Gelora Cinta Kedua (Novel)

Pergi

Aku bahkan tidak sempat menyelesaikan satu kalimat pun.

“A-aku—”

Kalimatku menggantung, jatuh sebelum sempat berdiri. Iqdam menyeringai tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. Senyum orang yang merasa sudah memegang kebenaran, bahkan sebelum mendengar penjelasan.

Tanpa memberiku ruang untuk bernapas atau menjelaskan, dia melangkah melewatiku menuju mobil.

Aku refleks mengejar, tanganku meraih lengannya. Jantungku berdentam begitu keras sampai telingaku berdenging.

Aku baru sadar ada yang salah ketika halaman terasa terlalu sunyi. Terlalu cepat. Terlalu rapi. Dan ketika aku menoleh, pintu mobil belakang sudah tertutup.

“Hawa…?” suaraku tercekat.

Jantungku berdegup tidak karuan. Aku berlari kecil, meraih lengan Iqdam sebelum dia masuk ke kursi pengemudi. Tanganku gemetar saat mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku nggak seperti dugaan Mas,” kataku cepat, suara sendiri terdengar asing—gemetar, nyaris memohon takut. “Aku nggak pakai kata-kata manis. Semua kalimatku datar. Aku cuma kerja. Tolong dengar aku dulu.”

Tanganku dingin. Nafasku pendek-pendek.

Iqdam menatap tanganku sejenak, lalu melepaskannya dengan gerakan dingin, seolah sentuhanku menjijikkan.

“Hawa kubawa.”

Dunia seakan berhenti. Belum sempat otakku mencerna, pintu mobil sudah terbuka. Baru saat itu aku sadar—bangku belakang sudah terisi. Tas kecil Hawa ada di sana. Anak itu sudah ada di dalam mobil sejak awal.

“Apa?” suaraku nyaris tidak keluar.

Aku refleks melangkah maju ketika dia masuk ke mobil, tapi semuanya terjadi terlalu cepat. Pintu terkunci. Mesin menyala.

Blug!

Aku memukul kaca mobil dengan telapak tangan yang gemetar. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.

“Mas, jangan gini! Kita bicara dulu!” suaraku pecah. “Mas, tolong… Hawa!”

“Mas! Mas, tunggu!” Aku berlari mengikuti mobil yang mulai bergerak. “Mas, kita bicara dulu! Mas!”

Suaraku pecah. Tenggorokanku perih. Aku bahkan tidak peduli tetangga melihat atau tidak. Yang kupikirkan hanya satu : anakku ada di dalam mobil itu.

Iqdam melirikku sekilas dari balik kaca. Tatapannya bukan marah. Bukan juga benci. Lebih buruk dari itu.

Lebih menyakitkan.

Kecewa.

Dan keyakinan bahwa aku bersalah.

Mobil itu melaju, meninggalkanku sendirian di depan rumah yang tiba-tiba terasa asing.

Aku berdiri lama. Terlalu lama. Sampai deru mesin benar-benar menghilang.

[“Kamu pikir aku nggak tahu dengan siapa istriku bermanis ria?”]

Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti jam berjarum rusak.

Aku balik badan, melangkah gontai membuka lalu menutup pintu rumah perlahan. Bunyi klik kunci terdengar terlalu keras di telingaku. Jam dinding berdetak pelan, mengejek kesunyianku.

Rumah ini… terasa hampa.

Aku berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa. Tanganku meraih bantal, kupeluk erat seperti orang tenggelam yang meraih apapun agar tidak karam.

Tangisku tidak meledak. Ia mengalir pelan, sunyi, seperti kebiasaan lama yang terlalu sering kupelihara. Seolah itu bisa menggantikan sesuatu yang direnggut paksa dariku malam ini.

Kenapa semuanya jadi seperti ini?

Mataku tertuju pada foto pernikahan di dinding. Aku dan Iqdam. Kami tersenyum. Hawa masih bayi, kecil, hangat, dalam gendongan.

Dulu aku merasa aman. Dulu aku percaya, cinta cukup untuk menahan segalanya.

Sekarang aku sadar—cinta tanpa kepercayaan hanya membuat seseorang terus diadili.

Aku bahkan tidak tahu di mana anakku tidur malam ini.

Ponselku bergetar. Pesan dari Iqdam.

