Istri Pengganti Ustadz

Kenyataan yang Menghujam

"Umi nggak tau lagi setelah Hanum sadar, harus menjelaskan dari mana." Umi menggelengkan kepala sembari menutup setengah wajahnya menutupi sebuah kesedihan seorang ibu.
 
"Semuanya takdir, Umi. Yah ... meski semua takdirnya dibuat salah oleh kita sendiri." Kyai merangkul lembut bahu istrinya dengan sesekali menoleh pada Ustadz Riza, kemudian menatap putri kesayangannya kembali.
 
Ya, Kyai harus berat mengakui ini adalah takdir putrinya. Walaupun ada perasaan yang sangat bersalah karena dia cukup terlibat andil dalam pernikahan mereka. Namun, 
Harus bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur, dirinya bahkan tidak mampu lagi untuk mengubah semua perasaan putrinya sekarang. Mungkin ... dengan keadaan seperti ini, bisa menyentuh perasaan Ustadz Riza untuk menggagalkan poligami yang dia rencanakan.
 
Dalam keadaan fikiran yang terus berfikir positif dan mencoba untuk menghibur diri sendiri, berfikir jika semua ini pasti ada hikmahnya! Tetapi ... ntah mengapa lagi-lagi rasa kekecewaan itu selalu datang menghampiri. Apa lagi jika ingat dirinyalah yang memaksa Hanum untuk menerima Ustadz Riza sebagai suaminya. Karena dirinya yakin putri semata wayangnya pasti akan bahagia jika bersama pria pilihannya.
 
Namun, sekarang ... di depan matanya sendiri ia melihat putri yang selama ini dia jaga, putri yang selama ini dia banggakan, putri yang selama ini dia jaga kebahagiaannya dan putri yang selama ini mati-matian dia menghidupi dari seluruh hasil jerih payahnya. Harus tersakiti oleh cintanya sendiri, harus menangisi suatu takdir yang selama ini dia impikan.
 
Kyai pun pasrah, menarik napas dalam lalu dengan cepat menyeka air matanya yang tidak sengaja terjatuh.
 
Sedangkan Ustadz Riza yang sedari tadi berdiam diri di tengah heningnya suasana ruang pemulihan, akhirnya melangkah gontai mendekat pada ranjang Hanum. Kemudian dia mengelus anak rambut istrinya dan sesekali menoleh pada Umi. 
 
Satu jam sudah mereka bertiga berdiri disini menunggu kesadaran Hanum, tetapi tak nampak juga tanda-tanda kesadaran itu. Sampai disaat Ustadz Riza mencium kening istrinya, barulah jemari Hanum terlihat bergerak sedikit demi sedikit. 
 
Kemudian kelopak mata Hanum terlihat bergerak, Kyai, Umi dan Ustadz Riza bersemangat menanti Hanum membuka mata. Meski kecemasan lebih besar di hati mereka dari pada semangat mereka sendiri.
 
"T-tolong ... selimut, aku dingin ...." tubuh Hanum seketika bergetar seperti orang kedingan, padahal suhu tubuh dan ruangan tidak lagi memakai Ac atau pun kipas angin. "T-tolong selimutkan aku," ujar Hanum lemah dengan bola mata yang masih tertutup.
 
Kyai, Umi dan Ustadz Riza pun saling pandang. Hanum seperti orang linglung, dia merasa kedinginan padahal suhu ruang tidaklah dingin! Mana lagi Hanum sendiri pun sedang menggunakan selimut dari rumah sakit sejak tadi. 
 
"M-Mas?" tanya Hanum dengan suara yang bergetar. "A-aku ada dimana?" tanyanya lagi, kali ini Hanum mengerutkan kening sembari menatap suaminya tajam.
 
Ustadz Riza mengulum bibirnya lalu menoleh ke arah Kyai dan Umi.
 
"I-i-ini di ruang pemulihan, dirimu baru saja menjalani tindakan operasi," ujar Ustadz Riza terbata-bata ragu.
 
Hanum melirik ke seluruh ruangan, memperhatikan mereka satu persatu dan terakhir berhenti menatap pada suaminya. Wajahnya bingung sekaligus panik, ketika ia menyadari jika memang benar dirinyalah yang baru saja melakukan tindakan operasi.
 
"Bisa-bisanya aku lupa apa yang baru saja terjadi." Hanum memicit keningnya. "Memang aku baru saja menjalankan operasi apa, Mas?" tanya Hanum kembali.
 
Degh! 
 
Ustadz Riza menarik napas panjang dan menoleh kepada Kyai, bibirnya kelu seakan kaku dibuat oleh keadaan. Jemarinya semakin berkeringat dingin saat memegang tiang infusan.
 
