Gelora Cinta Kedua (Novel)
Alone
Keesokan paginya, aku membuka laci meja kerja Iqdam dengan perasaan yang tak karuan. Aku sebenarnya tidak berniat mengacak-acak barang pribadinya. Bahkan jemariku sempat ragu menyentuh gagang laci itu, seperti takut aku sedang melanggar batas yang tak tertulis.
Tapi rasa penasaran—dan kecurigaan yang terus menumpuk selama berbulan-bulan—akhirnya menang.
Di sana, terlipat rapi selembar slip transfer.
Aku terpaku lama. Angkanya seperti menatap balik, dingin dan tak berperasaan. Terlalu besar untuk sekadar “bantuan sesekali”. Jumlah yang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami selama sebulan penuh. Tanganku bergetar saat membacanya, dan dadaku mencelos ketika bayangan wajah Hawa muncul begitu saja, lengkap dengan suaranya yang polos.
[“Bun, kapan kita liburan?”]
“Rika lagi…” gumamku lirih. Suaraku hampir tak keluar. “Hawa aja belum dapet liburan yang dijanjiin.”
Aku menutup laci itu perlahan, seolah jika aku menutupnya cukup pelan, semua kegelisahan ini bisa ikut terkunci di dalamnya.
***
Hari berjalan panjang. Terlalu panjang. Setiap jam terasa seperti menunggu vonis. Aku menanti Iqdam pulang malam itu dengan dada sesak, dengan kepala penuh skenario—apa aku harus marah, harus diam, atau pura-pura tak tahu apa-apa.
Hampir tertidur di sofa ruang tamu ketika akhirnya suara pintu depan terbuka.
Tatapan kami bertemu.
Ada jeda di sana. Sepersekian detik yang terasa lama. Seperti kami sama-sama tahu, malam ini tak akan berakhir biasa.
Aku berdiri dan menyodorkan slip transfer itu ke arahnya. Tanganku dingin, kakiku sedikit gemetar, tapi aku memaksa diriku bicara setenang mungkin. Aku tidak ingin Hawa mendengar kami bertengkar lagi.
“Ini buat Rika, ya?” tanyaku lembut, nyaris memohon. “Katanya kita lagi nabung buat bawa Hawa ke Bandung.”
Kalimat itu bukan tuduhan. Lebih mirip harapan terakhir.
Iqdam melepas tasnya dengan gerakan malas, seolah pembicaraan ini hanya gangguan kecil setelah hari yang melelahkan. Tubuhnya dijatuhkan ke sofa, matanya terpejam sesaat.
“Rika butuh bantuan, Han,” katanya datar. Terlalu datar. “Buat bayar sekolah keponakan kita.”
Aku menarik napas dalam. Menahan. Selalu menahan.
“Dan anakmu sendiri?” tanyaku pelan. Aku bisa merasakan suaraku bergetar, meski aku berusaha menguncinya. “Bukannya Mas pernah janji ke Hawa?”
Nama anak kami menggantung di udara, tak direspons dengan hangat seperti yang kuharapkan.
Iqdam bangkit. Gerakannya kasar. Dia memijat pelipisnya seperti orang yang sedang dipaksa menghadapi masalah yang tak penting.
“Kamu selalu begini,” katanya sambil berjalan ke meja makan.
Lalu—
clang!
Kunci mobil dibanting.
Suara itu memantul di rumah yang sunyi. Seperti peringatan.
Aku mengikutinya. Jarak kami hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti berdiri di dua dunia berbeda.
“Kamu tuh bebal,” katanya keras sambil menunjuk wajahku. Jarinyanya hampir menyentuh keningku. “Tanpa bantuan mereka, kita nggak bakal hidup layak begini. Kamu egois. Cuma mikirin diri sendiri.”
Setiap kata-kata suamiku terasa menampar. Aku menelan ludah.
Sudah lama aku ingin bertanya : sejak kapan memperjuangkan anak sendiri disebut egois?
Tapi suaraku hilang.
Apa iya aku egois?
Pikiranku berputar mencari pembenaran, tapi semuanya runtuh sebelum sempat disusun. Tenagaku seperti habis. Aku tak membalas satu kata pun. Kakiku bergerak sendiri menuju dapur, tempat paling aman untuk menyembunyikan air mata.
Di belakangku, Iqdam masuk ke kamar. Pintu ditutup agak keras. Cukup untuk menegaskan bahwa percakapan ini selesai—menurut versinya.
Aku duduk di sudut dapur. Lantai terasa dingin menembus kulit. Ponselku ikut bergetar dalam genggaman, pelampiasan kegelisahan.
Rasanya aku harus bicara pada seseorang. Sebuah nama terlintas di benakku—ipar yang selama ini kupikir paling bisa diajak bicara. Paling rasional. Paling mengerti.
Aku meneleponnya.
Begitu suaranya terdengar, bendungan air mataku jebol.
“Aku ngerasa ini nggak adil,” kataku lelah, hampir tak bersuara. “Hawa cuma minta waktu sama ayahnya. Tapi semua perhatian Mas Iqdam ke Rika. Aku salah ya kalau ngerasa kecewa?”
Ada hening sesaat di seberang. Aku berharap di jeda itu ada empati.
Tapi yang datang justru nada dingin.
