Gelora Cinta Kedua (Novel)

Mirroring

Hana sudah duduk di ruang tamu sejak matahari belum tinggi, laptop terbuka, headset terpasang setengah—satu telinga dibiarkan terbuka, agar tetap bisa mendengar Hawa bicara. Meja kecil di depannya rapi: catatan coaching, botol minum, dan pulpen yang ujungnya sudah tumpul.

Ia tidak mengurung diri di kamar. Tidak juga menjauh secara fisik. Ia hanya… sibuk dengan dunianya sendiri.

Iqdam bekerja dari rumah hari itu. Ia memilih meja makan sebagai ruang kerjanya. Dari posisinya, ia bisa melihat Hana jelas, punggungnya tegak, bahunya rileks, jemarinya lincah menari di keyboard.

Hawa bermain di lantai, menyusun balok warna-warni. Dia tidak sekolah hari ini, agak demam.

“Bunda, lihat ini,” katanya.

Hana menoleh cepat. “Wah, tinggi banget. Jangan sampai jatuh ya.”

Hawa tersenyum puas. Hana kembali ke layar.

Tidak ada pelukan. Tidak ada cerita lanjutan.

Iqdam memperhatikan semuanya sambil pura-pura fokus ke layar kerjanya sendiri.

Tak lama, suara notifikasi Zoom berbunyi.

“Pagi semuanya,” suara Hana terdengar profesional, hangat—berbeda dengan suaranya ketika di rumah, belakangan ini.

Iqdam berhenti mengetik.

Di layar Hana, wajah-wajah muncul satu per satu. Junior-juniornya. Mereka menyapanya dengan antusias.

“Pagi, Kak Hana!” “Kak, makasih banget ya kemarin feedback-nya.” “Aku baru sadar salahku di situ gara-gara notice dari Kak Hana.”

Hana tersenyum lebar. Senyum yang jarang muncul untuknya akhir-akhir ini. “Nggak apa-apa,” jawab Hana ringan. “Kita belajar bareng. Yang penting kamu refleksi, bukan cuma revisi.”

Tawa kecil pecah dari speaker.

Iqdam mengangkat wajah. Ia tidak ingat kapan terakhir kali Hana tertawa seperti itu di depannya.

“Serius Kak,” suara seorang perempuan muda terdengar, “aku nyaman banget coaching sama Kak Hana. Nggak bikin takut, tapi juga nggak bikin malas-malasan.”

Hana tertawa lebih lepas. “Nah itu targetku. Kamu berkembang, bukan tergantung.”

Iqdam menelan ludah.

Nyaman. Tidak bikin takut. Tidak bikin manja.

Kalimat-kalimat itu menempel di kepalanya.

Hana mencondongkan tubuh ke depan, menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat. Tangannya bergerak. Matanya hidup.

Ia terlihat… utuh.

Dan entah kenapa, pemandangan itu justru membuat Iqdam merasa kecil.

Di sela rapat, Hawa menghampiri Hana, menyodorkan kertas gambar. Hana menurunkan headset sedikit. “Gambar apa ini?”

“Keluarga,” jawab Hawa.

“Wah,” Hana tersenyum. “Cantik.”

Tidak ada tambahan. Tidak ada pelukan. Hanya usapan singkat di kepala Hawa.

Iqdam berharap—entah kenapa—Hana akan memanggilnya. “Mas, lihat deh.” Atau sekadar menoleh, berbagi momen kecil itu.

Tapi tidak.

Hana kembali ke rapatnya. Seolah dunia sudah cukup penuh tanpa kehadirannya.

Rapat berakhir satu jam kemudian. Tawa-tawa penutup terdengar.

“Thank you ya, Kak.” “Semoga aku bisa sehebat Kak Hana suatu hari.”

Hana tersenyum. “Kalian pasti bisa. Jangan lupa istirahat.”

Laptop ditutup. Sunyi kembali memenuhi ruang tamu.

Iqdam menunggu sesuatu. Senyum. Sapaan. Atau sekadar, “Mas, lapar?”

Tidak ada.

Hana membuka catatan lain. Menghela napas pelan. Fokus lagi.

Iqdam berdiri, pura-pura mengambil air minum. “Kamu kelihatan sibuk,” katanya akhirnya.

Hana menoleh singkat. “Iya. Deadline.”

“Oh.”

Ia menunggu Hana bertanya balik. Tidak juga.

“Kamu kalau kerja di sini?” tanya Iqdam lagi, mencoba terdengar biasa.

“Iya,” jawab Hana. “Lebih enak ngawasin Hawa.”

Iqdam mengangguk. Itu bukan jawaban yang ia harapkan. Ia kembali ke kursinya. Tangannya berhenti di atas keyboard.

Baru sekarang ia menyadari rasanya diabaikan dengan sopan. Tidak dimarahi. Tidak dicecar pertanyaan. Tidak disalahkan.

Hanya… tidak dibutuhkan.

Siang menjelang. Hana menyiapkan makan siang seperti biasa. Gerakannya efisien. Tidak banyak bicara.

“Ayamnya di microwave,” katanya datar. “Sayurnya di panci.”

Iqdam menatapnya. “Kamu nggak makan?”

“Nanti.”

Ia membawa piring Hawa dulu. Duduk menemani anaknya makan.

“Bunda,” kata Hawa sambil mengunyah, “nanti sore main ya?”

Hana tersenyum kecil. “Iya. Habis bunda selesai ya.” Hawa mengangguk, puas.

Iqdam melihat itu dengan perasaan aneh. Hana tetap ibu yang baik. Tetap istri yang bertanggung jawab. Hanya tidak lagi… berputar di sekelilingnya.

Sore hari, Hana kembali bekerja. Kali ini sambil mendengarkan audio dengan volume rendah.

