Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Dunia yang Asing

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku lebih cepat?!”

Suara Jackson menggema keras di dalam ruang kerjanya. Tangannya membanting berkas di atas meja hingga beberapa lembar kertas berserakan. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat tegang, matanya tajam penuh amarah yang ditahan.

Di hadapannya, beberapa orang kepercayaan berdiri dengan kepala tertunduk. Tidak ada yang berani menatap langsung.

“Perusahaan kita diserang dari dalam, saham kita ditekan, dan kalian baru melaporkan sekarang?” lanjut Jackson dengan suara lebih rendah, namun justru terasa lebih menekan.

“Saya… kami masih memastikan datanya, Tuan,” jawab salah satu dari mereka dengan hati-hati.

Jackson tertawa kecil, namun tidak ada sedikit pun rasa humor di dalamnya. “Memastikan? Atau menunggu semuanya hancur?” Tidak ada yang menjawab. Ruangan itu terasa semakin dingin.

Salah satu pria di sudut ruangan akhirnya berkata pelan, “Ada indikasi ini dilakukan oleh pihak yang sama seperti sebelumnya, Tuan.” Jackson terdiam sejenak. Tatapannya berubah. Lebih tajam.

“Eric…” gumamnya pelan.

Nama itu seperti memicu sesuatu di dalam dirinya. Ingatan lama, persaingan panjang, dan kebencian yang tidak pernah benar-benar hilang.

“Dia mulai lagi,” lanjut Jackson dengan nada datar.

“Sepertinya begitu, Tuan. Selain itu…” pria itu berhenti sejenak, ragu untuk melanjutkan.

“Katakan,” perintah Jackson.

“Kami mendapat informasi bahwa ada pergerakan mencurigakan di sekitar properti pribadi Anda.”

Hening.

Jackson tidak langsung merespon.

Namun perlahan, rahangnya mengeras.

“Dia tidak hanya menyerang bisnis…” katanya pelan, “dia mulai mendekati hidupku.”

Kalimat itu membuat suasana berubah semakin tegang.

“Perketat semuanya,” lanjut Jackson tegas. “Tidak ada celah. Tidak ada kesalahan.”

“Iya, Tuan.”

“Dan satu lagi,” Jackson menatap mereka satu per satu, “jangan biarkan dia tahu… apa yang paling penting bagiku.”

Tidak ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Semua orang di ruangan itu tahu maksudnya. Claudia.

Di sisi lain kota, Claudia sedang berdiri di depan jendela kamarnya, menatap langit sore yang mulai berubah warna. Ia baru saja kembali dari luar, namun kali ini perasaannya berbeda. Ia tidak lagi hanya kagum. Ia mulai berpikir.

Dunia di luar tidak sesederhana yang ia bayangkan. Ada banyak hal yang tidak ia mengerti, banyak hal yang terasa asing.

Namun justru itu yang membuatnya semakin ingin tahu.

“Ada apa?” tanya Bibi yang masuk ke dalam kamar sambil membawa teh hangat.

Claudia menoleh, lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku hanya… memikirkan sesuatu.”

“Memikirkan apa?”

Claudia terdiam sejenak. “Dunia di luar itu… tidak sesederhana yang terlihat, ya?”

Bibi meletakkan cangkir di meja, lalu duduk di dekatnya. “Kenapa kamu berpikir begitu?”

Claudia mengangkat bahu pelan. “Aku tidak tahu. Tapi rasanya… seperti ada sesuatu yang disembunyikan.”

Bibi menatapnya lebih dalam, namun tidak menjawab. Karena ia tahu Claudia mulai melihat lebih jauh.

Malam itu, suasana rumah terasa lebih tegang dari biasanya. Para pengawal terlihat lebih waspada, komunikasi di antara mereka lebih sering, dan langkah kaki terdengar lebih cepat.

Claudia menyadarinya.

Ia berdiri di lorong, memperhatikan dari kejauhan.

“Kenapa mereka seperti itu?” bisiknya pelan.

Adrian yang berdiri tidak jauh darinya menjawab singkat, “Situasi sedang tidak stabil.”

Claudia menoleh. “Karena Ayah?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Namun diamnya sudah cukup.

Claudia menatapnya beberapa detik. “Ayahku… sebenarnya seperti apa?”

Pertanyaan itu membuat Adrian sedikit terdiam.

Ia tidak bisa menjawab sembarangan.

“Tuan… adalah seseorang yang memiliki banyak tanggung jawab,” jawabnya akhirnya.

Claudia tersenyum tipis. “Itu bukan jawaban.”

Adrian tidak membalas.

Claudia melanjutkan, lebih pelan, “Dia punya banyak musuh, ya?” Hening.

Angin malam berhembus pelan dari jendela yang sedikit terbuka.

Adrian akhirnya berkata, “Semakin tinggi seseorang berdiri… semakin banyak yang ingin menjatuhkannya.”

Claudia menunduk.

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup untuk membuatnya mengerti sedikit.

“Kalau begitu…” katanya pelan, “aku juga bagian dari itu, kan?” Adrian tidak menjawab.

Namun kali ini, ia tidak menyangkal.

Di tempat lain, Jackson berdiri di balkon gedung tinggi, menatap kota yang dipenuhi cahaya malam. Ponselnya masih berada di tangannya, laporan demi laporan baru saja ia terima.

Serangan tidak berhenti.

Justru semakin dekat.

“Dia tidak akan berhenti…” gumam Jackson. Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam.

Lalu membuka kembali dengan tatapan yang lebih dingin.

“Kalau begitu… aku juga tidak akan.” Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus muncul di pikirannya.

 

Claudia. Ia tahu, selama putrinya ada di sana Ia punya titik lemah. Dan itu adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Kembali di rumah, Claudia duduk di tempat tidurnya, memeluk lututnya sendiri. Ia tidak benar-benar takut, namun ada perasaan asing yang mulai muncul.

Perasaan bahwa hidupnya tidak sesederhana yang ia kira.

“Ayah…” bisiknya pelan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merindukan. Ia mulai mempertanyakan. Dan di luar sana Konflik yang ia tidak tahu Sedang bergerak mendekat. Perlahan. Namun pasti.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!