Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Andrian Kembali
“Pelurunya habis!”
Suara salah satu pengawal menggema di tengah hujan dan dentuman tembakan yang memekakkan telinga. Area pelabuhan tua berubah kacau dalam hitungan menit. Percikan api muncul dari balik kontainer, suara langkah kaki bersahutan di lorong-lorong sempit, sementara orang-orang Eric terus bergerak mengepung dari berbagai arah.
Claudia berjongkok di balik tumpukan peti besi dengan napas gemetar. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya hingga rambut panjangnya menempel di pipi dan leher.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Ia bisa mendengar peluru menghantam kontainer tepat di atas kepalanya.
Tangannya dingin.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Claudia benar-benar merasa sangat dekat dengan kematian.
“Jangan keluar dari sini.”
Jackson berdiri di depan putrinya sambil terus mengarahkan pistol ke arah lorong gelap di depan mereka. Jas hitam mahal yang biasa membuatnya terlihat elegan kini basah kuyup dan penuh cipratan darah samar di bagian lengan.
Namun tatapan pria itu tetap tajam. Dingin. Dan mematikan. Dor!
Jackson menembak satu pria yang mencoba mendekat dari sisi kanan kontainer. Tubuh orang itu langsung jatuh menghantam genangan air.
Claudia refleks menutup mulutnya sendiri.
Napasnya tercekat.
Ia belum pernah melihat ayahnya seperti ini sebelumnya.
Bukan politisi terkenal.
Bukan pengusaha besar.
Tetapi seseorang yang benar-benar terbiasa hidup di tengah kekerasan.
“Tuan!”
Salah satu pengawal berlari mendekat sambil menahan bahunya yang berdarah.
“Mereka makin banyak!”
Jackson langsung menoleh cepat.
“Akses timur?”
“Ditutup.”
“Barat?”
“Ada sniper.”
Rahang Jackson mengeras.
Mereka benar-benar dijebak malam ini.
Dan Eric jelas sudah merencanakan semuanya dengan matang.
Di kejauhan, suara mesin kendaraan kembali terdengar memasuki area pelabuhan. Lampu-lampu mobil menyala terang menembus hujan deras.
Claudia langsung menegang.
“Masih ada lagi?”
Salah satu pengawal melihat ke arah datangnya kendaraan itu lalu wajahnya langsung berubah pucat.
“Brengsek!”
Jackson menyipitkan matanya.
Dua mobil hitam berhenti tidak jauh dari area kontainer. Beberapa pria turun sambil membawa senjata laras panjang.
Jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding sebelumnya.
Dan di tengah mereka seorang pria bertubuh tinggi keluar perlahan sambil memegang payung hitam.
Wajahnya samar tertutup bayangan malam.
Namun aura dingin dan tenangnya langsung membuat suasana berubah mencekam.
“Eric…”
Jackson mengucapkan nama itu dengan suara rendah penuh tekanan.
Claudia langsung menoleh cepat.
Itukah Eric Laurent?
Pria yang selama ini hanya ia dengar namanya.
Musuh terbesar ayahnya.
Orang yang membuat hidupnya berubah menjadi mimpi buruk.
Eric berdiri santai di tengah hujan seolah kekacauan malam itu hanyalah permainan kecil baginya. Jas abu gelapnya terlihat rapi tanpa noda sedikit pun.
Ia tersenyum tipis saat melihat Jackson dari kejauhan.
“Sudah lama sekali, Jackson.”
Suara pria itu terdengar tenang namun dingin.
Jackson langsung mengangkat pistolnya.
“Kalau mau bunuh saya, lakukan sekarang.”
Eric tertawa kecil pelan.
“Kalau saya mau kamu mati, kamu sudah mati dari tadi.”
Tatapan pria itu perlahan bergeser ke arah Claudia yang masih berdiri di belakang Jackson.
Dan saat itulah Claudia merasa tubuhnya membeku.
Tatapan Eric terasa menyeramkan.
Bukan marah.
Tetapi seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang sangat berharga.
“Jadi itu putri kamu…” gumam Eric pelan sambil tersenyum tipis. “Mirip ibunya.”
Jackson langsung berdiri lebih depan menutupi Claudia.
“Jangan lihat dia.”
Eric kembali tertawa kecil.
“Kamu masih sama seperti dulu.” Ia menggeleng pelan. “Selalu emosional kalau soal keluarga.”
Claudia menggenggam lengan ayahnya pelan.
Tangannya gemetar.
“Ayah…”
Jackson tidak menoleh.
Tatapannya tetap lurus ke arah Eric.