Iqdam akhirnya menyerah pada kegelisahannya sendiri. “Hana,” panggilnya pelan.

Hana menoleh. “Hmm?”

“Kamu… keliatan asik sendiri. Menghindari aku.” Kalimat itu keluar begitu saja.

Hana menatapnya lama. “Aku nggak menghindari Mas,” katanya akhirnya. “Aku cuma lagi sibuk dengan hidupku sendiri.”

Iqdam terdiam.

“Dulu aku sibuk sama kita,” lanjut Hana tenang. “Sekarang aku belajar sibuk tanpa berharap dibalas.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menuduh. Justru terlalu tenang. Itu yang membuatnya terasa seperti vonis.

Iqdam ingin berkata: aku di sini. Ingin memeluk. Ingin memperbaiki. Tapi ia sadar— ia terlambat membaca tanda.

Hana kembali ke pekerjaannya. Iqdam duduk sendirian, dikelilingi suara yang bukan lagi miliknya.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang selama ini dirasakan Hana: hadir, tapi tidak diperhitungkan.

Dan di ruang tamu yang sama, dengan jarak hanya beberapa langkah, dua orang dewasa baru sadar bahwa cinta bisa memudar bukan karena orang ketiga, melainkan karena seseorang akhirnya memilih dirinya sendiri.

***

Sore itu langit menggelap lebih cepat dari biasanya. Awan bergulung pelan, membuat ruang tamu terasa lebih redup.

Hana menoleh ke lampu di sudut ruangan. Cahayanya berkedip sebentar, lalu kembali redup—seperti napas yang terengah-engah.

Ia berdiri. Mengambil tas kecil. Memeriksa dompet dan ponsel. “Aku keluar sebentar,” katanya sambil mengenakan sandal.

Iqdam menoleh dari laptopnya. “Mau ke mana?”

“Beli lampu. Yang ini udah mulai redup.”

“Oh.” Ia berdiri setengah. “Mau dianter?”

Hana menggeleng. “Nggak usah. Deket.”

Tidak ada lanjutan. Tidak ada, sekalian beli apa? Tidak ada, aku pergi dulu ya.

Pintu tertutup pelan.

Di jalan, Hana berjalan cepat. Angin sore mulai dingin. Ia memilih toko terdekat, tidak menimbang terlalu lama. Rak lampu penuh pilihan. Ia membaca spesifikasi singkat. Terang. Hemat. Cukup. Tangannya mengambil satu kotak. Bayar. Selesai.

Tidak ada diskusi. Tidak ada pertimbangan bersama. Tidak ada pendapat lain di kepalanya.

Hujan mulai turun saat ia hampir sampai rumah. Gerimis kecil. Cukup untuk membuatnya mempercepat langkah.

Di rumah, Hana membuka kotak lampu, memasangnya sendiri. Cahaya putih langsung menyebar lebih terang dari sebelumnya.

Iqdam memperhatikan dari ambang pintu.

“Kok nggak beli merk yang biasa?” tanyanya.

Hana masih berdiri di atas kursi kecil, memastikan lampu terpasang sempurna. “Yang ini lebih bagus. Lebih terang.”

Iqdam mendekat. “Mana ada. Itu merk lama, udah jaminan.”

Hana turun. Mengelap tangannya. Menoleh padanya.

“Kamu nggak nanya pendapat aku dulu?” lanjut Iqdam, nadanya refleks—bukan marah, lebih ke heran.

Hana menatap lampu itu sebentar, lalu menatap Iqdam. “Oh,” katanya ringan, “aku buru-buru. Takut hujan di jalan. Nggak sempat.”

Iqdam mengerutkan dahi. “Tapi kan—”

“Lagian lampu ini bukan hal besar,” potong Hana, tetap tenang. “Sama terangnya juga.”

Kalimat itu biasa saja. Tidak dibuat-buat Tapi terasa akrab di telinganya. Iqdam terdiam.

Hana berjalan ke dapur, menaruh tas. Gerakannya seperti orang yang tidak ingin berlama-lama di sana.

Di dalam dirinya, Iqdam bergumam pelan—bukan marah, lebih seperti catatan kecil untuk diri sendiri. Begini rasanya. Diputuskan tanpa diajak bicara. Dianggap remeh karena bukan hal besar. Diberi alasan efisiensi dan keterbatasan waktu.

Aku tidak sedang membalas. Aku hanya sedang hidup dengan cara yang sama seperti yang selama ini kuterima.

Iqdam masih berdiri di ruang tamu, menatap lampu baru itu. Cahayanya memang lebih terang. Tidak ada yang salah.

Tapi dadanya terasa aneh.

Jadi beginikah rasanya… Saat pendapatmu tidak dianggap perlu? Saat keputusan dibuat tanpa kehadiranmu?

Iqdam duduk perlahan. Mengusap wajah.

Selama ini ia sering berkata: Nggak besar. Nanti aja dibahas. Yang penting beres.

Dan sekarang, kata-kata itu kembali padanya dengan wajah berbeda.

Hana lewat di depannya, membawa segelas air. Tidak menyinggung percakapan tadi. Tidak juga meminta maaf.

“Lampunya terang ya,” katanya datar.

“Iya,” jawab Iqdam pelan.

Hana tersenyum kecil. Bukan senyum kemenangan. Lebih seperti senyum orang yang akhirnya mengerti sesuatu.

Di ruang yang kini lebih terang, Iqdam justru merasa baru benar-benar melihat. Bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan perpisahan, kadang ia datang dalam bentuk keputusan kecil yang tidak lagi melibatkanmu.

Dan malam itu, Iqdam bertanya dalam diam : Apakah selama ini aku melakukan hal yang sama pada Hana—dan baru sekarang aku merasa sakitnya?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!