Bip ....
Bip ....
Bip ....
Kini hanya bunyi monitor yang menghiasi seluruh isi ruangan dengan mata yang sedari tadi menyipit, hampir terlelap dalam garis yang bergelombang tenang seakan menghipnotis isi di dalam kepalanya. Dia menenangkan sekaligus memberi rasa lega, akhirnya ... keadaan Hanum sudah stabil kembali.
Ustadz Riza melirik intim pada istrinya yang sedang tertidur lelap karena obat penenang. Mengingat apa yang dikatakan dokter tadi. Ia tidak tahu harus memberitahu Hanum seperti apa nanti? Dia tahu betul apa yang Hanum citakan selama ini ... dia tahu betul apa yang Hanum doakan di setiap sujud akhirnya dan dirinya sangat tahu Hanum masih menaruh harapan besar atas doa-doanya kemarin.
Lalu sekarang? Harapan itu tidak akan mungkin dia rapalkan lagi di dalam sujudnya. Jangankan untuk berharap memikirkanya saja pasti sangat sakit.
Ustadz Riza sontak menundukkan kepala, air matanya menetes sambil mengusap anak rambut Hanum. "Maafkan aku ya Allah," ucap Ustadz Riza pelan dan perlahan kepalanya terangkat lalu menatap Hanum dengan rasa kasihan.
"Padahal dulu ... kita pernah berangan kan, Sayang? Kamu ... aku ... dan anak kita." Ustadz Riza tersenyum sembari meneteskan air matanya lagi. "Tapi sekarang ...," ucapan Ustadz Riza terhenti, setelah sepasang suami istri dengan suara langkah cepat dan terburu-buru ke arahnya.
"Astaghfirullah ... anakku." Suara umi diiringi dengan isakan yang begitu perih.
Perlahan Ustadz Riza tersenyum kecut mengarah pada mertuanya, meski senyuman itu dibalas dengan gelengan kepala oleh Kyai.
Ustadz Riza mengulum senyumannya, sampai pria paruh baya dengan sorban berwarna putih di pundaknya melangkah mendekati Ustadz Riza.
Ayah mertua sekaligus menjadi guru selama Ustadz Riza masih menjadi santri waktu itu, berdiri di samping lelaki dengan kabel infus di pergelangan tangannya.
"Ustadz, apa kamu lupa pada surat An Nisa ayat 34?" tanya Kyai sangat pelan hampir tidak terdengar oleh siapa pun selain Ustadz Riza yang berdiri tepat di sampingnya.
Setelah mendengar pertanyaan itu Ustadz Riza tersenyum kecil sembari menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ini musibah, Bi ...," sahut Ustadz Riza dengan bola mata yang perlahan menatap wajah Kyai.
Kyai tersenyum kecut mendengar ucapan menantunya, "Musibah yang kamu buat sendiri? Seperti suami istri bertengkar di dalam mobil saat berkendara? Apa itu baik? Jangan lupa perbanyak lagi hapalan Surat Asy Syura ayat 30." Mata Kyai menatap kosong mengarah pada dinding, suaranya meninggi satu oktaf dibanding tadi.
Kini Ustadz Riza terdiam, tidak mampu lagi berbicara satu patah kata pun untuk sekedar membela diri di depan mertuanya. Ia sadar dari dulu memang pria di sampingnya ini tidak pernah meleset menebak kesalahannya sedikit pun.
"Limadha anat samit, Ustadz? (Kenapa kamu diam, Ustadz?" tanya Kyai sembari tangannya memegang pundak Ustadz Riza. Lalu melanjutkan perkataannya kembali, Namun kali ini Kyai membisik sangat pelan pada tengkuk leher Ustadz Riza. "Beri tahu aku, Nak. Bagaimana cara Abi memberitahu Hanum nanti, sedangkan selama ini dia meminta abi mendoakan dirinya sepanjang malam untuk kehamilannya ...." Air mata Kyai tidak sengaja menetes lalu dengan cepat ia menghapusnya dan berdiri tegap di samping Ustadz Riza seperti semula.
