HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

11. BERSAMA LELAKI VIP ITU LAGI

[“Jangan hiraukan ocehan ibu-ibu di depan itu. Mereka hanya bicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi,”] ujar Ripin dalam pesannya. Numayra mengembuskan nafas dengan kesal dan mengiyakan pesan dari Ripin itu.

“Benar, mereka hanya bisa bergunjing tanpa tahu kebenarannya,” gumam Numayra dalam hati.

“Meski tidak semua yang mereka bicarakan keliru.”

 Numayra segera bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya. Tepat setelah maghrib, Ripin telah menunggu di depan kamarnya. Numayra tersenyum dan segera naik ke atas boncengan. Masih tanpa bicara, Ripin pun melajukan motornya.

 Ingin hati menghentikan apa yang akan dilakukan Numayra. Tetapi Ripin sungguh tidak bisa lagi mencegahnya. Hingga tanpa sadar motor yang dikendarainya berjalan semakin melambat.

 “Cak, motornya habis bensinya?” tanya Numayra dengan heran.

“Masih full kok. Tadi siang ‘kan ngisi di pom bensin to,” jawab Ripin.

“Kenapa?”

“Lha kok jalannya semakin lama semakin kayak siput gini?” tanya Numayra lagi.  Ripin pun segera menyadarinya.

“Eh iya. Maaf, Num. Ngalamun aku,” jawab Ripin. Dia pun segera mengegas motornya lebih cepat.  Hingga tak berapa lama mereka tiba di klub malam yang sudah mulai ramai tamunya.

“Tumben baru jam segini sudah rame,” kata Ripin. Numayra tersenyum dan menunjuk ke sebuah banner di ujung sana.

“Ada bintang tamu dari Jakarta, Cak. Makanya rame,” ujar Numayra.

“Oh, itu,” gumam Ripin sambil tersenyum tipis. Dia pun menerima helm yang diulurkan oleh Numayra.

“Wis ya, Cak. Aku masuk dulu,” kata Numayra dan segera membalikkan badannya. Ripin memandang gadis itu dengan rasa sesak di dadanya.

“Num, Num. Kapan kamu sadar,” gumamnya dalam hati dengan nelangsa. Perlahan Ripin memutar balik motornya dan segera pergi dari sana.

 Sementara Numayra bergegas masuk dan menuju ke ruangan Tante Lisa. Setelah mengetuk pintu, dia pun segera masuk. Tante Lisa menyambutnya dengan seulas senyum lebar.

 “Sudah datang kamu, Num,” sapanya ramah.

“Duduklah,” katanya. Numayra pun segera duduk dan menatap serius ke arah Tante Lisa.

“Mau aku transfer atau aku kasih cash?” tanya Tante Lisa sambil memegang ponselnya.

“Transfer saja, Tante,” jawab Numayra cepat. Wanita berambut cepak itu mengangguk dan segera memencet tombol yang ada di ponselnya.

 KLING

Terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Numayra. Dia pun segera memeriksanya. Terlihat notifikasi pesan uang masuk sejumlah sepuluh juta rupiah. Dia mengernyitkan dahinya.

 “Kok cuma segini, Tante?” tanyanya heran. Tante Lisa tertawa lirih.

“Kerja dulu, baru sisanya aku kirim,” jawabnya. Numayra hanya bisa mendesah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

“Nanti kalau kamu mau pulang, kirim pesan saja biar langsung aku kirim sisanya. Oke,” katanya lagi. Numayra hanya bisa mengangguk patuh.

“Dah sana ganti baju. Sebentar lagi tamu kamu akan datang. Katanya dia mau menikmati acara si bintang tamu dulu.” Lagi-lagi Numayra hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Belum juga keluar dari ruangan itu, terdengar suara Tante Lisa lagi.

“Num, ingat untuk selalu tersenyum. Jangan kamu perlihatkan kisah sedih kamu kepada para pelanggan. Ngerti?!”

“Ya, Tante,” jawab Numayra. Dia pun segera keluar dari ruangan itu.

 Numayra bergegas masuk ke ruang ganti. Ternyata Hari telah menyiapkan pakaian untuknya dengan sebuah catatan di sana.

 “Ini pakaian terakhir dari klub. Besok kamu bawa sendiri.”

 Numayra tersenyum membacanya. Dia pun mengirim pesan kepada Tante Lisa di mana tempat biasa mereka membeli pakaian semacam itu.

 “Oke, aku pakai dulu,” gumamnya lirih. Beberapa lady escort lainnya tampak masuk dan keluar dari ruangan itu dengan santai. Ada di antara mereka yang mengeluh lelah, ada yang mengeluh karena diperlakukan tidak senonoh oleh tamunya.

 “Tamu yang mana?” tanya salah satu di antara mereka dengan rasa penasaran.

“Itu tadi yang bersamaku. Yang agak gemuk,” jawab si lady escort berkulit sawo matang itu dengan kesal.