"Infusanku sepertinya berdarah, aku harus memberi tahu suster lebih dulu." Ustadz Riza melangkah gontai hampir terjatuh meninggalkan ruangan itu. Dirinya terlalu amat pengecut untuk mengatakan apa yang sebenar terjadi.
 
Air matanya tiba-tiba terjatuh saat keluar dari pintu. Ntah mengapa hatinya terlalu sakit melihat sang istri terbaring lemah dengan segala impian mereka yang harus musnah begitu saja.
 
"Argh!!!!" 
 
Terdengar jeritan Hanum yang mungkin saja sekarang Kyai atau Umi telah memberi tahunya. Sontak Ustadz Riza langsung beranjak dari kursi yang barusan ia duduki dan masuk kembali ke dalam ruangan untuk memastikan keadaan Hanum.
 
Dan benar saja Hanum seperti orang kesurupan, ia setengah duduk di atas ranjang air mata bercucuran menatap Ustadz Riza yang berhenti melangkah di depan pintu. 
 
"Argh!" Hanum mengerang lagi, sembari mencengkram perutnya dan tak lama kemudian darah segar menembus selimut yang dipakai oleh Hanum.
 
"Siapa yang menyuruh kalian dengan lancang mengambil rahimku!" jerit Hanum, semuanya terdiam tidak ada yang berani membuka suarah sepatah kata pun. "Siapa! Jawab aku!" teriak Hanum kembali, bola matanya membulat menatap semuanya. 
 
"Istighfar, Nak ... istighfar ...." Umi mencoba menenangkan, tetapi juga ikut menangis meratapi kesedihan putrinya.
 
Hanum tidak merespon sama sekali, ia mencabut selang infus yang tertanam di pergelangan tangannya hingga darah menetes dari sana.
 
Kemudian dengan yakin Hanum turun menapakkan kakinya ke lantai meski nyeri di perutnya sangatlah dahsyat, namun ia tetap memaksa dirinya untuk jalan menemui dokter yang membedahnya tadi. 
 
"Kalian ... harus kembalikan rahimku!" racaunya sembari tetap terus berjalan sembari memegangi perutnya.
 
Umi berusaha menenangkan dan memberhentikan langkahnya, tetapi sama sekali tidak berhasil.
 
Sedangkan Kyai hanya terduduk di tepi ranjang memperhatikan Hanum dengan tatapan kosong, dia benar-benar rapuh. Harapannya juga hancur sama seperti   apa yang dirasakan putri kesayangannya.
 
"Rahimku, Mas! Rahimku! Gimana caranya kita bisa punya anak? Rahimku nggak ada, Mas! Tolong aku! Tolong ambil rahimku kembali, Mas." Hanum berkata keras menatap lurus ke arah Ustadz Riza menjerit sejadi-jadinya, hingga Hanum tersungkur. Lalu menunduk meraung-meraung histeris, menyebut kata rahimku berkali-kali.
 
Namun, setelah itu ... Hanum tertawa keras. "Aku sudah berdoa setiap hari ya Allah, tapi nyatanya ini balasanmu padaku." Suara Hanum terdengar tegas.
 
"Cukup, Hanum!" suara Kyai keras tidak sengaja membentak Hanum.
 
Kemudian Hanum mengangkat kepalanya perlahan, menoleh pada Kyai. "Kenapa, Bi? Abi mau bilang ... seseorang dikabulkan doanya, asal dia tidak tergesa-gesa dan tidak mengatakan ... aku telah berdoa, namun tidak dikabulkan, Kan?" sahut Hanum beruraian air mata. "Itu kan yang Abi selalu katakan pada Hanum? Apa selama ini Hanum tergesa-gesa, Bi? Apa selama ini Hanum kurang bersabar, Bi? Hanum sudah melakukan semuanya, Bi! Tapi apa yang Hanum dapatkan?" teriak Hanum lagi dan Kyai pun hanya diam tidak berani menyahuti perkataan putrinya.
 
 
"Abi nggak bisa menjawab kan?" tanya Hanum dengan dingin.
 
Kemudian dia menoleh pada suaminya. "Hancur sudah harapan kita, Mas! Dan sekarang ... jika kamu sudah membenci kekuranganku atau Nadin yang kamu anggap terbaik untukmu dibanding aku, yang cintanya melebihi aku, yang kesetiaannya melebih kesetiaanku, yang sabarnya melebihi sabarku ... aku siap dipoligami, aku ikhlas Lilllahi Ta'ala menikahlah dengannya!"  

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!