Ustadz Riza menelan salivanya, dia menatap Hanum perlahan kemudian menunduk lagi menyembunyikan rasa sakit dan perasaan bersalah.
Dia melihat dari jarak tidak seberapa jauh dari tempat Hanum tidur dan terlihat umi yang sedari tadi tiada hentinya merapalkan doa untuk anak perempuan semata wayangnya. Sedangkan dirinya masih terduduk kaku melihat Hanum yang sebentar lagi akan kehilangan separuh harapannya.
Tiba-tiba di tengah heningnya mereka, salah satu dokter berpakaian dinas putih lengkap menghampiri Hanum. "Belum siuman ya? Kita harus melakukan tindakan pengangkatan rahim sekarang ya ...," ucapnya tersenyum sembari menatap semua wajah kaku tanpa ekspresi di sekeliling Hanum.
Umi menatap Ustadz Riza dengan bola mata sulit untuk diartikan, wajahnya menggeleng beruraian air mata. "A-apa t-tidak ada cara lain, Dok?" ucap Umi bergetar.
Dokter itu menggeleng sembari tersenyum menatap Umi, kedua tangannya memegang pundak Umi. "Buk, jika ada cara lain yang lebih bagus. Akan kami lakukan! Tapi ini pendarahan dari vaginanya pun tidak berhenti, setelah melakukan pengecekan lebih lanjut ternyata benturan itu mengakibatkan hancurnya beberapa organ dalam buk Hanum salah satunya rahimnya. Jika tidak segera dilakukan tindakan, malah akan mengancam keselamatan Buk Hanum sendiri," ucap dokter itu terhenti setelah panjang lebar menjelaskan.
Sementara tubuh Umi semakin bergetar ketakutan setelah mendengar ucapan sang dokter.
"Sudah, Buk ... tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini adalah jalan terbaik untuk anak ibuk, tidak hamil bukan berarti gagal jadi perempuan kan?" ucap dokter kembali sembari menepuk pundak Umi.
Umi terdiam pandangannya kosong, seandainya dokter itu tahu betapa Hanum ingin sekali mempunyai anak dan seandainya saja dokter itu tahu jika Hanum akan dimadu karena ia tidak kunjung hamil. Apa masih bisa dokter itu mengatakan hal yang sama?
Sekarang jajaran para dokter beserta beberapa perawat telah membawa ranjang Hanum untuk ke ruangan operasi.
"Ya Allah ... berilah mukjizatmu." Umi berjalan landai mengikuti Hanum dari belakang sambil menangis tiada henti.
Sedangkan Ustadz Riza dan Kyai masih terdiam kaku melihat wanita kesayangan mereka terbaring lemah tidak berdaya.
"Baru kali ini Abi merasa gagal menjadi seorang bapak ...," ucapnya dengan air mata yang lagi-lagi mengalir di pipinya tanpa sengaja.
Ustadz Riza mengadahkan kepalanya ke atas menghadap Kyai, "Maaf, Bi ...," jawabnya ragu-ragu.
Kyai menatap wajah Ustadz Riza gamang, "Apa sekarang kamu masih ingin menduakan Hanum?" tanya Kyai datar.
Bola mata Ustadz Riza sontak melebar mendengar pertanyaan Kyai. "Bi, bisa nggak kita jangan ngomongin masalah ini sekarang?" sahutnya canggung.
"Kenapa? Sekarang moment yang pas untuk menanyakan hal itu kan? Kamu mau menikah lagi karena ingin memiliki anak, sedangkan sekarang ... Hanum sudah tidak akan lagi mempunyai anak. Apa yang salah dengan pertanyaan Abi?"
Ustadz Riza lagi-lagi hanya bisa terdiam tidak bisa berkutik apa lagi membantah.
"Ingat, Nak ... kamu ingin menikah lagi karena ingin mempunyai anak. Tetapi kamu juga jangan lupa istrimu adalah anak Abi, jika saat ini kamu menyakiti anak Abi. Suatu saat pasti anakmu akan merasakan hal yang sama!" sahut Abi penuh dengan penekanan, seakan dia tidak sadar apa yang baru saja ia katakan.
