Gelora Cinta Kedua (Novel)

Riz gencar

Ide besar apa?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sejak membaca pesan Nadira.

Aku mematikan layar ponsel dan menatap langit-langit kamar. Untuk mimpi yang sedang kujalani sekarang saja, aku harus bernegosiasi panjang dengan Iqdam—menjelaskan, meyakinkan, menenangkan. Itu pun masih sering disisipi ragu dan tatapan waspada.

Kalau aku mulai membuka mimpi yang lain… aku bahkan tak berani membayangkan reaksinya.

“Aku ini siapa sih,” gumamku pelan. “Istri yang minta izin, atau perempuan dewasa yang punya tujuan?”

Aku membalikkan badan, membiarkan ponsel tergeletak tanpa balasan. Satu-satu dulu, lah. Aku memilih tidur, menutup hari dengan kelelahan yang tak sepenuhnya fisik.

Aku baru tahu belakangan—karena tak ada respons dariku, Nadira menyampaikan rencana itu langsung pada Riz.

Keesokan paginya, notifikasi panjang muncul di layar.

Aku membaca pesan itu perlahan. Sekali. Dua kali.

[“Al, aku sangat tertarik dengan visi kamu soal fasilitas untuk anak-anak itu. Aku yakin kita bisa membuat perbedaan besar bersama. Gimana kalau kita bahas ini lebih serius? Aku ada waktu akhir pekan ini. Kita bisa ketemu di tempat yang nyaman buat kamu.”]

Kalimatnya rapi. Niatnya terdengar baik. Bahkan… terlalu baik.

Aku meletakkan ponsel, lalu mengambilnya lagi. Ada bagian dari diriku yang tersentuh—akhirnya ada orang yang benar-benar melihat idemu, Han. Tapi ada bagian lain yang langsung siaga. Hati-hati.

Aku tak ingin memberi kesan yang salah. Hubunganku dengan Riz seharusnya berhenti di ruang diskusi, bukan melangkah ke ruang personal. Apalagi rumah tanggaku sedang seperti bangunan yang baru ditambal—kuat dari luar, rapuh di dalam.

Setelah berpikir lama, aku membalas.

“Hai, Riz. Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku rasa, untuk saat ini, kita cukup diskusi lewat pesan saja. Mohon pengertiannya.”

Aku menghela napas panjang setelah mengirimnya. Keputusan itu terasa seperti menarik rem tepat sebelum melaju terlalu jauh.

Namun Riz tak berhenti.

[“Oke, aku ngerti. Tapi kalau kebetulan aku ada di sekitar rumah kamu, mungkin kita bisa sekadar ngobrol singkat? Kadang diskusi langsung lebih efektif daripada pesan, kan?”]

Dadaku terasa tak nyaman. Bukan karena ajakannya, tapi karena kegigihannya.

Aku memilih tidak membalas. Kupaksa diriku fokus pada laporan, pada Hawa, pada rutinitas yang seharusnya menenangkan.

Meski begitu, ada rasa terusik yang tak mau pergi.

Dan rupanya, kegelisahan itu menular.

Iqdam mulai memperhatikanku—terlalu sering melihat ke arah ponsel, terlalu lama diam. Suatu malam, ia bertanya dengan nada yang sengaja dibuat tenang.

“Akhir-akhir ini kamu kelihatan sibuk banget, Sayang. Ada yang kamu kerjakan di luar komunitas?”

Aku menoleh, menakar nada suaranya. “Reviewer masih jalan. Mentoring juga,” jawabku jujur. “Aku kan udah cerita semua ke Mas.”

“Iya,” katanya pelan, “aku memang lagi belajar nerima semua keinginanmu. Aku cuma nggak mau kamu… terjebak.”

Aku mengangguk. Tapi di dalam hati aku tahu—kepercayaannya masih setipis tisu yang dibelah sepuluh. Salah gerak sedikit saja, bisa sobek lagi.

Beberapa hari kemudian, pesan lain masuk.

[“Al, aku sudah di kota kamu. Kalau kamu berubah pikiran, kabari ya. Aku yakin diskusi langsung bakal lebih maksimal.”]

Aku tercekat.

Lalu pesan berikutnya menyusul.

[“Kita pindah ke WhatsApp aja. Aku sudah tahu nomermu dari Nadira, mari kita sama-sama simpan.”]

Deretan angka itu menatapku dari layar.

Aku mematung cukup lama, menyadari satu hal yang membuat tengkukku dingin:

keputusan-keputusan kecil yang tampak profesional, perlahan bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit—bukan hanya untukku, tapi untuk rumah yang sedang kupertahankan.

Aku membaca pesan itu dengan napas tercekat. Jempolku menggantung di atas layar, tak tahu harus menulis apa. Ada garis tipis yang kurasakan mulai terlewati—bukan karena kata-katanya saja, tapi karena caranya terus mendesak, seolah aku punya kewajiban untuk menanggapi.

