Halal tapi Asing

Pengakuan Saff

“Maaf, Bun.”

Suara kecil itu membuat dadaku langsung terasa sesak.

Aku menunduk menatap Saff yang masih memeluk pinggangku erat di bawah payung Kahfiel. Rambut anak itu sedikit basah di bagian depan, napasnya masih memburu setelah berlari.

“Maaf kenapa?” tanyaku pelan sambil mengusap belakang kepalanya.

Saff menggeleng cepat. “Aku bikin Bunda dipanggil sekolah,” gumamnya terdengar malu dan menyesal.

Ya Allah... Aku langsung memejam sesaat. Anak sekecil ini bahkan masih sempat takut merepotkan ibunya.

Tanganku spontan mengusap punggungnya pelan, sambil berucap, “Bunda gak marah.”

Saff makin menunduk. Jemarinya meremas seragam sendiri. Hari ini, dia diizinkan pulang cepat karena harus mengerjakan tugas tambahan sebagai hukuman telah berkelahi. 

Aku menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan. Harusnya aku marah karena dia berkelahi. Tapi melihat wajah anakku sekarang… rasanya aku malah ingin menangis.

Di sampingku, Kahfiel berdiri diam sambil memegang payung. Lelaki itu tidak ikut bertanya atau mencampuri urusan kami. Namun aku bisa merasakan kalau dia mendengar semuanya. Dan aku jadi semakin malu.

“Kami duluan ya, Pak,” ucapku pelan pada Kahfiel sambil menarik tubuh Saff mendekat.

Kahfiel mengangguk kecil. “Hati-hati di jalan.”

Aku membalas anggukan singkat sebelum akhirnya berjalan menuju parkiran bersama Saff.

Beberapa menit setelah masuk mobil pun, dadaku masih terasa penuh. Sepanjang perjalanan pulang, Saff lebih banyak diam di kursi samping.

Biasanya anak itu tidak bisa berhenti bercerita. Tentang jam istirahat, guru mapel yang cuma ngasih tugas kerjakan LKS atau kegaduhan di kelas saat jam kosong. Soal hal-hal random sampai terkadang membuatku pusing sendiri.

Tapi hari ini tidak. Dia hanya memeluk tas di pangkuannya sambil menatap jendela mobil yang dipenuhi titik-titik hujan.

Aku beberapa kali meliriknya. Hati seorang ibu kadang aneh ya. Saat anak-anak ribut melulu, kita lelah melerai. Tapi ketika mereka mendadak diam… rasanya malah lebih menakutkan.

“Saff.”

“Hm?”

“Bunda gak marah kamu berantem,” ucapku pelan sambil fokus menyetir. “Tapi Bunda pengen tahu kenapa Saff sampai dorong teman.”

Saff diam cukup lama. Anak itu menunduk sambil memainkan tutup botol minumnya.

“Tadi Ero bilang aku anak mami.”

Aku menghela napas kecil. “Terus?”

“Saff kesel."

“Cuma karena itu?”

Anak itu menggeleng pelan. Suaranya makin mengecil saat berujar, “Dia bilang Papanya selalu siap sedia untuknya, jemput, antar les, bahkan datang ke acara sekolah.”

Deg.

Tanganku langsung mengencang di setir, dadaku mulai berdenyut getir.

Bahkan anak SD pun mulai menyadarinya. Aku buru-buru memaksakan senyum kecil meski rasanya bibirku berat sekali.

“Terus Saff ngomong…” anakku mulai terdengar takut, suaranya kian lirih, “kalau dia cuma iri karena gak punya ibu.”

Hatiku langsung runtuh seketika. Ya Allah.

Aku spontan melirik Saff. Anak itu menunduk dalam sekali sekarang.

“Aku gak sengaja, Bun…”

Kalimat Saff justru membuat mataku panas. Anak-anak ternyata bisa saling melukai, menyerang bagian paling sensitif dalam hidup mereka.

Aku mengembuskan napas perlahan lalu menepikan mobil beberapa detik karena pandanganku mulai kabur oleh air mata yang tertahan.

“Saff.”

“Iya…”

“Jangan ngomong begitu lagi ya, Sayang.”

Anakku langsung mengangguk cepat. “Iya…”

Aku menatap wajah kecilnya sambil berusaha tetap tenang. Tidak ada anak yang benar-benar paham cara mengelola luka di hatinya sendiri.

Anak-anak memang tidak selalu mengerti masalah orang dewasa. Tapi mereka bisa merasakan perubahan sekecil apa pun di rumah.

