Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Serangan Pertama
“Kenapa Ayah selalu dikelilingi banyak pengawal?”
Suara Claudia terdengar pelan di tengah ruang makan yang sunyi. Pagi itu hujan turun tipis di luar villa, membuat suasana terasa dingin dan muram. Televisi besar di ruang tengah masih menyala sejak tadi pagi, menampilkan siaran langsung kampanye politik yang dipenuhi sorot kamera dan lautan manusia.
Jackson berdiri di atas podium megah dengan jas hitam yang selalu membuatnya terlihat dingin dan sulit dijangkau. Wajahnya tenang, tatapannya tajam, sementara puluhan pengawal berjaga di sekitar panggung.
Claudia duduk diam sambil memegang cangkir teh hangat. Matanya terus tertuju pada layar televisi. Rasanya masih aneh melihat ayahnya berdiri di depan begitu banyak orang. Selama ini Jackson selalu terasa seperti bayangan dalam hidupnya—datang sebentar lalu menghilang lagi.
Namun pagi ini berbeda, ia melihat bagaimana semua orang memperhatikan ayahnya.
Takut, segan dan juga membenci.
“Rakyat membutuhkan pemimpin yang tidak tunduk pada ancaman,” suara Jackson terdengar tegas dari televisi. “Saya tidak akan membiarkan negara ini dikendalikan oleh orang-orang yang haus kekuasaan.”
Tepuk tangan menggema.
Namun beberapa orang di kerumunan justru berteriak marah. Kamera sempat menangkap kericuhan kecil sebelum siaran dialihkan kembali ke wajah Jackson.
Claudia mengernyit pelan.
“Ayah terlihat seperti orang lain saat di depan publik,” gumamnya lirih.
Bibi yang sedang menuangkan teh hanya tersenyum tipis.
“Tuan memang terbiasa menghadapi banyak orang.”
“Tapi kenapa mereka terlihat membencinya?”
Bibi tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti sesaat sebelum kembali meletakkan teko teh ke atas meja.
“Orang besar selalu punya musuh, Tuan putri.”
Claudia menunduk pelan. Musuh? Kata itu terasa asing baginya, namun entah kenapa membuat dadanya tidak nyaman.
Di sisi lain kota, suasana kampanye mulai memanas. Sorot kamera masih mengikuti setiap langkah Jackson yang turun dari panggung dengan wajah datar seperti biasa. Para wartawan langsung mengerubunginya.
“Tuan Jackson! Apa benar perusahaan Anda mengalami kebocoran dana?”
“Tuan Jackson! Bagaimana tanggapan Anda terhadap ancaman dari Eric Group?”
“Tuan Jackson!”
Jackson tidak menjawab satupun pertanyaan. Ia terus berjalan menuju mobil hitamnya dengan langkah tenang.
Di sisi lain, Adrian berdiri beberapa meter darinya sambil mengawasi keadaan sekitar. Tatapannya bergerak cepat memperhatikan kerumunan orang.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang, keramaian itu terasa terlalu padat, terlalu berisik dan terlalu mudah dimanfaatkan, tangannya menyentuh alat komunikasi di telinganya.
“Periksa sisi timur,” ucap Adrian singkat.
“Area aman,” jawab salah satu pengawal.
Namun insting Adrian tetap tidak bisa tenang. Ia melihat seorang pria memakai hoodie hitam berdiri terlalu lama di dekat pagar pembatas. Saat tatapan mereka bertemu, pria itu langsung pergi.
Adrian langsung menyipitkan mata. “Mencurigakan…”
Jackson masuk ke dalam mobil utama. Pintu langsung ditutup dan iring-iringan kendaraan mulai bergerak meninggalkan area kampanye, hujan tipis mulai turun membasahi jalanan kota.
Di villa, Claudia masih duduk di depan televisi. Kini berita membahas rivalitas politik Jackson dan Eric Laurent, pengusaha besar yang menjadi musuh terbesarnya.
“Persaingan antara Jackson Corporation dan Eric Group semakin memanas menjelang pemilu,” ujar reporter di televisi. “Kedua pihak saling menyerang lewat media dan bisnis.”
Claudia memandang layar itu tanpa berkedip, nama Eric semakin sering muncul akhir-akhir ini. “Bibi, siapa Eric sebenarnya?” tanyanya pelan.
Bibi terlihat sedikit gugup. “Hanya lawan bisnis Tuan.”
“Kalau cuma lawan bisnis, kenapa seperti perang?”
Bibi terdiam sesaat karena kenyataannya memang seperti perang.
“Dunia politik tidak pernah sederhana,” jawabnya pelan.
Claudia kembali menatap layar televisi, entah kenapa perasaannya semakin tidak nyaman.
Di jalan raya utama, iring-iringan mobil Jackson melaju cepat di tengah hujan yang mulai deras. Lampu kendaraan memantul di jalanan basah.
Adrian duduk di mobil pengawal depan sambil terus memperhatikan keadaan lewat kaca spion.
“Terlalu sepi," gumamnya.
Padahal jalan itu biasanya padat kendaraan.
