"Bagaimana, Buk Hanum? Sah?" tanya pak penghulu pada Hanum.
Hanum mengangguk pelan.
"Alhamdulillah, Sah!" ucap beberapa para saksi yang menghadiri pernikahan Nadin dan suaminya.
Air mata Hanum terjatuh tak sengaja. Hatinya sakit sekali, dia berkali-kali mengucapkan ikhlas pada dirinya sendiri. Tetapi ... ntah mengapa seolah jiwa dan raganya menolak untuk ikhlas, seolah belum sanggup untuk berbagi suami meski bibir dan kepalanya berulang kali mengucap kata ikhlas.
'Ya Allah ... apa jiwaku sudah mati? Rasanya dadaku begitu sesak, hatiku hancur ... pedih sekali mengalahkan pedihnya jahitan yang tersayat di perutku yang belum juga mengering,' batin Hanum menatap pilu.
Bahkan hati Hanum memberontak saat menatap Ustadz Riza menandatangani buku nikah mereka. Hanum berkali-kali mengepalkan tangannya sembari mengucap ikhlas.
Kemudian Ustadz Riza mengambil jemari Nadin untuk melingkarkan cincin pernikahan di jemarinya lalu mencium kening Nadin yang telah sah menjadi istrinya itu.
Sedangkan Hanum bola matanya tidak berpaling melihat ke arah mereka, kini tangannya mengadah dengan air mata yang mengalir sambil membaca doa setelah menikah.
Dia duduk sendiri tidak ada seorang pun yang menguatkan, semuanya terfokus pada Nadin dan suaminya. Dia seperti hilang tak terlihat oleh siapa pun termasuk Ustadz Riza yang tidak peduli akan perasaan Hanum sekarang.
Sementara itu nenek Nadin yang mendampingi Nadin sejak tadi, wajahnya sumringah penuh kebahagiaan. Sebab ia yakin jika cucunya sudah berada di tangan yang tepat. Mungkin pula dia berharap Nadin menjadi istri satu-satunya Ustadz Riza.
Seusainya acara pernikahan, semua saksi dan beberapa keluarga Nadin pulang. Mereka semua benar-benar tidak menghargai keberadaan Hanum di acara itu, mereka berlenggok menyepelekan Hanum, menatap jijik pada Hanum yang sejak dari mulainya acara hingga selesai ia hanya duduk karena tak kuat untuk berdiri.
***
Angin malam mulai tiba, di mana menjadi awalnya malam Hanum harus membiasakan diri tidur sendiri. Nadin dan Ustadz Riza sudah sedari tadi masuk ke kamar tidak ada basa-basi untuk menanyakan kabar Hanum saat ini. Hanya ada cekikikan kecil, deritan kayu dan celotehan manja yang terdengar di telinga Hanum. Sebab Ustadz Riza sengaja memilih kamar berdempetan hanya di sekat pintu kaca slide agar enak untuk berbolak balik.
Sedangkan saat ini Nadin dan Ustadz Riza sibuk menikmati malam pertama mereka, Ustadz Riza bahkan lupa jika ada wanita lain di rumah ini selain Nadin yang harus di tanyakan kabarnya.
"Abi ... cukup! Geli tau!"
Suara centil nan manja yang sengaja dikeluarkan oleh gadis yang baru saja dinikahkan oleh Ustadz tampan pujaannya.
Nadin membuat pesona di atas ranjang, ia sengaja melepaskan hijabnya dan membiarkan rambutnya terurai agar terlihat semakin menggoda.
Aroma parfum yang selama ini Nadin hirup dari kejauhan, kini dia bisa menghirupnya begitu dekat, ia tak menyangka rasanya seperti mimpi yang akan hilang jika terbangun.
"Sayang ...."
"Iya, Bi ...," jawab Nadin gelagapan karena sekarang posisi Ustadz Riza sangatlah dekat.
"Kamu masih memanggil Abi? Tidak ingin diganti? Contohnya panggil Mas, Sayang dan Cinta?" goda Ustadz Riza sambil memandang Nadin.
"Mas?" tanya Nadin mengulang kata-kata Ustadz Riza.
"Yaps!! Sayang ...,"
Nadin pun diam, seketika dia mengingat kembali adanya Hanum yang harus dia jaga perasaannya. Lagi pula dirinya harus berterima kasih pada gurunya itu, jika tidak karena kelapangan hatinya ... dia tidak mungkin bisa menjadi bagian hidup dari Ustadz tampan pujaannya ini.
