Halal tapi Asing

Oleng

“Rin.” Potongan suaranya terdengar lelah. “Urusan beginian aja kamu nanya aku harus gimana?”

Kalimat itu langsung membuat tenggorokanku tercekat. Beberapa detik aku tidak bisa menjawab. “Aku cuma—”

“Aku lagi kerja. Nanti aja.”

Tut. Telepon langsung terputus.

Aku menatap layar ponsel dengan napas tertahan. Rumah mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Dan pagi itu… aku baru sadar kalau ternyata yang paling melelahkan dari sebuah pernikahan bukan pertengkaran. Melainkan saat semuanya harus dihadapi sendirian.

Langit mendung ketika aku sampai di sekolah dasar Saff, putra bungsuku.

Tanganku masih terasa dingin meski sejak tadi menggenggam gelas kopi hangat dari rumah. Kepalaku belum benar-benar membaik, tapi aku tetap memaksakan diri datang.

Mana mungkin seorang ibu tidak datang ketika sekolah memanggil anaknya, kan?

Aku berjalan melewati koridor sekolah sambil memeluk map di dada. Suara anak-anak yang sedang belajar, samar terdengar dari balik dinding kelas.

Aneh ya… Tempat seramai ini malah membuatku merasa semakin sepi.

“Bunda Saff?”

Aku menoleh cepat ketika seorang guru menghampiri.

“Silakan masuk dulu, Bu. Wali murid lainnya juga sudah datang.”

Aku mengangguk kecil lalu melangkah masuk ke ruangan. Di sana sudah ada beberapa orang tua murid yang duduk berjejer. Sebagian datang berdua dengan pasangan mereka. Ada yang masih sempat bercanda kecil sambil membahas anaknya.

Dan aku… sendiri lagi. Entah kenapa dadaku terasa ngilu melihat hal sederhana seperti itu.

Lucu ya.

Kadang perempuan tidak iri pada hadiah mahal atau bunga. Cukup ditemani datang ke sekolah anak saja, sudah merasa sangat dicintai.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan lalu memilih duduk di kursi paling ujung. Tanganku meremas map pelan.

Beberapa menit kemudian wali kelas mulai menjelaskan tentang perkembangan anak-anak di kelas. Sampai akhirnya nama Saff disebut.

“Sebenarnya Saff anak yang pintar, Bu Azarin.”

Aku langsung mengangkat wajah.

“Tapi akhir-akhir ini dia sering melamun di kelas.”

Dadaku langsung mencelos, meski wajahku mungkin terlihat datar.

“Nilainya memang masih bagus,” lanjut beliau lembut, “tapi fokusnya mulai berkurang. Kadang kalau diajak bicara harus dipanggil beberapa kali.”

Aku menunduk pelan. Entah kenapa rasa bersalah perlahan naik memenuhi dada. Kemarin Tisya, sekarang Saff. Apa anak sekecil itu mulai merasakan kalau rumahnya sedang tidak baik-baik saja?

“Dan…” wali kelas tampak ragu sebentar. “Beberapa hari lalu Saff sempat berkelahi dengan temannya.”

Aku terkejut, bibirku menyebut, “Berkelahi?”

“Nggak sampai parah, hanya dorong-dorongan dan kawannya jatuh luka lecet. Katanya ada yang mengejek keluarganya.”

Jantungku seperti ditarik pelan, ~Keluarganya. Aku menelan ludah susah payah.

Saat itulah samar terdengar suara kursi bergeser di sebelahku.

“Maaf saya telat.”

Suara laki-laki itu terdengar tenang dan rendah. Aku menoleh sekilas.

Seorang pria dengan kemeja hitam sederhana duduk berjarak beberapa kursi dariku. Rambutnya sedikit basah terkena gerimis. Wajahnya terlihat matang, tapi lembut.

“Orang tua Garniero Alpha?” tanya wali kelas.

“Iya, Bu. Ero anak saya.”

Oh… Jadi ini ayah Ero. Aku pernah mendengar nama anak itu dari Saff. Si pintar yang katanya selalu juara kelas bersama putraku.

Namun entah kenapa, anak-anak pintar memang sering terlihat menyimpan banyak hal sendirian.

Rapat berlangsung cukup lama sampai kepalaku makin pening. Tanganku refleks memijat pelipis pelan.

Ketika wali kelas akhirnya menutup pertemuan, aku buru-buru berdiri karena ingin cepat keluar mencari udara segar. Namun mungkin karena terlalu banyak pikiran, gerakanku malah ceroboh.

Bruk.

Tas dan ponselku jatuh bersamaan. Isi map bening yang kubawa dari rumah ikut berhamburan ke lantai. Lembar tugas Saff, buku penghubung, sampai beberapa struk yang belum sempat kubereskan berserakan di dekat kakiku.

“Ya Allah…” Aku langsung jongkok panik sambil memunguti kertas-kertas itu cepat-cepat. Tanganku sampai gemetar sendiri karena malu.

