melalui alat di telinga mereka terdengar lebih sering meski tetap dalam nada rendah.
Claudia tidak terlalu menyadari perubahan itu saat ia berjalan menuju ruang makan. Ia masih mengenakan gaun sederhana berwarna lembut, rambutnya tergerai rapi di bahu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan banyak pikiran yang belum selesai.
Ia duduk di kursinya seperti biasa, Bibi sudah menunggu dengan senyum lembut, meski hari itu senyum itu terasa sedikit dipaksakan.
“Pagi,” sapa Bibi pelan.
“Pagi, Bi,” jawab Claudia.
Sarapan tersaji rapi di hadapannya. Roti, buah, dan teh hangat. Semua terlihat sempurna, seperti setiap hari. Tapi Claudia tidak langsung menyentuh makanannya.
Di sudut ruangan, televisi menyala.
Awalnya hanya menjadi suara latar namun hari itu, suara dari televisi terasa lebih jelas, lebih… menarik perhatian.
“...hari ini menjadi momen penting dalam dunia politik, ketika salah satu tokoh berpengaruh kembali muncul ke hadapan publik…”
Claudia mengangkat sedikit wajahnya, matanya mulai fokus ke arah layar. Bibi yang melihat itu tampak ragu tapi tidak mematikan televisi.
“...dengan latar belakang sebagai pengusaha besar dan figur yang cukup tertutup, kehadiran beliau kali ini menimbulkan banyak spekulasi…”
Claudia berhenti mengunyah. Perlahan, ia menoleh sepenuhnya ke arah televisi. Suasana di layar tampak ramai, wartawan berdesakan, kamera berkilat, suara orang-orang saling bersahutan.
Sebuah konferensi pers besar dan saat kamera menyorot ke depan podium, Claudia membeku. Itu ayahnya?
Jackson berdiri tegap di sana, mengenakan jas hitam rapi. Wajahnya dingin namun penuh wibawa, ia tampak berbeda bukan sosok yang diam dan jauh seperti di rumah tapi seseorang yang… memegang kendali.
Claudia tidak berkedip, tangannya yang memegang cangkir perlahan menurun tanpa ia sadari.
“Bi…” suaranya lirih.
Bibi menoleh cepat, Claudia tidak langsung berkata apa-apa, ia hanya menunjuk ke arah televisi.
“Boleh… dikeraskan?”
Bibi ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. Ia menaikkan volume televisi, suara menjadi jelas.
“Selamat pagi,” suara Jackson terdengar tegas dari layar.
Claudia menelan pelan, ia belum pernah mendengar nada suara ayahnya seperti itu, tenang, jelas namun terasa jauh.
“Terima kasih atas kehadiran Anda semua hari ini,” lanjut Jackson.
Ia mulai berbicara tentang kondisi negara, tentang ekonomi, tentang perubahan yang ia yakini perlu dilakukan, kata-katanya tersusun rapi, penuh keyakinan.
Claudia tidak sepenuhnya memahami isi pembicaraannya namun ia mengerti satu hal Ayahnya bukan orang biasa, ia adalah seseorang yang didengar, yang diperhatikan, yang penting dan paling sibuk.
“...dan setelah melalui banyak pertimbangan,” suara Jackson kembali terdengar jelas, “hari ini saya menyatakan langkah besar yang akan saya ambil.”
Ruangan di televisi menjadi lebih riuh, para wartawan mulai bersiap. Claudia tanpa sadar menahan napas. “...saya akan mencalonkan diri sebagai Presiden.”
Hening, segalanya terasa berhenti Claudia hanya menatap layar.Presiden? Kata itu terasa terlalu besar untuk dunia kecilnya.
“Bi…” suaranya hampir tidak terdengar.
“Iya?” jawab Bibi pelan.
Claudia masih menatap televisi.
“Itu… ayahku?” Bibi terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya membawa banyak hal.
“Iya,” jawab Bibi akhirnya, saat dia hendak mematikan saluran televisi Claudia menahannya.