“Han, kamu nggak ngerti situasi. Rika lagi butuh banget sekarang. Kamu harusnya empati, bukan malah nyalahin.”
Kata ~harusnya itu menusukku.
Kalimat berikutnya datang bertubi-tubi, tak memberiku ruang bernapas.
“Kamu lupa dulu Iqdam kelimpungan cari utangan demi kamu? Jangan gede-gedein masalah sepele. Hawa masih kecil, masih gampang dibujuk. Itu tugasmu sebagai ibu.”
Aku memejamkan mata.
Masalah sepele.
Anakku disebut sepele.
Dadaku terasa kosong, seperti ada ruang besar yang tiba-tiba dilubangi paksa.
“Aku cuma mau Hawa dapet haknya,” ucapku akhirnya. Suaraku bergetar, nyaris pecah. “Itu aja.”
Jawaban iparku sangat spontan. Terlalu cepat untuk disebut dipikirkan.
“Sabar aja. Ajak Hawa beli es krim. Jangan lebay.”
Aku menggigit bibir. Air mata pun jatuh satu-satu.
“Aku juga kerja,” kataku lirih tapi kali ini kutahan agar tidak terdengar lemah. “Aku nggak sepenuhnya bergantung sama Mas Iqdam.”
Aku ingin dia ingat—
Dulu aku ikut membantu. Tabunganku habis untuk kebutuhan sehari-hari. Aku ikut berjuang. Aku juga berkorban.
Di masa sulit itu, justru banyak tawaran kerja datang. Reviewer. Pekerjaan dari rumah. Fee yang kupakai untuk menutup utang kecil tanpa banyak bicara.
“Kamu beruntung punya suami yang peduli keluarga,” ujar iparku, nadanya menggurui. “Jangan terlalu mendominasi.”
Kata-kata itu lagi.
“Jadi semua salahku?” tanyaku sinis. Ada senyum pahit yang bahkan tak bisa dia lihat.
“Benar kata Iqdam. Kamu keras kepala mentang-mentang bisa cari uang sendiri.”
Klik.
Panggilan diputus.
Aku menatap layar ponsel lama sekali, seolah berharap suaranya kembali dan berkata bahwa aku tidak sendirian.
Tapi dapur tetap sunyi.
Aku mendekap ponsel erat-erat. Dapur terasa dingin. Sepi.
Kupandangi wallpaper keluarga kecil kami.
“Maafin Bunda, Nak,” bisikku. Air mataku jatuh memburamkan layar.
Seperti biasa, aku mengusap dada pelan sampai napasku stabil. Luka ini—lagi-lagi—kupendam sendiri.
Malamnya, di kamar.
Aku membuka aplikasi kencan itu. Aku tahu ini pelarian. Tapi di sanalah aku bisa bicara tanpa dihakimi.
Pesan-pesan menunggu.
Riz paling aktif. Yang menyapaku dengan sebutan beragam kemarin, Al, Thea, dst.
[“Kalau kamu jadi superhero, kekuatanmu apa?”]
Aku tersenyum kecil.
“Bisa ngilang. Supaya nggak ada yang nyari aku pas aku capek.”
[“Jangan dong. Dunia butuh kamu. Kalau capek, chat aku aja. Banyak cara pria gemaz ini bikin kamu hepi.”]
Aku tertawa pelan. “Pede banget. Emang gimana caranya?”
[“Rahasia. Kalau mau tahu, ketemu aku aja.”]
Dadaku terasa ringan sesaat. Riz basa-basi, tapi candaannya hangat.
Aku lalu membuka pesan user lainnya, WHY.
[“Gimana harimu?”]
“Biasa. Capek. Ribet.”
[“Capek fisik atau capek hati?”]
Aku menatap layar lama. Lalu mengetik balasan. “Dua-duanya.”
[“Nggak apa-apa berhenti sebentar, Rachel. Kalau mau cerita, aku di sini.”]
Aku membaca kalimat itu berulang kali. Respon sederhana, tapi nyata.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
“Bunda…”
Hawa masuk dengan bonekanya. “Kapan kita ke Bandung? Ayah ‘kan janji.”
Entah kenapa, lelahku berubah jadi kesal. Aku tak menoleh.
“Nanti. Bunda lagi sibuk.”
Hawa memeluk pinggangku erat. “Bunda janji bujuk Ayah. Aku nggak punya teman. Bunda sama Ayah kerja terus.”
Aku berhenti mengetik. Tapi alih-alih memeluknya lama, aku hanya menepuk punggungnya sebentar.
“Maaf, Bunda sibuk. Tunggu Ayah pulang. Jangan ganggu, sana dulu.”
Hawa pergi dengan langkah lesu.
Dadaku berdenyut.
Aku kembali ke ponsel.
“Ketemu kamu?” tulisku ke Riz. “Emangnya mau nyamperin?”
Riz membalas cepat. [“Sekarang juga bisa. Aku meluncur.”]
Jantungku berdegup kencang.
“Kamu tahu aku di mana?”
[“Yes. Kamu dalam jangkauanku, Al.”]
Aku melempar ponsel ke meja dan berdiri cepat, menutup gorden rapat-rapat.
Napasku mendadak tersengal.
“Siapa kamu sebenarnya, Riz?”
.
.