Tiba-tiba. DUARRR!
Ledakan keras mengguncang jalan raya.
Mobil paling belakang langsung terbalik setelah dihantam kendaraan hitam dari samping, api membumbung tinggi disertai suara jeritan.
“SERANGAN!” teriak salah satu pengawal melalui radio komunikasi.
Suara tembakan langsung memenuhi udara.
DOR! DOR! DOR!
Kaca mobil pecah berserakan, orang-orang berlari panik di tengah hujan.
Adrian langsung membuka pintu mobil sambil mengeluarkan pistol.
“Lindungi Tuan Jackson!” bentaknya.
Beberapa pria bersenjata keluar dari dua mobil hitam yang memblokir jalan. Mereka langsung menembaki iring-iringan kendaraan tanpa ampun.
Situasi berubah kacau dalam hitungan detik, salah satu pengawal jatuh bersimbah darah di dekat trotoar.
“Tuan, kita harus pindah sekarang!” ujar Adrian sambil membuka pintu mobil Jackson.
Namun sebelum Jackson keluar. BRAKK!
Sebuah peluru menghantam kaca depan mobil, Adrian refleks melindungi Jackson dengan tubuhnya.
“Sniper!” teriak salah satu pengawal.
Hujan turun semakin deras, suara tembakan bercampur dengan sirene kendaraan dan jeritan orang-orang.
“Bawa mobil cadangan!” bentak Adrian.
Dua pengawal segera membentuk perlindungan sambil membawa Jackson keluar dari kendaraan utama.
DUARRR!
Ledakan kedua terjadi, salah satu mobil pengawal langsung terbakar hebat, asap hitam memenuhi jalanan.
Adrian menoleh cepat ke arah sumber ledakan. Rahangnya mengeras. Ini bukan serangan biasa, seseorang benar-benar ingin membunuh Jackson hari ini.
Di villa, siaran televisi tiba-tiba berubah menjadi breaking news. “Baru saja terjadi serangan terhadap iring-iringan kendaraan calon presiden Jackson Laurent—”
Cangkir teh di tangan Claudia jatuh ke lantai, pecah.
“Apa?” bisiknya pelan.
Reporter di televisi terlihat panik.
“Ledakan terjadi beberapa menit lalu. Situasi masih belum terkendali dan jumlah korban belum diketahui—”
Claudia langsung berdiri, wajahnya mendadak pucat. “Ayah.” Tangannya mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak lama, rasa takut benar-benar memenuhi dadanya.
Bukan takut pada pengawal, bukan takut pada rumah besar ini tapi takut kehilangan ayahnya.
“Ayah ada di sana,” suaranya bergetar.
Bibi segera memegang pundaknya. “Tuan putri, tenang,”
Namun Claudia terus menatap layar televisi dengan napas tidak beraturan. Kamera menampilkan mobil yang terbakar dan para pengawal bersenjata yang berlarian di tengah hujan.
Darah terlihat di jalanan dan Claudia mulai menyadari satu hal mengerikan—
Dunia ayahnya jauh lebih gelap dari yang selama ini ia bayangkan.
Sementara itu di lokasi serangan, Adrian berhasil membawa Jackson masuk ke mobil cadangan.
“Tuan masuk sekarang!” Jackson duduk dengan wajah tetap tenang meski pelipisnya terluka.
“Berapa korban?” tanyanya dingin.
“Dua meninggal. Tiga luka berat.”
Tatapan Jackson berubah tajam. “Eric!” gumamnya pelan.
Seseorang jelas ingin mengirim pesan dan pesan itu sangat jelas, perang telah dimulai.
Malam harinya, mansion dijaga dua kali lebih ketat dari biasanya. Para pengawal berdiri di setiap sudut dengan senjata lengkap. Lampu luar menyala terang menerangi halaman luas mansion.
Claudia duduk diam di ruang tengah sejak sore. Ia tidak bisa tenang, pikirannya dipenuhi suara ledakan yang terus diputar di berita saat pintu utama terbuka, Claudia langsung berdiri.
Jackson masuk dengan langkah tenang seperti biasa namun kali ini berbeda.
Ada luka kecil di pelipisnya dan noda darah masih terlihat samar di lengan jasnya.
“Ayah…” suara Claudia hampir pecah.
Jackson menatap putrinya beberapa detik. “Aku tidak apa-apa.”
Namun Claudia justru berjalan cepat menghampirinya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat secara langsung sisi gelap dunia ayahnya.
Ini bukan sekadar pengawal berlebihan, bukan sekadar aturan ketat tanpa alasan, Ayahnya benar-benar hidup di tengah bahaya.
“Ayah hampir mati,” bisiknya lirih.
Jackson terdiam, tatapan Claudia perlahan berubah bukan hanya bingung tapi takut. Jackson mengangkat tangannya perlahan, menyentuh kepala putrinya dengan lembut.
“Itulah alasan aku melindungimu,” ucapnya pelan. Claudia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya ia mulai memahami bahwa rumah yang selama ini terasa seperti penjara, sebenarnya dibangun untuk menyelamatkan hidupnya.