Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Luka Andrian

Suara ombak terus terdengar memecah malam ketika Claudia dan Adrian akhirnya berhenti di balik batu karang besar di ujung pantai. Udara dingin menusuk kulit, sementara napas Claudia masih belum beraturan setelah berlari cukup jauh dari villa.

 

Tangannya masih gemetar, semuanya terjadi terlalu cepat. Tembakan, gas beracun, para penyusup dan wajah-wajah orang yang ingin menangkapnya hidup-hidup.

 

Claudia memeluk kedua lengannya sendiri sambil mencoba menenangkan napas. Dari tempat mereka bersembunyi, cahaya villa masih terlihat samar di kejauhan seperti titik kecil di tengah gelapnya malam.

 

Namun tempat itu tidak lagi terasa seperti rumah.

“Duduk.”

Suara Adrian membuat Claudia tersadar dari pikirannya. Ia menoleh dan melihat pria itu sedang memeriksa area sekitar dengan pistol masih berada di tangannya.

 

“Kita nggak bisa lama di sini,” lanjut Adrian pelan.

Claudia mengangguk kecil lalu duduk di atas pasir dingin. Tubuhnya terasa lemas. Kakinya bahkan masih sakit karena tadi hampir terpeleset di jalan berbatu.

 

Baru beberapa detik suasana terasa tenang, Claudia tiba-tiba menyadari sesuatu. “Adrian…”

 

Pria itu menoleh. “Ada darah.”

Tatapan Adrian turun ke sisi perut kirinya. Jas hitam yang sejak tadi ia kenakan terlihat sedikit basah dan lebih gelap di bagian samping.

Claudia langsung pucat. “Kamu ditembak?!”

“Cuma goresan.”

 

“Kamu bohong.”

Claudia langsung bergerak mendekat tanpa menunggu izin. Tangannya gemetar saat mencoba melihat luka di balik jas Adrian.

 

Pria itu menahan napas kecil ketika Claudia membuka bagian samping jasnya.

Darah segar masih mengalir pelan.

“Kita harus ke rumah sakit,” ucap Claudia panik.

 

“Nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa?!”

“Mereka pasti nyari ke sana dulu.”

 

Claudia menatap Adrian tidak percaya. “Kamu terluka.”

“Saya masih bisa jalan.”

 

Nada suaranya tetap tenang, tetapi wajahnya mulai terlihat lebih pucat dari biasanya.

 

Claudia langsung menggigit bibir bawahnya gugup. Ia menoleh ke sekitar pantai yang gelap sebelum akhirnya melepas cardigan tipis yang ia pakai.

“Aku bantu.”

Adrian mengernyit kecil. “Apa?”

“Kamu berdarah terus.”

 

Tanpa memedulikan protes Adrian, Claudia merobek bagian bawah cardigan itu menjadi kain panjang kecil. Tangannya bergerak canggung saat mencoba menekan luka di sisi tubuh Adrian.

Begitu kain menyentuh luka, Adrian sedikit meringis.

 

“Maaf…” gumam Claudia cepat.

“Hati-hati.”

“Aku belum pernah ngelakuin beginian.”

“Aku tahu.”

Meski situasi mereka kacau, jawaban itu justru membuat Claudia kesal kecil.

 

“Kamu masih sempat bercanda?”

“Saya nggak bercanda.”

Claudia mendelik pelan sebelum kembali fokus mengikat luka itu sebaik mungkin. Jarinya beberapa kali gemetar karena darah yang terus mengalir membuatnya panik.

 

Adrian diam memperhatikan gadis di depannya.

Rambut Claudia berantakan tertiup angin laut. Wajahnya pucat. Matanya masih terlihat ketakutan.

 

Namun di tengah keadaan seperti ini, gadis itu tetap memaksakan diri merawatnya.

Entah kenapa, itu membuat sesuatu terasa aneh di dada Adrian.

 

“Aku bikin sakit ya?” tanya Claudia pelan.

“Sedikit.”

“Kenapa kamu santai banget sih,”

“Karena kalau saya panik, nanti kamu juga ikut panik.”

 

Claudia terdiam sesaat sebelum akhirnya menunduk kecil.

