Gelora Cinta Kedua (Novel)
Kecemasan Iqdam
Why masih mengirim pesan. Hampir setiap hari. Tidak panjang. Tidak menuntut. Kadang hanya satu kalimat singkat, kadang potongan lagu, kadang sekadar, “Semoga harimu baik.”
Sampai suatu malam.
Hana duduk di ruang tamu, lampu temaram, Hawa sudah tertidur. Iqdam masih di depan laptopnya, tenggelam dengan pekerjaannya sendiri. Hana membuka ponsel, men-scroll tanpa tujuan, lalu berhenti di satu nama.
Why.
Ia membaca pesan terakhirnya pelan-pelan.
[“Aku nggak butuh balasan panjang. Aku cuma pengin kamu tahu, kamu nggak sendirian.”]
Hana menatap layar cukup lama. Tidak ada dorongan untuk bercerita.
Ia hanya mengirim dua emot senyum dan kobaran api. Lalu menambahkan satu kalimat singkat. “Semangat."
Beberapa detik kemudian, centang ungu muncul. [“Makasih… aku kira kamu udah nggak mau balas sama sekali.”]
Hana membaca. Ia lalu menaruh ponsel di pangkuan.
Pesan berikutnya masuk. [“Kamu jadi tutup akun, ya? Atau masih kepikiran?”]
Hana menghela napas pelan, lalu mengetik. “Masih dipikirkan. Pekerjaanku juga belum sepenuhnya selesai.”
Why membalas setelah jeda.
[“Kamu kelihatan baik-baik aja. Tapi aku ngerasa… kamu juga ngerasain hal yang sama kayak aku.”]
Hana menatap kalimat itu lama. Bukan karena tersentuh. Tapi karena kalimat itu tidak sepenuhnya salah.
Ia mengetik dengan hati-hati. “Aku sekedar bisa merasakan itu.” Tidak ada tambahan.
Why membalas dengan emoji senyum. [“Itu aja udah cukup. Makasih ya, Rachel.”]
Hana menutup chat. Lalu beranjak masuk ke kamar. Berpura tidur sampai kantuk itu datang tanpa disadarinya.
Hari-hari setelah itu, Hana semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Bekerja. Menemani Hawa. Mengurus rumah. Sedikit bicara. Sedikit ekspresi. Ia tidak menjauh secara fisik. Ia hanya berhenti menjelaskan dirinya.
Suatu sore, bel rumah berbunyi. Iqdam yang membukakan pintu.
“Mbak Mira,” katanya.
Mira datang membawa kotak kue. Cheesecake—kesukaan Hawa. Wajahnya ramah. Suaranya terdengar ramah.
“Hawa ada?” tanyanya.
Hana yang mendengar dari ruang tamu berdiri. Ia menghampiri sebentar, tersenyum kecil. “Ada. Sebentar saya panggilkan.” Lalu ia menoleh ke Iqdam. “Mas, aku masuk, ya.”
Tanpa menunggu jawaban, Hana mengambil laptopnya, memanggil Hawa pelan, dan masuk ke kamar anak itu. Pintu ditutup setelah Hawa keluar menemui uwak nya.
Di dalam kamar Hawa, Hana duduk di lantai, membuka kembali pekerjaannya. Ia bisa mendengar suara Mira dan Iqdam samar-samar dari luar, tapi tidak berusaha menangkap isinya.
Ia tidak ingin tahu. Ia juga tidak ingin menduga. Ketika Mira akhirnya pulang, Hana keluar dari kamar dengan wajah tenang. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada rasa penasaran lagi.
“Mbak Mira udah pulang?” tanyanya sekadarnya.
“Udah,” jawab Iqdam.
Hana mengangguk. “Oh.” Ia kembali ke dapur, menyiapkan minum, seperti tidak ada yang berubah. Sikapnya hangat. Tapi hanya sebatas itu.
Iqdam memperhatikannya diam-diam. Ada jarak yang tidak bisa ia sebutkan bentuknya. Bukan dingin. Bukan marah. Hanya… Hana betul-betul tidak lagi meminta apa pun darinya.
Dan entah kenapa, itu justru membuat dada Iqdam terasa lebih sesak dari sebelumnya.
***
Pesan Why datang lagi keesokan harinya.
[“Aku nggak tahu kenapa, tapi ngobrol sama kamu—even cuma dibalas singkat—rasanya bikin napas lebih lega.”]
Hana membacanya sambil duduk di samping Hawa yang sedang mewarnai. Ia tidak langsung membalas.
Beberapa menit kemudian, ia mengetik. “Kalau begitu, ambil leganya. Jangan ambil aku.” Hana menambhakan emot senyum.
Why membalas dengan cepat. [“Tenang. Aku tahu batas.”]
