HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA

12. TERJUN KE KUBANGAN HITAM

“Kenapa? Kurang?” tanya lelaki itu sambil menatap penuh makna ke arah gadis cantik yang masih tampil polos di depannya itu. Numayra tersenyum tanpa menjawabnya. Dia pun segera menarik selembar selimut dan menutupi badannya. Tanpa bicara Numayra segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Aku pergi sekarang,” ujar Numayra yang telah kembali berpakaian sambil tersenyum tipis.

“Kamu nggak cek lagi ponselmu?” tanya lelaki itu dengan tatapan aneh. Numayra meliriknya dan segera membuka ponselnya. Notifikasi pesan perbankan muncul di sana. Numayra mengernyitkan dahinya dan segera mengecek saldo banking miliknya.

“A-apa maksud kamu?” tanya Numayra sambil memperlihatkan adanya transaksi uang masuk lagi di rekeningnya.

“Bonus tambahan agar kamu bisa stay di sini lebih lama,” jawabnya sambil mengisi gelas kosongnya dengan minuman dari sebotol minuman beralkohol merek ternama.

“Sekarang bahkan aku masih mempunyai uang sisa setelah kukirim untuk biaya Ibu,” batin Numayra lega. Dia pun meletakkan kembali tasnya dan berjalan santai ke arah lelaki itu. Sebuah senyum lebar pun terlihat di bibir lelaki VIP itu.

 

***

 

Sekitar jam tujuh pagi Ripin dikejutkan dengan sebuah pesan dari Numayra untuk menjemputnya di klub. Lelaki itu baru sadar kalau Numayra ternyata tidak pulang ke kos-kosan malam ini.

Dua puluh menit kemudian, Ripin telah tiba di sana. Numayra pun segera keluar dan tersenyum melihat lelaki yang terlihat menahan marah di depan sana. Sambil menenteng kresek berisi beberapa jajanan yang dibelinya semalam, Numayra berjalan menghampiri Ripin dan menyantolkan kresek itu di motor.

Numayra bersikap biasa saja. Dia tidak ambil pusing dengan sikap Ripin. Lelaki itupun segera membawanya pulang ke kos-kosan.

“Cak mampir nyari sarapan dulu, ya,” kata Numayra tepat di telinga Ripin. Tangannya pun menelusup ke pinggang lelaki itu dan memeluknya seperti biasa. Ripin yang semula marah lambat laun mereda amarahnya. Kembali dadanya terasa berdebar tak karuan saat tubuh Numayra menempel erat di tubuh belakangnya.

“Num. Numayra,” panggil Ripin.

“Ya, Cak. Kenapa?” tanya Numayra sambil mencoba mencondongkan kepalanya agar bisa mendengar suara Ripin.

“Kalau kamu pepet begini, aku bisa hilang konsentrasi, Num,” jawab Ripin. Numayra tertawa mendengarnya. Dia pun mundur sehingga ada sela di antara mereka.

“Begini, Cak?” tanya Numayra. Ripin menganggukkan kepalanya dan bisa menghela nafas lega.

“Mau sarapan di mana?” tanya Ripin.

“Di warung nasi padang aja, Cak. Dua puluh empat jam buka ‘kan,” jawab Numayra. Ripin pun mengangguk dan membelokkan motornya di sebuah warung masakan Padang yang mereka lewati.

“Aku nggak usah, Num,” ujar Ripin saat mendengar Numayra memesan dua bungkus nasi.

“Lho kenapa?” tanya Numayra heran.

“Puasa,” jawab Ripin santai. Numayra menatapnya tak percaya. Tapi Ripin tak peduli. Dia membuang mukanya ke arah lain.

“Ya udah satu saja, Mas,” kata Numayra kepada pelayan warung.

Mereka pun segera melanjutkan perjalanan pulang. Dan benar seperti yang sebelumnya ditebak oleh Numayra. Beberapa ibu-ibu  tampak sudah duduk bergerombol di depan kos-kosan. Numayra segera menghampiri mereka dan memberikan kresek berisi jajanan yang dia beli semalam.

“Ini Bu, buat camilan,” ujar Numayra ramah. Melihat kresek yang dibawa Numayra mereka pun sontak menyambutnya dengan ramah.

“Wah, lagi banyak duit ya, Num.”

“Sering-sering ya, Num. Kita mah selalu terbuka untuk dibawain makanan seperti ini.”

“Makasih, Num. Besok lagi, ya.”

Dan masih banyak celotehan ibu-ibu itu atas pemberian Numayra. Tidak seperti Ripin yang langsung masuk ke kamarnya. Numayra hanya menatapnya bingung dan segera masuk ke kamarnya. Gadis itu dengan cepat menekan layar ponsel dan membuka mobile banking miliknya.

