Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Malam Terpanjang
Malam terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Deburan ombak terus terdengar memecah sunyi pantai, sementara angin laut berembus dingin menyapu pasir dan batu karang di sekitar mereka. Claudia duduk diam di dekat tebing kecil sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Rambut panjangnya berantakan tertiup angin, wajahnya masih pucat sejak mereka melarikan diri dari villa.
Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terjadi terlalu cepat.
Beberapa jam lalu ia masih berada di kamar hangatnya, terkurung dalam dunia yang selama ini ia benci. Namun malam ini, untuk pertama kalinya Claudia benar-benar melihat alasan di balik semua ketakutan ayahnya.
Dunia itu nyata dan dunia itu mengerikan.
Tidak jauh darinya, Adrian berdiri sambil memperhatikan area sekitar dengan pistol masih berada di tangannya. Tatapannya terus bergerak waspada ke arah jalan gelap di belakang pantai.
Ia tahu mereka belum benar-benar aman.
“Adrian…”
Suara Claudia terdengar kecil di tengah suara ombak.
Pria itu langsung menoleh. “Ya?”
“Apa mereka masih nyari kita?”
Adrian terdiam sesaat sebelum menjawab jujur, “Iya.”
Jawaban itu membuat Claudia kembali menunduk pelan. Tubuhnya mulai gemetar lagi. Bukan hanya karena dinginnya udara malam, tetapi juga karena rasa takut yang sejak tadi berusaha ia tahan sendirian.
Adrian memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya membuka jas hitamnya lalu menyampaikannya perlahan ke bahu Claudia.
Gadis itu sedikit terkejut. “Kamu nanti kedinginan.”
“Saya biasa.”
Claudia menggenggam ujung jas itu pelan. Kehangatan samar dari pakaian Adrian membuat dadanya terasa sedikit lebih tenang.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam mendengarkan suara laut.
Lalu Claudia kembali bicara dengan suara lirih.
“Apa hidup Ayah selalu kayak gini?”
Tatapan Adrian perlahan berubah lebih serius.
“Dikejar musuh, diserang, selalu takut bakal ada yang mati.”
Ia tidak langsung menjawab karena pertanyaan itu terlalu rumit untuk dijelaskan dengan sederhana.
“Dunia Tuan Jackson nggak sesederhana yang Anda bayangkan,” katanya akhirnya.
Claudia tersenyum hambar kecil sambil memandang laut gelap di depannya.
“Sekarang aku mulai ngerti.”
Angin malam kembali berembus pelan.
“Dulu aku selalu mikir Ayah jahat karena terus mengurungku di rumah,” lanjutnya pelan. “Tapi sekarang aku malah takut.”
Adrian menatap Claudia cukup lama. “Takut apa?”
Claudia menelan ludah kecil sebelum akhirnya berbisik, “Takut ternyata Ayah benar.”
Hening kembali memenuhi pantai, untuk pertama kalinya sejak mengenal Claudia, Adrian benar-benar melihat sisi rapuh gadis itu. Selama ini Claudia terlihat penasaran pada dunia luar, selalu ingin bebas, selalu ingin keluar dari sangkar emasnya.
Namun malam ini, rasa ingin tahunya berubah menjadi ketakutan.
Dan Adrian sadar, selama ini tidak ada yang pernah benar-benar mendengarkan Claudia.
Tiba-tiba alat komunikasi di telinganya berbunyi pelan.
Adrian langsung menekan earpiece-nya. “Adrian.”
Suara berat Jackson terdengar dari sana. “Di mana Claudia?”
Claudia langsung menoleh cepat begitu mendengar nama ayahnya.
“Dia bersama saya, Tuan.”
“Apakah dia terluka?”
“Tidak.”
Hening sesaat terdengar dari seberang sebelum Jackson kembali berbicara dengan nada dingin yang penuh tekanan.
“Bawa dia ke safe house sekarang.”
“Baik, Tuan.”
Sambungan terputus. Claudia langsung berdiri perlahan. “Ayah?”