“Aku memang panik.”

 

Suara itu terdengar jauh lebih rapuh dibanding sebelumnya.

“Aku takut tadi,”

Tatapan Adrian sedikit berubah lembut. “Aku kira kita bakal mati.”

 

Angin malam berembus pelan di antara mereka. Ombak terus menghantam pantai tanpa henti.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Claudia perlahan mengangkat wajahnya lalu menatap Adrian hati-hati.

 

“Kamu juga takut?”

Pertanyaan itu membuat Adrian diam cukup lama.

Tatapannya perlahan beralih ke gelapnya laut. “Takut itu biasa.”

 

“Kamu selalu jawab kayak gitu.”

“Karena itu kenyataannya.”

Claudia memeluk lututnya pelan. “Aku belum pernah lihat orang ditembak, belum pernah dengar suara tembakan sedekat itu.”

 

Napasnya sedikit bergetar. “Aku nggak ngerti kenapa hidupku jadi kayak gini.”

 

Adrian menatapnya sesaat sebelum akhirnya duduk di samping Claudia dengan jarak tidak terlalu jauh.

 

“Dunia ini memang kotor,” katanya pelan. “Terutama dunia kekuasaan.”

Claudia menoleh pelan. “Kamu dari dulu hidup di dunia seperti ini?”

 

Adrian terdiam beberapa saat, biasanya ia selalu menghindari pertanyaan tentang dirinya sendiri.

 

Namun malam itu berbeda, mungkin karena mereka baru saja lolos dari kematian.

 

Atau mungkin karena tatapan Claudia malam itu terlalu jujur untuk diabaikan.

“Sebelum kerja untuk Tuan Jackson,” ucap Adrian pelan, “saya pernah ada di pasukan khusus.”

 

Claudia langsung memperhatikannya serius.

“Saya kerja di banyak operasi rahasia, pengawalan, penyergapan, perbatasan.”

 

Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang terasa berat di balik setiap kata.

“Waktu itu saya pikir semua yang saya lakukan benar.”

 

“Lalu?” Tatapan Adrian perlahan mengeras.

“Sampai suatu hari, tim saya dijebak.”

Claudia sedikit menahan napas.

 

“Kami dikirim ke operasi yang seharusnya nggak pernah ada.” Adrian tersenyum hambar kecil. “Dan saat semuanya gagal, atasan kami pura-pura nggak kenal siapa pun.”

 

Suasana mendadak terasa lebih dingin. “Banyak yang mati?”

 

Adrian tidak langsung menjawab namun tatapan matanya sudah cukup memberi jawaban.

Claudia perlahan menunduk. “Maaf,”

“Saya selamat,” lanjut Adrian pelan. “Tapi sejak itu saya ngerti satu hal.”

 

“Apa?”

“Di dunia seperti ini, orang bisa dibuang kapan saja kalau sudah nggak berguna.”

Claudia terdiam cukup lama mendengar kalimat itu.

 

Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat sisi lain Adrian.

Bukan hanya pengawal dingin yang selalu melindunginya.

 

Tetapi seseorang yang juga dipenuhi luka dan masa lalu yang kelam.

“Apa itu alasan kamu kerja sama Ayah?” tanyanya hati-hati.

 

Adrian tersenyum tipis tanpa humor. “Tuan Jackson menyelamatkan saya waktu semua orang ninggalin saya.”

“Jadi kamu berhutang padanya?”

 

“Mungkin.”

Claudia memandang Adrian beberapa detik tanpa bicara.

 

Lalu perlahan ia berkata pelan, “Tapi kamu tetap memilih nyelamatin aku duluan tadi.”

Kalimat itu membuat Adrian langsung terdiam.

 

Tatapan mereka bertemu cukup lama di tengah suara ombak dan angin malam.

 

Jantung Claudia berdetak sedikit lebih cepat saat menyadari jarak mereka begitu dekat sekarang.

 

Sementara Adrian perlahan mengalihkan pandangan lebih dulu.

“Karena itu sudah menjadi tugas saya,” ucapnya pelan.

 

Claudia langsung tersenyum kecil. “Jawaban kamu selalu sama.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Adrian benar-benar kehabisan jawaban.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!