Numayra sedang memoleskan lipstik saat seorang lainnya berlari masuk ke dalam ruangan itu.

 “Cepat, kamu dicari tamu yang gemuk itu,” katanya sambil menunjuk ke arah gadis yang tadi mengeluh itu.

“Hah aku? Ngapain lagi?” tanyanya bingung. Dia pun bangkit dari duduknya.

“Dia booking kamu, gaes,” jawab si pembawa berita itu.

“Haa?!” semua orang tak terkecuali si gadis yang dimaksud.

“Seriusan nih?” tanyanya sambil berdiri. Sontak terdengar suara ramai memberikan selamat kepadanya di ruangan itu. Tak terkecuali Numayra.

“Semoga saja aku bisa dapat ikan besar seperti kamu, Num,” katanya menimpali ucapan Numayra.

“Iya ih. Numayra mah beda kelasnya. Dia sekarang kelasnya kelas kakap,” sahut yang lain. Numayra hanya tertawa mendengarnya.

 Dia pun bergegas keluar dari ruangan itu. Sebuah pesan dari Tante Lisa menginfokan kalau tamu VIP itu telah menunggunya di ruangan VIP.

 Perlahan Numayra mengetuk pintu itu. Seperti biasa, seorang lelaki kekar membukanya dan mempersilakan masuk. Dia pun menunggu di depan pintu. Numayra masuk dan tersenyum melihat lelaki yang tampaknya sudah tak sabar menunggunya.

 Numayra dengan tenang menghampirinya dan duduk santai di pangkuan lelaki itu. Jemari lentiknya mengelus lembut wajah tampan lelaki yang usianya belum cukup tua itu.

 “Kenapa kamu pergi begitu saja?” tanyanya dengan sorot mata tajam. Numayra tersenyum. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sekotak rokok mild.

 Lelaki itu mematikkan api untuknya. Numayra menikmati hisapan demi hisapan rokok itu sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan lelaki tadi.

 “Aku terpaksa pergi. Ada hal lain yang harus kulakukan,” jawabnya.

“Apa itu?” tanyanya penasaran. Numayra tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu.

“Kurasa kamu nggak akan tertarik untuk mendengarnya,” bisiknya lirih. Lelaki itu tertawa. Dia mengelus pipi halus Numayra dan tersenyum.

“Ayo kita pergi,” ujar lelaki itu dengan suara seraknya. Numayra mengangguk dan segera bangkit dari pangkuan lelaki itu.

“Aku harus bisa membuatnya bertekuk lutut. Aku nggak mau mengurangi uangku untuk membeli pakaian seperti ini,” batin Numayra dalam hati.

“Apakah kamu suka dengan penampilanku?” tanya Numayra sambil menggelayut mesra di lengan lelaki itu.

“Kenapa tiba-tiba kamu jadi berubah seperti ini?” tanya lelaki itu dengan tatapan heran. Numayra tersenyum dan melepaskan pegangannya. Dia pun menjauh dari lelaki itu.

“Kamu lebih suka begini?” tanyanya datar. Dengan cepat lelaki itu menarik tangannya dan membiarkan Numayra menggelayut mesra kembali.

“Semua itu bisa diatur kalau kamu memberiku bayaran dengan tepat,” bisik Numayra. Dia pun mulai melancarkan strateginya.  Lelaki itupun terjebak dengan strategi Numayra dan memilih pergi daripada menyaksikan pertunjukan sang bintang tamu di klub.

Mobil lelaki itu ada di depan. Tidak seperti kemarin, kali ini lelaki kekar yang menunggu di depan pintu tadi yang menyetir. Jadi mereka berdua masuk ke jok belakang.

“Kamu ingin apa?” tanya lelaki itu seakan sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Numayra.

“Belikan aku pakaian yang pantas untuk melayanimu,” ujar Numayra terus terang. Lelaki itu tertawa dan meminta sopir untuk mampir ke sebuah mall.

 Mobil pun mengitari patung monument di tengah kota dan masuk ke sebuah mall besar di sana.  Numayra tersenyum senang. Lelaki itu membawanya ke beberapa butik yang ada di pertokoan itu. Dua tas besar berisi beberapa pakaian pun ditenteng oleh Numayra saat mereka keluar dari sana.

 “Bayaranku hampir sama dengan belanjaan ini,” batin Numayra dengan getir.

“Kenapa?” tanya lelaki itu. Numayra menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

 Puas dengan pelayanan Numayra, lelaki itu tak segan memberikan bonus langsung kepadanya. Numayra hampir terkejut sesaat setelah lelaki itu memaksanya memberikan nomer rekening.

 “Cek saldomu. Kalau kurang, bilang saja,” ujarnya disela-sela menghisap rokok. Numayra segera mengambil ponselnya dan melakukan apa yang dikatakan lelaki itu. Seketika manik matanya membelalak kaget saat melihat angka yang tertera di sana.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!