Ilmu Warisan
Bab 4
Sejak kejadian pagi tadi, aku berdiam diri di kamar seharian dan untuk pertanyaan Mbah uti aku belum bisa menyimpulkan. Aku harus menunggu mas Bisma pulang membicarakan hal ini, bagaimana pun dia suamiku apa saja yang aku lakukan sebisa mungkin harus dari ridhonya.
Sreeesskkkk ....
Terdengar suara dinding anyaman bambu yang tergesek, cukup membuatku terkejut.
Trauma akan ada hal yang terjadi di luar nalar.
Sreeeeeessssssssssssskkk ....
Kali ini suaranya lebih panjang, penasaran kuintip dari lubang-lubang kecil anyaman bambu tidak ada siapa-siapa di luar.
"Syukurlah ... semoga saja bukan apa-apa."
Aku melangkah santai dan merebahkan tubuh kembali ke atas ranjang kayu yang decitan masih berbunyi keras saat dinaiki.
Krieett ....
Krieeett ....
Kali ini dikejutkan dengan decitan ranjang kayu yang kedua, berselang satu detik setelah aku merebahkan tubuh.
Degh! Cukup mengerikan, itu artinya bukan hanya aku yang naik ke atas ranjang.
Namun, saat aku memberanikan diri untuk menoleh tidak ada siapa-siapa, sunyi sepi hanya ada aku di dalam kamar ini.
Tak berselang lama terdengar tangisan begitu menyakitkan entah dari mana berasal.
"Mbak ... sakit mbak ...."
degh! Aku mengenal suaranya, keringat mulai bercucuran ingat betul suara ini adalah suara wanita tadi pagi yang kata Mbah uti ia bernama Seruni.
"Tolong ... tolong aku," terdengar suara rintihan begitu pilu.
Suara rintihan yang diiringi dengan tangisan itu semakin menjauh, samar nyaris tak terdengar.
"Siapa pun kamu! Maaf aku tidak bisa menolongmu! Jangan ganggu aku!"
Krieeet ... Krieeet ... Brak!!!
Suara itu terdengar mengerikan dari bawah ranjang seperti dentuman keras yang sengaja dilakukan oleh seseorang.
"Maaf jika perkataanku menyakitimu, Mbak ... tapi kumohon beri aku waktu, aku butuh beradaptasi dengan semua. Kupastikan secepatnya menolongmu. Tunggulah nanti aku akan memanggil namamu,"
Suasana kembali kondusif, bulu kuduk yang menegang tiba-tiba redup. Apa benar wanita itu mendengarku? Apa benar kata mbah uti aku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata?
"Tapi kenapa gak ngobrol kayak biasa aja sih? Kalo diganggu gini kan aku jadi takut," Aku menggerutu.
Dan tanpa sadar secara tidak langsung aku mengutarakan janji untuk menolongnya.
****
Kulirik jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, aku meraih ponsel di belakang bantal mencoba menghubungi Mas Bisma untuk menanyakan jam berapa ia akan pulang ke rumah mbah kakung.
Sudah tiga panggilan kulakukan, tetapi nomor Mas Bisma tidak aktif, jadi aku memutuskan untuk mengirimnya pesan.
[Mas pulang kerja nanti ke rumah Mbah kakung kan? Meski amanah mbah ndak mau ada yasinan di rumah, tapi tetep aja aku belum mau pulang! Aku masih mau nemenin mbah uti!]
Sekitar tiga puluh menit setelah mengirim pesan pintu kamar terketuk.
Tok tok tok ....
Aku menoleh memicingkan dahi, aneh tak seperti biasanya mbah uti mengetuk pintu dulu? Biasanya ia langsung masuk jika tak ada Mas Bisma dan jika ada Mas Bisma pasti mba Uti mengucap salam bukan mengetuk pintu.
"Masuk! Pintunya ndak dikunci," teriakku malas, rasanya energiku habis hari ini.
Cklek ....
Mas Bisma muncul dari balik pintu, membuat bibirku merekah tersenyum lebar. Rasanya penat dan rasa takutku seharian hilang seketika saat melihat Mas Bisma.
"Mas, baru ajaa aku chat nanya kapan kamu pulang." Aku beranjak kasur terhuyung langsung memeluknya. "Ada banyak hal yang mau aku ceritain ke kamu," ujarku manja seperti biasanya, tetapi ada yang mengganggu pikiranku saat mencium tubuh Mas Bisma yang menyeruak bau busuk.