“Semua ini cuma buat nyakitin saya?”
“Bukan.” Senyum Eric perlahan menghilang. “Saya cuma mau kamu ngerasain kehilangan yang sama.”
Suasana mendadak terasa jauh lebih dingin.
Hujan turun semakin deras membasahi area pelabuhan.
Sementara Claudia mulai menyadari—
kematian ibunya benar-benar berhubungan dengan pria di depan mereka.
“Kamu gila…” suara Jackson berubah sangat rendah.
Eric tersenyum tipis.
“Dunia ini yang bikin kita jadi gila.”
Dor!
Salah satu pengawal Jackson tiba-tiba menembak ke arah Eric. Namun pria itu langsung ditarik mundur oleh anak buahnya.
Dan dalam hitungan detik suara tembakan kembali pecah di seluruh area.
Dor! Dor! Dor!
“Lindungi Nona Claudia!” teriak salah satu pengawal.
Jackson langsung menarik Claudia mundur cepat ke balik kontainer lain.
Peluru menghantam besi di sekitar mereka bertubi-tubi.
Claudia menjerit kecil saat percikan api muncul sangat dekat dari wajahnya.
“Jongkok!”
Jackson memeluk kepala putrinya sambil menahan tubuh gadis itu di bawah.
Napas Claudia mulai tidak teratur.
Air matanya bercampur air hujan.
Ia benar-benar ketakutan sekarang.
Sementara di sisi lain pelabuhan—
sebuah motor hitam melaju cepat membelah hujan malam.
Pria yang mengendarainya mengenakan hoodie gelap dengan wajah penuh luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.
Tatapannya dingin.
Dan penuh amarah.
Adrian.
Ia menghentikan motor tidak jauh dari area pelabuhan lalu langsung turun cepat. Dari kejauhan suara tembakan terdengar jelas.
Tatapan Adrian langsung berubah tajam.
Ia terlambat.
Vino yang turun dari mobil belakang langsung berjalan cepat mendekatinya.
“Orang-orang Eric udah nutup area depan!”
“Claudia di mana?”
“Masih sama Jackson.”
Adrian langsung mengambil pistol dari pinggangnya.
“Aku masuk.”
“Lo gila?” Vino menahan lengannya cepat. “Jumlah mereka banyak!”
Tatapan Adrian berubah dingin.
“Aku nggak peduli.”
Vino terdiam sesaat.
Ia tahu tatapan itu.
Tatapan seseorang yang akan tetap maju meski harus mati.
“Jackson bakal bunuh lo kalau lihat lo lagi.”
“Aku juga nggak peduli.”
Setelah mengatakan itu Adrian langsung berlari masuk ke area pelabuhan tanpa menunggu lagi.
Hujan deras membasahi tubuhnya dalam hitungan detik.
Suara tembakan terdengar semakin dekat.
Dan setiap langkah Adrian hanya dipenuhi satu pikiran—
Claudia.
Sementara itu di balik kontainer, Claudia mulai kesulitan bernapas karena panik.
“Ayah…”
Jackson langsung menoleh cepat.
“Lihat saya.”
“Aku takut…”
“Saya tahu.”
Suara Jackson terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi—
Dor!
Salah satu pengawal di dekat mereka tiba-tiba jatuh setelah tertembak di dada.
Claudia refleks menjerit.
“Tidak!”
Jackson langsung menarik Claudia semakin mundur.
Mereka mulai kehabisan orang.
Dan posisi mereka makin terpojok.
“Serahkan gadis itu, Jackson!”
Suara Eric terdengar menggema dari balik hujan.
“Mungkin saya bakal biarin kamu hidup.”
Jackson tersenyum dingin penuh kebencian.
“Sentuh dia sedikit aja, saya bakal bunuh kamu.”
Eric tertawa kecil.
“Kamu masih terlalu percaya diri.”
Langkah kaki mulai mendekat dari segala arah.
Claudia memegang tangan ayahnya erat-erat sekarang.
Tubuhnya gemetar hebat.
Dan saat itulah.Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan keras terdengar dari sisi kiri area pelabuhan.
Beberapa anak buah Eric langsung jatuh bersamaan.
Semua orang refleks menoleh.
Seseorang berjalan keluar dari balik bayangan hujan sambil memegang pistol.
Tatapannya tajam.
Wajahnya penuh luka.
Namun Claudia langsung mengenalinya hanya dalam satu detik.
“Adrian.”
Suara gadis itu hampir seperti bisikan kecil penuh tidak percaya.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai harapan kembali muncul di matanya.