Gelora Cinta Kedua (Novel)

Ngaji rasa

PoV Hana.

Aku membaca pesan Iqdam berulang kali. [“Hawa bilang… kalau sudah sembuh, dia mau kita jemput kamu.”]

Kalimat itu sederhana. Aku meletakkan ponsel di dada. Menatap langit-langit kamar lamaku. Kipas angin berputar pelan. Jam dinding berdetak biasa. Tidak ada yang berubah di ruangan ini, meski umurnya setara denganku. Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang bergeser.

Aku tidak langsung membalas.

Bukan karena tidak mau. Tapi karena aku tidak tahu harus menulis apa tanpa takut menyakiti diri sendiri.

Aku bangkit, berjalan ke dapur kecil di rumah ayah. Menuang air minum. Tanganku refleks membuka tutup botol lalu menutupnya kembali—kebiasaan lama. Biasanya, Hawa juga akan minta minum sambil berkata, “Bunda bukain.”

Aku menghela napas. Kembali ke kamar, aku duduk di tepi ranjang. Ponsel masih menyala di tanganku. Aku mengetik pelan.

“Hawanya gimana sekarang?"

Tidak lama, balasan masuk. [“Sudah nggak demam. Masih lemes dikit. Tapi sudah mau makan, kok.”]

Aku bisa membayangkan wajah kecil itu. Rambutnya yang selalu sedikit lepek kalau habis sakit. Cara makannya yang pelan, seolah takut mual dan muntah, menyusahkanku karena harus mengepel bekasnya.

Aku mengetik lagi. “Obatnya diminum teratur?”

[“Iya. Dia sendiri malah yang ingetin jadwal, dan bawa obatnya ke aku.”]

Aku tersenyum kecil, getir. Hawa memang begitu. Kalau merasa tidak ada pilihan, dia akan berusaha jadi kuat. Pendiam, memendam rasa. Dan itu yang membuat hatiku perih.

Aku menarik napas, lalu akhirnya menekan tombol panggilan. Aku menelponnya. Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali.

“Han?” suara Iqdam terdengar di ujung sana. Tidak kaget atau terdengar cemas berlebihan. Seperti sudah menduga aku akan menelepon.

“Iya,” jawabku pelan.

Kami diam sejenak. Tidak ada yang buru-buru bicara. Tapi diamnya kali ini tidak membuatku penasaran.

“Hawa lagi tidur,” katanya kemudian. “Barusan minta dipeluk. Kayak takut aku pergi.”

Aku memejamkan mata. “Dia emang gitu,” kataku lirih. “Kalau ada yang dirasa, maunya nempel.”

“Iya,” jawabnya.

Aku bisa mendengar senyum tipis di suaranya.

“Sekarang juga nempelin aku terus."

Aku menelan ludah. “Mas… makasih ya.”

Ia terdiam. Lama. Lalu berkata pelan, “Aku yang harusnya bilang gitu dari dulu.”

Aku tidak menyela. Biarlah kalimat itu melayang ke udara. Aku enggan luluh dengan mudah. 

“Hari ini dia sempat nanya kamu,” lanjut Iqdam. “Nanyanya biasa aja. Nggak nangis. Tapi… aku tahu dia mau bilang banyak hal cuma nggak berani ngomongnya.”

Dadaku mengencang. “Dia bilang apa aja?”

“Dia tanya… ‘Bunda kalau capek, kenapa nggak bobok aja di kamar sendirian, kenapa harus pergi?’"

Aku menutup mata. Rasanya seperti ditarik mundur ke banyak malam—malam ketika aku capek, tapi memilih diam karena tidak ingin dianggap mengeluh.

“Aku jawab… karena Bunda nggak mau marah atau sedih di dekat Hawa. Jadi Bunda menenangkan diri sebentar supaya nanti bisa balik peluk Hawa lagi ,” lanjut Iqdam. “karena kami sayang Hawa.”

Aku mengusap wajahku. Air mataku jatuh satu. Diam-diam mengalir di pipi.

“Mas,” suaraku bergetar. “Aku nggak mau Hawa tumbuh sambil mikir dia harus selalu kuat sendirian, memendam perasaannya.”

“Aku tahu,” jawabnya cepat. “Makanya… sekarang aku lebih banyak cerita ke dia. Bilang kalau capek itu nggak apa-apa. Kalau sedih boleh nangis.”

Aku terdiam. Mendengarkan. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian menjelaskan dunia pada anak kami.

“Hana,” panggilnya pelan. “Aku nggak mau janji yang aneh-aneh. Aku cuma mau kamu tahu… aku jaga Hawa bukan karena kamu nggak ada. Tapi karena dia anak kita.”

Kata ~kita itu membuat dadaku bergetar. “Aku tahu,” jawabku akhirnya. “Dan… aku lihat itu sekarang.”

Ada hening di antara kami. Tapi sepi yang tidak lagi menghakimi.

“Mas,” kataku pelan, “aku belum bisa pulang cepat. Tapi aku juga nggak menjauhi kalian.”

“Iya,” jawabnya. “Aku ngerti.”

“Hawa butuh sehat dulu,” lanjutku. “Dan… aku juga.”

