Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Serangan Eric
“Aku mau pulang.”
Suara Claudia terdengar pelan saat mobil hitam yang mereka tumpangi meninggalkan gedung rahasia milik Jackson malam itu. Kota terlihat basah setelah hujan panjang sejak sore, sementara lampu-lampu jalan memantul samar di kaca jendela mobil.
Jackson duduk di samping Claudia dalam diam.
Sejak keluar dari ruangan bawah tanah tadi, putrinya hampir tidak bicara lagi. Wajah gadis itu pucat.
Tatapannya kosong dan Jackson tahu semua kenyataan yang baru saja ia tunjukkan malam ini terlalu berat untuk Claudia.
Namun ia juga sadar putrinya sudah tidak bisa terus hidup dalam kebohongan.
“Kita nggak kembali ke cabin,” ujar Jackson akhirnya sambil menatap lurus ke depan.
Claudia perlahan menoleh.
“Kenapa?”
“Tempat itu kemungkinan sudah diketahui orang Eric.”
Nada suara Jackson terdengar tenang seperti biasa, tetapi Claudia bisa merasakan ketegangan tersembunyi di baliknya.
“Aku capek pindah-pindah.”
Suara Claudia terdengar sangat lelah.
Jackson menatap putrinya sekilas sebelum kembali memandang jalan.
“Saya tahu.”
Claudia tertawa kecil hambar.
“Nggak.” Ia menggeleng pelan. “Ayah nggak tahu.”
Hening kembali memenuhi mobil.
Supir dan dua pengawal di depan memilih diam mendengar percakapan itu.
Mereka semua tahu hubungan Jackson dan Claudia sedang berada di titik paling rapuh sekarang.
“Aku bahkan nggak tahu rumah aku sebenarnya yang mana,” lanjut Claudia lirih sambil memandangi lampu kota di luar jendela. “Mansion itu terasa kayak penjara. Villa diserang. Apartemen juga.” Senyumnya tipis dan pahit. “Sekarang cabin juga nggak aman.”
Tatapan Jackson perlahan melembut sedikit.
Namun sebelum ia sempat bicara, suara ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pria itu langsung mengangkat panggilan tanpa melihat layar.
“Ya.”
Suara di seberang sana terdengar tergesa dan penuh panik.
“Tuan, ada pergerakan anak buah Eric di pelabuhan utara.”
Tatapan Jackson langsung berubah tajam.
“Berapa banyak?”
“Minimal enam kendaraan. Mereka juga nyerang salah satu gudang senjata kita.”
Rahang Jackson mengeras kecil.
“Ada kebocoran lagi?”
“Kemungkinan iya.”
Claudia langsung menoleh pelan begitu melihat perubahan wajah ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu ia kembali merasa takut.
“Siapkan tim,” ujar Jackson dingin. “Saya ke sana sekarang.”
Panggilan terputus.
“Ada apa?” tanya Claudia pelan.
Jackson diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab rendah,
“Eric mulai bergerak lagi.”
Jantung Claudia langsung berdegup sedikit lebih cepat.
Nama itu selalu membuat suasana berubah dingin.
Pria yang bahkan belum pernah benar-benar ia lihat, tetapi sudah menghancurkan hidupnya perlahan.
Mobil terus melaju membelah jalan kota yang basah.
Namun beberapa menit kemudian salah satu pengawal di depan tiba-tiba menegang.
“Tuan.”
Tatapan Jackson langsung terangkat.
“Apa?”
“Ada mobil ngikutin kita dari tadi.”
Suasana di dalam mobil langsung berubah sunyi.
Supir refleks mempercepat laju kendaraan.
Claudia langsung menggenggam ujung sweaternya pelan.
“Ngikutin?”
Pengawal depan memperhatikan kaca spion dengan tajam.
“Dua SUV hitam.”
Jackson langsung menoleh sedikit ke belakang.
Dan benar saja dua mobil hitam terlihat mengikuti mereka dari kejauhan.
Lampunya menyala terang di tengah jalanan malam yang sepi.
“Belok kanan.” Nada suara Jackson berubah dingin dan penuh kendali. “Jangan langsung ke safe house.”
Supir langsung mengangguk cepat.
Mobil mereka berbelok tajam memasuki jalan lebih kecil.
Namun dua kendaraan di belakang ikut membelok.
Jantung Claudia mulai berdegup semakin keras.
“Mereka masih ikut…”
“Tetap tenang.”
Jackson membuka jasnya perlahan lalu mengambil pistol dari balik pinggang.
Gerakan itu langsung membuat napas Claudia tercekat.
Meskipun sekarang ia sudah tahu dunia ayahnya penuh kekerasan, melihat Jackson memegang senjata tetap terasa mengerikan.
