Halal tapi Asing

Renggang

Ting. Mataku turun menatap layar. 

[“Saff udah mendingan?”]

Dadaku langsung berdegup pelan. Cepat-cepat kupadamkan layar ponsel sebelum ada yang melihat terlalu jelas.

Entah kenapa aku merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah, padahal itu hanya pesan biasa.

Tapi mungkin karena sudah terlalu lama tidak ada yang menanyakan keadaan kami setulus itu… sampai perhatian kecil pun terasa mencolok.

“Azarin.”

Suara Wardah membuatku tersentak kecil.

“Iya, Bu?"

“Air minumnya buat Nivean.”

“Oh iya.”

Aku buru-buru berjalan ke dapur mengambil gelas. Jemariku sedikit gemetar saat menuang air dingin dari dispenser.

Di ruang makan, suara Nivean dan ibunya mulai terdengar samar bercampur suara televisi. Aku mengembuskan napas pelan sebelum melangkah kembali membawa gelas.

“Nih, Mas.”

Nivean menerimanya singkat. “Makasih.”

Tidak ada tatapan hangat atau senyum kecil seperti dulu. Padahal kala itu, dia bahkan bisa menarik tanganku diam-diam hanya untuk mencium punggungnya sebentar saat ibunya lengah.

Aku masih ingat sekali. Dulu Nivean sering bilang kalau rumah paling nyaman adalah rumah yang ada aku di dalamnya. Sekarang kami duduk di ruangan yang sama, tapi rasanya seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal serumah.

“Udah mau masuk Maghrib,” ujar Wardah sambil melirik jam dinding. “Kamu udah salat belum, Rin?”

Pertanyaan itu membuatku sedikit tercekat. “Belum, Bu. Tadi habis masak.”

“Jangan ditunda-tunda.” Nada suara mertuaku melunak sedikit. “Kalau hati lagi berat, jangan jauh dari Allah," ujarnya lembut.

Aku menunduk pelan. Perhatian sederhana tapi entah kenapa langsung membuat tenggorokanku terasa penuh. Karena memang akhir-akhir ini aku terlalu sibuk menangisi manusia sampai lupa cara menenangkan diri di hadapan Tuhan.

Aku jadi ingat semalam. Saat menangis diam-diam membelakangi Nivean yang tertidur, aku bahkan tidak sempat berdoa panjang.

“Kadang rumah tangga itu bukan kurang cinta,” lanjut Wardah sambil merapikan kerudungnya. “Tapi dua orang ini sama-sama jauh dari Sang Pemberi Ujian,” imbuh beliau melihat kami bergantian.

Aku diam mendengarkan.

“Perempuan kalau hatinya kosong, gampang sekali merasa kurang.” Tatapannya beralih padaku. “Makanya jangan ngisi hati sama manusia melulu, mintalah ketenangan,” tutur Ibu Wardah. 

Deg.

Aku menggigit bibir pelan, ucapannya menohok tepat di hatiku yang gelisah hari ini. Karena sejak siang tadi… pikiranku justru dipenuhi seseorang yang bahkan bukan suamiku sendiri.

Astaghfirullah.

Aku buru-buru menundukkan kepala lebih dalam. Rasa bersalah perlahan merayap masuk ke dada.

Bukan karena aku melakukan sesuatu. Tapi karena aku mulai menikmati didengarkan oleh lelaki lain. Dan itu menakutkan.

“Bun…” suara kecil Saff terdengar lagi dari meja makan. “Supnya enak.”

Aku langsung menoleh cepat. Anak itu sedang meniup pelan sendoknya sambil duduk diam dengan rambut sedikit berantakan.

Dadaku seketika menghangat. Hal-hal kecil seperti ini yang membuatku masih bertahan sejauh ini.

Karena anak-anakku.

Aku tersenyum tipis lalu mengusap kepala Saff saat melewatinya. “Makan yang banyak.”

Nivean memperhatikan sekilas interaksi kami dari sofa. Setelahnya, lelaki itu kembali sibuk membuka ponsel. Entah dengan siapa dia sibuk berbicara akhir-akhir ini. Pikiranku langsung meluncur ke aroma parfum asing di kerah jasnya kemarin.

Aku buru-buru memalingkan wajah sebelum prasangka buruk kembali memenuhi kepala.

Husnuzan, Rin.

Bukankah seorang istri juga diajarkan menjaga prasangka?

Tapi bagaimana kalau yang berubah bukan cuma perasaanku? Bagaimana kalau memang ada jarak yang sengaja dibuat?

Ting.

Ponselku kembali bergetar kecil di atas meja dapur. Jantungku langsung ikut-ikutan tidak tenang.

[“Saffnya jangan terlalu dimarahi.”]

Aku langsung mematikan layar, menelan rasa bersalah yang tiba-tiba memenuhi dada.

Astaghfirullah.

Kenapa cuma pesan sesederhana itu bisa membuat pikiranku kacau begini?

Aku mengusap wajah pelan sebelum buru-buru menyimpan ponsel ke saku cardigan. Saat kembali menoleh, kulihat Wardah sudah berdiri sambil membenarkan tasnya.

“Ibu pulang dulu,” ucap beliau.

Aku melangkah mendekat. “Loh, Bu. Baru juga—”

“Udah mau Maghrib.” Wardah mengibaskan tangan pelan di depanku. “Nanti kemaleman.”

Nivean ikut bangkit dari sofa. “Aku antar ke mobil.”

