Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Masa Kelam Sang Ayah

“Ayah pernah bunuh orang?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja keesokan paginya.

Suasana ruang makan cabin langsung membeku.

Sendok di tangan Bibi berhenti bergerak. Salah satu pengawal yang berjaga di dekat pintu refleks menundukkan kepala lebih dalam seolah pura-pura tidak mendengar.

Sementara Jackson yang baru saja duduk di ujung meja perlahan mengangkat tatapannya ke arah Claudia.

Gadis itu duduk diam di seberang meja dengan wajah pucat dan mata sembab karena semalaman tidak tidur namun tatapannya serius.

Ia benar-benar ingin tahu jawabannya.

“Dari mana kamu dengar pertanyaan seperti itu?” tanya Jackson rendah sambil tetap menatap putrinya.

Claudia tersenyum kecil hambar. “Ayah nggak jawab.”

Hening beberapa detik memenuhi ruangan.

Bibi terlihat gelisah. Wanita tua itu beberapa kali melirik Jackson dengan khawatir karena tahu percakapan seperti ini tidak akan berakhir baik.

Namun Claudia sudah terlalu lelah untuk berhenti sekarang.

Ia ingin tahu semuanya.

Tidak peduli seberapa menyakitkan kenyataannya.

“Aku udah nggak kecil lagi,” lanjut Claudia pelan sambil meletakkan cangkir tehnya di meja. “Kalau hidup aku terus diburu orang, aku berhak tahu sebenarnya Ayah itu siapa.”

Tatapan Jackson perlahan berubah lebih dingin.

“Saya ayah kamu.”

“Aku tahu.” Claudia mengangguk kecil. “Tapi aku nggak tahu sisi lain Ayah.” Jackson tidak langsung menjawab.

Pria itu mengambil gelas air di depannya lalu meminumnya perlahan, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Dari luar jendela, kabut pegunungan masih terlihat tebal sejak pagi. Cabin itu terasa sunyi dan dingin, sama seperti hubungan mereka sekarang.

“Dunia politik nggak sebersih yang kamu bayangin,” ujar Jackson akhirnya.

Claudia tertawa kecil hambar. “Aku udah mulai sadar.”

“Tapi itu nggak berarti saya pembunuh.”

“Jadi Ayah nggak pernah nyakitin siapa pun?”

Tatapan mereka kembali bertemu dan kali ini Jackson tidak mengalihkan pandangan.

“Saya pernah melakukan banyak hal buat bertahan hidup.”

Jawaban itu membuat dada Claudia terasa berat.

Karena itu bukan penolakan namun juga bukan pengakuan penuh.

“Termasuk Mama?”

Kalimat itu langsung membuat suasana berubah lebih tegang. Bibi refleks menunduk cepat.

Sementara rahang Jackson langsung mengeras kecil.

“Jangan bawa ibu kamu ke arah itu.”

“Tapi kematian Mama berhubungan sama dunia Ayah kan?”

Suara Claudia mulai melemah. “Semua orang selalu ngomong setengah-setengah.” Ia menggeleng pelan. “Aku capek nggak ngerti apa-apa.”

Jackson mengembuskan napas panjang lalu berdiri dari kursinya perlahan.

“Kamu mau tahu semuanya?” Claudia ikut berdiri pelan.

Tatapannya tetap lurus. “Iya.”

Beberapa detik Jackson hanya diam menatap putrinya.

Lalu tanpa berkata apa pun, pria itu berjalan keluar dari ruang makan.

Claudia langsung mengerutkan kening.

“Ayah?”

“Ikut saya.”

Cabin kembali sunyi saat mobil hitam meninggalkan area pegunungan beberapa saat kemudian.

Claudia duduk di kursi belakang bersama Jackson tanpa banyak bicara. Perjalanan terasa panjang.

Hujan kecil mulai turun lagi di sepanjang jalan, membuat suasana di dalam mobil terasa semakin muram.

Claudia beberapa kali melirik ayahnya diam-diam.

Namun Jackson hanya memandang lurus ke depan dengan wajah dingin seperti biasa.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Bahkan Claudia sendiri kesulitan membaca pria itu.

Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung tua di pusat kota.

Bangunan itu tampak kosong dari luar namun penjaga bersenjata terlihat berjaga di setiap sudut. Claudia langsung mengernyit kecil.

“Ini tempat apa?”

Jackson turun lebih dulu tanpa menjawab.

