Gelora Cinta Kedua (Novel)

Diusir

Aku meremat rambut. Merasa frustasi dan kehilangan kontrol. Mbak Mira masih menatapku tajam, tangannya ikut mengepal, mungkin dia juga geram ingin balik membentakku.

Tiba-tiba. 

Hawa muncul dari kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Tubuh kecilnya berdiri di antara Mira dan aku, seolah tanpa sadar ingin menjadi penahan.

“Bunda nggak gitu, Uwa…” Suaranya gemetar. “Jangan marahin bunda dan ayah lagi…”

Aku menoleh cepat. Jantungku mencelos.

Mira ikut menoleh, jelas tidak menyangka Hawa akan berkata demikian.

“Hawa nggak suka sama Uwa,” lanjutnya jujur, polos—dan justru itu yang menghantam Mira. Matanya ganti mendelik ke Hawa. “Kalau Uwa marah-marah.”

Ruangan terasa mendadak sempit.

Aku belum sempat bergerak, belum sempat bicara, ketika Hawa berlari kecil ke arah meja. Tangannya meraih catatan kecil milik Hana—yang tadi sempat dipegang Mira.

Ia memeluk kertas itu ke dadanya, seolah benda paling berharga. Lalu ia kembali ke kamarnya. Pintu ditutup pelan.Tapi suaranya cukup tegas bahwa dia marah.

Aku terpaku.

Mira menunjuk ke arah pintu kamar itu. Napasnya berat, nadanya naik. “Anak kecil begitu mana ngerti ginian?” katanya tajam. “Siapa lagi yang ngajarin kalau bukan ibunya?”

Dadaku panas. Napasku naik turun.

“Sejak awal Hana emang susah diatur,” lanjutnya tanpa menurunkan suara. “Keras kepala. Merasa paling benar. Sudah, Dam. Ceraikan saja. Benalu. Duri dalam selimut.”

Kalimat itu jatuh seperti palu di kepalaku.

“CUKUP!” Suaraku meledak lagi, sebelum sempat kutahan.

Mira terlonjak. Terdiam. Seperti baru sadar aku bukan anak kecil yang bisa dibentak lagi.

Aku melangkah maju. Wajahku panas, mataku basah—tapi kali ini mampu menatap sinis kakakku.

“Jangan bawa-bawa perceraian di rumahku,” kataku dengan suara bergetar. “Dan jangan pernah sebut Hana begitu lagi.”

Mira membuka mulut, tapi aku lebih dulu bicara. “Aku jenuh, Mbak,” kataku. “Aku capek dengar istriku disalahkan terus. Aku capek rumahku jadi tempat orang bebas menghakimi.”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Pulang.”

Mira menatapku lama. “Kamu ngusir Mbakmu sendiri?”

“Iya,” jawabku lirih tapi tegas. “Untuk sementara… jangan datang dulu.”

Sunyi.

“Bantuan buat Rika tetap ada,” lanjutku, suaraku turun. “Aku nggak pernah niat lepas tangan. Tapi jangan memintaku menukar dengan harga diri dan rumah tanggaku.”

Mira tertawa pendek, pahit. “Kamu dipengaruhi dia, Dam.”

Aku mengangguk. “Iya. Karena kalau aku nggak sadar-sadar, aku kehilangan semuanya.”

Mira meraih tasnya. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi—tanpa kata.

Pintu tertutup.

Aku berdiri sendiri di ruang tengah. Tanganku gemetar. Bukan karena takut—tapi karena baru saja memutus sesuatu yang selama ini kubiarkan mengikat leherku sendiri.

Dari dalam kamar, terdengar isak yang ditahan. Langkah kakiku terasa berat saat mendekat.

Aku mengetuk pelan.

“Hawa…”

Tidak ada jawaban.

Aku duduk di depan pintu kamar anakku. Menyandarkan punggung ke dinding. Dan di balik pintu itu—

(POV Hawa)

Hawa duduk di lantai, memeluk lutut.

Kertas kecil itu masih ada di tangannya. Hawa nggak ngerti semua yang orang dewasa bilang. Tapi Hawa tahu, Bunda lagi sedih.

Pelan-pelan, Hawa merapikan kertas itu. Diluruskan. Dilap-lap pakai tangan kecilnya.

“Hawa sayang bunda…” bisiknya pelan, hampir nggak kedengaran.

Air matanya jatuh satu-satu ke lantai. “Hawa nggak mau bunda pergi lama-lama…” Isaknya tertahan.

Pintu tetap tertutup.

Aku duduk di luar, bersandar di pintu kamar Hawa. Tidak berani mengetuk lagi. Tidak berani masuk.

Kali ini, aku menang. Bukan karena pertengkaran tadi dengan Mira tapi karena berdiri di tempat yang seharusnya. Namun, terlambat dan rasanya… hampa.

Makan malam kami seadanya.

