Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Kesepakatan Diam-diam

Pagi itu datang dengan cara yang lebih tenang dari biasanya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Claudia, membentuk garis tipis di lantai. Udara terasa sejuk, namun tidak sedingin hari-hari sebelumnya.

 

Claudia sudah terbangun sejak subuh, ia duduk di tepi tempat tidurnya cukup lama, tidak langsung bergerak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya, sementara pikirannya terus berputar.

 

Tentang ayahnya, tentang dunia luar dan tentang dirinya sendiri, ia menghela napas pelan, hari ini ia tidak ingin hanya diam.

 

Claudia berdiri perlahan, merapikan rambutnya di depan cermin, ia memilih gaun yang sederhana tidak terlalu mencolok. Gerakannya rapi seperti biasa, tapi kali ini ada ketegasan kecil dalam setiap langkahnya.

 

Ia membuka pintu kamar, lorong masih sepi namun ia tahu pengawasan tidak pernah benar-benar hilang.

 

Claudia melangkah keluar, menuruni tangga dengan hati-hati, beberapa pengawal terlihat di sudut lorong, langsung memperhatikannya begitu ia lewat.

 

Ia sempat menunduk, refleks lama namun beberapa langkah kemudian, ia mengangkat wajahnya lagi, ia tidak lagi ingin terlihat takut.

 

Taman belakang menyambutnya dengan udara segar, daun-daun masih basah oleh embun dan sinar matahari belum terlalu terik. Claudia berjalan perlahan di antara tanaman, mencoba menenangkan pikirannya.

 

Namun tujuannya jelas, ia berhenti menoleh ke arah ujung taman. Adrian berdiri di sana.

 

Seperti biasa, tegap, diam dan menjaga jarak. Claudia menarik napas kecil, lalu melangkah mendekat.

 

Langkahnya tidak terburu-buru tapi juga tidak ragu, Adrian menyadari kehadirannya sejak awal, namun ia tetap berdiri di tempat.

 

Claudia berhenti beberapa langkah darinya. “Pagi,” ucapnya pelan.

 

Adrian mengangguk kecil. “Pagi, Tuan putri.” Hening beberapa detik.

 

Claudia terlihat seperti sedang mengumpulkan kata-kata.

“Aku… mau bicara sedikit,” katanya akhirnya.

 

Adrian menatapnya lebih fokus. “Silakan.”

Claudia menggenggam ujung gaunnya sebentar, lalu melepaskannya.

“Aku ingin keluar,” ucapnya.

 

Langsung tanpa basa-basi. Adrian tidak terlihat terkejut, seolah sudah menduga.

“Tidak bisa,” jawabnya tegas.

Claudia menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil. “Iya… aku tahu.” Ia tidak membantah, tidak memaksa.

 

Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali berbicara. “Aku tidak akan pergi jauh,” lanjutnya pelan. “Aku hanya ingin lihat sedikit saja.”

 

“Perintah Tuan jelas,” jawab Adrian. “Tuan putri tidak boleh keluar tanpa izin, aku tidak berani membantah.”

 

Claudia menarik napas kecil. “Hmm ya sudah.” Ia tau meminta kepada Andrian pun tetap tidak akan diizinkan, hening kembali menyelimuti.

 

Namun kali ini, Claudia mengangkat wajahnya, tatapannya tetap lembut namun tidak lagi kosong.

 

“Kalau begitu… aku tidak minta keluar,” katanya.

 

Adrian sedikit mengernyit, Claudia melanjutkan dengan hati-hati. “Boleh aku minta hal lain?”

 

Adrian menatapnya beberapa detik. “Tergantung, apa itu?”

 

Claudia menoleh ke arah taman. “Kalau aku ingin tetap di sini, boleh lebih lama?” tanyanya.

 

Permintaan itu sederhana, tidak melanggar aturan namun cukup berbeda dari biasanya.

 

Adrian berpikir sejenak. “Selama masih dalam area aman, tidak masalah,” jawabnya.

 

Claudia tersenyum kecil. “Terima kasih.”

 

Namun ia belum pergi, ia masih berdiri di sana. Seolah ada yang belum selesai. “Dan…” ia ragu sejenak, “aku boleh tanya lagi?”

 

Adrian mengangguk kecil, Claudia terlihat berpikir cukup lama sebelum akhirnya berkata “Kalau aku ingin tahu dunia luar, aku harus mengenal dari mana?”

 

Pertanyaan itu terdengar polos namun dalam. Adrian tidak langsung menjawab.

 

Claudia menatapnya. “Aku tidak mau kabur lagi tanpa tahu apa-apa,” lanjutnya pelan. “Kemarin aku takut… karena aku tidak mengerti.”

 

Adrian menghela napas pelan. “Kamu bisa belajar dari banyak hal,” jawabnya. “Buku, berita, dari pengamatan.”

 

Claudia mengangguk pelan lalu bertanya lagi, lebih pelan. “Kalau dari orang, boleh?”

 

Adrian menatapnya. “Orang seperti siapa?”

Claudia menatapnya langsung. “Seperti kamu.”

Hening.

Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya.

Adrian mengalihkan pandangan sejenak.

“Saya hanya menjalankan tugas,” jawabnya.

Claudia tersenyum kecil.

“Iya… aku tahu.”

Ia tidak memaksa.

Namun cara ia menjawab…

Seolah ia menerima, tapi tidak menyerah.

Hari itu, Claudia benar-benar menghabiskan waktu lebih lama di taman.

Ia duduk di bangku kecil, memperhatikan langit, lalu berdiri lagi untuk menyiram tanaman. Sesekali ia menatap ke arah pagar tinggi, mencoba mengingat apa yang pernah ia lihat di luar sana.

Namun kali ini, ia tidak terburu-buru.

Ia belajar.

Pelan-pelan.

Dari apa yang ada di sekitarnya.

Adrian tetap di posisinya.

Mengawasi.

Namun sesekali, matanya memperhatikan Claudia lebih lama dari biasanya.

Bukan karena curiga.

Tapi karena perubahan kecil itu semakin jelas terlihat.

Sore hari, Claudia berjalan kembali ke dalam rumah.

Langkahnya pelan, tapi lebih ringan.

Saat ia melewati lorong, ia melihat Adrian berdiri tidak jauh dari tangga.

Ia berhenti.

Lalu mendekat.

“Aku di taman lebih lama hari ini,” katanya.

Adrian mengangguk.

“Saya tahu.”

Claudia tersenyum tipis.

“Aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Memang tidak,” jawab Adrian singkat.

Claudia menatapnya beberapa detik.

“Kalau aku seperti ini terus… kamu akan percaya?” tanyanya.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menatap Claudia.

Seolah menimbang sesuatu.

“Kepercayaan butuh waktu,” katanya akhirnya.

Claudia mengangguk pelan.

“Iya… aku tahu.”

Ia menunduk sebentar.

Lalu berkata lagi—

“Aku tidak terburu-buru.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terdengar jujur.

Adrian sedikit menghela napas.

Seolah memahami maksud di baliknya.

Claudia berbalik, hendak naik tangga.

Namun sebelum itu, ia berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata—

“Aku tidak akan kabur lagi… tanpa bilang.”

Adrian terdiam.

Kalimat itu menggantung.

Bukan janji sepenuhnya.

Tapi juga bukan sekadar ucapan.

Ia tidak menjawab.

Namun ia mengerti.

Malam hari, Claudia duduk di meja kecil di kamarnya.

Sebuah buku terbuka di depannya.

Ia memegang pena.

Lalu mulai menulis.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!