Aku membantu mengambilkan payung sementara Saff sibuk mencium tangan neneknya. Tisya bahkan belum turun lagi dari kamar sejak tadi.

Begitu sampai di teras, udara maghrib terasa dingin menusuk. Gerimis kecil masih turun membasahi halaman.

Wardah tiba-tiba menoleh padaku dari dekat pintu mobil. Tatapannya turun-naik memperhatikanku beberapa detik. “Rin.”

“Iya, Bu?”

“Kamu tuh dandan sedikit.”

Aku terdiam.

“Jangan kayak gembel.” Nada suaranya terdengar biasa, tapi tetap menusuk pelan ke dada. “Lihat tuh muka kamu pucat, baju lusuh.”

Tanganku refleks menyentuh sisi kerudung sendiri.

“Laki-laki itu mahluk visual” lanjutnya sambil merapikan ujung bajuku sedikit. “Di kantor perempuan cantik-cantik. Wangi, rapi, enak dilihat.”

Deg.

Aku tersenyum tipis sampai rasanya lebih mirip menahan malu.

“Gimana Nivean mau betah sama kamu kalau pulang kerja yang dilihat malah muka kusut begini?”

Ucapan ibu menghantam tepat di titik paling rapuh dalam diriku hari ini. Aku menunduk cepat, jemariku dingin mendadak.

Padahal aku juga ingin rapi. Berpenampilan segar dan menyenangkan dilihat suami sepulang kerja.

Tapi kapan terakhir kali aku sempat memikirkan diriku sendiri?

Di antara anak-anak, rumah, kecemasan dan perasaan yang terus kupendam… aku bahkan lupa rasanya menjadi perempuan, bukan cuma ibu.

“Bu…” suaraku nyaris hilang ditelan gerimis. “Tolong tanyakan Mas… kenapa suka mengabaikan kami?”

Nivean yang berdiri di dekat mobil langsung menoleh sekilas ke arahku. Wardah terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil.

“Kamu introspeksi diri dulu lah, Rin.”

Brak.

Rasanya seperti ada sesuatu yang terbelah tepat di tengah dada.

“Apa mungkin dia malas pulang ke rumah karena isinya tuntutan terus?” lanjut beliau pelan sebelum masuk ke mobil.

Aku mematung di tempat.

Pintu mobil tertutup. Mesin menyala perlahan.

Dan aku cuma bisa berdiri sambil memeluk tubuh sendiri ketika mobil itu keluar dari halaman rumah.

Gerimis masih turun tipis. Tapi anehnya, yang terasa dingin justru bagian hati terdalam.

“Masuk.”

Suara Nivean terdengar datar di belakangku. Aku mengangguk lalu melangkah masuk lebih dulu ke rumah.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa pengap lagi. Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, suara langkah kaki terdengar cepat dari tangga.

“Papa.”

Kami sama-sama menoleh. Tisya berdiri di anak tangga terakhir sambil membawa selembar kertas kusut di tangan. Wajahnya datar, tapi matanya terlihat gelisah.

“Apa?” tanya Nivean sambil melepas jam tangannya.

Putriku menyodorkan kertas itu cepat-cepat. “Tanda tangan.”

Nivean mengambilnya sambil mengernyit kecil. “Apa ini?”

Aku ikut mendekat beberapa langkah.

“Surat remedial,” jawab Tisya cepat. “Aku dapat nol.”

Dadaku langsung mencelos.

“Nol?” suara Nivean naik sedikit sambil membaca lembar itu. “Matematika?”

Tisya menunduk diam. Tatapan Nivean perlahan beralih padaku. “Kamu gak tahu ini, Rin?”

Aku langsung tercekat. “Aku… baru tahu.”

“Tisya dari sore di rumah.”

“Iya tapi dia langsung masuk kamar dan—”

“Apa aja sih kerjaan kamu di rumah?” sentak Nivean padaku.

Kata-kata itu membuat tenggorokanku langsung terasa panas. Aku menatap Nivean tidak percaya beberapa detik. “Mas…”

“Anak remedial sampai nol kamu gak tahu.”

Aku menggigit bibir keras-keras menahan sesuatu yang mulai mendesak naik ke kepala. “Loh, anak-anak tanggung jawab bersama juga, kan?” suaraku mulai bergetar. “Dulu kamu masih punya waktu ngobrol sama mereka. Sekarang ponselmu lebih penting.”

Suasana langsung hening. Saff yang tadi duduk masih makan sampai berhenti menyendok supnya.

Tatapan Nivean berubah tajam. “Papa sibuk buat kalian.” Kalimat itu diarahkan ke Tisya sambil tetap menandatangani surat remedial tersebut.

Cepret. Pulpen dilempar pelan ke meja.

“Aku gak butuh uang Papa yang banyak itu!” Suara Tisya meninggi tiba-tiba.

Aku langsung mendongak, putriku berdiri dengan napas memburu, matanya sudah merah menahan tangis.

“Aku cuma pengen Papa ada di rumah!"

Deg.

Nivean langsung membeku. Tisya buru-buru membalik badan lalu naik tangga secepat kilat.

Brak! Suara pintu kamarnya tertutup keras mengguncang rumah yang sedari tadi sudah rapuh.

Saff menunduk takut di kursinya. Aku berdiri mematung sambil menahan napas yang terasa berat di rongga dada.

Sementara Nivean masih diam di tempatnya dengan wajah kaku, seolah baru sadar kalau kerenggangan di rumah ini ternyata sudah sejauh itu.

"Ya Allah."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!