Berbeda dengan Ustadz Riza yang merasa jika mertua di hadapannya saat ini sedang menyumpahi keturunannya.
Kyai dan Ustadz Riza kini kembali diam, memikirkan apa yang akan mereka katakan pada Hanum nanti.
"Abi, Riza ... apa yang kalian lakukan disini?" tanya Umi yang tiba-tiba datang memergoki keduanya saling terdiam bagai manekin. "Abi ... tunggulah Hanum di depan ruang operasi, agar kita dapat memantaunya terus menerus."
Kyai menatap istrinya dengan bola mata yang menyorot. Baru kali ini ia merasa sangat lemah hingga rasanya tidak mampu untuk bergerak walau hanya untuk berjalan beberapa langkah.
Tidak ada yang lebih sakit dibanding saat ini, melihat putri semata wayangnya harus mengubur semua impiannya. Masih terngiang jelas betapa Hanum terus bercerita seandainya ia memilik anak ... seandainya ia bisa merasakan gerakan mungil yang berada di dalam perutnya.
Dan kata-kata seandainya yang keluar dari mulutnya saat itu ... masih belum bisa dan tidak akan pernah bisa ia rasakan. "Aku harus apa ya Allah? Ternyata aku sangat lemah, maafkan aku ya Allah ... aku masih belum bisa menerima takdir darimu ...," Kyai membatin air mata Kyai menetes kembali, tetapi dengan cepat ia seka.
Umi yang melihat suaminya ternyata lebih terpuruk darinya, langsung mendekati Kyai dan ikut menyeka air matanya. "Bi ... kalau Hanum melihat Abinya juga terpuruk, dia pasti akan lebih tidak bisa menerima kenyataan yang ada ...," ucap Umi mencoba sedikit menenangkan Kyai.
Pria bersorban putih di pundaknya itu perlahan menatap wajah istrinya, "Abi masih mau disini, mau menenangkan diri dulu ... Umi nggak apa kan jaga Hanum sendirian?" tanya Kyai meminta istrinya untuk meninggalkan dirinya sejenak.
Umi mengangguk, "Oke ... kalau itu mau Abi, tapi satu hal, Bi ... Umi nggak mau nanti melihat Abi bersedih ketika Hanum sadar! Janji lohh!" sahut Umi sembari melangkah keluar ruangan tanpa menawari Ustadz Riza untuk menunggu bersama di depan ruangan operasi.
Ustadz Riza sadar posisinya sekarang ... bukan hanya istrinya saja yang ia kecewakan. Tetapi juga kedua orang tua yang anaknya secara tidak sengaja ia celakai.
Sebenarnya yang lebih terpuruk saat ini adalah dirinya, dia ingin sekali mempunyai anak. Apa lagi dari Hanum ... dia ingin sekali. Lalu sekarang? Jangankan anak! Cinta Hanum saja mungkin sudah mulai pudar untuk dirinya sekarang, karena penyebab hilang rahim Hanum adalah dirinya! Seandainya saja saat itu dia lebih menahan emosinya sedikit, pasti kejadiannya tidak akan pernah seperti ini!
Ustadz Riza menghembuskan napasnya kasar, lalu melempar kepalanya dengan pusing pada ujung kursi.
Namun, Belum selesai Ustadz Riza merutuki diri. Kyai menanyakan hal yang membuat Ustadz Riza lagi-lagi terpojok.
"Ustadz ... apa ada wanita lain yang kamu cintai selain anak abi?" tanya Kyai dengan mata yang berkaca-kaca. "Ustadz ... Abi berpuluh-puluh tahun mengajarimu sampai kamu menjadi Ustadz besar seperti sekarang ... bisakah Abi meminta imbalannya?" tanya Kyai lagi.
Ustadz Riza terdiam hanya memandang Abi bingung.
"Tolong ... jangan duakan Hanum, jadikanlah dia bidadarimu satu-satunya di dunia dan di Akhirat nanti."