Halal tapi Asing

Curhat

Ujung jemarinya di atas punggung tanganku, setelah berbulan-bulan hidup dalam perasaan hampa, perhatian sekecil itu saja sukses membuat pertahananku runtuh perlahan.

Aku lekas menunduk karena air mataku kian deras. Nivean mengusap pelan punggung tanganku dengan ibu jarinya. Dulu, lelaki ini sering melakukan itu saat aku panik atau overthinking berlebihan. Dan tubuhku masih hafal ritme ini, aku perlahan menemukan ketenangan lagi darinya.

“Aku minta maaf,” ucapnya lirih.

Aku mengangkat wajah perlahan. Kali ini, Nivean yang menunduk, seolah terlalu malu mengucapkannya bila sambil menatapku.

“Aku gak sadar sejauh ini ninggalin kalian.”

Ingatan di kepalaku bermunculan cepat. Tentang semua malam yang kulewati sendirian, Tisya yang menangis diam-diam atau Saff yang bilang kangen papanya.

Juga diriku sendiri… yang nyaris goyah hanya karena ada orang lain yang mendengar lelahku.

Aku menggigit bibir pelan. “Aku juga minta maaf.”

Kini gantian Nivean yang mengernyit kecil menatapku.

“Aku mulai banyak prasangka.” Suaraku mengecil. “Aku pikir… Mas udah gak nyaman sama aku," desahku takut.

“Aku bahkan sempat takut ada perempuan lain,” akuku jujur sambil terkekeh malu.

Nivean langsung mengembuskan napas panjang lalu menggeleng pelan. “Enggak ada, cuma terlalu larut sama masalah sendiri." Rahangnya mengeras sesaat. “Sampai lupa kalau kalian juga butuh aku,” jelasnya.

“Aku takut kehilangan rumah ini, Rin,” gumam Nivean.

“Aku juga,” bisikku parau.

Jemari Nivean perlahan menggenggam tanganku lebih erat sampai hangatnya merambat ke dada.

“Aku mau dekatin anak-anak lagi,” katanya lirih sambil menatap jemari kami. “apa mereka masih mau, Rin?”

Tangisku bercampur senyum sekarang, bukan karena masalahnya selesai tapi suamiku mengakui kelemahannya di depanku.

Aku buru-buru menyeka wajah sembabku dengan satu tangan, “Ya Allah, aku jadi cengeng begini.”

Sudut bibir Nivean samar bergerak naik, “Kamu dari dulu emang cengeng.”

“Enak aja.” Aku terkekeh pelan sambil menyeka ingus. “Dulu siapa yang panik waktu aku nangis gara-gara blender rusak?”

Nivean langsung memijat kening seolah baru ingat. “Karena kamu nangisin benda itu udah kek kayak sirine damkar,” kekehnya. 

Aku spontan tertawa di sela air mata yang masih saja turun. Suara tawa receh itu rasanya seperti aku menemukan uang seratus ribu di saku celana Nivean. Bahagia.

Masih di sisa tawa, Nivean tiba-tiba menarik kursinya mendekat sampai lutut kami bersentuhan di bawah meja makan.

"Rin," sebutnya lirih memandangku.

Jantungku berdetak aneh saat melihat sorot mata suamiku yang akhirnya menatapku lagi setelah sekian lama.

“Nangis terus bikin muka kamu makin tirus,” gumamnya.

“Biarin,” balasku sambil mengusap pipi, “Yang penting masih cantik.”

Nivean terkekeh, suaranya yang serak terdengar seksi di telingaku, “Siapa bilang gak cantik?”

Deg.

Aku salah tingkah, ya ampun… kapan terakhir kali suamiku menggombal seperti ini Jemarinya terangkat perlahan lalu mengusap pipiku. Mataku terpejam merasakan sentuhan lembutnya, sampai bulu kudukku ikut meremang.

“Aku kangen kamu yang suka cerita random sebelum tidur,” katanya pelan.

Aku membuka mata, “Mas tiap malem sibuk sama laptop.”

“Iya…” Nivean mengangguk samar. “Aku salah.”

Nivean lalu berdiri perlahan sambil menarik tanganku pelan. “Sini.”

Aku mengernyit bingung. “Kemana?”

“Ke kamar.”

Mukaku langsung panas. “Mas!” Aku reflek menepuk lengannya pelan. “Anak-anak belum pulang sekolah.”

"Justru itu." Nivean malah tersenyum tipis, senyum yang dulu sering membuatku salah tingkah saat baru menikah. “Aku cuma mau tidur bentar sambil meluk istriku," bisiknya mesra, “Boleh gak?”