Setelah mengirimkan uang, dia pun menghubungi adiknya. Dia meminta agar operasi ibunya segera dilakukan.

[“Mbak Numayra nggak bisa pulang kalau ibu oprasi nanti?”] tanya Iman.

“Mbak nggak tahu, Man. Kalau pas nggak ada kerjaan ya Mbak usahakan pulang,” jawab Numayra.

“Yang penting sudah ada uang untuk ngurusin operasinya Ibu dulu. Mbak usahakan pulang kalau dapat libur nanti,” lanjutnya. Terdengar helaan nafas Iman di sana. Akhirnya lelaki muda itupun bisa mengerti kondisi kakaknya.

“Kamu kabari Mbak kalau sudah ada tanggal oprasinya Ibu, ya Man,” pinta Numayra.

[“Iya Mbak. Pasti aku kabari nanti. Ya udah, aku mau ke administrasi dulu, Mbak,”] pamit Iman. Mereka pun menyudahi panggilan itu.

Numayra membuka tirai kamarnya saat mendengar deru motor Ripin di depan. Rupanya lelaki itu bersiap untuk pergi kerja. Dia sedang memanaskan kembali motornya. Sebatang rokok terselip di sela jemarinya. Numayra tersenyum melihatnya.

“Tunggu. Tunggu. Bukannya tadi dia bilang kalau lagi puasa? Kenapa ngerokok?” tanya Numayra lirih. Tepat saat itu Ripin menoleh ke arahnya dan tersenyum tanpa rasa salah. Numayra pun membalas senyumnya. Dia menggerakkan tangannya seperti orang merokok. Ripin kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Tanpa banyak bicara, Ripin pun segera pergi. Numayra segera membersihkan diri dan merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Tak menunggu lama, Numayra langsung tertidur begitu memejamkan matanya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Popularitas Numayra pun semakin bersinar sebagai lady escort berkelas.  Dia tidak diperbolehkan lagi melayani tamu-tamu biasa. Hanya tamu kelas khusus dan VIP sajalah yang berhak mendapatkan pelayanannya.

Hutangnya pada Tante Lisa bahkan telah dia lunasi. Sekarang keadaan menjadi terbalik. Bukan Numayra yang memerlukan Tante Lisa, tetapi wanita bertubuh gempal itulah yang membutuhkan keberadaan Numayra.

Ripin bukannya semakin kendor menasihati Numayra. Di setiap kesempatan yang ada, Ripin selalu menasihatinya. Rasa sayangnya kepada gadis itu semakin besar saat melihat betapa hitam kubangan yang dimasuki oleh Numayra.

“Num, dulu kamu perlu uang untuk oprasi ibumu. Untuk bayar hutang-hutangmu ke bosmu. Sekarang semua itu sudah bisa kamu tutupi. Kenapa kamu masih saja berada di sana?” tanya Ripin suatu hari.

Numayra terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Dia melirik ke arah lelaki yang bahkan tidak pernah mau menerima pemberiannya itu. Numayra mengambil rokok yang tergeletak di sampingnya. Saat itu mereka berdua sedang rileks di pinggir sungai yang cukup viral. Sebuah lokasi wisata kota yang terletak di sepanjang sungai yang bersih di daerah Selatan kota Bahari.

Mereka duduk di sisi yang agak jauh dari keramaian. Numayra segera menyulut rokok mild kesukaannya. Setelah beberapa isapan dia menoleh ke arah Ripin dan tersenyum tipis.

“Aku menikmatinya, Cak. Nggak boleh?” ujarnya pelan. Ripin menatapnya lekat. Gadis itu sengaja tidak membalas tatapan mata Ripin. Dia menatap riak air sungai di depan sana.

“Kepalang tanggung. Aku sudah teken kontrak juga. Nggak bisa seenaknya mundur,” lanjutnya dengan nada datar. Ripin hanya menghela nafas dalam mendengarnya.

“Bukannya kontrak itu ada masanya? Masak dari dulu nggak selesai juga?” tanya Ripin heran.

“Ada sih. Tapi begitu mau selesai, disodori yang baru lagi dengan pendapatan yang lebih besar lagi. Siapa yang mau nolak?” jawab Numayra dengan santai.

“Kenapa, Cak?” tanyanya balik.  Perlahan Numayra menolehkan pandangannya ke arah Ripin.

Ripin menyesap rokoknya dalam dan menatap bening mata indah Numayra di balik embusan asap rokok.  Sebuah pernyataan dia ucapkan membuat Numayra kembali hanya bisa tercekat diam dan menatap nanar ke arah lelaki itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!