Dia benar-benar telah memiliki hidup Ustadz Riza sekarang, menjadi bagian dan mungkin juga akan menjadi salah satu alasan kebahagiaan Ustadz Riza.
Namun, dia harus sadar diri dan harus pandai mengambil hati Hanum. Ia tidak ingin suatu saat nanti Hanum berfikir jika Nadin anak yang tidak tahu diri.
"Apa yang kamu pikirkan, cantikku?" tanya Ustadz Riza semakin mendekati wajah Nadin.
Wajah khas arab itu kini sedang memandang Nadin, pandangan begitu tajam dan mesum!
"Ndak ...," Nadin menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin terus memanggil abi tetap dengan sebutan abi."
Perlahan Ustadz Riza menyentuh wajah Nadin, meski lampu di kamar itu tengah padam. Namun Ustadz Riza tetap mengetahui seberapa cantik istri mudanya saat ini.
"Oke ... aku paham, jadi sekarang kamu sadar kan kita sudah menikah?" tanya Ustadz Riza yang kini jemarinya mengelur bibir bulat nan seksi milik Nadin.
Dengan jantung yang berdegup sedikit gemetaran, Nadin mengangguk pelan. "Aku mengerti, Bi."
Ustadz Riza tersenyum kecil. "Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai seorang istri, tugas istri adalah melayani suaminya Nadin dan Abi butuh untuk dilayani sekarang," bisik Ustadz Riza di tengkuk leher Nadin.
Nadin menggidik geli padahal hanya terkena hawa panas dari Ustadz Riza.
Dia menelan salivanya berat. "T-tapi aku ndak tahu harus mulai dari mana, Bi?"
Lagi-lagi Ustadz Riza tekekeh, "Oke jika begitu, biarkan abi saja ...," ucapnya dengan mengganti posisi membawahi Nadin.
Ustadz Riza perlahan memegang kain kebaya yang membalut tubuhnya, membukanya hingga menyingkap ke bagian telapak kaki dan hanya menyisakan dalaman bagian bawah.
Seketika Ustadz Riza diam sejenak menikmati sebuah pandangan yang sangat indah, di bawah lampu yang meremang.
Lalu tangan Ustadz Riza memegang dalaman bagian bawah Nadin, namun Nadin refleks menampar wajah Ustadz Riza.
Ustadz Riza terhenyak, dia memandang Nadin sendu. "Ndak ... apa, Sayang ... abi pelan-pelan."
Nadin akhirnya pasrah membiarkan Ustadz Riza mengeksplor seluruh bagian tubuh Nadin. Walaupun sebenarnya ada ketakutan yang membayangi pikiran Nadin.
"Kita mulai ya," ujar Ustadz Riza memberat sambil berdoa sebentar.
Lalu melanjutkan kembali, kali ini ia mulai ingin melakukan penyatuan, Nadin menangis menjerit tangannya memegang sprei dengan erat.
Gugur sudah madu di kuntum bunga, madunya menetes habis dihisap oleh seekor lebah.
Rasanya seperti tercipta secara bersamaan dan tidak ada yang bisa menjelaskan rasanya seperti apa.
Suasana yang sedari tadi hening, kini berbanding terbalik dengan bisingnya deruan napas yang berlomba-lomba ingin menggapai puncaknya.
"Nadin ... berdoalah, semoga apa yang abi tanam akan menjadi benih-benih anak sholeh dan sholehah," bisik Ustadz Riza kelelahan dan matanya terpejam. "Berilah abi keturunan secepatnya Nadin ...," ucap Ustadz Riza lagi.
Sedangkan Nadin yang mendengar ucapan Ustadz Riza hanya bisa terdiam tidak sanggup untuk menjawab, ia takut jika dirinya bernasip sama seperti Hanum. Ia takut bagaimana jika dirinya tidak bisa memberi Ustadz Riza keturunan? Apakah dirinya akan dimadu kembali dengan apa yang dilakukannya pada Hanum?
Ntah mengapa perkataan Ustadz Riza tadi malah membuat beban pada Nadin. Ia merasa jika Ustadz Riza menikahinya karena terpaksa dan hanya memanfaatkan dirinya saja untuk memberi Ustadz Riza dan Hanum keturunan.