Gelora Cinta Kedua (Novel)
Pulang ke Ayah
Aku menutup buku catatanku.
Tenang.
Seolah keputusan itu bukan hal besar—padahal dadaku sejak tadi terasa penuh.
Aku menatap Iqdam. Nada suaraku kujaga tetap datar, dan sopan. Bukan karena aku ingin menjaga jarak, tapi karena kalau tidak begitu, suaraku mungkin akan bergetar.
“Mas,” kataku, “boleh, kan?”
Dia mengangkat kepala. Diam. Tatapannya kosong.
“Nanti…” aku melanjutkan pelan, “aku mau jelasin ke Hawa. Pelan-pelan. Biar dia ngerti kenapa bundanya kadang nggak ada di rumah.”
Kata boleh itu terasa asing di mulutku sendiri.
Selama ini, keputusan besar sering berjalan tanpa pernah benar-benar ditanyakan padaku. Tapi aku tetap mengucapkannya—bukan karena aku harus, melainkan karena aku masih berusaha menjaga bentuk.
“Iya…” jawabnya akhirnya. Suaranya serak.
Tidak ada penolakan. Tidak juga pertanyaan lanjutan.
Aku mengangguk kecil. Jawaban itu sudah cukup. Setidaknya untuk saat ini.
Aku berbalik menuju kamar. Tidak terburu-buru. Tidak menoleh. Aku tahu dia memperhatikanku, tapi aku tak ingin melihat ekspresi wajahnya. Aku takut hatiku berubah pikiran.
Di dalam kamar, aku membuka lemari dan menarik tas travel kecil. Aku mengisinya seperlunya. Pakaian secukupnya. Barang pribadi. Tidak ada yang berlebihan. Aku tidak sedang kabur. Aku hanya ingin sendiri...
Suara resleting terdengar jelas di ruangan yang terlalu sunyi.
Langkah kaki tergesa mendekat. Aku tahu dia menyusul.
“Kamu… mau ke mana?” tanyanya.
Aku menoleh. Tatapannya panik. Tapi aku memilih tetap tenang.
“Pulang ke ayah, kan tadi,” jawabku singkat.
Kata itu jatuh begitu saja, tapi rasanya menghantam keras.
Bukan pulang ke kamar.
Bukan pulang setelah marah.
Tapi pulang—ke tempat yang bukan lagi rumah ini.
“Ayah, Han?” suaranya gemetar.
Aku merapikan tali tas. Gerakanku rapi, terkontrol. Aku butuh sesuatu untuk dipegang, supaya emosiku tidak runtuh.
“Ke tempat aku bisa napas sebentar,” kataku akhirnya. “Aku nggak pergi lama. Aku cuma butuh jarak… biar nggak mati rasa sepenuhnya.”
Dia melangkah mendekat satu langkah. Panik.
“Han, tunggu. Kita bisa omongin.”
Aku menatapnya lama. Dan di saat itu, aku tahu—aku lelah. Lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan obrolan singkat atau janji yang terdengar baik.
“Kita sudah sering ngomong, Mas,” ucapku pelan. “Sekarang aku butuh kamu benar-benar sadar. Bukan cuma takut kehilangan.”
Dia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Tas itu masih di ranjang. Ringan. Tapi aku tahu, di matanya, tas itu bagai membawa pergi seluruh hidup kami di rumah ini.
Aku melihat kepanikan yang nyata di wajahnya—bukan karena aku sedang marah,
melainkan karena aku pergi dengan tenang.
***
Iqdam menyusul sampai ke dekat pintu.
“Biar aku antar,” katanya cepat. Ada nada terdesak di sana. “Aku nggak mau orang-orang mikir aku suami yang nggak becus. Istri pulang sendirian bawa tas.”
Aku berhenti melangkah. Menarik napas pelan sebelum menoleh.
“Nggak perlu,” jawabku. “Aku bisa jelasin ke ayah.”
Kalimat itu justru membuat wajahnya menegang.
“Jelasin yang bagaimana, Han?” suaranya meninggi sedikit, tapi bukan marah—lebih ke takut. “Aku nggak mau pisah.”
Aku menatapnya. Lama. Aku ingin dia mendengar, bukan hanya menangkap kata-kataku.
“Jelasin soal kerjaanku,” kataku akhirnya. “Soal kenapa nanti aku sesekali nggak ada. Soal kemungkinan aku minta ayah nemenin Hawa, atau ngajak Hawa nginap di rumah beliau.”