“Iya,” ulangnya.

Aku menghela napas. “Tolong bilang ke Hawa… Bundanya nggak ke mana-mana.”

“Iya,” katanya. “Aku bilang setiap malam."

Aku tersenyum kecil. Sebelum menutup telepon, aku berkata, “Mas… makasih nggak maksa aku lekas pulang.”

Suaranya terdengar berat, tapi hangat. “Aku ... belajar dari kamu, Sayang.”

Telepon ditutup.

Aku meletakkan ponsel di samping. Menatap langit-langit lagi. Tapi kali ini, tidak terasa kosong.

Kepercayaan itu bukan soal buru-buru kembali menata hati dan keinginan. Tapi soal merasa aman, meski berjauhan.

Malam itu, sebelum tidur, ponselku bergetar lagi.

Foto masuk. Hawa tertidur. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya menggenggam ujung selimut. Di sudut foto, terlihat tangan Iqdam yang menahan selimut agar tidak turun.

Pesan menyusul di bawahnya. [“Dia bilang… Bunda jangan lupa istirahat.”]

Aku tersenyum. Air mataku jatuh, trenyuh oleh setiap kalimat Hawa. Aku membalas singkat. “Bilangin … Bundanya lagi belajar lebih sehat juga.”

Lalu aku mematikan lampu. Ternyata, jarak tidak selalu berarti menjauh. Kadang, ia hanya ruang untuk belajar kembali—bagaimana caranya pulang dengan benar.

***

Ayah masuk ke ruang tengah sambil membawa dua gelas teh hangat. Uapnya tipis, aromanya menenangkan, tapi dadaku tetap sesak.

“Hawa gimana?” tanya Ayah, duduk di kursi rotan. Nada suaranya biasa. Tapi matanya mencari wajah cucunya di layar ponsel yang masih kugenggam.

Aku menelan ludah. “Sudah turun demamnya, Yah. Kata Iqdam… sekarang malah nempel terus."

Ayah mengangguk pelan. “Bagus.”

Aku memiringkan ponsel. Video call tak lama pun tersambung. Wajah Hawa muncul. Rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya jernih. Tidak kosong seperti kemarin.

“Kakek!” serunya kecil.

Ayah tersenyum lebar. Senyum yang jarang keluar kalau bukan untuk cucunya. “Nah… itu dia. Cucunya Kakek.”

“Kamu sudah sehat, Wa?” tanya Ayah lembut, tapi sorot matanya tajam. Seolah mencari kepastian di binar mata Hawa.

Hawa berpikir sebentar. “Udah,” jawabnya cepat, lalu menambahkan, “dikit.”

Ayah terkekeh. “Jujur, ya.”

Iqdam terdengar di belakang layar. “Demamnya sudah nggak ada, Yah. Tinggal lemes sedikit.”

Ayah mengangguk lagi. Lalu mencondongkan badan, suaranya sedikit direndahkan. “Kalau begitu… Hawa belum boleh kakek ajak ke sungai.”

Hawa langsung manyun. “Kenapa?”

“Karena mancing itu harus kuat,” kata Ayah tenang. “Kalau belum sehat betul, nanti masuk angin.”

Hawa terdiam. Tangannya memainkan ujung baju Ayahnya.

“Kakek mau ajak Hawa mancing,” lanjut Ayah. “Tapi nanti. Kalau Hawa sudah benar-benar sehat.”

Mata Hawa berbinar. “Beneran?”

“Beneran,” jawab Ayah. “Ikan di sungai juga nungguin Hawa.”

Aku tersenyum kecil, tapi mataku panas. Aku juga jarang membawa Hawa ke sini, pengobat rindu ayah pada cucunya.

“Kakek,” suara Hawa mendadak pelan. “Kalau mancing… Bunda ikut?”

Ayah tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arahku. Pandangannya terpaku, lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.

“Kakek jagain Bundanya Hawa dulu di sini,” katanya akhirnya. “Tenang.”

Dadaku bergetar. Aku menunduk, pura-pura mengaduk teh yang bahkan belum kuminum.

“Jadi kapan, Kek?” tanya Hawa lagi, polos. “Mancingnya kapan?”

Ayah kembali melirik ke arahku. Kali ini lebih dalam. Seolah pertanyaan itu bukan lagi cuma milik Hawa. Ada titipan harapan dari iqdam juga, soal kepastian bertemu denganku.

Ia diam sebentar, lalu berkata pelan, “Kalau semua sudah siap.”

Aku mengangkat wajah. Mata kami bertemu.

Dan di detik itu aku tahu—yang sedang ditunggu bukan hanya kesehatan Hawa, untuk pulih, tapi keputusan yang belum berani kusebutkan.

Panggilan terputus. Layar kembali gelap. Aku duduk diam. Ayah masih di depanku. Tidak bertanya.

“Hana,” katanya akhirnya, pelan. “Kadang yang paling berat itu bukan pergi… tapi pulang.”

Aku memejamkan mata. Sejak aku melangkah keluar dari rumahku sendiri, aku tidak tahu…

Kapan diriku siap kembali.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!