Alih-alih membalas, aku mematikan notifikasi aplikasi itu. Kembali menatap layar laptop, mencoba memaksa pikiranku fokus pada laporan. Tapi kalimat-kalimat Riz masih menggema di kepalaku, seperti gema yang tak mau padam meski pintunya sudah kututup.

Aku memilih diam. Dan berharap itu cukup.

Nyatanya, tidak.

Pesan lain masuk—ajakan bertemu di tempat netral. Lalu satu lagi. Nada sopan, tapi berulang. Aku tetap tidak menanggapi.

Sore itu, kegelisahan menjalar tanpa sebab yang jelas. Aku bolak-balik mengecek jam, lalu ponsel, lalu jam lagi. Bukan karena menunggu pesan, tapi karena ingin memastikan… tidak ada lagi.

Namun rupanya, diamku tidak menghentikan apa pun.

Iqdam mulai menyadari ada yang berbeda dariku. Tatapannya lebih sering tertahan di wajahku, terutama setiap kali aku memeriksa ponsel dengan ekspresi yang tak bisa kusembunyikan.

“Mau cerita apa nggak?” tanyanya suatu malam, nadanya datar, tapi sorot matanya tajam.

Aku mendongak. “Cerita apa, Mas?” jawabku, berpura-pura tak paham.

“Orang yang sering kamu chat itu.” Ia berdiri di ambang pintu kamar, tubuhnya mematung. “Jangan bilang cuma soal komunitas.”

Dadaku mengencang. Aku menelan ludah, mencoba menjaga suaraku tetap stabil.

“Aku nggak ngerti kenapa Mas selalu curiga,” kataku akhirnya. “Aku cuma mau fokus sama pekerjaanku. Kayak Mas juga sibuk dengan urusan Mas. Apa itu salah?”

Nada suaraku meninggi tanpa kusadari. Bukan marah—lebih ke lelah karena harus terus membuktikan sesuatu yang sebenarnya tak kulanggar.

Iqdam terdiam. Dan di keheningan itu, aku justru merasakan ketakutannya.

Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

“Aku nggak keberatan kamu punya mimpi,” katanya pelan, berbeda dari tuduhan-tuduhan sebelumnya. “Tapi kalau itu sampai bikin aku ngerasa bukan bagian dari hidupmu… aku keberatan.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras dari tuduhan mana pun.

Aku tersentak. Ada luka di sana. Bukan kemarahan—melainkan takut kehilangan.

Belum sempat aku merespons, Hawa muncul dan langsung memeluk kaki ayahnya.

“Ayah, aku mau ikut ke kantor,” rengeknya manja.

Kami berdua tersadar. Tak baik terus berdebat di depannya. Akhir-akhir ini, Hawa memang lebih pendiam, lebih peka.

“Ayo,” sahut Iqdam sambil memaksakan senyum.

Hawa menoleh ke arahku. “Dadah, Bunda. Jangan sibuk-sibuk, ya,” pesannya, sok dewasa.

Aku tersenyum, tapi dadaku terasa sesak.

Malam itu, aku termenung sendirian di kamar. Pesan-pesan Riz kembali muncul di pikiranku—yang terakhir, yang lebih personal dari sebelumnya.

[“Al, aku harap kita bisa bertemu di lain waktu. Aku tertarik mengembangkan idemu. Mungkin kita bisa kerja sama?”

“Aku yakin kamu orang yang tepat untuk proyek ini. Dan mungkin… lebih.”]

Aku memejamkan mata.

Kalimat itu membuatku tak nyaman. Terlalu dekat. Terlalu ambigu.

“Kita bisa diskusi lebih maksimal,” katanya. Maksudnya apa? Apakah ia menganggap aku setengah-setengah selama ini?

Namun ada sisi lain yang berusaha menarikku—tawaran lokasi strategis, fasilitas yang sudah siap, peluang nyata untuk mewujudkan sesuatu yang selama ini hanya hidup di kepalaku.

Aku menggenggam ponsel lebih erat. Terlalu bagus untuk dilewatkan. Tapi aku juga tahu—tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Terlebih jika rasa nyaman mulai diselipkan perlahan.

Bukankah perasaan sering tumbuh dari kebersamaan yang diulang-ulang?

Di ruang tamu, Iqdam masih terjaga. Aku bisa membayangkan dia menatap foto-foto lama—kami bertiga, tertawa tanpa beban, bermimpi tanpa curiga.

Kalau dulu dia bisa percaya padaku, pikirku perih, kenapa sekarang rasanya begitu sulit?

Aku tak tahu apa yang akan kupilih nanti. Yang kutahu, setiap langkah ke depan akan menuntut harga—dan aku takut, yang harus membayar bukan hanya aku, tapi juga rumah yang sedang kami coba perbaiki bersama.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!