Gelora Cinta Kedua (Novel)

Kesayangan

POV Iqdam

Aku bangun lebih pagi dari biasanya.

Bukan karena alarm. Tapi karena rasa hangat disertai suara napas halus di dadaku.

Hawa tidur sambil memeluk leherku, pipinya menempel di bahuku. Hawa tidak terlalu berat, tapi cukup membuat lenganku pegal.

Aku tidak bergerak.

Laptop masih tertutup di meja. Ponsel bergetar pelan—pesan dari sekretarisku sejak subuh. Biasanya aku akan bangun cepat, menggeser posisi Hawa pelan-pelan. Tapi pagi ini, aku memilih diam sejenak. Aku menatap wajahnya. Tidak sepucat kemarin. Napasnya sudah lebih teratur.

Pelan-pelan, aku meraih ponsel dengan satu tangan. Mengambil foto. Tidak pakai flash. Hanya memotret wajah Hawa yang tertidur pulas, rambutnya berantakan, tangannya masih menggenggam kausku.

Aku kirim ke Hana.

["Hawa tidur. Demamnya alhamdulilah sudah turun. Aku gendong dia sesekali sampai jelang subuh."]

Beberapa detik kemudian, pesan balasan masuk.

["Terima kasih, Mas."]

Hanya itu. Tapi dadaku menghangat, tanpa kusadari bibirku melengkung senyum tipis. Bahagia.

Aku kirim pesan lagi ke Hana. ["Jangan khawatir. Aku jagain Hawa. Kamu yang tenang di sana."]

Aku membaca ulang kalimat itu sebelum mengirim. Bukan cari perhatian, tapi hanya ini yang bisa kulakukan.

Siang hari, Hawa sudah mau makan, meski nggak banyak tapi dia minta sendiri. 

“Ayah… nasinya dikit aja.”

Aku tersenyum. “Iya.”

Aku memotret piringnya. Kirim ke Hana. Foto berikutnya, Hawa duduk di pangkuanku, mulutnya belepotan.

"Makannya cuma setengah. Tapi lumayan, mulai mau makan."

Tak lama, balasan masuk. ["Alhamdulillah."]

Aku menatap kalimat itu lama. Aku tahu, ketenangan Hana sekarang bukan datang dari kata-kataku dulu. Tapi dari bukti kecil yang konsisten.

Siang itu, aku memesan makanan. Bukan buatku. Aku hafal betul apa yang biasanya Hana pesan kalau badmood.

Salad, jus nanas jahe. Aku kirim ke alamat ayahnya. Aku tidak bilang apa-apa. Hanya satu pesan pendek setelah kurir berangkat.

"Makan ya. Jangan telat."

Tidak ada balasan, tak apa. Yang penting makanannya sampai.

Sore hari, aku meeting. Biasanya aku akan mengunci pintu kamar jika sedang bekerja di rumah. Tapi, hari ini tidak.

Hawa duduk di pangkuanku. Kepalanya bersandar di dadaku. Sesekali tangannya memainkan jam tanganku.

“Ayah kerja dulu, ya,” bisikku.

“Iya,” jawabnya pelan. Tidak rewel. Tidak minta turun.

Kamera menyala. Karyawanku melihatku menggendong anak.

“Ayah mode full-time nih, Bos?” salah satu dari mereka bercanda.

Aku tersenyum. “Iya. Ayah Rumah Tangga.” Aku tidak malu. Aneh, tapi aku justru bangga. Bangga karena akhirnya aku tahu rasanya berada di posisi yang selama ini Hana jalani sendirian.

*

Ayah sekarang sering gendong Hawa. Kalau Ayah kerja, Hawa nggak disuruh pergi. Ayah bilang, “Nggak apa-apa.”

Hawa senang.

Ayah juga suka nyuapin obat. Cerewet mirip Bunda.

Ayah juga suka senyum ke Hawa. Bukan senyum yang bikin Hawa takut. Senyumnya ayah yang cakep.

Tapi… kalau malam, Hawa masih ingat Bunda. Sekarang, cuma bisa peluk Ayah lebih erat, biar Ayah nggak pergi. Biar rumah Hawa nggak sepi.

*

Malam datang dengan lebih tenang. Hawa tertidur lebih cepat. Tidak mengigau. Hari ini sudah tak demam.

Aku duduk di samping ranjangnya. Mengirim satu foto terakhir ke Hana. Hawa tidur, selimut rapi, boneka di sampingnya.