Claudia mengikuti dari belakang sambil memperhatikan sekitar dengan perasaan tidak nyaman.

Begitu masuk ke dalam gedung, suasana langsung terasa berbeda.

Lorong-lorong panjang dipenuhi pria bersetelan hitam.

Beberapa orang langsung menundukkan kepala hormat saat melihat Jackson lewat.

Dan untuk pertama kalinya Claudia benar-benar melihat sisi lain ayahnya.

Bukan kandidat presiden ramah yang muncul di televisi.

Tetapi seseorang yang ditakuti. “Ayah punya tempat kayak gini?”

“Mereka orang-orang yang bekerja buat saya.”

Nada suara Jackson terdengar datar namun justru itu yang membuat Claudia semakin tidak tenang.

Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan besar di lantai bawah.

Pintu besi terbuka perlahan dan langkah Claudia langsung terhenti.

Ruangan itu dipenuhi layar monitor, peta digital, serta meja besar penuh dokumen dan foto-foto berbagai orang penting.

Suasananya lebih mirip pusat operasi rahasia dibanding kantor biasa.

“Ayah,”

Claudia menatap sekitar dengan wajah pucat.

Jackson berjalan masuk lebih dulu lalu berdiri di depan salah satu layar besar.

“Selama bertahun-tahun,” katanya pelan, “saya hidup di dunia yang isinya pengkhianatan.”

Tatapan Claudia perlahan berubah. Jackson menekan salah satu remote kecil, beberapa foto langsung muncul di layar.

Foto ancaman. Mobil yang terbakar. Pria bersenjata dan foto ibunya. Napas Claudia langsung tercekat.

“Itu…” suaranya melemah.

“Ibu kamu.”

Jackson menatap layar itu cukup lama sebelum kembali bicara.

“Dia meninggal bukan karena kecelakaan.”

Meski Claudia sudah menduga itu, mendengar langsung dari ayahnya tetap terasa menghantam keras.

“Waktu itu saya baru mulai masuk politik,” lanjut Jackson rendah. “Dan saya terlalu percaya sama orang-orang di sekitar saya.”

Claudia perlahan mendekat ke layar.

Matanya mulai memerah lagi.

“Ibu kamu diledakkan di dalam mobil.”

Kalimat itu membuat tubuh Claudia langsung membeku.

Bibirnya sedikit gemetar.

Sementara Jackson tetap berdiri dengan tatapan gelap yang sulit dibaca.

“Saya ada di lokasi waktu itu.”

Suasana ruangan terasa semakin dingin.

“Saya lihat sendiri mobilnya terbakar.”

Untuk pertama kalinya suara Jackson terdengar retak sedikit di akhir kalimat.

Dan Claudia akhirnya sadar ayahnya belum pernah benar-benar sembuh dari kejadian itu.

“Saya nggak bisa nyelametin dia.”

Hening memenuhi ruangan.

Claudia menunduk pelan sambil menahan napas yang mulai tidak teratur.

Dadanya terasa sesak.

Ia tidak pernah membayangkan ibunya meninggal dengan cara seburuk itu.

“Siapa yang ngelakuin itu?” tanyanya lirih.

Tatapan Jackson perlahan berubah dingin.

“Orang-orang yang sekarang masih berusaha nyakitin kamu.”

“Eric…”

Jackson tidak menjawab langsung.

Namun diamnya sudah cukup jelas.

Claudia langsung memegang meja di dekatnya pelan karena tubuhnya terasa lemas.

“Ayah nyembunyiin aku karena takut aku dibunuh juga.”

“Ya.”

Jawaban itu terdengar sangat cepat, sangat yakin. Dan itu membuat mata Claudia kembali panas.

Jackson berjalan mendekat perlahan.

“Setelah ibu kamu mati, saya nggak peduli lagi soal apa pun selain memastikan kamu hidup.”

Tatapan pria itu terlihat jauh lebih jujur sekarang dibanding sebelumnya.

“Tapi dunia ini nggak sesederhana melindungi seseorang dengan kasih sayang.”

Claudia menunduk diam. Ia mulai memahami kenapa ayahnya berubah seperti sekarang.

Namun rasa sakitnya tetap ada. “Makanya Ayah jadi orang yang ditakuti.”

Jackson tersenyum kecil hambar. “Orang baik nggak bertahan lama di dunia saya.”

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.

Claudia perlahan mengangkat wajah dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat luka besar yang selama ini disembunyikan ayahnya di balik kekuasaan dan sikap dinginnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!