Halal tapi Asing

OVT

Rasanya baru saja terlelap ketika samar terdengar suara tahrim subuh dari Masjid komplek.

Kepalaku masih terasa berat saat alarm berbunyi dari atas nakas. Mataku panas, mungkin karena semalaman terlalu banyak menangis diam-diam setelah Nivean tertidur.

Aku bangkit pelan sambil memijat pelipis. Badanku meriang, tenggorokan terasa kering, tapi dapur tetap harus mengepulkan asap. Anak-anak harus berangkat sekolah dan mereka butuh sarapan. Rumah harus berjalan seperti biasa meski semalam rasanya ada sesuatu yang menghantam dada.

Beginilah hidup seorang ibu, kan? Hatinya boleh berantakan, tapi paginya tetap harus terlihat baik-baik saja.

Setelah salat subuh yang sejak lama tanpa imam, aku berjalan pelan menuju dapur sambil merapatkan cardigan. Udara pagi ini terasa menusuk sampai ke tulang.

Suara minyak mendesis memenuhi dapur yang masih rapi. Tanganku bergerak otomatis menyiapkan telur, roti, untuk bekal anak-anak meski kepala terasa pening. Sesekali aku menahan batuk kecil.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Nivean muncul dengan kemeja kerja abu gelap dan rambut yang masih sedikit basah. Wajahnya terlihat segar. Sangat berbeda denganku yang rasanya seperti zombie. Gegara dihantam semalaman oleh pikiranku sendiri.

Aku diam, dia juga.

Aneh sekali ... bagaimana bisa dua orang yang tidur di ranjang yang sama bisa terasa seasing ini. Pikiranku mulai liar membentuk cerita sendiri.

Nivean menarik kursi makan lalu duduk sambil membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu.

Aku menuangkan teh hangat ke cangkir tanpa bicara.

“Mas, sarapannya.”

“Hm.”

Lagi-lagi hanya itu. Aku menggigit bibir pelan. Dulu, lelaki ini paling cerewet pagi-pagi. Selalu mengomentari masakanku, mengganggu saat aku memasak, bahkan pernah sengaja memeluk dari belakang hanya untuk membuatku salah memasukkan garam. Sekarang meja makan terasa seperti ruang tunggu di IGD, dingin.

Aku meletakkan piring di depannya. Tanganku sedikit gemetar sampai sendok kecil berdenting pelan mengenai piring.

Nivean akhirnya mengangkat wajah sekilas. “Kamu sakit?”

“Cuma pusing sedikit.”

“Obatnya ada kan?”

Ucapannya biasa, tapi entah kenapa terdengar begitu datar. Tidak ada tangan yang menyentuh dahiku seperti dulu apalagi nada khawatir. Boro-boro ucapan, ~istirahat ya nanti. Mungkin niatnya memang hanya basa-basi.

“Iya, ada.”

Nivean mengangguk kecil lalu kembali fokus pada layar ponselnya.

Dadaku perlahan terasa kosong lagi. Aku berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan wajah dan sibuk membereskan meja agar air mataku tidak jatuh sepagi ini.

Setelah anak-anak berangkat sekolah dan Nivean selesai sarapan, lelaki itu beranjak ke ruang kerja untuk bersiap.

Sementara aku membereskan ruang makan sendirian. Mengambil semua piring kotor, sisa susu dan teh ke sink, juga kursi kosong yang kudorong masuk ke kolong meja satu-satu.

Akhir-akhir ini rumah rasanya semakin sunyi.

Aku mengembuskan napas pelan lalu berjalan menuju kamar membawa jas kerja Nivean yang semalam dilempar begitu saja di sofa. Biasanya ART yang membereskan, tapi hari ini dia izin pulang kampung beberapa hari.

Aku menggantung jas itu sambil merapikan bagian kerahnya yang sedikit terlipat. Lalu tiba-tiba tanganku berhenti.

Aku mengernyit pelan. Ada aroma asing di sana. Samar tapi lembut, wangi manis khas parfum wanita.

Aku spontan mendekatkan jas itu sekali lagi ke hidung. Benar, aroma itu masih menempel. Ini bukan parfumku. Aku tahu persis wangi yang kupakai sendiri selama bertahun-tahun. 

Ini berbeda. Terlalu floral. Dadaku langsung berdegup lebih cepat. Isi otakku ikut berspekulasi. 

"Tidak. Mungkin cuma pewangi ruangan kantor atau minta parfum rekan kerja," lirihku meremas lengan jas tanpa sadar. "Atau—," 

Aku menelan ludah pelan, "Atau aku memang terlalu sensitif seperti kata Nivean?" Pikiranku mendadak kacau sendiri.

Aku buru-buru menggantung kembali jas itu, seolah sedang mencoba menjauh dari pikiran buruk yang mulai tumbuh pelan-pelan di kepala.