Hana menatap kalimat itu lama. Ia membalas satu kalimat pendek. “GudPak.”
Hana menutup chat. Fokusnya kembali ke Hawa. Ke dunia yang masih bisa ia sentuh tanpa risiko.
Malam akhirnya turun perlahan.
Hana tertidur di kamar Hawa. Tubuhnya miring, satu tangan memeluk putrinya, seolah takut ada yang datang mengambilnya diam-diam. Buku bacaan anak masih terbuka di dadanya, halaman terakhir setengah terlipat.
Lampu tidur menyala redup. Laptop Hana sudah mati. Ponselnya juga—tergeletak rapi di dekat stop kontak, sedang diisi daya.
Di meja lipat kecil miliknya : to-do list esok hari tertulis rapi, pena sejajar, buku catatan tertutup, botol minum setengah terisi, toples snack tertutup rapat.
Semuanya tertata.
Iqdam berdiri di ambang pintu kamar Hawa. Tidak masuk. Tidak membangunkan.
Ia hanya melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar— Hana menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Bukan untuk pamer mandiri. Tapi seolah ia sedang berkata pada dirinya sendiri : aku bisa bertahan tanpa bergantung.
Dada Iqdam mengencang.
Di kepalanya, seberkas ide muncul. Naluri lama. Ia ingin meminta jatahnya. Ingin menarik Hana kembali ke peran yang dulu membuatnya yakin : istriku masih milikku.
Ia ingin memastikan. Masih maukah Hana menyentuhnya? Masih maukah Hana berada di sisinya—bukan hanya tinggal serumah?
Tapi langkahnya terhenti.
Ada rasa cemas yang jauh lebih besar dari penolakan. Bagaimana jika Hana mengiyakan? Bukan karena rindu. Bukan karena ingin. Tapi karena kewajiban.
Iqdam menelan ludah. Ketakutan. Ia mematikan lampu ruang tengah. Masuk ke kamar mereka sendiri. Berbaring tanpa suara.
Iqdam sadar— keintiman bukan lagi tentang tubuh. Tapi tentang apakah seseorang masih memilih tinggal bersama. Dan malam itu, Iqdam tidak tahu apakah Hana masih memilihnya, atau sedang bersiap pergi.
***
Pagi datang seperti biasa. Tidak ada yang istimewa dari cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela dapur. Tidak juga dari aroma nasi hangat yang mengepul pelan.
Hana menata piring di meja. Cepat. Tanpa suara berlebih.
Hawa sudah duduk, kaki kecilnya bergoyang-goyang di kursi. Ia menatap Iqdam dengan mata yang masih bening oleh tidur cukup.
“Ayah,” katanya tiba-tiba, ceria, “semalam ayah bobok sendiri ya?”
Sendok Iqdam berhenti di udara. “Iya,” jawabnya singkat.
Hawa tertawa kecil, seperti menemukan hal lucu. “Bunda sama aku sampai pagi soalnya. Ayah nggak kedinginan kan?”
Iqdam tersenyum tipis. “Nggak dooong. Ayah pakai selimut.”
“Pakai selimut dooooong,” ulang Hawa, meniru nada dewasa, lalu terkikik.
Ia lalu mendekat ke Iqdam, menempelkan bahu kecilnya. “Tapi pelukan bunda hangat,” katanya polos. “Nanti malam Hawa mau bobok sama bunda aja.”
Iqdam mengangkat kepala cepat. “Nggak boleh,” katanya refleks. “Bunda punya ayah.”
Hawa mengerling, lalu menoleh ke Hana. “Iya gitu, Bunda?”
Hana berhenti sejenak. Sendok sayur masih di tangannya. Ia tersenyum—senyum yang tenang, sopan, tanpa penjelasan. Tidak menjawab.
Hawa bersorak kecil, salah menangkap. “Tuh kan!” katanya riang. “Bunda diem. Bunda nggak suka sama ayah lagi.” Ia tertawa lepas. “Yeeaay… bobok sama bunda!”
Hana meletakkan sendok. Bangkit. Mengangkat piring-piring kotor ke wastafel.
Air mengalir. Punggungnya membelakangi meja makan.
Iqdam duduk diam. Bahunya turun. Sendok di tangannya langsung terasa beku. Celetukan Hawa terdengar seperti pengumuman di telinganya.
Bahwa Hana sudah memutuskan. Dia mulai menarik diri. Hening, perlahan menjauh lalu pergi dengan cara halus. Membiasakan Hawa melihat ayah ibunya jarang berinteraksi pelan-pelan.
Iqdam memandangi punggung Hana. Lupa, kapan terakhir kali dia mengusap lembut sambil mengucapkan terima kasih.