Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Tekad untuk Bebas

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, setelah melihat ayahnya di televisi pagi tadi, pikiran Claudia tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah kembali ke kamarnya sejak sore, namun tidak ada satupun kegiatan yang benar-benar bisa mengalihkan isi kepalanya.

 

Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sendiri, menatap lantai tanpa fokus. Presiden?? 

 

Kata itu masih terus terngiang di kepalanya. Ayahnya, mencalonkan diri sebagai presiden.

 

Selama ini, ia hidup dalam rumah besar yang sunyi, dijaga ketat seperti sesuatu yang berharga, ia selalu berpikir bahwa ayahnya hanya seorang pria sibuk dengan pekerjaan yang tidak ia pahami.

 

Tapi sekarang semuanya terasa jauh lebih besar, jauh lebih rumit dan jauh lebih menakutkan.

 

Claudia bangkit perlahan, berjalan menuju jendela, ia membuka sedikit tirainya, menatap ke arah luar yang gelap, lampu taman menyala redup, bayangan pengawal terlihat bergerak pelan di kejauhan.

 

Ia memperhatikan lebih lama dari biasanya, untuk pertama kalinya ia tidak hanya melihat ia mulai memperhatikan.

 

Berapa orang yang berjaga, di mana posisi mereka berdiri, kapan mereka bergerak, semuanya ia simpan diam-diam dalam pikirannya.

 

“Kalau aku tetap di sini…” gumamnya pelan, “aku tidak akan pernah tahu apa-apa.”

 

Tangannya menyentuh kaca jendela, terasa dingin namun tidak lagi terasa asing, ia menghela napas panjang.

 

Hari ini telah mengubah sesuatu dalam dirinya, bukan hanya rasa penasaran tapi juga kesadaran.

 

Bahwa hidupnya, bukan sekadar dikurung tanpa alasan, ada sesuatu yang sedang disembunyikan dan semakin ia tidak tahu semakin ia merasa kehilangan dirinya sendiri.

 

Di luar kamar, langkah kaki pengawal terdengar lebih sering dari biasanya, pengamanan memang diperketat sejak berita pagi tadi.

 

Setiap sudut rumah dipastikan aman, tidak ada celah, tidak ada kesalahan. Adrian berdiri di lorong lantai dua, tidak jauh dari kamar Claudia.

 

Tangannya terlipat di depan dada, matanya sesekali mengarah ke pintu kamar itu.

 

Ia tahu, sejak pagi tadi Claudia pasti berubah, ia bisa melihatnya dari cara gadis itu menatap televisi.

 

Dari caranya diam, dari sorot matanya, bukan lagi sekadar gadis yang ingin keluar karena penasaran.

 

Tapi seseorang yang mulai mencari jawaban. Adrian menghela napas pelan.

 

“Ini akan semakin sulit…” gumamnya.

Namun ia tetap berdiri di tempatnya, untuk menjaga seperti yang seharusnya.

 

Di dalam kamar, Claudia berjalan menuju lemari, ia membukanya perlahan.

 

Deretan gaun mahal tergantung rapi di sana. Warna-warna lembut, kain yang indah semuanya terlihat seperti milik seorang putri.

 

Namun tidak ada satu pun yang benar-benar ia butuhkan. Tangannya menyusuri kain-kain itu, lalu berhenti pada satu bagian.

 

Di balik gaun-gaun itu, tersimpan pakaian yang lebih sederhana, tidak mencolok dan tidak mewah.

 

Ia mengeluarkannya, menatapnya cukup lama. “Kalau aku keluar lagi…” bisiknya pelan. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

 

Namun pikirannya sudah menyelesaikannya, kali ini ia tidak ingin tersesat, tidak ingin merasa ketakutan lagi.

 

Claudia melipat pakaian itu dengan rapi, lalu menyembunyikannya di dalam laci meja kecil di dekat tempat tidurnya.

 

Gerakannya hati-hati, seolah tidak ingin siapapun tahu, beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.

 

Tok. Tok.

Claudia menoleh. “Masuk,” ucapnya.

Pintu terbuka, bibi masuk dengan langkah pelan, membawa segelas susu hangat.

 

“Kamu belum tidur?” tanya Bibi lembut.

Claudia menggeleng kecil. “Belum ngantuk.”

 

Bibi meletakkan gelas di meja, lalu duduk di samping Claudia.

Beberapa detik mereka sama-sama diam. “Masih kepikiran tadi pagi?” tanya Bibi pelan.

 

Claudia tidak langsung menjawab, ia menatap tangannya sendiri. “Iya…” jawabnya akhirnya.

 

Suaranya pelan. “Bi…”

“Iya?”

Claudia menoleh. “Kalau Ayah jadi presiden, aku tetap harus di sini?”

 

Pertanyaan itu membuat Bibi terdiam, lagi-lagi dia merasa kesulitan untuk menjawab seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

 

“Bibi tidak tahu tuan putri,” jawabnya jujur.

Claudia tersenyum kecil namun kali ini, senyumnya tidak sedih.

Lebih seperti, menerima. “Bagaimana agar aku bisa mengetahuinya,” katanya pelan.

 

Ia menunduk. “Tapi aku tidak mau terus seperti ini.”

 

Bibi menatapnya. “Maksud tuan putri apa?”

Claudia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya,” ucapnya.

 

Suaranya tidak keras namun jelas dan tegas. Bibi terdiam, ia bisa melihat ada sesuatu yang berubah.

 

Claudia yang selama ini penurut, lembut dan selalu menerima, kini mulai punya keinginan sendiri.

 

Bukan memberontak tapi mulai mengusahakan kebebasannya. “Kamu harus hati-hati,” kata Bibi pelan.

 

Claudia mengangguk sambil tersenyum. “Iya bi, siap.”

Namun dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan.

 

Malam semakin larut, lampu kamar dimatikan namun Claudia belum tidur.

 

Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit, pikirannya terus berjalan, tentang ayahnya, dunia luar dan tentang hidupnya sendiri.

 

Dan perlahan, semua itu menyatu menjadi satu hal yaitu tekad Ia memejamkan mata.

 

Lalu berbisik pelan “Aku harus keluar lagi.”

Bukan karena nekat, bukan karena marah tapi karena ia ingin memahami.

 

Di luar kamar, Adrian masih berjaga, matanya sempat menoleh ke arah pintu Claudia.

 

Hening, tidak ada suara. Ia menghela napas pelan lalu berjalan menjauh perlahan namun tanpa ia sadari di balik pintu itu, ada seseorang yang sedang merencanakan langkah berikutnya.

 

Dan kali ini bukan sekadar mencoba tapi sudah bersiap dengan segala resikonya.

 

Malam itu berakhir seperti biasa, sunyi, tenang namun di balik ketenangan itu sesuatu telah berubah.

 

Claudia tidak lagi hanya bertanya, iya mulai mencari jawaban dan dari situlah perjalanan yang sebenarnya akan dimulai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!