[“Kita butuh waktu untuk berpikir.”]

Aku menatap layar itu lama. Jari-jariku ingin menekan tombol telepon. Ingin berkata maaf. Ingin mengalah lagi. Ingin memastikan Hawa baik-baik saja.

Tapi ada sesuatu yang menahanku.

Aku tidak salah.

Aku tidak selingkuh.

Aku tidak berkhianat.

Aku tidak bermain hati.

Kenapa aku yang harus terus menjelaskan?

Aku memilih membuka aplikasi. Pesan dari Why muncul.

["Tetaplah sehat, Rachel."]

Pesan dari Riz juga ada, belum kubuka sejak kemarin.

["Jangan tinggalkan sajadah jika gelisah, Al."]

Aku menutup aplikasi itu tanpa membalas siapa pun. Bukan karena aku benar. Tapi karena aku terlalu lelah untuk bicara.

Malam ini, aku bahkan tidak sanggup menjadi kuat di hadapan orang asing.

Aku berjalan ke dapur. Di atas meja makan, tas kecil merah milik Hawa tertinggal. Tanganku gemetar saat memegangnya.

“Maafin Bunda…” bisikku. “Maafin kami yang egois.”

Dadaku terasa sesak. Aku ingin mempertahankan rumah tangga ini. Tapi aku juga ingin hidup. Ingin bernapas tanpa dicurigai.

Apakah aku terlalu arogan?

Aku kembali ke ruang keluarga, duduk diam sampai lelah itu menjelma mati rasa. Malam berlalu tanpa tidur yang benar-benar lelap.

*

Pagi menyapaku dengan tubuh yang lebih lelah dari kemarin.

Aku tahu aku tidak bisa terus begini. Bertahan sambil menghilangkan diriku sendiri.

Kalau aku menandatanganinya, badai berikutnya akan datang.

Tapi untuk pertama kalinya… aku ingin memilih diriku.

Di atas meja, kontrak dari manajer aplikasiku terbuka. Tawaran mentor itu bukan sekadar pekerjaan. Itu pengakuan. Itu pijakan. Itu harapan.

Mimpiku terlintas jelas. Pusat belajar. Anak-anak yang punya ruang aman. Sesuatu yang berarti.

Aku menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar.

“Bismillah.”

Di tempat lain, pria bernama Azka masih menatap layar ponselnya. Pikirannya terus teralihkan oleh percakapan semalam. Rachel—atau siapa pun dia—terasa berbeda dari kebanyakan orang yang dirinya temui di aplikasi.

[“Aku nggak tahu kenapa, tapi kamu seperti seseorang yang kukenal.”]

Pesannya masuk. Aku membacanya. Air mataku jatuh, tapi aku tidak membalas.

Tak lama, pesan lain dari Why masuk lagi. ["Kalau kamu butuh waktu untuk cerita, aku di sini."]

Bukan karena aku tidak butuh dia. Tapi karena aku tahu, tidak semua yang hangat harus kugenggam.

Masalah ini bukan sesuatu yang bisa dibebankan kepada orang lain.

Matahari berangsur lingsir tanda Dewi malam kembali merayap.

Aku memandang kamar Hawa yang kosong saat ponselnya berbunyi. Pesan dari Iqdam muncul.

[“Besok malam aku pulang. Kita perlu bicara tentang masa depan pernikahan ini.”]

Kutatap layar ponsel. Kalimat itu sederhana, tetapi sarat ketegangan yang sulit dijelaskan. Apakah ini akan menjadi awal baru bagi kami? Atau justru akhir segalanya?

Kupeluk boneka kesayangan Hawa yang tertinggal di atas tempat tidur. Tangisku pecah.

Tidak mendengar suara Hawa seharian ternyata jauh lebih menyakitkan dari semua tuduhan. Hal terberat pertama yang harus kuterima sebagai konsekuensi kekeras-kepalaanku.

"Maafin Bunda. Maaf jika Bunda terlalu memaksa, Hawa."

Aku tidak tahu jalan mana yang akan kupilih.

Tapi satu hal kupahami.

Jika semuanya harus runtuh, aku tidak akan membiarkan diriku ikut luruh bersamanya.

Ting.

["Rachel, apa aku mengganggu? Kalau kamu merasa risih, tolong beri tahu aku."]

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!