Gelora Cinta Kedua (Novel)
Hari Bunda
PoV Hawa.
Hawa berdiri di depan pintu, memeluk bonekanya erat-erat. Matanya basah, tapi ia tetap mengangkat tangan kecilnya, melambaikan ke arah punggung Hana yang makin menjauh.
“Bunda…” suaranya nyaris tak terdengar.
Pintu tertutup pelan.
Iqdam masih berdiri di ambang pintu. Tidak mengejar. Tidak memanggil. Hanya diam, seolah tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Hawa menurunkan tangannya. Ia menatap pintu itu beberapa detik lagi, lalu berbalik. Masuk ke kamarnya sendiri.
Tangisnya pecah di sana. Ia naik ke tempat tidur, membenamkan wajah ke bantal. Bahunya naik turun. Boneka itu terlepas dari pelukannya. Iqdam melangkah satu langkah ke depan, refleks ingin menenangkan.
Tapi sebelum ia sempat mendekat, Hawa turun dari ranjang.
Ia mengusap matanya kasar, lalu berjalan ke meja lipat kecil di sudut kamar—meja milikku. Meja yang tadi pagi masih penuh catatan.
Kertas kecil yang tadi terjatuh masih ada di lantai.
Hawa memungutnya. Tangannya gemetar, tapi gerakannya hati-hati. Ia merapikan kertas itu, meluruskannya, lalu menempelkannya kembali ke meja, persis seperti semula. Seolah-olah kalau semuanya kembali rapi, aku juga akan kembali.
Iqdam memperhatikan dari jauh. Dadanya terasa ditekan kuat-kuat.
Hawa duduk di lantai, tepat di depan meja itu. Tangisnya belum berhenti.
“Hawa nggak ngerti,” katanya terisak, seperti sedang bicara pada udara. “Tapi Hawa sayang Bunda.”
Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan.
“Hawa tahu Bunda lagi sedih…” suaranya mengecil. “Bentar lagi Hawa SD. Hawa udah besar.”
Ia mengangguk sendiri, seperti sedang meyakinkan dirinya.
“Hawa harus belajar rajin lagi. Harus nurut kata Bunda.” Napasnya tersengal. “Hawa janji, Bunda… Hawa apa-apa bisa sendiri.”
Ia terdiam. Bahunya kembali bergetar.
“Tapi…” suaranya pecah. “Tapi… Bunda jangan pergi lama-lama.”
Hawa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sesenggukan kecil itu terdengar jelas, menyayat.
Iqdam tidak bergerak. Tidak berani mendekat. Ia merasakan sesak yang sama—sesak yang tidak bisa ditenangkan dengan pelukan atau kata-kata.
Hawa tetap duduk di depan meja lipat itu. Menangis pelan. “Hawa mau ikut Bunda…”
Kata-kata itu jatuh begitu saja.
Duar.
Iqdam tersentak. Tubuhnya menegang. Hawa bahkan tidak menoleh kepadanya. Tidak mencari. Tidak meminta.
Hawa memilih kepergian bundanya.
Dan di situ, Iqdam akhirnya mengerti: yang pergi bukan hanya Hana tapi juga perhatian Hawa untuknya.
***
PoV Iqdam.
Hawa mulai meniru Hana tanpa sadar.
Bukan karena disuruh. Bukan karena ingin dipuji.
Pagi-pagi sekali, sebelum aku benar-benar membuka mata, aku mendengar suara langkah kecil di dapur. Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang sedang memastikan tidak membuat siapa pun terganggu.
Hawa berdiri di depan meja, menuang susu sendiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berhasil. Setelah itu tas sekolahnya dirapikan. Buku dimasukkan satu per satu, resleting ditutup perlahan.
Aku berdiri di ambang pintu. Tidak membantu. Tidak juga melarang, hanya melihat.
Malamnya pun begitu.
Hawa gosok gigi. Cuci kaki. Naik ke tempat tidur tanpa perlu diingatkan dua kali. Biasanya Hana sudah ribut meminta putriku bergegas.
“Hawa … mau ayah bacain buku?” tanyaku dengan nada ceria.
Hawa menggeleng sambil menarik selimut. “Enggak, Yah. Hawa sudah ngantuk.” Ia menoleh sebentar. “Selamat bobok, Ayah.”
Itu saja. Aku terduduk di ujung ranjangnya sendiri, bengong.
Hawa baru lima tahun. Tapi aku sudah tidak dibutuhkan seperti Mungkinkah Hawa tidak sayang lagi padaku? Atau karena ia sedang belajar kuat—seperti Hana?
Pagi itu, Hawa bangun lebih awal dari biasanya. Rambutnya masih basah, tapi seragam sudah rapi.
“Yah,” katanya sopan, “boleh pinjam HP ayah sebentar?”
Aku menyerahkan ponselnya tanpa tanya. Hawa duduk di sofa, kakinya menggantung. Jemarinya menekan nama yang sudah dihafalnya.
Begitu panggilan terhubung, wajah Hawa langsung berseri.
“Bundaaaaa! Selamat Hari Ibu!” suaranya melengking ceria.
