Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Sebuah Pengakuan
“Aku capek lari terus.”
Suara Claudia terdengar lirih di tengah udara dingin pegunungan. Langit malam tampak gelap tanpa bintang, sementara kabut tipis turun menyelimuti hutan kecil di sekitar rumah persembunyian baru mereka.
Setelah serangan di apartemen dua malam lalu, Jackson langsung memindahkan Claudia ke sebuah cabin terpencil di daerah utara. Tempat itu jauh dari kota, jauh dari media, dan jauh dari siapa pun yang mungkin mengenali mereka.
Namun tetap saja Claudia tidak merasa aman.
Ia duduk di teras kayu cabin sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Sweater abu-abu kebesaran yang dipakainya tidak cukup menghangatkan tubuhnya dari dingin malam.
Adrian keluar pelan dari dalam rumah sambil membawa secangkir cokelat hangat.
“Kamu belum tidur?”
Claudia menggeleng kecil. Adrian menyerahkan cangkir itu padanya lalu berdiri bersandar di pagar kayu teras.
“Kalau terus begini kamu sakit.”
Claudia tersenyum tipis tanpa semangat. “Kayaknya pikiranku lebih berisik daripada badan aku.”
Hening beberapa detik memenuhi udara.
Dari kejauhan hanya terdengar suara jangkrik dan hembusan angin malam.
“Ayah masih marah?” tanya Claudia pelan.
Adrian tidak langsung menjawab. “Beliau cuma stres.”
“Karena aku?”
“Karena semuanya.”
Claudia menunduk kecil sambil memutar cangkir hangat di tangannya.
Sejak insiden apartemen, Jackson nyaris tidak bicara langsung dengannya lagi. Semua instruksi selalu lewat pengawal atau Sophia.
Dan entah kenapa itu terasa lebih menyakitkan dibanding dimarahi.
“Aku rasa Ayah mulai nyesel punya aku.”
Kalimat itu membuat Adrian langsung menoleh tajam.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi kenyataannya memang begitu kan?”
Tatapan Claudia mulai kosong.
“Sejak aku kecil hidup Ayah selalu berantakan karena aku.”
“Kamu bukan masalah.”
“Aku target mereka.”
Suara Claudia perlahan melemah. “Mama meninggal karena dunia Ayah. Sekarang semua orang juga terluka karena aku.”
Adrian mengembuskan napas pelan lalu berjalan mendekat.
“Kamu nggak bisa terus nyalahin diri sendiri.”
“Tapi semuanya memang terjadi karena aku.”
“Karena kamu anak Jackson Laurent,” jawab Adrian tegas. “Bukan karena kamu salah.”
Claudia perlahan mengangkat wajah, tatapan mereka bertemu dalam sunyi malam yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya, Adrian melihat jelas betapa lelahnya gadis itu.
Claudia bukan hanya takut. Ia kesepian. Sangat kesepian.
“Aku pengin hidup biasa aja,” bisiknya lirih. “Punya teman. Pergi keluar tanpa pengawal. Nggak takut tiap dengar suara keras.”
Mata Claudia perlahan memerah.
“Aku pengin hidup normal.”
Dada Adrian terasa sesak mendengarnya.
Karena ia tahu Claudia mungkin tidak akan pernah benar-benar punya hidup seperti itu.
Tidak selama ia menjadi putri Jackson Laurent.
Tiba-tiba Claudia tertawa kecil hambar sambil menunduk.
“Aneh ya.”
“Apa?”
“Aku malah merasa paling aman waktu sama kamu.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah hening.
Adrian langsung memalingkan pandangannya sesaat. Dan Claudia menyadari reaksinya.
“Aku salah ngomong ya?” tanyanya pelan.
“Nggak.”
“Tapi kamu selalu keliatan mau kabur tiap aku ngomong kayak gitu.”
Adrian menghela napas kecil. “Kamu terlalu percaya sama saya.”
“Karena cuma kamu yang selalu ada.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun justru membuat hati Adrian semakin tidak tenang.
Claudia perlahan berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Angin malam meniup rambut panjangnya pelan.
Tatapan gadis itu terlihat rapuh namun jujur. “Aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Adrian membeku sesaat.
Jantung Claudia sendiri berdetak sangat cepat sekarang.
Namun untuk pertama kalinya ia tidak ingin menyembunyikan apa yang dirasakannya.
“Aku nggak peduli kalau ini salah atau aneh.” suaranya melemah pelan. “Tapi setiap kali aku takut, aku selalu nyari kamu.”
Tatapan Adrian perlahan berubah rumit karena ia tahu perasaan itu mulai tumbuh terlalu jauh.
Dan itu berbahaya, sangat berbahaya.
“Claudia.”
“Aku serius.”
Mata Claudia mulai berkaca-kaca. “Aku nggak mau kehilangan kamu kayak aku kehilangan semuanya.”
Hening memenuhi teras cabin, udara malam terasa semakin dingin namun yang membuat Adrian sulit bernapas bukanlah udara itu melainkan cara Claudia menatapnya sekarang.
Begitu jujur, begitu penuh rasa percaya dan itu justru membuatnya takut.
Adrian perlahan mengalihkan pandangan lalu mundur satu langkah kecil.
“Kamu cuma lagi takut,” katanya rendah.
Claudia langsung menggeleng cepat.
“Bukan.”
“Kamu lagi emosional.”
“Aku tahu apa yang aku rasain.”
“Claudia—”
“Aku suka sama kamu.”
Kalimat itu akhirnya keluar. Jujur tanpa ragu dan langsung membuat suasana terasa membeku. Napas Adrian tertahan sesaat.
Sementara Claudia berdiri di depannya dengan mata memerah dan tangan sedikit gemetar.
“Aku suka sama kamu sejak lama.”
Suara gadis itu mulai bergetar pelan. “Dan aku capek pura-pura nggak ngerasa apa-apa.”
Adrian menutup matanya sesaat, karena inilah yang paling ia takutkan sejak awal.
Perasaan itu akhirnya benar-benar terucap.
Dan sekarang semuanya berubah. “Ini nggak boleh terjadi,” katanya pelan.
Claudia langsung terlihat terluka. “Kenapa?”
“Saya pengawal kamu.”
“Aku nggak peduli.”
“Tapi saya peduli.”
Nada suara Adrian terdengar lebih berat sekarang. “Dunia saya nggak aman buat kamu.”
“Aku udah hidup di dunia itu sejak lahir.”
“Justru karena itu saya nggak mau bikin semuanya lebih buruk.”
Claudia menatap Adrian dengan mata penuh kecewa.
“Jadi kamu nggak punya perasaan apa-apa?”
Pertanyaan itu membuat Adrian diam terlalu lama dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Mata Claudia langsung berkaca-kaca lebih dalam namun sebelum ia sempat bicara lagi, Adrian perlahan mundur satu langkah.
“Sebaiknya kamu masuk dan istirahat.”
Kalimat itu terasa seperti pisau kecil di dada Claudia.
Karena akhirnya ia sadar, Adrian memilih menjauh bukan karena tidak peduli tetapi karena terlalu peduli.