Early Marriage
Kenangan Masa Lalu 29
Alunan merdu tilawah Bang Alfin samar-samar terdengar di telinga gue. Memaksa keluar dari alam mimpi dan membuka mata ini. Beberapa detik menyesuaikan dengan cahaya, akhinya mata bisa terbuka sempurna.
Kaki ini mulai menjejak lantai, namun seketika dingin menjalar ke seluruh tubuh hingga ke tulang belulang. Ingin kembali bergelung di bawah selimut, tapi hati kecil ingin bergabung dengan imam tampan gue.
Akhirnya gue mampu melawan dinginnya lantai dan berjalan dengan berjingkat. Setelah berwudlu, gue mendirikan qiyamullail di belakang Bang Alfin yang memelankan suaranya. Menghadap Allah di waktu seperti malam seperti ini, benar-benar menyejukkan jiwa. Hati merasa tenteram dan damai.
Baju kesombongan yang membalut diri, gue lucuti di hadapan-Nya. Merendahkan diri dan bersujud pada Dzat yang layak disembah. Dalam doa terbayang dosa-dosa masa lalu yang begitu banyak hingga tak mampu diri ini memikulnya. Buliran air mata luruh bersama penyesalan yang mendalam.
Sebelas rakaat telah tertunaikan bertepatan dengan kumandang adzan dari masjid terdekat. Bang Alfin bergegas menuju masjid meninggalkan gue sendirian.
"Nggak usah buat sarapan, nanti habis ngisi kuliah subuh, Abang bawakan sarapan," ucapnya sebelum berlalu. Setelah mengucap salam, pria yang sudah menghalalkan gue ini keluar dan menuntup pintu.
Sebelum shalat subuh, tak lupa gue tunaikan shalat fajar. Shalat yang memiliki keutamaan kuar biasa. Karena dua rakaat shalat fajar, lebih baik dari dunia seisinya.
"Sayang, kita sarapan dulu, Yuk! Sudah Abang siapkan di meja makan," ucap Bang Alfin yang tiba-tiba masuk kamar. Setelah shalat subuh tadi, gue mengerjakan tugas kuliah yang harus segera dikirim via email. Padahal sekarang hari libur, tapi dosen satu ini tetap meminta tugasnya dikirim hari ini juga.
Setelah membereskan semua kekacauan yang gue buat karena beberapa buku berserakan di lantai, gue mengekor Bang Alfin yang telah berganti pakaian santai. Kaos oblong dan celana training panjang.
"Makanan sebanyak ini untuk apa, Bang? Kita kan cuma berdua aja. Apa akan ada tamu?" Mata ini memindai semua makanan. Ada nasi uduk dua porsi, rendang sapi, ikan nila bakar dan sayur sop. Liur gue menetes melihat makanan yang sepertinya sangat enak itu.
"Siapa bilang harus habis sekarang? Itu sebagian menu untuk siang dan sore. Biar nanti nggak perlu masak lagi." Bang Alfin mengambil seporsi nasi uduk dan menyendoknya. Namun suapan pertama justru diberikan ke gue. "Nanti tinggal masak nasinya aja di magic com."
Tiba-tiba hati gue menghangat, lalu menjalar ke pipi yang gue yakin sudah memerah sekarang. Setelah menyuapi gue, maka ia menyuapkan makanan berikutnya untuk diri sendiri. Lalu ke gue lagi, ke dia sendiri, dan begitu seterusnya hingga tandas satu porsi. Untuk porsi yang kedua gantian gue yang melakukan hal sama dengannya tadi. Meski awalnya canggung dan malu-malu, lama-lama biasa.
Kami bekerjasama untuk membereskan dapur dan seluruh ruangan. Menyiram tanaman, membersihkan toilet, dan semua pekerjaan rumah kami kerjakan bersama-sama. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun semua pekerjaan sudah beres.
Bang Alfin membawa buku ke ruang TV, menghidupkan benda berukuran 42 inchi itu lalu membaca buku. Karena nggak ada yang bisa gue kerjakan lagi, iseng gue mengambil album yang terjajar rapi di rak sebelah TV. Lembar demi lembar gue buka. Sesekali tertawa melihat foto Bang Alfin kecil dan Kak Aisyah. Waktu kecil mereka sangat mirip. Ditambah pakaiannya yang selalu sama, membuat gue susah membedakannya.