Claudia menunduk, tangannya perlahan mengepal di atas meja.
Selama ini… Ia hanya mengenal ayahnya sebagai sosok yang jarang pulang dan penuh larangan tapi di luar sana Ayahnya adalah seseorang yang diikuti banyak orang dan memiliki kekuasaan.
“Kenapa aku tidak pernah tahu…” gumamnya pelan. Bibi tidak menjawab.
Namun di televisi, situasi mulai berubah, salah satu pengawal mendekat ke arah Jackson, membisikkan sesuatu, sangat cepat, sangat singkat.
Namun cukup untuk membuat ekspresi Jackson berubah hanya sedikit. Jika tidak diperhatikan, mungkin tidak akan terlihat namun Claudia melihatnya, tatapan ayahnya mengeras, ada sesuatu yang berbeda.
Di sisi lain kota, di balik keramaian konferensi pers itu, situasi tidak sepenuhnya terkendali.
Salah satu pria berpakaian formal berdiri di sudut ruangan, memegang ponsel dengan wajah tegang.
“Pastikan ini tidak bocor ke media,” bisiknya cepat.
“Sudah, tapi dampaknya mulai terasa,” jawab suara dari seberang. Pria itu menatap ke arah panggung.
Jackson masih berbicara di depan publik, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Perusahaan kita diserang,” lanjut suara itu. “Saham turun drastis. Ada manipulasi dari pihak lawan.”
Pria itu mengatupkan rahangnya. “Sial…”
Ia melangkah cepat menuju sisi panggung.
Salah satu pengawal menghalanginya, tapi ia menunjukkan identitasnya.
Beberapa detik kemudian, ia berhasil mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Jackson.
****
Kembali ke ruang makan.
Claudia menatap layar tanpa berkedip, ia melihat momen itu, ketika seseorang mendekati ayahnya untuk membisikkan sesuatu.
Dan meski hanya sekilas ia tahu. Ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” bisiknya pelan.
Bibi menatap layar dengan wajah sedikit tegang, saat dia hendak mengambil remote Claudia sudah lebih dahulu mengambilnya.
“Biarkan aku melihatnya sebentar, Bi," ujar Claudia yang mengerti maksud bibinya.
“Tuan putri, sebaiknya tidak melihatnya bibi khawatir tuan tau," sergah bibi.
Selama ini semua orang sudah menyembunyikan identitas Claudia sebagai anak Jackson, sebab banyak ancaman di luar sana yang begitu membahayakan putri sahnya itu jika sampai ada yang mengetahuinya.
Namun Jackson tetap melanjutkan pidatonya. “Setiap langkah besar pasti memiliki tantangan,” ucapnya di depan publik.
Nada suaranya tetap tenang, tidak goyah. “Namun saya percaya, perubahan tidak bisa ditunda hanya karena rasa takut.”
Claudia mengernyit sedikit, ia tidak mengerti sepenuhnya tapi kata-kata itu terasa seperti bukan hanya pidato, seolah ada sesuatu yang sedang terjadi di baliknya.
Di ruang kontrol, Adrian juga melihat semuanya, matanya fokus pada layar, ia melihat dengan jelas bagaimana salah satu orang kepercayaan Jackson membisikkan sesuatu.
Dan ia tahu itu bukan hal kecil, Adrian segera meraih alat komunikasinya. “Perketat pengamanan,” ucapnya tegas. “Semua akses diperiksa ulang.”
“Siap.” Ia kembali menatap layar.
“Sudah mulai…” gumamnya pelan.
Jika lawan Jackson sudah bergerak sekarang, berarti bukan hanya Jackson yang terancam tapi juga Claudia.
Di ruang makan, Claudia masih duduk diam, ia tidak lagi menyentuh makanannya matanya masih terpaku pada layar.
“Ayah…” bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merindukan ayahnya, ia mulai mengkhawatirkannya dan tanpa ia sadari dunia yang selama ini ia lihat dari balik jendela mulai masuk ke dalam hidupnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.