Namun sebelum sempat meraih semuanya, ada tangan lain yang lebih dulu mengambil beberapa lembar berkas milikku.

“Astagfirullah… maaf,” gumamku refleks.

“Gapapa.”

Aku mendongak pelan, Ayah Ero.

Jemarinya bergerak tenang membantu memungut semuanya tanpa banyak bicara. Ia merapikan lembaran yang hampir terinjak orang lewat lalu menyerahkannya padaku.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Aku cepat-cepat berdiri, tapi kepalaku mendadak terasa berkunang sesaat sampai tubuhku sedikit oleng.

“Eh, Mbak?” Tangannya refleks menahan siku lenganku sebentar.

Aku langsung menarik napas pelan dan buru-buru menegakkan tubuh. “Maaf… saya agak pusing.”

Pria itu melepaskan tangannya perlahan, memberi jarak sopan. “Saya lihat dari tadi wajah Mbak nya pucat.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadaku terasa aneh. Sudah lama sekali tidak ada yang benar-benar memperhatikan kondisiku. Bahkan Nivean tadi pagi tidak sadar kalau aku hampir demam.

“Aku gapapa,” jawabku pelan, tersenyum getir sambil mengibaskan tangan di depan dadaku.

Pria itu membalas senyum, mengangguk samar. “Hujan mulai deras,” ucapnya sambil melirik luar jendela. “Mobil Mbak jauh?”

Aku ikut menoleh. Hujan turun cukup lebat sekarang. Suara tetesnya memantul keras di atap sekolah. “Di parkiran depan.”

“Saya bantu bawakan?”

Aku spontan ingin menolak. Terbiasa mengurus semuanya sendiri membuatku canggung menerima bantuan sekecil apa pun.

Namun sebelum sempat bicara, pria itu sudah lebih dulu mengambil map yang sedari tadi nyaris jatuh lagi dari tanganku.

“Saya Kahfiel,” ucapnya singkat sambil berjalan pelan di sampingku. "Fil, biasa dipanggil," imbuhnya mengulas senyum tanpa melihatku.

Aku melirik bahunya beberapa detik, lalu menjawab lirih, “Azarin.”

Rasanya, sudah lama sekali aku tidak merasa didengarkan sesederhana ini.

Aku ikut berjalan pelan di sampingnya menuju koridor depan sekolah. Hujan di luar semakin deras, angin dinginnya berhembus menusuk tulang.

Kahfiel membuka payung hitamnya tepat ketika kami sampai di teras sekolah.

“Mari,” ucapnya singkat sambil sedikit menggeser posisi payung agar tubuhku tidak terkena tampias hujan.

Aku refleks memeluk map beningku lebih erat. Dan detik itu juga isi kepalaku mulai berisik lagi.

"Astaga. Dia tadi lihat sticky note absurd itu nggak ya?" batinku, meliriknya diam-diam.

~Jangan lupa kuat hari ini.

Jangan-jangan dia sekarang ngira aku perempuan aneh. Atau lebih parah… perempuan stres yang hidupnya berantakan. Aku sampai menggigit bibir sendiri menahan malu. Apalagi sekarang malah dipayungi begini.

Kalau dipikir-pikir, mana ada ibu wali murid yang pucat, linglung, barang bawaannya jatuh semua, lalu membawa catatan penyemangat untuk dirinya sendiri.

Jangan-jangan dia mikir pantesan anakku berantem sama Ero.

Aku mengembuskan napas kecil sambil menunduk. Ingin menertawakan diri sendiri, tapi rasanya malah makin menyedihkan. Sementara di sampingku, Kahfiel tetap berjalan santai tanpa membahas apa pun soal kejadian tadi. Dan justru sikap tenang itu yang membuatku makin canggung.

“Bundaaa!” Suara anak lelaki tiba-tiba terdengar dari arah belakang kami.

Aku spontan menoleh. Saff berlari kecil ke arahku sambil membawa botol minum yang tergantung miring di tangan. Napasnya sedikit ngos-ngosan.

“Saff?”

Anak itu langsung memeluk pinggangku erat begitu sampai di depan kami. Aku sempat terhuyung kecil sebelum otomatis mengusap rambutnya pelan. “Kenapa, Sayang?”

Saff menggeleng cepat. Tidak menjawab apa-apa. Bocah itu hanya memelukku lebih erat seperti sedang mencari tenang.

Dadaku langsung terasa hangat sekaligus sesak bersamaan. Kadang anak kecil memang tidak selalu pandai bercerita. Tapi mereka tahu saat rumahnya sedang tidak baik-baik saja.

Aku mengangkat wajah pelan. Kahfiel masih berdiri di sana sambil memegang payung, memperhatikan kami dalam diam. Lalu lelaki itu mundur satu langkah, memberi ruang tanpa diminta.

"Maaf, Bun."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!