Gelora Cinta Kedua (Novel)
Tanpamu lagi
Iqdam mulai lebih sering bekerja dari rumah.
Laptopnya terbuka sejak pagi, tapi fokusnya berulang kali pecah. Setiap beberapa menit, matanya terangkat, mencari satu sosok yang bergerak tenang di ruang tamu.
Hana.
Ia duduk di depan meja lipatnya, punggung lurus, mata menatap layar dengan sorot yang serius.
Iqdam mencoba mengalihkan perhatian ke pekerjaannya sendiri. Gagal.
“Kamu mau minum apa, Han?” tanyanya dari sofa.
Hana tidak menoleh. “Nggak.”
Iqdam bangkit, mendekat. Berdiri agak canggung di sampingnya. “Matamu kelihatan perih. Mau aku bikinin air hangat? Dikompres dulu.”
Hana berhenti mengetik. Menoleh sebentar. Wajahnya netral. “Nggak perlu, Mas.”
Nada itu bukan menolak. Tapi juga tidak membuka ruang obrolan. Iqdam mengangguk. Mundur. Duduk lagi. Dadanya terasa banyak ganjalan tapi sulit diutarakan.
Beberapa menit kemudian, Hana menutup laptop. “Aku jemput Hawa dulu,” katanya sambil berdiri.
“Oh,” Iqdam refleks ikut bangkit. “Aku ikut?”
Hana sudah mengambil tas. “Nggak apa-apa. Aku sendiri aja.”
Kalimat sederhana itu membuat Iqdam berdiri membeku di tempat. Hana melangkah menuju pintu. Iqdam mengejarnya cepat. “Han—”
Hana berhenti, menoleh.
“Aku… aku ikut ya,” katanya, sedikit tergesa. Bukan permintaan tegas. Lebih seperti ketakutan tertinggal.
Hana menatapnya sejenak. Lalu mengangguk. “Ya.”
Tidak ada senyum. Tidak ada komentar tambahan.
Motor dinyalakan. Iqdam naik lebih dulu, duduk di depan. Hana membonceng.
Angin sore menerpa. Jalanan cukup ramai. Hana duduk sedikit kaku, tangannya ragu hendak berpegangan di mana. Ia akhirnya memegang sisi jok.
Dulu, punggung itu sering ia peluk. Sekarang jaraknya hanya beberapa senti, tapi terasa jauh.
Di lampu merah, Iqdam menoleh sedikit. “Pegangan, Han. Biar aman.”
Tangan Hana menyentuh pinggang iqdam. Hati-hati. Lebih tepatnya malas.
Motor melaju lagi.
Gana menempelkan telapak tangannya lebih erat. Merasakan hangat tubuh suaminya. Tapi kehangatan itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Apakah ini masih miliknya? Atau hanya jarak yang kebetulan dekat?
Di depan gerbang sekolah, Hawa berlari kecil menghampiri mereka. Senyumnya cerah.
“Ayah ikut!” serunya senang.
Iqdam tersenyum. “Iya.”
Hana turun lebih dulu, merapikan helm Hawa. Tangannya cekatan. Mandiri. Tidak menoleh ke Iqdam untuk minta bantuan.
Sepanjang perjalanan pulang, Hawa bercerita riang. Hana menanggapi secukupnya. Iqdam diam. Mendengar. Mengamati.
Sampai rumah, Hana langsung ke dapur. Melepas tas, mencuci tangan, menyiapkan bahan makan malam.
Iqdam berdiri di ambang dapur. Memperhatikannya lama.
Biasanya, di jam-jam seperti ini, ia masih bisa melirik layar laptop Hana. Melihat file yang sedang ia kerjakan. Menebak kesibukannya. Merasa terlibat, meski hanya dengan menduga.
Hari ini, laptop Hana tertutup. Tidak ada layar yang bisa ia intip. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia komentari.
“Kamu masak apa?” tanyanya, mencoba terdengar biasa.
“Tumis pakcoy dan katsu ayam,” jawab Hana singkat.
“Oh.” Iqdam mengangguk. Lalu menambahkan, “Aku bantu?”
Hana menggeleng pelan. “Udah hampir selesai.”
Iqdam berdiri di sana beberapa detik lagi. Tidak tahu harus berbuat apa. Tidak juga disuruh pergi.
Ia akhirnya kembali ke ruang kerja. Laptopnya masih terbuka di halaman yang sama sejak pagi.
Ia kehilangan kendali. Ia tidak lagi tahu isi hari Hana. Ia tidak lagi dimintai pendapat. Ia tidak lagi merasa diperlukan.
Beginikah rasanya menjadi orang yang hanya diajak hidup bersama?
Iqdam menutup laptopnya keras. Marah pada dirinya sendiri, yang baru ingin menggenggam, saat genggaman itu tak lagi dicari.
