Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Rasa Penasaran Claudia

“Ayah, aku rindu,” lirih Claudia saat ia berdiri di balik jendela kamarnya.

Pandangan matanya menembus kaca besar itu, menatap dunia luar yang selalu terasa begitu dekat… namun tidak pernah bisa ia sentuh. Di kejauhan, jalanan tampak lengang diselimuti kabut tipis pagi hari. Sesekali terlihat mobil melintas, orang-orang berjalan cepat dengan mantel tebal, menjalani kehidupan yang baginya terasa asing.

 

Claudia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh permukaan kaca yang dingin. Seolah-olah jika ia menekan sedikit lebih kuat, ia bisa menembusnya namun tentu saja, itu tidak mungkin.Ia menunduk pelan.

 

Selama ini, ia selalu ingin tahu sebenarnya siapa ayahnya, kenapa pria itu selalu datang dengan pengawal, dengan aura yang tidak pernah bisa ia pahami, kenapa setiap langkahnya selalu dijaga, seolah ada sesuatu yang mengintai di luar sana dan yang paling membuatnya bertanya-tanya kenapa ia tidak pernah diizinkan untuk ikut?

 

“Aku hanya ingin pergi sekali saja…” bisiknya lirih.

 

Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali sendirian, terlalu sunyi untuk disebut rumah, lebih terasa seperti sangkar.

 

Meski begitu, Claudia tidak pernah benar-benar memberontak, ia tumbuh menjadi gadis yang lembut dan penurut. Ia mengikuti semua aturan yang diberikan, menerima semua batasan yang ditetapkan. Hari-harinya diisi dengan hal-hal yang diajarkan oleh Bibi, menyulam kain dengan rapi, merawat tanaman di taman belakang, belajar memasak di dapur besar yang jarang benar-benar ramai. Ia belajar banyak hal.

 

Namun tidak pernah belajar tentang dunia.

Claudia menghela napas panjang, lalu berbalik dari jendela, ia berjalan menuju pintu kamar dan membukanya perlahan.

 

Lorong di luar tampak sepi, namun dua pengawal tetap berdiri di ujung koridor, tatapan mereka langsung tertuju padanya. Claudia menunduk sedikit, seperti biasa, lalu melangkah keluar dengan hati-hati. Ia tidak pernah benar-benar terbiasa dengan mereka, tatapan itu… selalu membuatnya merasa kecil.

 

Ia berjalan menyusuri lorong, lalu menuruni anak tangga dengan langkah pelan, setiap gerakannya terasa diawasi, meski tidak ada yang mengatakan apapun.

 

Di ruang bawah, suasana tidak jauh berbeda. Sepi, teratur seolah waktu berjalan lambat di dalam rumah ini. Claudia melirik ke sekeliling, ia tidak melihat Adrian. Entah kenapa, ia mencari sosok lelaki itu.

 

Dan entah kenapa juga ia merasa sedikit kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.

 

Claudia mengalihkan pandangannya, lalu berjalan menuju taman belakang, begitu pintu dibuka, udara dingin langsung menyambutnya. Aroma tanah dan rumput basah memenuhi inderanya.

 

Di sana, seperti biasa, Bibi sedang membersihkan taman. Wanita itu tampak sibuk menyapu daun-daun kering yang gugur, sesekali merapikan tanaman yang mulai tumbuh tidak beraturan.

 

Claudia mendekat perlahan. “Bi…”

 

Bibi menoleh dan langsung tersenyum hangat.

 

“Tuan putri sudah bangun? Dingin, ya. Harusnya pakai jaket dulu.”

 

Claudia hanya mengangguk kecil. “Aku tidak apa-apa.”

 

Ia berdiri di samping Bibi, memperhatikan wanita itu bekerja beberapa saat. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap berada di dekatnya.

 

Namun hari ini, ada sesuatu yang ingin ia katakan. “Bi… aku mau tanya sesuatu.”

 

Bibi menghentikan gerakannya. “Apa?”

 

Claudia menarik napas perlahan, lalu menatapnya. “Ayah itu, sebenarnya kerja apa ya?”

 

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa tekanan namun cukup untuk membuat suasana berubah.

 

Bibi terdiam. Claudia melanjutkan, suaranya tetap lembut.

“Kenapa dia selalu datang dengan banyak pengawal?”

 

Tidak ada jawaban.

“Kenapa aku tidak boleh ikut bersamanya?”

 

Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitar mereka.

 

Claudia menunduk sedikit. “Dan kenapa aku tidak dibolehkan keluar…” tambahnya pelan.

 

Bibi menghela napas panjang. “Ada hal-hal yang belum bisa kamu ketahui sekarang, Tuan putri.”

 

Jawaban itu lagi. Claudia tersenyum tipis, meski hatinya terasa sedikit kosong.

 

“Selalu begitu, ya…” ucapnya pelan.

Ia tidak marah, tdak juga memaksa. Ia hanya menatap taman di depannya, lalu berkata dengan suara yang tetap lembut. “Aku tidak akan bertanya lagi.”

 

Bibi menatapnya, sedikit terkejut. “Claudia…”

 

Claudia menggeleng pelan.

“Aku mengerti… kalau memang tidak ada yang mau menjawab.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi aku tetap ingin tahu.”

 

Tatapannya perlahan beralih ke arah gerbang taman yang terlihat dari kejauhan.

 

“Seperti apa dunia di luar sana…” Suaranya nyaris seperti bisikan.

“Seperti apa rasanya berjalan tanpa diawasi…” Hening sejenak.

 

Bibi menggenggam sapunya lebih erat.

“Kamu tidak tahu betapa berbahayanya dunia di luar.”

 

Claudia menoleh. “Kalau begitu… aku harus tahu, agar bisa bisa mengetahui alasan dari sikap ayah,” jawabnya pelan.

 

Tidak ada nada membantah, tidak ada emosi berlebihan hanya keyakinan. Bibi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

 

Claudia tersenyum tipis, lalu berbalik berjalan kembali ke dalam rumah.

 

Claudia tidak langsung kembali ke kamarnya setelah percakapan dengan Bibi pagi itu. Ia justru berhenti di balik pintu, memperhatikan dari celah kecil saat Bibi berjalan menuju arah belakang rumah. Gerakannya tenang seperti biasa, membawa tas kecil di tangannya. Langkahnya ringan, seolah sudah terbiasa melewati jalur itu.

 

Claudia mengernyit pelan, jarang sekali Bibi keluar.

Selama ini, hampir semua kebutuhan datang ke dalam rumah. Barang belanjaan, bahan makanan, bahkan kebutuhan kecil sekalipun selalu diantar. Jadi saat melihat Bibi pergi sendiri, rasa penasaran itu langsung tumbuh lebih besar.

 

Tanpa suara, Claudia melangkah pelan, menjaga jarak, ia mengikuti dari jauh, bersembunyi di balik dinding dan pilar, memastikan tidak terlihat oleh para pengawal, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya diam-diam keluar dengan niat sendiri.

 

Bibi membuka pintu belakang, Claudia berhenti sejenak. Pintu itu… jarang digunakan ia menelan ludah. Ini kesempatan.

 

“Aku harus pergi mengikutinya," kata Claudia pelan.

Ia menunggu beberapa detik sampai Bibi benar-benar keluar, lalu dengan hati-hati, ia bergegas menyelinap sebelum pintu itu tertutup sempurna. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!