Nasi hangat dan lauk sederhana. Aku menyuapi Hawa pelan-pelan, seperti dulu waktu ia masih sering minta disuapi.

“Habisin dikit lagi ya,” kataku.

Hawa membuka mulut, tapi gerakannya lambat. Tidak seperti biasanya. Matanya sesekali menatapku, lalu menunduk lagi. Seolah ada yang ingin ditanyakan, tapi tak berani.

“Kok makannya dikit?” tanyaku.

Hawa menggeleng. “Nggak lapar, Ayah.” Nada suaranya lemah.

Aku tetap menyuapi, sampai akhirnya ia menempelkan kepalanya ke dadaku.

“Ayah…” panggilnya pelan.

“Iya, Nak?”

Ia memelukku lebih erat. Tubuh kecilnya hangat. Terlalu hangat. Aku tersentak.

Aku menyentuh keningnya. Panas.

“Loh…” gumamku. “Hawa demam?”

Hawa mengangguk kecil. Matanya mulai berair. “Pusing…”

Dadaku langsung sesak. Aku menggendongnya ke kamar, membaringkannya pelan. Mengompres dengan handuk, memberinya obat penurun panas yang masih ada di lemari.

“Kita tidur ya,” kataku, mencoba terdengar tenang.

Hawa mengangguk. Tangannya tetap menggenggam bajuku, seolah takut aku pergi.

Malam itu aku nyaris tidak tidur. Setiap satu jam aku bangun. Mengecek suhu tubuhnya. Mengganti kompres. Mendengar napasnya. Memastikan dadanya naik-turun dengan ritme yang normal.

Panasnya tidak turun juga.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu.

Rasa bersalah datang berlapis-lapis. Seharusnya aku lebih peka. Seharusnya aku tidak membiarkan rumah ini setegang itu.

Sekitar pukul tiga dini hari, Hawa menggeliat. Mengigau pelan. “Bunda…”

Satu kata itu membuat dadaku runtuh.

Aku mengusap rambutnya. “Ayah di sini.” Tapi bahkan aku sendiri tidak yakin dengan kalimat itu.

Menjelang subuh, ponselku bergetar. Nama itu muncul di layar.

Hana.

Aku langsung mengangkatnya, tanpa pikir panjang.

“Mas,” suaranya terdengar cemas, “Apa terjadi sesuatu?”

Aku menelan ludah. “Hawa demam,” jawabku jujur. “Sejak malam. Belum turun.”

Di seberang sana, aku bisa merasakan napasnya tertahan.

“Sudah kasih obat?” tanyanya cepat.

“Sudah. Kompres juga. Aku… aku jagain.”

Hening sejenak.

Suara di seberang sana menghela napas panjang. “Aku tadi kebangun,” katanya lirih. “Entah kenapa kepikiran Hawa terus.”

Kalimat itu membuat mataku panas. Bahkan ikatan batin ibu dan anak, tak terpatahkan. Sementara aku, yang serumah malah abai.

“Mas,” lanjut Hana, “kalau panasnya nggak turun sampai pagi, langsung bawa ke dokter ya.”

“Iya,” jawabku cepat. “Iya, Han.”

Ada jeda. Tidak ada kata-kata lain.

“Terima kasih sudah jaga Hawa,” katanya akhirnya.

"Han," sebutku ragu. 

"Ya?"

"Tadi, Mbak Mira ke sini." Suaraku tercekat.

"Hawa dengar apa saja?" Nada suara Hana terdengar takut dan cemas. 

“Hawa dengar,” lanjutku pelan. “Dia… berdiri di tengah-tengah kami.”

Dadaku mengeras. Tak kuasa bercerita, aku diam sebentar, mengatur napas agar tetap stabil bila Hana menyalahkan aku.

“Hawa bilang… kamu nggak seperti yang Mira bilang.”

Aku memejamkan mata, sebelum melanjutkan.

“Hawa juga bilang … nggak suka kalau orang marah-marah di rumah.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

Aku bisa membayangkan wajah kecewa Hana di sana.

Hening. Napas Hana nyaris tak terdengar, seperti menahan sakit mendengar ceritaku.

“Dia ambil catatan kamu,” suara Iqdam menurun. “Kertas kecil itu. Dia rapikan lagi. Dia peluk.”

Aku menelan ludah. “Han… aku bentak Mbakku.” Aku membuka mata. “Aku minta dia pulang.”

Sepi. Satu detik. Dua detik.

"Mas." 

"Ya?"

"Jaga Hawa untukku. Aku cuma minta itu saja. Tapi nyatanya...." 

Telepon ditutup dengan pelan. "Han."

"Hana." Panggilan diputus sepihak. Aku mengusap wajah, mengacak rambut frustasi. Iya, aku bodoh, rutukku.

 Aku menatap Hawa lagi.

Tangannya masih menggenggam selimut. Dahi kecilnya masih hangat, tapi aku tidak sepanik tadi.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!