Dan ya Allah… setelah berbulan-bulan merasa seperti perempuan paling kesepian di dunia, bisikannya sukses membuat dadaku berdebar.

Di kamar, cahaya masuk samar dari sela tirai. Pendingin ruangan berdengung pelan membuat suasana lebih syahdu buat kami.

Nivean rebahan lebih dulu lalu menarikku pelan ke dadanya. Aku kaku beberapa detik.

Karena tubuh ini terbiasa tidur berjarak dengannya.

Namun, saat lengan lelaki itu melingkar di pinggang sampai ke dada dan dagunya bersandar ringan di atas kepalaku… tubuhku mulai rileks. Aku memejamkan mata sambil mengusap lengannya.

“Mas…”

“Hm?”

“Jangan cuekin aku lagi.”

Pelukannya mengencang sedikit. “Iya," jawabnya lembut hingga membuat air mataku kembali jatuh diam-diam ke bantal.

***

Pagi harinya, suasana meja makan masih terasa canggung.

Aku sibuk menyiapkan bekal Saff sementara Tisya duduk di meja makan sambil memainkan sendok dengan wajah datar.

Nivean keluar dari kamar sambil membawa lembar remedial matematika yang sudah ditandatangani rapi kemarin.

“Tisya.”

Putriku mengangkat wajah sekilas.

Nivean menyodorkan kertas itu padanya. “Ini.”

Tisya menerimanya tanpa ekspresi. “Udah telat.”

Mataku sedikit membola melihat reaksi putriku, cemas mereka bakal debat lagi.

Nivean menarik kursi di depannya lalu duduk. “Papa perlu ke sekolah gak buat jelasin?”

Tisya langsung mendengus pelan sambil memasukkan kertas itu ke tas. “Ngapain?” jawabnya ketus. “Nambah ruwet malah."

Deg.

Aku melirik Nivean. Rahangnya terlihat mengeras sesaat, tapi ia tidak membentak.

“Tisya masih marah ya sama Papa?” tanyanya hati-hati.

Putriku diam cukup lama, lalu… mengangkat bahunya, tampak malas menjelaskan isi hatinya sendiri.

“Aku udah biasa.”

Nivean langsung membeku, sementara aku buru-buru menaruh kotak bekal Saff di atas meja sedikit keras guna meredam ketegangan.

“Tisya…” panggilku pelan memperingatkan.

“Apa?” sahutnya cepat, kali ini matanya mulai memerah. “Aku salah lagi?”

Nivean menunduk perlahan, dia menyadari bahwa anak perempuannya tidak sekadar marah, Tisya kecewa berat padanya.

Di sebelahnya, Saff diam memakan roti isi sambil menunduk. Anak itu bahkan tidak berani ikut menatap papanya.

“Saff,” panggil Nivean pelan.

“Hm?”

“Ada yang mau disampaikan ke Papa?”

Putraku langsung menggeleng cepat tanpa mengangkat wajah. “Enggak.”

“Tapi—”

“Bun.” Saff buru-buru berdiri sambil memanggul tasnya. “Ayo berangkat nanti telat," pintanya ngeluyur pergi tanpa meraih kotak bekalnya.

Saff rupanya sengaja menghindari percakapan itu. Dadaku nelangsa melihat reaksi anak-anak kami. Mereka sudah terlalu lama belajar memendam kecewa sendirian.

Tisya pun gegas mengenakan hoodie oversizednya lalu menyambar tasnya dari sofa.

Aku buru-buru menyusul mereka. Namun, saat baru meraih kunci mobil, suara klakson terdengar dari depan rumah.

Tin. Tin!

Tisya berlari cepat ke teras. “Aku berangkat,” serunya melihatku.

Aku mengernyit. “Loh? Ayo, Bunda anter,” kataku.

“Bareng temen aja.”

Di depan pagar, Honda Brio berwarna putih sudah berhenti. Dua anak perempuan seusianya melambaikan tangan dari dalam mobil sambil tertawa riang. 

“Tisya cepet!”

“Tisya!” panggilku agak keras. “Bekalnya?”

“Aku jajan nanti!”

Anak itu buru-buru masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.

Aku berdiri terpaku beberapa detik melihat mobil itu perlahan menjauh dari halaman rumah. Ada rasa aneh merambat di dada. Bukan cuma karena Tisya nyelonong… tapi apakah anakku lebih nyaman pergi dengan teman-temannya sekarang?

“Rin.”

Aku tersentak lalu menoleh. Nivean sudah berdiri di belakangku sambil memegang tas kerjanya. Tatapannya mengikuti arah mobil tadi sampai hilang di tikungan.

“Tisya mana?” tanyanya pelan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!