Aku berhenti sebentar. Menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
“Aku juga kangen ngobrol sama ayah,” lanjutku jujur. “Tentang kerjaan baruku. Tentang mimpiku. Aku pengin lihat reaksinya. Aku pengin didengar… sebagai Hana. Bukan cuma sebagai istri.”
Iqdam terlihat mencelos. Seperti baru saja menerima pukulan yang tidak dia siapkan.
“Kamu mau ninggalin aku, Han?” tanyanya lirih.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Berat. Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena aku ingin menyakitinya, tapi karena aku sedang mencari kejujuran yang paling sederhana.
“Nggak,” jawabku singkat akhirnya.
Bukan penjelasan panjang. Bukan janji manis. Hanya satu kata yang kupilih dengan sadar.
Aku lalu melangkah menjauh, mencari Hawa di kamarnya.
Karena kalau aku tetap berdiri di sana lebih lama, mungkin aku akan mulai menjelaskan hal-hal yang bahkan belum sepenuhnya kumengerti sendiri.
***
Aku duduk di lantai kamar Hawa, merapikan catatan-catatan kecil di atas meja lipat. Kertas-kertas tipis itu sebenarnya sudah rapi, aku hanya ingin memastikan tidak ada yang tercecer. Tangan ini butuh sesuatu untuk dikerjakan, supaya dadaku tidak terlalu penuh.
Hawa duduk di ranjang, memeluk boneka kesayangannya.
“Bunda mau pergi ke mana?” tanyanya polos. “Kapan? Kenapa Hawa nggak boleh ikut?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi, seperti gerimis, cukup membuat basah.
Aku tersenyum, berusaha setenang mungkin. “Bunda mau kerja, sayang. Nggak jauh. Cuma sebentar.”
“Sebentar itu berapa lama?” Kenapa Hawa nggak ikut?”
Aku menoleh padanya. “Kadang nanti ikut. Tapi kali ini belum bisa. Sekolah Hawa kan masih jalan.”
Aku tidak berbohong. Aku hanya tidak menjelaskan semuanya.
Aku meninggalkan catatan itu di atas meja lipat. Sengaja. Catatan tentang jadwal Hawa: siapa yang jemput les, siapa yang bisa menemani sore hari, makan siang, makan malam—bahkan opsi pesan lewat aplikasi. Aku menempelkannya rapi di permukaan meja dengan selotip bening.
Yang kubawa hanya laptop, tablet, dan alat tulis. Selebihnya aku tinggalkan. Seperti ingin memastikan, rumah ini masih berjalan meski aku tidak ada.
Aku bisa merasakan kehadiran Iqdam di ambang pintu. Diam. Mengamati.
Aku tahu matanya menangkap sesuatu yang lain di kertas itu. Bukan hanya jadwal. Tapi juga angka-angka. Gajiku bulan ini. Perkiraan biaya. Rencana kalau sesekali Hawa ikut denganku bekerja. Semuanya tertulis jelas.
Dan di antara semua baris itu—tidak ada namanya.
Aku belum sempat menoleh ketika tiba-tiba kertas itu terlepas dari meja. Diambil Iqdam lalu dihempaskan nyaris mengenai wajahku. Tidak keras. Tapi cukup mengejutkan.
“Ini maksud kamu apa, Han?” suara Iqdam pecah. Marah, tapi lebih banyak panik. “Kamu atur semua seolah-olah aku nggak ada!”
Hawa langsung menangis. Tangis yang kaget, bukan hanya sedih.
Aku berdiri. Tidak membalas. Tidak juga membungkuk mengambil kertas yang jatuh. Aku hanya menatap mereka berdua. Untuk sesaat, aku ingin berkata banyak hal. Tentang kenapa namanya tidak ada di sana. Tentang kenapa aku tidak lagi berani bergantung.
Tapi aku memilih diam.
Aku berlutut di depan Hawa, memeluknya. Mengusap punggung kecilnya pelan-pelan. “Nggak apa-apa, sayang. Tarik napas sama bunda.”
Tangisnya perlahan mereda. Isaknya tinggal satu dua. Aku mengecup keningnya, lalu pipinya.
Ia menatapku dengan mata merah, tapi bening. Seperti sudah mengerti lebih dari yang seharusnya. “Lekas pulang ya, Bunda,” katanya lirih, lalu mengecup pipiku balik.
Dadaku bergetar, tapi aku menahan diri untuk tidak menangis. “Iya,” jawabku. “Bunda main ke kakek dulu ya.”
Aku berdiri. Mengambil tasku. Melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Di belakangku, aku tahu Iqdam membeku.
Bingung. Karena bahkan Hawa sudah tahu—merasa bahwa ibunya sedang menata hati.
.
.