Kadang mereka hanya melampiaskannya ke orang lain, tanpa tahu bahwa kata-katanya bisa menyakiti. Dan itu yang paling membuatku takut.

Rumah terasa sunyi ketika kami sampai. Lampu ruang tamu masih mati. Aroma floral pendingin ruangan langsung menyambut begitu pintu dibuka.

Aku mengembuskan napas panjang lalu melepas sepatu pelan. Saff berjalan masuk tanpa banyak bicara.

“Ganti baju dulu ya,” ucapku lembut.

“Iya, Bun.”

Anak itu menaiki tangga perlahan. Aku memperhatikannya sampai menghilang di lantai atas.

Entah kenapa bahuku terasa berat sekali hari ini. Padahal kata orang-orang, cuma memikul peran sebagai istri juga ibu.

Aku masuk ke dapur lalu menuang air putih untuk diriku sendiri. Kepalaku kembali berdenyut pelan sehingga aku bersandar di depan kulkas. Belum sempat minum, terdengar suara pintu depan terbuka.

“Tisya pulang!” seru putriku dari depan.

Aku langsung keluar dapur. Meninggalkan gelas di atas meja makan.

Scarletisya berdiri di ruang tamu sambil melepas sepatu. Seragam SMP-nya sedikit kusut, wajahnya tampak lelah.

“Makan dulu nanti, ya, Tisya?” ucapku berdiri di belakang sofa, melihatnya.

“Hmm.”

Tisya berjalan melewatiku begitu saja. Aku memperhatikan punggung putriku beberapa detik.

Akhir-akhir ini anak itu juga mulai berubah. Lebih sering mengunci diri di kamar, jarang bercerita dan cepat emosi.

“Tisya.”

Langkahnya berhenti.

“Iya?”

Aku menelan ludah pelan sebelum bicara hati-hati, “Kemarin guru kamu bilang nilai matematikanya turun lagi.”

Tisya langsung mengembuskan napas panjang. Wajahnya menengadah ke atas, tersirat malas membahas hal ini denganku.

“Terus?” ucapnya sinis, sambil mengangkat kedua lengannya malas.

Nada suaranya membuatku sedikit tersentak. “Bunda cuma mau ngobrol baik-baik.”

“Aku capek, Bun.”

“Bunda tahu. Tapi—”

“Bunda pasti bakal bilang semua orang juga capek, kan!”

Suara Tisya mendadak naik, memaksaku langsung terdiam. Putriku cepat-cepat membuang muka, sorot matanya terlihat penuh sesuatu yang sudah lama ditahan.

“Aku sekolah tuh udah capek.” Napasnya mulai berat, suara Tisya sedikit bergetar, “Di rumah juga capek.”

“Tisya…”

“Papa gak pernah ada!” suaranya pecah. “Bunda juga akhir-akhir ini suka nangis!”

Deg.

Tubuhku langsung membeku. Tisya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, seperti menyesal sudah bicara terlalu berani tentangku. Namun semuanya terlambat. Karena kalimat itu terlanjur menghantamku telak.

Jadi selama ini… anak-anak melihat semuanya?

“Aku masuk kamar dulu.” Tisya buru-buru membalik badan lalu menaiki tangga cepat-cepat.

Suara pintu kamarnya yang tertutup kencang membuat rumah gaduh tapi lekas kembali sunyi.

Dan aku masih berdiri mematung di ruang tamu. Rasanya seperti gagal menjadi semuanya. Gagal sebagai istri dan ibu.

Aku perlahan duduk di sofa sambil memijat pelipis yang kembali berdenyut. Ponsel kuletakkan begitu saja di meja.

Tidak ada pesan dari Nivean atau pertanyaan bagaimana pertemuan sekolah tadi.

Aku tertawa kecil tanpa suara, getir. Gini amat hidupku sekarang...

Namun tepat beberapa detik kemudian layar ponselku menyala. Satu pesan masuk dari nomer baru. 

[“Mbak Azarin sudah sampai rumah?”]

Aku terkejut, tatkala membaca nama di bawah nomor itu. Ironis memang, hari ini lelaki asing itu justru lebih dulu memastikan aku baik-baik saja dibanding suamiku sendiri.

Aku mengernyit heran saat menatap layar ponsel. Jempolku bahkan belum sempat membalas ketika pikiranku lebih dulu dipenuhi kebingungan.

Kahfiel… dapat nomor aku dari mana?

Aku menggigit bibir pelan sebelum akhirnya mengetik balasan, "Eh… maaf, tahu nomor saya dari mana?”

Pesan itu langsung centang dua, sialnya jantungku malah ikut berdebar menunggu balasannya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!