Gelora Cinta Kedua (Novel)
Bicara
Pagi itu aku duduk di meja makan, menatap cangkir teh yang sejak tadi tak lagi beruap. Warnanya keruh, dingin, sama seperti perasaanku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali menyesapnya. Yang kuingat hanya satu hal : pesan Mas Iqdam semalam.
[“Besok malam aku pulang. Kita perlu bicara tentang masa depan pernikahan ini.”]
Kalimat itu seperti batu kecil yang dilemparkan ke air tenang—riaknya tak berhenti sejak semalam.
Aku menyalakan laptop, mencoba memaksa diriku bekerja. Laporan akhir bulan terbuka di layar, angka-angka berbaris rapi, tapi kepalaku kosong.
Jemariku sempat berhenti di atas keyboard ketika aku membuka akun Rachel Althea. Tanpa banyak pikir, aku mengunggah foto ruang kelas kecil yang pernah kutemui saat liputan. Meja kayu tua, papan tulis kusam, cahaya pagi yang masuk malu-malu.
[There must be many ways to get there…]
Aku menulisnya seperti sedang bicara pada diriku sendiri. Seperti mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus lurus dan rapi.
Beberapa menit kemudian, notifikasi muncul.
Komentar dari Riz.
[“Pusat belajar untuk anak-anak kurang mampu? Impian yang luar biasa.”]
Dadaku menghangat. Aku terpaku cukup lama, membaca ulang kalimat itu. Rasanya aneh—impian yang selama ini kusembunyikan, bahkan dari suamiku sendiri, justru ditangkap oleh seseorang yang nyaris tak mengenalku.
["Belum," balasku singkat, sebelum menambahkan, "tapi aku sedang mencoba memulainya. Kenapa kamu bertanya?"]
Tak lama, balasan Riz masuk lagi. ["Aku tahu komunitas yang mungkin cocok dengan idemu. Kalau kamu nggak keberatan, aku bisa bantu kenalkan."]
Tatapanku meneduh, antusiasme yang sudah lama tak kurasakan muncul kembali. ["Benar? Aku sangat ingin tahu lebih banyak tentang komunitas itu."]
Aku membalas setengah ragu, setengah berharap.
Ketika Riz menawarkan bantuan, senyum kecil lolos dari bibirku. Senyum yang terasa bersalah. Karena di saat yang sama, pernikahanku sedang berada di tepi jurang.
Apakah aku egois karena merasa senang?
Aku menutup laptop, berdiri, lalu berjalan ke jendela. Langit pagi cerah, terlalu cerah untuk hatiku yang penuh simpul. Aku memeluk lenganku sendiri.
Pikiranku melayang pada kata-kata Iqdam semalam, yang sesaat meluluhkan hati. Namun juga menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Apakah pantas merasa senang sementara hubungan pernikahan ini berada di ujung tanduk?
“Masih ada waktu,” gumamku. Tapi aku tak tahu waktu untuk apa—bertahan, pergi, atau sekadar bernapas.
***
Sore itu.
Aku sedang melipat baju ketika pintu depan terbuka. Jantungku berdegup kencang sebelum aku benar-benar melihat siapa yang datang.
“Bundaaaa!”
Tubuh kecil Hawa berlari ke arahku. Aku berjongkok tepat waktu, dan pelukannya menghantam dadaku dengan kekuatan yang membuatku nyaris menangis. Aku memeluknya erat, terlalu erat mungkin, seolah takut dia akan menghilang lagi.
“Kangen Bunda,” katanya lirih.
Aku mengangguk, tenggorokanku terkunci. Aku menciumi rambutnya, pipinya, tangannya. Semua terasa seperti pulang.
"Bunda juga!" bisikku sendu, masih menghidu wangi Hawa.
Saat aku berdiri, barulah kulihat Mas Iqdam di ambang pintu. Wajahnya tampak lelah. Tidak marah. Tidak dingin. Hanya lelah.
“Makasih, Mas,” ucapku pelan.
Dia mengangguk. “Tidurkan Hawa dulu. Kita bicara nanti.”
Aku menidurkan Hawa dengan hati-hati. Tanganku gemetar saat menyelimutinya. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi wajahnya lama sekali. Anak ini lahir dari cinta kami. Setidaknya, dulu aku percaya itu.
Di ruang tengah, aku dan Mas Iqdam duduk berhadapan. Jarak kami hanya beberapa langkah, tapi terasa seperti dua dunia.
Aku bicara lebih dulu. Tentang lelah. Tentang perasaan tak terlihat. Tentang mimpi yang kupendam sampai aku sendiri hampir lupa rasanya bermimpi. Suaraku bergetar, tapi aku tidak berhenti.
“Aku nggak mau pergi, Mas,” kataku akhirnya. “Aku cuma nggak mau hilang.”
Dia diam lama. Terlalu lama.
“Kalau aku ingin memperbaiki semua, aku perlu tahu caranya,” kata Iqdam akhirnya. “Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk Hawa.”
Aku tersenyum tipis. Iqdam pun berterus terang atas keinginannya.
“Aku nggak sadar kamu sejauh itu sendirian,” katanya pelan.
Mungkin, ini bukan akhir yang kubayangkan. Tapi ini bisa menjadi awal baru. Dan setidaknya, untuk pertama kalinya, aku merasa didengar.
Obrolan dengan Iqdam berlangsung lebih tenang dan ketegangan itu sedikit mencair. Kami sepakat meletakkan gawai masing-masing dan bersiap tidur.
Saat lampu kamar dimatikan. Ponselku di atas nakas bergetar. Sebuah pesan dari Why muncul.
["Jangan lupa istirahat yang cukup. Kamu cuma ada satu di dunia. Masalah akan setia menunggumu ... Tetaplah kuat, Rachel."]
Aku membacanya sekilas. Hangat, seperti biasa. Tapi malam ini rasanya berbeda. Aku tidak lagi menggenggam ponsel itu sebagai pelarian.
Tahu prioritasku sekarang. Memperbaiki apa yang ada di depan mata, tanpa melupakan langkah kecil menuju impian.
Aku mematikan layar.
Iqdam melirik ke arah gawai di nakas, lalu menatap wajahku.
“Sayang?” suara Mas Iqdam terdengar pelan di sampingku.
“Iya, Mas.”
“Apa kamu masih percaya kita bisa memperbaiki semua ini?” Suara Iqdam terdengar begitu tulus.
Aku menatap langit-langit kamar. Jujur terasa berat.
“Aku ingin percaya,” jawabku akhirnya. “Tapi aku juga belajar… percaya saja nggak cukup.”
Dia terdiam. Lalu tangannya bergerak, ragu-ragu, menggenggam jemariku. Hangat, tapi belum kokoh. Aku membiarkannya. Untuk malam ini saja.
Ini baru langkah pertama. Masih banyak yang harus dihadapi. Dan aku bertanya-tanya, seberapa jauh kami bisa bertahan sebelum kembali terjatuh?
***
Pagi berikutnya, aku bangun dengan tubuh yang terasa lelah, tapi pikiranku sedikit lebih jernih. Aku membuka laptop lagi, menatap laporan yang tertunda. Kali ini, aku mengetik. Perlahan, tapi nyata.
Notifikasi dari Riz masuk lagi. Tentang komunitas, tentang langkah kecil. Aku membacanya tanpa rasa bersalah yang kemarin mencekik.
Aku seorang istri. Seorang ibu. Dan juga seorang perempuan dengan mimpi.
Saat aku menutup laptop, aku sadar satu hal: apa pun yang terjadi nanti, aku tidak boleh lagi menghilang dari hidupku sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Aku masih di sini.
.
.