“Rin!” Suara Nivean dari kamar membuatku tersentak.

“Iya?”

“Dasi abu-abu aku mana?”

Aku cepat-cepat mengusap wajah lalu keluar kamar. Nivean berdiri di depan cermin sambil merapikan manset kemejanya.

Tubuhnya masih tegap seperti dulu, dia memang selalu rapi dan tenang. Sementara aku rasanya seperti seorang ART yang kesiangan bangun.

“Ini.” Aku menyerahkan dasi itu pelan.

Nivean menerimanya tanpa benar-benar melihat wajahku.

Entah kenapa, pagi itu aku jadi ingin bertanya banyak hal. Tentang pekerjaannya, orang-orang di sekitarnya, juga alasan dia semakin jarang pulang tepat waktu. Soal kenapa aroma perempuan lain bisa menempel di jas suamiku.

Namun pada akhirnya yang keluar hanya pertanyaan kecil dengan suara hati-hati, “Mas tadi meeting sama siapa?”

Nivean memasang jam tangannya. “Klien," jawabnya cepat.

“Perempuan?”

Kini dia menoleh. Tatapannya datar, tapi cukup membuatku salah tingkah sendiri.

“Memang kenapa?”

Aku buru-buru menggeleng kecil. “Enggak… cuma nanya.”

Nivean menghela napas tipis lalu mengambil tas kerjanya. “Aku berangkat.”

Tidak ada kecupan kening atau pelukan singkat seperti dulu. 

Pintu rumah tertutup beberapa detik kemudian dan aku masih berdiri diam di ruang tamu dengan perasaan yang aneh. Kesepian, takut, dan bingung pada diriku sendiri.

Aku kembali masuk ke kamar perlahan. Tatapanku jatuh pada jas abu-abu yang masih tergantung rapi. 

Langkahku mendekat tanpa sadar. Tanganku menyentuh kerah jas itu pelan, lalu aroma asing itu kembali tercium.

Aku memejamkan mata perlahan. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun pernikahan kami… aku takut.

Takut kalau ternyata firasat seorang istri memang jarang salah. 

Aku masih memegang jas itu ketika isi kepalaku mulai berisik sendiri.

[“Cuma parfum.”]

[“Jangan lebay.”]

[“Semua perempuan kantor juga pakai parfum.”]

Aku menelan ludah pelan. Tapi suara lain muncul lagi.

[“Kalau memang gak ada apa-apa… kenapa dia berubah?”]

Napasku mulai terasa berat. Pandangan kembali jatuh pada layar ponsel di atas kasur.

Tidak ada chat darinya. Padahal baru beberapa menit lalu Nivean pergi. Lucu ya… Dulu aku tidak pernah secemas ini saat suamiku keluar rumah. Sekarang bahkan aroma di kerah bajunya saja bisa membuat pikiranku ke mana-mana.

Aku memejamkan mata kuat-kuat. Namun suara-suara itu tetap ada.

[“Rin… jangan-jangan selama ini kamu cuma gak peka. Pura-pura merasa pernikahan kalian baik-baik saja.”

Deg.

Tanganku spontan meremas jas itu lebih erat. Baru kali ini, semenjak menikah dengan Nivean Hugo, aku mulai takut kepulangannya bukan lagi untukku.

Trrt.

Ponsel di atas kasur tiba-tiba bergetar membuatku tersentak.

Aku buru-buru meraih benda itu. Dahiku langsung mengernyit saat melihat nama pengirimnya.

Wali kelas.

Entah kenapa perasaanku langsung tidak enak. Dengan jemari sedikit gemetar, aku membuka pesannya.

[“Selamat pagi, Bu Azarin. Maaf mengganggu. Bisa ke sekolah hari ini? Ada yang ingin kami bicarakan soal....”]

Deg.

Dadaku langsung mencelos. Kenapa lagi? Bukannya kemarin aku baru dipanggil?

Aku cepat-cepat menekan nomor Nivean. Panggilan pertama tidak diangkat. Baru di percobaan kedua suamiku menjawab.

“Iya?” Suaranya terdengar buru-buru.

“Mas… aku baru ditelepon wali kelas....”

“Terus?”

Aku diam sebentar. Entah kenapa sekarang aku selalu takut bicara dengannya. Takut dianggap mengganggu, kuatir suaraku terdengar merepotkan dan membuatnya kesal.

“Katanya aku disuruh datang ke sekolah hari ini.”

Di seberang sana terdengar suara keyboard dan orang berbicara samar. Nivean seolah sedang fokus pada hal lain.

“Ya udah datang aja.”

Aku menggigit bibir pelan. “Aku kepikiran semalam dia juga keliatan murung terus—” jelasku diikuti suara yang kian mengecil. 

“Rin,” selanya terdengar lelah. “Kamu tuh...."

Deg.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!