Kak Aisyah kecil terlihat tomboi. Rambutnya yang pendek, dan pakaiannya yang selalu memakai setelan celana persis dengan kembarannya. Selesai satu album, gue beralih ke album berikutnya. Di sini, Bang Alfin sudah mulai sekolah. Seragam merah putih khas Sekolah Dasar. Mata gue terbelalak saat melihat bang Alfin remaja sedang menggendong balita cewek. Tapi kok balita itu mirip ... gue? Lalu berlanjut ke lembaran berikutnya. Mulut gue menganga melihat foto yang sama persis dengan foto yang gue miliki.
"Bang, ini ... ini ... Nadia, kan?" ucap gue terbata. Tatapan gue beralih pada pria yang juga menatap gue itu.
"Ya. Apa kamu benar-benar nggak ingat siapa Abang, Sayang?"
Air mata ini tiba-tiba luruh tanpa disuruh. Seperti ada ribuan kembang api yang meletup-letup di dalam dada ini. "Jadi ... Abang ini, Bang Al-nya Nadia?"
"Ya. Ini Bang Al." Pria ini tersenyum manis sekali. Kedua tangannya terentang, membuat gue langsung menghambur ke pelukannya.
"Kenapa Abang, Nggak bilang? Nadia selalu menunggu Abang datang." Isakan gue makin keras. "Abang jahat nggak jujur sama Nadia," ucap gue mengerucutkan bibir.
Ya Allah, nikmat mana lagi yang kudustakan. Astaghfirullah. Gue merutuki kebodohan selama ini, yang menjadikan gue seperti cewek barbar. Kalau saja dari awal gue tahu bahwa jodoh gue adalah bang Al, yang dulu selalu membuat gue tertawa bahagia, pasti gue akan langsung setuju dinikahkan dengannya.
"Bukankah Abang pernah bilang waktu itu, kalau kita dihodohkan dari kamu bayi?"
Gue menerawang. Mengingat-ingat kapan pria yang menjadi jodoh gue sejak kecil ini mengatakannya. Mata gue membulat lagi saat ingatan waktu itu berkelebat di otak gue. Ya, dia pernah mengatakannya dan berujung gue kabur dari rumah. Ah, kenapa rasanya gue ingin tenggelam saja di lautan ya. Benar-benar memalukan.
***
Hari ini Bang Al-panggilan gue sekarang untuknya-mengajak gue ke rumah Mama, mertua gue. Ini kali pertama setelah menikah hue diajak ke rumah Mama. Karena setelah kami menikah dulu Mama dan Papa langsung ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Sebuah rumah mewah dua lantai dengan pilar-pilar penyangga yang terlihat kokoh memanjakan mata gue. Belum lagi halaman luas yang ditumbuhi tanaman yang tertata rapi, menambah kesan mewah rumah ini.
Kami melangkah diikuti satpam rumah yang sap membukakan pintu utama. Kesan pertama yang gue tangkap saat memasuki rumah ini adalah elegan. Perabotan serba mahal yang menghiasi ruang tamu, lalu lampu kristal mewah yang tergantung di plafon. Kursi beasr terbuat dari jati kualitas tinggi dengan ukiran khas Jepara, menjadi tempat kami mendaratkan tubuh.
Dari dalam ruang tengah, atau mungkin ruang makan? Terdengar gelak tawa beberapa orang. Kami tak langsung menuju ke sana, karena khawatir ada tamu penting. Bang Al membaringkan badannya di kursi besar ini dan gue duduk menyangga kepalanya.
Tatapan kami beradu, sesaat gue tersesat dalam kelam manik pria itu. Senyum pria ini mengembang menampilkan sepasang lesung pipi yang menambah pesonanya semakin terpancar.
Sebuah deheman membuat kami gelagapan.
"Ada pengantin baru rupanya, kok nggak ke dalam? Padahal kami lagi makan siang lo," ucap Papa mengagetkan kami. Bang Alfin langsung bangkit dan duduk di samping gue.
Kami langsung menyalami Papa bergantian. Di belakangnya ada Mama dan sepasang suami-istri yang seusia dengan mertua gue ini. Tiba-tiba tubuh gue membeku melihat perempuan setengah baya itu. Tatapan kami bertemu, dunia seakan berhenti berputar. Semua pasang mata terfokus pada kami.