Adrian mengangguk kecil. “Beliau selamat.”
Wajah Claudia langsung terlihat lega. Namun rasa lega itu hanya bertahan sebentar.
“Apa Bibi juga selamat?”
Adrian terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Tim medis sudah bawa semua orang keluar dari villa.”
“Vino?”
Pertanyaan itu membuat Adrian memalingkan pandangan sesaat.
Suara tembakan tadi masih terbayang jelas di kepalanya.
Dan sampai sekarang belum ada kabar tentang Vino.
“Dia masih dicari,” jawab Adrian pelan.
Claudia langsung menunduk lagi. Meski baru mengenal pria itu sebentar, ia tahu Vino orang baik.
Dan sekarang mungkin seseorang terluka karena dirinya.
“Aku bikin semuanya jadi berbahaya,” gumamnya lirih.
Adrian langsung menatap Claudia serius. “Bukan salah kamu.”
“Tapi mereka datang karena aku.”
“Mereka datang karena ingin menyakiti Tuan Jackson.”
Claudia menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku tetap jadi alasannya,”
Adrian berjalan mendekat lalu berdiri tepat di depannya.
“Dengar saya.”
Tatapan Claudia perlahan terangkat. “Kamu nggak pernah memilih lahir di dunia ini.”
Suara Adrian terdengar tenang namun tegas.
“Dan kamu nggak salah karena jadi target mereka.”
Mata Claudia perlahan memerah.
Entah kenapa kata-kata sederhana itu terasa sangat menenangkan. Karena selama ini tidak ada yang pernah mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah.
Ia selalu merasa keberadaannya hanya membawa masalah.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya ada seseorang yang berdiri di sisinya tanpa menghakimi.
Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.
Adrian langsung berubah waspada. Ia cepat mengangkat pistol lalu berdiri di depan Claudia secara refleks.
Lampu mobil mulai terlihat mendekat dari jalan kecil menuju pantai.
Claudia refleks memegang lengan Adrian erat. “Siapa itu?”
Adrian tidak menjawab. Tatapannya tetap tajam memperhatikan mobil hitam yang perlahan mendekat dalam gelap malam.
Beberapa detik kemudian, salah satu pengawal Jackson keluar dari mobil sambil mengangkat kedua tangan.
“Tuan Adrian!”
Adrian akhirnya sedikit menurunkan pistolnya. “Itu orang kita.”
Claudia mengembuskan napas lega.
Pintu mobil belakang terbuka dan beberapa detik kemudian, Jackson turun dari sana.
Ia masih mengenakan jas hitam yang sama dari acara politiknya siang tadi. Namun malam ini wajahnya terlihat jauh lebih dingin dan lelah dibanding biasanya.
Tatapannya langsung mencari Claudia.
Claudia membeku.
Sudah lama ia tidak melihat ayahnya dengan ekspresi seperti itu, bukan marah melainkan takut.
Jackson berjalan cepat mendekat. “Claudia.”
Suara beratnya terdengar rendah dan tegang.
“Ayah…”
Namun sebelum Claudia sempat mengatakan apa pun, Jackson langsung menarik putrinya ke dalam pelukan erat. Claudia membelalak kaget.
Tubuhnya membeku beberapa detik, karena itu pertama kalinya ayahnya memeluknya seperti seorang ayah pada umumnya.
Jackson memejamkan mata sesaat sambil mengeratkan rahangnya kuat.
Malam ini ia hampir kehilangan Claudia.
Dan pikiran itu benar-benar membuatnya takut.
“Ayah.”
Suara Claudia terdengar pelan dan gemetar.
Jackson perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah putrinya lama.
“Mulai sekarang,” ujarnya dingin namun penuh tekanan, “kamu tidak boleh keluar sendirian lagi.”
Claudia menunduk pelan, biasanya ia akan merasa kesal mendengar larangan itu.
Namun malam ini berbeda karena sekarang ia akhirnya tahu ketakutan ayahnya ternyata nyata.