Gelora Cinta Kedua (Novel)
Mentor
Pembicaraan itu tidak benar-benar selesai. Ia menggantung, seperti udara pengap yang tertahan di antara dadaku dan layar laptop yang masih menyala.
Notifikasi masuk bertubi-tubi. Aku diminta join Zoom.
Aku menarik napas dalam sebelum menekan tombol bergabung.
Wajah manajer aplikasiku muncul di layar, senyumnya lebar, terlalu cerah untuk kondisi hatiku yang sedang kusut. Ia kembali mengucapkan selamat. Salah satu ulasanku menarik perhatian klien besar. Mereka puas. Mereka percaya. Dan sekarang, aku diminta menjadi mentor bagi reviewer baru.
Mentor.
Kata itu seharusnya membuatku bangga.
Dan memang, ada getaran kecil di dadaku—rasa dihargai yang sudah lama tak aku rasakan. Pengakuan atas jam-jam sunyi yang kuhabiskan menulis, berpikir, menimbang kata agar tak melukai siapa pun. Tambahan penghasilan. Stabilitas.
Namun bersamaan dengan itu, ada rasa berat yang langsung menekan ulu hatiku.
Iqdam.
Aku tahu, keberhasilanku bukan kabar gembira baginya. Justru sebaliknya. Setiap pencapaianku seperti pisau kecil yang perlahan menggores egonya.
Aku menggigit bibir, menatap diriku sendiri di pantulan layar. Perempuan ini terlihat rapi, tenang. Padahal di dalam, aku gemetar.
Beberapa detik terasa seperti menit.
“Aku terima,” ucapku akhirnya. Suaraku terdengar lebih mantap daripada isi kepalaku.
Manajerku tersenyum puas. Detail kontrak akan dikirim besok. Aku dipuji. Dihargai. Dianggap mampu.
Aku menutup laptop dengan napas panjang.
Keputusan sudah kuambil. Sekarang aku harus menanggung konsekuensinya.
Bagaimana caraku bilang ke Iqdam?
Atau… haruskah aku diam dulu?
Kalimatnya tadi pagi kembali terngiang.
‘Kamu yakin ini cuma soal review? Atau kamu menikmati perhatian mereka?’
Aku memejamkan mata. Rasanya seperti dituduh tanpa bukti. Seperti seluruh niat baikku dipelintir menjadi sesuatu yang kotor.
Napas beratku lagi-lagi terhempas. Menerima tawaran ini hanya akan membuat konflik dengan Iqdam semakin memanas. Tapi, di sisi lain, aku merasa ini adalah kesempatan besar untuk membuktikan diri lebih dari sekadar "istri" atau "ibu."
Aku bangkit untuk menyiapkan makan malam. Tanganku bergerak otomatis—mencuci beras, memotong sayur—sementara pikiranku berisik.
Malam turun pelan.
Di meja makan, suasana terasa kaku. Iqdam diam. Aku diam. Hanya suara sendok Hawa yang sesekali beradu dengan piring.
Aku menyendokkan nasi ke piringnya, mencuri pandang ke wajah suamiku. Rahangnya mengeras. Matanya dingin.
“Mas,” aku membuka suara, serak. Tenggorokanku langsung kering. “Aku mau ngomong soal kerjaanku.”
Ia mengangkat wajah. Tatapannya tajam, seperti sudah bersiap untuk berperang. “Kenapa? Dapat proyek baru lagi?”
Aku menelan ludah. “Aku ditawari jadi mentor. Kerjanya fleksibel. Gajinya juga lumayan. Aku pikir ini kesempatan bagus.”
Sendok di tangannya diletakkan agak keras.
“Mentor?” Ia terkekeh kecil, tapi tanpa humor. “Kamu mau ngajarin orang lain sekarang? Kurang sibuk apa?”
Aku sudah menduga arah pembicaraan ini.
“Semua lewat aplikasi, Mas. Nggak ketemu langsung. Aku bisa atur jadwal—”
“Termasuk interaksi sama pria?” potongnya.
Dadaku mengencang.
“Mas, ini profesional.” Aku menahan getar di suaraku. “Aku jaga batas.”
Kami saling menatap. Aku bisa merasakan dinding tak terlihat di antara kami, makin tebal setiap detik.
"Mas, ini cuma tambahan kerjaan. Aku bisa bagi waktu—" sambungku dengan nada lembut, berusaha meyakinkan sang suami.
"Bagi waktu?" potong Iqdam. "Hawa sudah jarang main sama ibunya. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu, sekarang mau tambah lagi?"
