Gelora Cinta Kedua (Novel)
Ego
Aku duduk di meja makan, menatap cangkir teh di depanku yang sudah lama kehilangan uapnya. Permukaannya tenang, tapi aku tahu rasanya pasti pahit sekarang. Seperti pikiranku.
Pesan dari Iqdam semalam terus berputar di kepala, tak mau diam.
[“Besok malam aku pulang. Kita perlu bicara tentang masa depan pernikahan ini.”]
Kalimat itu pendek. Terlalu pendek untuk sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidupku.
Aku celingukan, bukan karena ada suara, tapi karena rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Padahal rumah ini sunyi. Tidak ada Hawa berlari kecil. Tidak ada suara mainan jatuh. Tidak ada tangis manja minta dipeluk.
Aku juga tidak melakukan apa-apa sejak mereka pergi. Tidak memasak. Tidak menulis. Tidak membersihkan rumah. Seolah tubuhku masih di sini, tapi aku tertinggal di momen ketika pintu mobil itu tertutup dan anakku dibawa menjauh dariku.
Jam dinding berdetak pelan. Terlalu jelas. Terlalu sadar akan waktu.
Tanganku bergerak sendiri, meraih tas kecil merah milik Hawa di atas meja. Resletingnya sedikit terbuka. Aku menyusuri bagian dalamnya dengan jari gemetar, menemukan mainan kecil berbentuk kucing—yang selalu dia bawa, ke mana pun.
Dadaku mengencang.
“Kamu sudah makan, Sayang…” bisikku, suaraku hampir tidak terdengar. “Tidurnya gimana? Rewel nggak?”
Aku tahu tidak ada yang menjawab. Tapi berbicara pada udara terasa lebih baik daripada diam.
Ponselku bergetar. Aku tersentak kecil, seolah baru sadar masih hidup.
Nama Why muncul di layar.
[“Rachel, apa aku mengganggu? Kalau kamu merasa risih, tolong beri tahu aku.”]
Aku menatap pesan itu lama. Kata-katanya sederhana, bahkan hati-hati. Tidak menyelidik. Tidak menuduh. Tidak meneka
Hangat.
Tidak seperti dinginnya kalimat Iqdam. Tidak seperti sorot mata penuh kecurigaan itu.
Jari-jariku ragu sebelum akhirnya mengetik balasan.
“Kamu nggak mengganggu. Maaf kalau aku lama membalas. Ada banyak hal yang sedang kupikirkan.”
Pesan itu terkirim. Aku menghela napas, seolah baru saja mengaku sesuatu yang tidak sepenuhnya kumengerti.
Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar lagi.
[“Aku ada di sini. Jangan memaksakan diri kalau sedang penat.”]
Aku tersenyum kecil. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata, tapi cukup untuk mengendurkan dadaku sedikit.
“Terima kasih,” gumamku pelan, pada layar yang sudah menggelap.
Sore menjelang ketika suara langkah kaki terdengar di teras.
Aku refleks berdiri, merapikan pakaian meski tubuhku terasa lunglai. Seperti sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak ingin kuhadapi, tapi tak bisa kuhindari.
Pintu terbuka.
Iqdam berdiri di sana, wajahnya kaku, matanya dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
“Kita bicara sekarang,” katanya singkat, lalu langsung berjalan ke arah ruang kerja.
Aku menoleh ke belakangnya, mataku mencari-cari satu sosok yang paling kutunggu.
“Hawa mana?” tanyaku pelan, suaraku hampir bergetar.
“Aman dengan Rika,” jawabnya tanpa menoleh.
Nama itu.
Entah kenapa, setiap kali nama Rika disebut, ada sesuatu di dadaku yang menegang. Perasaan yang tidak bisa kusebut cemburu, tapi juga bukan sekadar tidak suka.
“Kenapa harus Rika, Mas?” tanyaku, masih berdiri di ambang pintu. “Kan bisa ke Mbak Mira.”
Iqdam berhenti. Berbalik. Alisnya berkerut.
“Kenapa Rika?” ulangnya. “Yakin nggak tahu jawabannya?”
Aku menggeleng cepat. Aku tahu alasannya. Rika punya anak perempuan, lebih besar dari Hawa. Lebih “pantas”, mungkin.
“Mereka lagi keluar kota,” katanya dingin. “Dan Rika nggak keberatan, meskipun kamu selalu suudzon sama dia.”