“Ayah…”
“Turun dan jongkok kalau saya bilang.”
Nada suara Jackson rendah namun tegas.
Dan itu justru membuat Claudia semakin takut.
Mobil melaju semakin cepat.
Hujan mulai turun lagi, membuat jalanan terlihat kabur dan licin.
SUV di belakang perlahan mendekat.
Lalu—
Dor!
Suara tembakan keras memecah malam.
Kaca belakang mobil langsung retak besar.
Claudia refleks menjerit kecil dan menunduk.
“Brengsek!” salah satu pengawal langsung mengangkat pistol.
“Tuan, mereka mulai nembak!”
Jackson langsung menarik Claudia turun lebih rendah ke kursi.
“Tetap di bawah!”
Suara tembakan kembali terdengar bertubi-tubi. Dor! Dor! Dor!
Mobil mereka berbelok tajam menghindari peluru.
Ban berdecit keras di jalan basah, tubuh Claudia hampir terpental dari kursi.
Ia memegang sisi kursi erat-erat sambil gemetar.
Semua suara terasa kacau, teriakan pengawal. Suara mesin dan dentuman peluru yang menghantam badan mobil.
“Mereka mau nyulik kita?” suara Claudia pecah panik.
Jackson tidak langsung menjawab, tatapannya fokus ke arah belakang namun rahangnya mengeras.Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Salah satu SUV tiba-tiba melaju sejajar di sisi kiri mobil mereka.
Jendela kendaraan itu terbuka. Seorang pria bersenjata langsung mengarahkan senapan.
“Turun!”
Dor!
Pengawal depan membalas tembakan cepat.
Kaca SUV musuh pecah, mobil itu oleng sedikit sebelum kembali stabil.
“Masuk jalan bawah!” teriak Jackson pada supir.
Mobil mereka langsung menuruni jalur sempit menuju area pelabuhan tua yang gelap dan sepi.
Kontainer-kontainer besar berdiri seperti bayangan hitam di tengah kabut hujan malam.
Namun itu justru membuat suasana semakin berbahaya.
Karena tempat seperti ini sempurna untuk penyergapan.
Dan Jackson menyadarinya. “Terlalu sepi,” gumamnya dingin.
Baru saja kata-kata itu keluar. Blam! Ledakan keras mengguncang sisi jalan depan mereka.
Mobil langsung membanting keras menghindari api.
Claudia menjerit kaget saat tubuhnya terbentur pintu.
“Pegangan!” teriak supir.
Salah satu ban mobil akhirnya pecah.
Kendaraan mereka berputar liar sebelum berhenti keras di dekat kontainer besar.
Suasana langsung sunyi beberapa detik.
Hanya suara hujan dan napas berat yang terdengar.
Claudia mengangkat wajah perlahan dengan kepala pusing.
“Ayah,”
Jackson langsung membuka pintu mobil cepat.
“Keluar!”
“Tapi—”
“Sekarang!”
Pengawal lain turun sambil membalas tembakan ke arah belakang.
Dor! Dor!
Percikan api muncul di badan kontainer.
Anak buah Eric mulai keluar dari kendaraan mereka sambil membawa senjata otomatis.
Jumlah mereka jauh lebih banyak.
Jackson langsung menarik tangan Claudia dan membawanya berlari di antara kontainer besar.
Air hujan membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik.
Claudia hampir tersandung beberapa kali karena panik.
“Ayah… aku takut,”
“Saya tahu.”
Jackson terus menggenggam tangan putrinya erat sambil melihat sekitar cepat.
Ia tahu mereka sedang dijebak.
Dan kali ini target utamanya jelas bukan dirinya. Melainkan Claudia.
“Tuan!” salah satu pengawal berlari mendekat sambil terengah. “Mereka nutup semua jalur keluar!”
Tatapan Jackson langsung mengeras. “Berapa orang?”
“Lebih dari dua puluh.”
Claudia langsung membeku mendengar nya dua puluh orang.
Mereka benar-benar datang untuk memburunya.
Suara langkah cepat mulai terdengar mendekat dari berbagai arah.
Lampu senter menyapu area gelap pelabuhan. “Cari gadisnya!”
“Jangan sampai lolos!” Tubuh Claudia mulai gemetar hebat.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai ia benar-benar merasa dirinya hanya beban yang membawa kehancuran ke manapun ia pergi.
Jackson langsung berdiri di depan putrinya sambil mengangkat pistol.
Tatapannya berubah sangat dingin.
Sangat berbahaya.
“Kalau mereka mendekat,” katanya rendah pada pengawalnya, “tembak mati.”
Namun bahkan Jackson sendiri tahu malam ini mungkin menjadi awal dari perang terakhir mereka melawan Eric Laurent.