Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Batasan yang Mulai Kabur

“Adrian, kenapa kamu selalu menjaga jarak?”

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba saat mereka berjalan di taman belakang villa. Langit sore tampak redup, angin berhembus pelan, dan suasana terasa sunyi. Adrian yang berjalan setengah langkah di belakangnya berhenti sejenak sebelum menjawab singkat.

“Saya tidak menjaga jarak.”

Claudia menoleh dan menatapnya dengan tenang. “Kamu iya.”

Hening sejenak mengisi ruang di antara mereka. Claudia tidak terlihat marah, tidak juga memaksa, tetapi sorot matanya menunjukkan ia ingin jawaban yang jujur.

“Kamu selalu berdiri di belakang, selalu bicara seperlunya, selalu seperti dinding,” lanjutnya pelan.

“Itu tugas saya,” jawab Adrian akhirnya.

Claudia tersenyum tipis, namun ada sedikit rasa getir yang terselip di sana. Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak menuju bagian taman yang lebih sepi, langkahnya ringan namun pikirannya jelas penuh.

“Aku tidak pernah punya pilihan,” ucapnya tanpa menoleh. “Sejak kecil, aku hanya mengikuti apa yang sudah ditentukan. Tapi sekarang… aku mulai ingin memilih.”

Adrian mengikuti di belakang, kali ini sedikit lebih dekat dari biasanya.

“Memilih apa?” tanyanya.

Claudia berhenti, lalu berbalik perlahan dan menatap Adrian tepat di matanya.

“Memilih untuk tidak selalu sendirian.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa jauh lebih dalam dari yang terdengar.

Hari-hari di villa mulai berubah, bukan karena tempatnya, melainkan karena Claudia. Ia mulai lebih sering berbicara, lebih berani mengajak Adrian berdiskusi bahkan untuk hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Bagi orang lain mungkin itu tidak berarti, tetapi bagi Claudia, itu adalah langkah besar.

Siang itu, Claudia berada di dapur, mencoba memasak sendiri tanpa bantuan Bibi. Tangannya masih kaku, gerakannya belum sempurna, tetapi ia tetap berusaha.

“Aku bisa,” gumamnya pelan.

Adrian berdiri di dekat pintu, mengawasi seperti biasa. Namun kali ini, ia tidak sepenuhnya diam.

“Api terlalu besar,” katanya.

Claudia sedikit terkejut, lalu segera mengecilkan api dan menoleh ke arahnya.

“Kamu bisa masak?”

“Sedikit.”

Claudia tersenyum kecil. “Kalau begitu… kamu bantu aku.”

“Saya tidak….”

“Kamu cuma bilang caranya,” potong Claudia lembut.

Adrian terdiam sejenak sebelum akhirnya melangkah sedikit lebih dekat.

“Tambahkan air sedikit,” ujarnya.

Claudia mengikuti arahannya. Beberapa menit berlalu tanpa banyak percakapan, tetapi suasana terasa berbeda. Tidak lagi kaku, tidak lagi sepenuhnya berjarak. Ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka, bukan karena dipaksakan, tetapi karena terjadi begitu saja.

Sore hari, Claudia duduk di tangga belakang, memandang langit yang mulai berubah warna. Kali ini Adrian berdiri di sampingnya, tidak terlalu jauh seperti biasanya.

“Aku dulu takut sama kamu,” kata Claudia tiba-tiba.

Adrian sedikit mengernyit. “Kenapa?”

“Kamu selalu diam, wajahmu serius. Aku pikir kamu galak,” jawab Claudia jujur.

Adrian tidak membalas, hanya menatap ke depan.

Claudia tersenyum kecil. “Tapi sekarang aku tahu kamu tidak seperti itu.”

“Jangan menilai terlalu cepat,” kata Adrian.

“Aku tidak menilai, aku hanya melihat.”

Hening sejenak kembali hadir, namun tidak terasa canggung.

“Kamu tahu?” lanjut Claudia pelan. “Aku tidak punya teman. Selama ini hanya ada Bibi. Dan sekarang…” ia berhenti sejenak.

Adrian menoleh sedikit.

“…aku mulai punya seseorang yang bisa aku ajak bicara.”

Adrian langsung memalingkan pandangan.

“Jangan bergantung,” katanya tegas.

Claudia terdiam, kalimat itu seperti menahan langkah perasaannya.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Karena tidak semua orang bisa selalu ada,” jawab Adrian.

Claudia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan suara lembut namun jelas,

“Aku tidak minta kamu selalu ada… tapi setidaknya saat kamu ada di sini, jangan menjauh.”

Kali ini Adrian tidak menjawab. Namun ia juga tidak mundur.

Malam hari, suasana villa kembali sunyi. Claudia berdiri di depan jendela, menatap langit gelap yang dipenuhi bintang. Ia memeluk dirinya sendiri, bukan karena dingin, tetapi karena pikirannya yang penuh. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang ia rasakan, tetapi ia tahu satu hal—ia tidak ingin kehilangan perasaan ini.

Di luar kamar, Adrian berdiri seperti biasa, namun pikirannya tidak setenang biasanya. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Bukan sesuatu yang besar, bukan sesuatu yang jelas, tetapi cukup untuk mengubah semuanya perlahan.

“Ini tidak boleh terjadi…” gumamnya pelan.

Namun ia tetap berdiri di sana. Tidak menjauh, tidak juga mendekat. Seolah ia sendiri terjebak di antara batas yang ia buat… dan batas yang mulai memudar.

Di sisi lain kota, Jackson menerima laporan terbaru dengan wajah dingin. Tekanan semakin meningkat, ancaman semakin dekat, dan nama Eric kembali muncul sebagai bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

“Pergerakan mereka semakin agresif, Tuan,” ujar asistennya.

Jackson menatap layar di depannya dengan tenang namun tajam.

“Biarkan mereka berpikir mereka menang,” jawabnya pelan.

Namun di dalam pikirannya, ia tahu permainan ini semakin berbahaya. Dan yang paling berbahaya bukan hanya musuh di luar, tetapi hal-hal yang tidak ia lihat… yang perlahan tumbuh di tempat yang ia anggap paling aman.

 

Kembali di villa, Claudia memejamkan mata perlahan. Hari ini tidak ada kejadian besar, tidak ada pelarian, tidak ada ancaman yang terlihat. Namun ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak bisa dihentikan. Karena batas yang selama ini dijaga tidak runtuh sekaliguselainkan memudar Perlahan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!