Kutepis, tak ingin menambah pikiran Mas Bisma.
"Maaf, Nur ... hpku ketinggalan." Suara Mas Bisma kaku, kurasa ia masih kaget dengan kejadian kemarin.
Ia melepaskan pelukanku tanpa kata, lalu menidurkan tubuhnya ke ranjang.
Kraaaaack ....
Suara ranjang keras.
"Pelan-pelan to, Mas! Lagian ini mau magrib! Ojo tidur ... sholat!" ucapku melengking.
"Iya, Nur. Aku ndak enak badan. Aku ndak bisa berdiri lama-lama tubuhku sakit."
"Hah? Sakit?"
Bola mataku menceluat nyaris keluar, sembari menghampiri Mas Bisma. "Mana yang sakit?"
"Ini?"
"Atau ini?"
"Atau sebelah mana?" ujarku sambil memijat tubuhnya dan bertambah kepanikan saat merasa tubuh Mas Bisma dingin.
"Argh sakit, Nur. Sudah ... sudah," ujar Mas Bisma yang tak biasanya dia membentakku.
"Mas, kita ke dokter ya."
Mas Bisma menggeleng. "Ndak, Nur. Aku hanya butuh tidur yang tenang."
"Sini ...." Mas Bisma menepukkan bantal di sebelahnya. "Katanya mau ngobrol."
Aku menatapnya haru, air mataku tergenang mengiyakan. Bersyukur memiliki suami yang masih memperhatikan istrinya meski tubuhnya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Krieet ....
Suara decitan ranjang, saat kunaiki. Aku tidur di sebelah Mas Bisma. Wajahku dan wajahnya bertemu. Dirinya tersenyum menatapku.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Satu notif panggilan dari My Husband di layar.
"Mas ada telpon nih kayaknya dari teman kantormu ya? Ponselmu ketinggalan dikantor? Ceroboh banget sih!" kataku kesal.
"Jangan diangkat, Nur. Biarin aja ...," katanya sambil merebut ponsel dari jemariku.
Keningku mengerut menatapnya. "Kenapa? Katanya ketinggalan di kantor?"
Tak lama untuk kedua kalinya ponselku bergetar. Semakin penasaran kucoba untuk merebutnya. "Kenapa sih, Mas! Hah! Kau selingkuh? Kembalikan ponselku."
Kami sempat beradu fisik, mau bagaimana pun tubuhku tak seimbang melawan kekuatan Mas Bisma.
Baru kali ini Mas Bisma menyakitiku.
Dengan keras kepala, aku tetap berusaha merebut ponsel dari genggamannya.
Cletarrr!!!
Ponsel itu terlempar di lantai.
Dengan cepat aku menggapainya, Alhamdulillah layarnya masih hidup dan kutekan untuk menghubungi nomor ponsel Mas Bisma kembali.
"Assalammualaikum, Nur."
Degh! Terdengar suara Mas Bisma di seberang panggilam, hiruk pikuk suara kendaraan terdengar begitu jelas.
"Nur, kayaknya Mas pulang habis magrib ya. Mas Magriban di luar aja."
Aku yang masih menunduk dengan posisi bersimpuh di lantai nyaris mati kehabisan napas, jantung berdegup tak karuan "Lalu siapa yang ada di kamar bersamaku saat ini?"
Perasaan takut menjalar ke seluruh tubuh, bulu kuduk berdiri secara spontan. Sendi-sendi kulemas.
"Jangan menoleh, Ainur!!!"
Suara lekingan ketawa wanita saat ini menguasai dalam kamar. Posisiku masih sama tidak bergerak sedikit saja.
Angin berhembus kesana kemari mengelilingi tubuhku, aku masih tetap dengan pendirianku tidak menoleh sama sekali wajahku masih menunduk menghadap lantai.
tengkuk leher rasanya panas campur dingin tak karuan, aura hawa dingin menjadi satu dan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Aroma busuk seketika menyeruak dari seluruh penjuru kamar, benar-benar busuk seperti bau bangkai dan ini lebih bau lagi!
Kutarik napas panjang. Kuberanikan diri untuk melawan.
"Bismillah."
Dengan perlawanan diri yang kukumpulkan, kuangkat wajahku mendongak. Ada sekelebat angin berwarna hitam mengitariku.
"Siapa kamu?" ujarku lantang.
Lagi-lagi tangisan pilu terdengar.
"Nur ... katanya mau ngobrol?"