Senyumnya tipis. Menyakitkan.
“Ayo,” perintahnya sambil menekan tuas pintu.
Aku mendesah, lalu mengikutinya.
Kami duduk berhadapan di ruang kerja. Jarak kami tidak jauh, tapi terasa seperti ada dinding tebal di antaranya.
“Aku lelah, Hana,” katanya akhirnya. “Lelah dengan semua prasangka kamu. Semua tuduhan yang nggak mendasar. Apalagi sampai bawa-bawa Rika.”
Dadaku panas.
“Mas, aku nggak pernah menuduh,” bantahku. “Justru Mas yang terus melihat aku seolah aku bersalah.”
Iqdam mendengus. “Kamu pikir aku nggak tahu?” katanya. “Kenapa harus cerita ke Mbak Mira? Menyudutkan Rika yang sudah nolong kita?”
Aku tercekat. Tubuhku menegang.
Mbak Mira…
Rasanya seperti ditusuk dari belakang, oleh ipar yang kupercaya.
“Nah,” lanjutnya, “diem. Ngerasa salah, kan?”
Aku mengangkat wajah, menatapnya. “Kamu lebih percaya mereka daripada aku?”
Iqdam menyandarkan tubuh. “Nggak kebalik?”
“Apa maksudnya?”
Senyumnya kembali muncul. Lebih tajam.
“Bukannya kamu lebih percaya kata-kata Why? Atau pria lain di aplikasi itu?”
Jantungku jatuh.
“How—” Aku membola, tak menduga bila Iqdam tahu sebanyak itu. Screenshot yang diperlihatkan kemarin, kukira cuma bagian atasnya saja.
“Why cuma teman,” kataku cepat. “Aku nggak pernah macam-macam.”
“Teman?” potongnya. “Teman yang bikin kamu nyaman. Yang kelihatannya lebih paham kamu daripada aku.”
Aku menggeleng, air mata mulai mengaburkan pandangan.
“Aku cuma butuh didengar,” kataku lirih. “Karena Mas nggak pernah ada untuk itu.”
Sunyi.
Iqdam mengusap wajahnya frustrasi. “Jadi ini salahku lagi?”
Aku menunduk. “Aku cuma pengin jadi seseorang yang berarti,” bisikku. “Bukan istri yang cuma menunggu.”
Ia menatapku lama.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “apa arti pernikahan ini buatmu?”
Aku menggigit bibir.
“Aku ingin bertahan,” jawabku. “Tapi aku juga masih punya mimpi. Dan aku takut… kalau terus diam, aku akan kehilangan diriku sendiri.”
Iqdam berdiri. "Jadi, kalau mimpimu lebih penting daripada keluarga kita, maka aku nggak yakin apakah kita masih bisa bersama."
Hana terdiam, tubuhnya gemetar. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan
“Besok aku bawa Hawa pulang,” katanya. “Tapi setelah itu, kita harus putuskan.”
Ia melangkah pergi.
“Mas…” suaraku pecah. “Kamu bahkan nggak tanya apa mimpiku."
"Lalu bagaimana dengan permintaanku? Apakah aku salah jika merasa kamu berbeda, dan mengabaikanku?" Aku tak kuasa menahan sakit di dada. Aku menangis. "Sekarang pun, bagai bicara pada bayanganmu. Aku rindu kamu, Mas."
Ia berhenti sejenak. Tidak menoleh.
“Aku ada, Hana,” katanya dingin. “Kamulah yang sibuk menata jalan baru.”
Iqdam pergi.
Aku masuk ke kamar, tubuhku gemetar. Dengan sisa air mata, aku membuka laptop dan mulai mengetik proposal pusat belajar itu.
“Ini untuk cita-citaku,” bisikku menegarkan diri.
Pesan masuk. Dari Why.
[“Kamu nggak sendiri, Rachel.”]
Aku menatap layar lama. Ada sedikit kekuatan untuk melangkah maju. Walau berat, aku tahu ini bisa memberi arti pada apa kuyakini.
Lalu berdiri di depan cermin. Memandang diriku dengan tekad yang mulai tumbuh.
“Sudah siapkah kamu, Hana?” tanyaku pada bayanganku sendiri.
Aku tidak tahu jawabannya.
Huft.
.
.