"Tidur nyenyak. Hari ini dia nempelin aku kemana-mana."

Balasan Hana datang beberapa menit kemudian. ["Makasih sudah jaga Hawa … rumah kita."]

Aku menghela napas panjang, menatap Hawa lagi. Lalu menatap layar ponselku. Aku tahu, ini belum selesai. Keluargaku belum utuh lagi, tapi setidaknya sekarang, aku tidak lagi jadi suami yang cuma diam menonton.

Malam itu Hawa terbangun sebentar. Ia menggeser tubuhnya, mencari-cari. Tangannya meraba dadaku, memastikan aku masih di sana.

“Ayah?” suaranya kecil, setengah mengantuk.

“Iya,” jawabku cepat. “Ayah di sini.”

Ia menghela napas, lalu menempel lagi. Beberapa detik kemudian, ia bicara pelan. Terlalu lirij untuk anak lima tahun yang biasanya cerewet.

“Kalau Hawa udah sembuh… Ayah jemput Bunda ya?”

Aku terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Tapi menghantam dadaku. Bukan tuntutan. Bukan rengekan. Hanya harapan seorang anak yang rindu ibunya.

“Kita jemput Bunda,” ulangnya, memastikan.

Aku mengusap rambutnya. “Kalau Hawa sudah beneran sembuh,” kataku pelan, hati-hati. “Biar Ayah nggak bikin Bunda khawatir.”

Hawa mengangguk kecil. “Iya. Hawa minum obat terus.”

“Pinter,” kataku. “Ayah tunggu sampai Hawa kuat dulu, oke?”

Ia diam sebentar. Lalu bertanya lagi, “Bunda senang nggak kalau dijemput?”

Aku tersenyum tipis. “Iya. Senang.

“Kalau Hawa ikut juga?” tanyanya lagi.

“Tentu,” jawabku cepat. “Ayah nggak ke mana-mana tanpa Hawa.”

Ia terlihat lega. Kelopak matanya berat, tapi ia masih ingin bicara.

“Ayah…”

“Hm?”

“Bunda jangan dimarahin lagi ya.”

Dadaku mengencang. “Ayah minta maaf,” kataku spontan. “Ke Hawa.”

Ia membuka mata sedikit. “Kenapa?”

Aku menarik napas. “Karena Ayah pernah bikin rumah jadi nggak enak. Pernah bikin Hawa takut.”

Hawa menggeleng pelan. “Hawa nggak takut… cuma sedih.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kata takut. Aku menunduk, keningku menempel di rambutnya. “Maafin Ayah ya.”

Ia diam, lalu mengangguk. “Iya.”

Aku tersenyum. “Ayah mau nanya, boleh?”

“Apa?”

“Apa yang Hawa mau dari Ayah? Atau dari Bunda?”

Ia berpikir lama. Sangat lama. Seperti menyusun sesuatu yang penting.

“Hawa mau… Ayah sama Bunda ketawa lagi,” katanya akhirnya. “Terus makan bareng."

Aku menelan ludah. “Terus?” tanyaku.

“Terus… jangan teriak-teriak,” lanjutnya polos. “Kalau pusing, duduk, minum obat."

Aku terkekeh pelan, getir. “Iya."

Ia menguap.

“Kalau Hawa sembuh… kita mau ke mana?” Aku membetulkan selimutnya. “Ada nggak tempat yang Hawa mau datangi?”

Ia tersenyum kecil, setengah tidur. “Ke taman. Bawa tikar. Bunda bawa minum.”

“Terus?”

“Ayah beli balon.”

Dadaku menghangat. “Iya,” kataku. “Ayah janji.”

Hawa memejamkan mata. Tangannya masih menggenggam kausku. Beberapa detik kemudian, napasnya teratur.

Aku tetap berbaring di sana, lama. Bukan karena takut ia terbangun. Tapi karena aku baru mengerti—yang Hawa inginkan bukan orang tua sempurna. Hanya orang tua yang tidak saling melukai.

Aku mengirim satu pesan ke Hana.

"Hawa bilang… kalau sudah sembuh, dia mau kita jemput kamu."

Tidak ada balasan saat itu. Hana pasti sedang istirahat. Aku memutuskan tidur di kamar Hawa memeluknya. Dalam hatiku masih muncul keyakinan bahwa ~kita masih bisa pulang bersama.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!