“Hawa sudah mandi, sudah pakai seragam rapi.”
Aku berdiri tak jauh darinya. Mendengar semuanya.
Di seberang sana, Hana tersenyum. Aku bisa menebaknya dari cara Hawa tertawa kecil.
Mereka mengobrol seperti tidak ada jarak. Seperti Hana tidak sedang pergi.
Tidak ada pertanyaan tentang ayah. Tidak ada jeda canggung akibat peristiwa kemarin.
Aku memutuskan mendekat. Menyela pelan, seperti orang asing di antara mereka.
“Selamat Hari Ibu, Sayang,” kataku.
Hawa menoleh sebentar. Tersenyum kecil. Hana mengangguk sopan, aku melihatnya di layar.
Lalu percakapan kembali ke mereka berdua. Tentang coklat. Tentang gambar yang dibuat Hawa subuh tadi.
“Jelek ya, Bunda,” kata Hawa sambil tertawa, “tadi Hawa gambarnya buru-buru.”
Aku fokus melihat layar ponsel. Coretan anak kecil. Bentuknya nyaris tidak jelas. Tapi Hana menatapnya seolah itu hadiah paling penting.
Aku hanya berdiri di sana. Tapi seolah tidak ada. Bukan karena Hana sengaja menyingkirkannya. Bukan karena Hawa melupakannya. Tapi karena cinta mereka tetap utuh—tanpa aku di tengah-tengah.
Dan itu membuat dadaku terasa perih. Melihat orang-orang yang kucintai tetap baik-baik saja… tanpa aku. Aku cemburu, bahkan pada ponsel yang dipegang Hawa.
Siang itu, Mira datang tepat ketika aku sudah mengenakan jaket.
“Kamu mau ke mana?” tanya Mira, menatap jam dinding.
“Jemput Hawa,” jawabku singkat.
Mbak Mira mengangguk pelan, lalu matanya berkeliling. “Hana ke mana? Nganggur kok nggak bisa jemput anak sendiri?”
Aku menghela napas, malas menjelaskan tapi daripada makin melebar, akhirnya kujawab, “Hana pulang sebentar.”
Mbak Mira terkekeh, tidak ada humor di sana. “Oh… ngadu?"
Ia menyilangkan tangan. “Baru aku tegur segitu, langsung ngambek? Pulang ke orang tuanya? Istri macam apa itu, Dam?”
“Bukan soal itu,” potongku cepat, nadaku lebih tegas dari yang ia kira. “Dia kangen ngobrol sama ayahnya.”
“Halah,” Mira mendengus. “Alasan.” Ia melirik pintu. “Ya sudah. Kamu jemput Hawa. Aku tunggu di rumah.”
Aku ragu sejenak, lalu mengangguk. Tidak ada tenaga untuk berdebat.
Mbak Mira masuk ke kamar Hawa. Matanya berhenti pada ranjang kecil itu. Ia meletakkan sebuah boneka besar di atasnya—boneka lama milik putrinya dulu.
“Sayang kalau dibuang,” gumamnya. “Mahal. Masih bagus.”
Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka. Suara langkah kecil Hawa terdengar.
Begitu masuk kamar, wajah Hawa langsung mengerut. “Kok Uwa di kamarku?” tanyanya. “Ngapain?”
Kakakku tersenyum, agak kaku. “Ini, Uwa bawain boneka buat Hawa. Mahal, dan bagus.”
Hawa menatap boneka itu sebentar. Lalu menggeleng pelan. “Oh… makasih,” katanya sopan. “Tapi Hawa sudah punya boneka dari Bunda.”
Ia memeluk boneka lamanya yang ada di rak. “Hawa sayang yang ini.”
Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti penolakan secara halus.
Mbak Mira terdiam. Tidak marah. Tidak tersenyum lagi.
“Apa Hana ngajarin kamu membenci Uwa?” tanyanya pelan, menoleh ke arahku yang baru masuk.
Aku tercekat. “Nggak. Hana nggak pernah—”
Mbak Mira tidak menunggu penjelasan. Matanya tertumbuk pada secarik kertas di meja lipat. Catatan kecil itu.
Ia mengambilnya. Membaca pelan.
Jadwal.
Biaya.
Nama Hana. Nama Hawa.
Tidak ada namaku.
Mbak Mira melipat kertas itu perlahan. Wajahnya berubah. Ia keluar kamar, langkahnya cepat. Mencariku di ruang tengah.
“Dam,” suaranya naik, “istrimu kerja apalagi sih sampai ninggalin anak begitu?”
Aku berdiri. “Dia nggak ninggalin—”
“Kurang apa kamu ke dia, hah?” potong Mira tajam. “Kamu laki-laki. Suami. Kok bisa disepelekan sampai segininya?”
Ia mendekat. Nada suaranya murka, sambil menunjuk wajahku. “Kamu tuh terlalu lembek. Makanya dia berani"
Aku nggak tahan lagi. Kukepalkan tangan. Dadaku naik turun merasa terus dipojokkan. "MBAK! CUKUP!" sentakku, membuat Mbak Mira melotot tajam.
.
.