***
Hana menerima pesan itu di sela waktu makan siang.
Satu tawaran kerja yang ditulis rapi, profesional, dan—jujur—menarik.
Proyek baru. Durasi jelas. Fee lebih besar. Tapi ada satu catatan kecil di bawahnya:
Perlu hadir langsung untuk koordinasi. Kemungkinan menginap 1–2 malam per pekan.
Hana membaca kalimat itu lebih dari sekali.
Bukan karena tidak paham. Tapi karena ia langsung tahu—ini bukan soal pekerjaan semata.
Ia menutup ponsel. Menghabiskan makan siangnya pelan. Tanpa perubahan ekspresi.
Siang itu, setelah Hawa tidur sebentar, Hana duduk di meja lipatnya. Buku catatan dibuka. Pulpen di tangan.
Hana memperhitungkan biaya. Dua kali sepekan. Satu malam menginap. Kadang dua.
Ia menulis nama hari. Menggeser jadwal jemput sekolah. Menandai jam les Hawa. Menghitung siapa yang bisa menjemput jika ia belum pulang. Mencatat biaya bensin. Biaya tol. Biaya menginap jika tidak disediakan. Biaya ekstra makan.
Semua dihitung. Terstruktur.
Di sudut kertas, ia menulis satu kalimat kecil: “Hawa harus tetap aman dan stabil.”
Itu prioritasnya. Ia menoleh ke arah ruang kerja. Iqdam masih di depan laptopnya. Kepala sedikit tertunduk. Tangannya menopang dagu. Fokusnya entah ke layar atau ke pikirannya sendiri.
Hana kembali ke catatan.
Apakah perlu membicarakan ini? Perlukah meminta pendapat? Atau cukup memberi tahu setelah keputusan diambil?
Tangannya berhenti menulis.
Ia sadar—ini keputusan besar. Tapi juga paham—selama ini, ia terbiasa mengambil keputusan kecil sendirian. Dan itu lama-lama membentuk kebiasaan.
Ia membuka ponsel lagi. Membalas pesan tawaran itu singkat. “Terima kasih. Saya perlu waktu untuk mempertimbangkan.”
Lalu ia menutupnya.
Sore itu, Hana menjemput Hawa seperti biasa. Menyiapkan makan malam. Membacakan cerita. Rutinitas berjalan tanpa celah.
Iqdam mengamati dari jauh.
Ia tadi sempat melihat Hana menulis sesuatu di buku kecilnya. Ia melihat angka-angka. Ia menebak mungkin itu bukan sekadar pekerjaan.
“Kamu lagi ngapain?” tanyanya akhirnya setelah Hawa tidur.
Hana menoleh. “Ngatur jadwal.”
“Jadwal apa?”
“Kerja.”
Iqdam diam sejenak. “Kerja yang baru?”
Hana mengangguk. “Ada tawaran.”
Ia menunggu pertanyaan lanjutan. Iqdam membuka mulut—lalu menutupnya lagi.
“Kerjanya… gimana?” tanyanya akhirnya, terdengar hati-hati.
“Lumayan,” jawab Hana singkat. “Tapi harus sesekali ke luar kota. Meeting. Kadang nginap.”
Kalimat itu cukup untuk membuat dada Iqdam menegang. “Seberapa sering?” tanyanya.
“Dua kali sepekan,” jawab Hana jujur.
Iqdam terdiam. Ia ingin berkata : kenapa nggak dibicarakan dulu? Ingin bertanya : kenapa kamu siap-siap sejauh itu? Ingin protes : kenapa terasa seperti kamu sedang menyiapkan hidup tanpa aku? Tapi tidak satu pun keluar.
Hana menunduk lagi, kembali ke catatannya. “Aku lagi hitung-hitung dulu,” katanya tenang. “Supaya Hawa nggak terganggu.”
Nama Hawa membuat Iqdam menelan ludah.
“Kalau kamu pergi,” katanya pelan, “Hawa gimana?”
Hana mengangkat wajah. Menatapnya lurus. “Aku sudah atur.”
Tidak ada nada menantang. Tidak juga meminta izin. Hanya pemberitahuan.
Dan di situlah Iqdam merasa dulu sering melakukan ini pada Hana, kini berbalik padanya.
Ia duduk di sana, mendengar keputusan yang sedang dibentuk, tanpa dilibatkan.
Iqdam sadar: ini bukan soal pekerjaan Hana. Ini tentang seorang istri yang sedang belajar berdiri penuh, setelah terlalu lama menunggu suaminya berdiri bersamanya.
Dan yang membuatnya gemetar bukan kemungkinan Hana pergi menginap— tapi kenyataan bahwa Hana mampu merencanakan semuanya tanpa membutuhkan kehadirannya sedikit pun.
"Mas."
"Ya?"
"Aku," ucap Hana menunduk. "Mau pulang..."