Aku menggenggam sendok erat-erat sampai jemariku nyeri.
“Mas,” suaraku melemah. “Ini buat kita. Aku juga ingin membantu meringankan bebanmu. Dan soal Hawa… itu tanggung jawab kita berdua."
"Beban?" Iqdam menyipitkan mata. "Sejak kapan kamu merasa jadi tulang punggung, Hana? Aku masih mampu, kok. Atau ini cuma alasan biar kamu bisa lebih bebas?"
Kalimat itu menghantamku.
“Aku cuma mau membantu,” kataku, suaraku meninggi tanpa sengaja. “Kenapa Mas selalu berpikir aku punya niat buruk?”
Iqdam berdiri tiba-tiba, membuat kursinya bergeser dengan bunyi nyaring. “Karena kamu berubah.” Suaranya rendah, sinis. “Dan aku nggak yakin itu perubahan yang baik.”
Aku membeku. Rasa sakit menjalar di dada. Iqdam meninggalkan meja makan, membiarkanku yang menahan air mata di depan Hawa.
'Nggak salah? Bukannya dia yang terlalu dingin akhir-akhir ini?'
"Bunda?" suara kecil Hawa memanggil sambil memandangku sayu. Dia lalu mendorong gelas air ke arahku. "Minum?" sambungnya dengan sorot mata polos.
Aku tersenyum kecil, berusaha menguasai diri. "Hawa makan yang banyak, ya," bisikku lembut sembari mengusap kepalanya.
Hawa berhenti makan. Pandangannya masih berpindah-pindah dari ayahnya yang pergi menjauh, lalu ke aku. “Bunda?” suaranya kecil, bingung.
Aku memaksakan senyum. Mengusap pipinya. “Makan lagi, ya, Sayang.”
Hawa menurut, aku mengusap air mata yang tertahan, lalu duduk melanjutkan makan yang kini terasa pahit.
Satu jam kemudian, setelah memastikan Hawa tidur.
Aku melangkah ke garasi. Mengambil napas dalam-dalam sebelum melajukan motor, menuju kafe tempatku biasa bekerja sambil mencari ketenangan.
Aku tahu ini akan memperburuk keadaan. Tapi aku juga tahu, kalau tetap di sana, aku akan meledak.
Motor melaju membelah malam.
“Tak pernah diapresiasi itu ternyata melelahkan,” gumamku, hampir tak terdengar oleh diriku sendiri.
Aku masuk ke sana, memilih menu. Tapi rasanya ada seseorang yang memperhatikan. Aku menoleh sekilas ke seluruh ruangan, tapi tak menemukan siapa pun yang mencurigakan. Semua pengunjung sedang asik dengan ponsel masing-masing.
Setelah memesan espresso, aku membuka aplikasi kencan sembari bersandar di sofa. Memilih membaca pesan Why lebih dulu. Meski tanganku masih gemetar.
Pesan Why muncul.
["Are you okay today?"]
Aku tersenyum miris.
"Dibikin asik aja nggak, sih?" balasku.
Aku tidak tahu, di sudut lain kafe itu, ada pria yang sedang menatap layar ponselnya—mengetik pesan untuk Rachel. Untukku. Tanpa kami sadari.
Percakapan melalui aplikasi terasa begitu akrab, tetapi pertemuan di dunia nyata itu tak menyadarkan kami. Bahwa sebenarnya adalah dua orang yang saling berbicara secara anonim di virtual.
Aku pulang larut malam dengan hati berat. Ketika membuka rolling garasi, Iqdam sudah menunggu, bersandar di kusen pintu dengan ekspresi penuh curiga.
“Dari mana?”
“Dari kafe. Aku butuh waktu sendiri.”
“Sendiri?” Ia mendekat. “Atau sama Why?”
Dunia langsung terasa miring bagiku.
Iqdam mengangkat ponselnya. Menunjukkan sesuatu. “Kamu pikir aku nggak tahu dengan siapa istriku bermanis ria?” katanya dingin.
Aku terpaku menatap layar itu. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut.
Apakah ini akhir segalanya?
.
.
Hai semua. Semoga kalian tidak sedang di fase ini, ya. Apapun itu, jika seseorang datang padamu dan curcol, dan bingung harus bagaimana? ... Dengarkan saja, tanpa menghakimi, sebab kita tidak tahu seberat apa, dan sejauh mana dia bertahan.
~Nama-nama tokoh yang dipakai, adalah kombinasi nama putra putri sahabat saya di RL, sebagai ungkapan terima kasih atas kontribusi mereka dalam perjalanan hidup saya.