Early Marriage
Artis Dadakan
Habis subuh, gue mempersiapkan sarapan untuk kami berdua. Nggak ribet, hanya roti bakar dan dua gelas juz. Sementara Bang Alfin belum pulang dari masjid. Selesai urusan dapur, gue langsung membersihkan rumah. Ya, mulai hari ini gue akan menjalankan tugas sebagai istri.
Setelah mendapat banyak pencerahan dari buku yang gue baca, juga dari suami tercinta, gue mengazamkan diri untuk belajar menerima status baru ini. Meski awalnya aneh, tapi rasanya nggak buruk juga. Lagian, harusnya gue bersyukur mendapat suami Bang Alfin yang selalu menjaga gue dari dosa.
Orangnya yang sabar dan dewasa, itulah yang mampu membuat gue berubah dari gadis urakan dan pecicilan menjadi wanita shalehah yang didambakan suami. Pipi gue memanas mengingat kejadian semalam. Malam yang begitu panjang. Mengukuhkan cinta kami berdua.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Gegas gue bersiap untuk ke kampus. Di depan lemari, gue sibuk memilih-milih pakaian untuk menutup tubuh gue. Netraku jatuh pada sebuah gamis warna peach dengan aksen bunga kecil di sebagian sisi. Gue kenakan gamis itu dan dipadu dengan kerudung segi empat agak lebar dengan motif bunga seperti gamisnya.
Senyum gue mengembang menatap penampilan baru ini. Darah gue berdesir mengingat siapa yang membelikan semua pakaian ini. Setelah selesai merapikan jilbab dan khimar ini, gue memilih sepatu yang berjejer di rak sebelah lemari. Perlahan gue pasang di kaki ini. Pas sekali. Lagi-lagi gue memuji Bang Alfin yang begitu pandai memilih sepatu buat gue. Yakin sudah sempurna, gue keluar dari ruangan kecil berukuran 1 x 2 meter ini.
"Masyaa Allah bidadari siapa ini, antik sekali?" ucap Bang Alfin yang sudah berdiri di depan pintu. Tatapannya mengagumi penampilan baru gue. Dari atas sampai bawah tak luput dari pandangannya.
"Terlihat aneh ya, Bang?"
Lelaki ini tersenyum, lalu melangkah ke dalam ruangan yang meyimpan semua pakaian kami. Merasa diabaikan, gue berdiri mematung di sini. Ada kecewa yang tiba-tiba menyergap dada. Apa Bang Alfin nggak suka penampilan gue? Apa ada yang salah? Tapi tadi dia memuji kok, kenapa sekarang meninggalkan gue begitu saja?
"Duduklah sebentar!" ucapnya yang tiba-tiba menggandeng tangan gue menuju sofa. "Kaki ini juga aurat, harus ditutupi dengan ini." Lelaki ini memasangkan kaos kaki dengan lembut. Ia bertumpu pada lututnya dan dengan hati-hati memesukkan kaki kanan gue ke dalam benda yang barusan ia bawa.
Gue hanya bisa bungkam mendapatkan perlakuan manis ini. Darah gue berdesir, lalu menjalar ke pipi yang sudah pasti memerah. Sesaat gue kehilangan kata, mencerna apa yang dilakukan pria berjenggot ini.
"Yuk, Abang anter!" ajaknya menyadarkan gue. Ya Allah, jantung gue mau meledak. Hue nggak kuat diperlakukan seromantis ini Ya Allah.
***
"Nadia langsung masuk ya, Bang. Sudah mepet waktunya," ucap gue, lalu meraih tangannya untuk gue cium.
"Ya, hati-hati. Tunggu Abang jemput ya, jangan kemana-mana!" sambungnya sembari mencium kening gue. Kali ini gue nggak malu lagi kalau ketahaun mahasiswa lain. Gue juga nggak takut kalau pernikahan gue terbongkar. Mungkin sudah saatnya juga gue mempublish hubungan kami agar tidak salah paham.
Sekalian menunjukkan pada para pemuda tentang hubungan yang sehat. Hubungan yang didasari oleh ikatan halal, bukan pacaran tanpa ikatan. Dan gue harus berbangga karena tak pernah merasakan nikmat semu pacaran sebelum halal.
Dengan langkah mantap, gue terus menyusuri lorong-lorong kampus menuju kelas. Beberapa pasang mata menatap gue aneh. Ada pula yang berbisik-bisik memandang gue. Ah, peduli amat. Toh apa yang gue lakukan ini bukan sebuah pelanggaran. Kampus juga tak melarang mahasiswanya memakai pakaian sesuai keyakinan. Bahkan ada beberapa juga yang memakai niqab.
"Nadia, Lo beneran Nadia, kan?" tanya seseorang yang selama ini jarang bertegur sapa dengan gue. Namun entah mengapa melihat penampilan baru ini dia menyapa gue dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ya, bener kok. Gue Nadia, teman seangkatan Lo," jawab gue dengan senyum mengembang. Namun cewek ini justru menatap gue aneh. Netranya memindai penampilan gue dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ditatap seperti itu, gue hanya bisa tersenyum kecut.
"Lo ... nggak lagi hamil kan?"
"Kalau hamil emang kenapa?" ucap gue tersenyum penuh arti.
"OMG, Nadia jadi Lo sudah hamil? Sama bang ganteng itu? Ya ampun, gue mau dapat ponakan," teriak Chika yang entah muncul dari mana. Semua mahasiswa menatap gue dengan tatapan yang berbeda-beda. Dasar toa! Nggak bisa banget, sih ngomong pelan-pelan. Gue kan jadi malu jadi pusat perhatian begini. Setelah ini pasti akan tersebar gosip yang enggak-enggak, deh.
Gue menghela napas panjang. Menatap mereka satu per satu dan memasang senyum semanis mungkin. Gue tahu mereka semua menunggu jawaban gue. Memastikan apa yang dikatakan Chika tadi benar atau tidak. Apalagi selama ini mereka tahunya kalau gue ini jomblo. Dan sekarang, tak ada angin yak ada hujan mereka dengar kalimat mengejutkan ini.
"Doakan saja, kalau memang Allah memberi secepatnya, Alhamdulillah. Kalau belum pun juga alhamdulillah."
"Apa?" ucap mereka semua kompak. Matanya melotot dengan mulut menganga. Pasti mereka salah paham lagi.
"Jadi gini teman-teman, sebenarnya gue sudah menikah tiga bulan yang lalu. Jadi wajar kan kalau gue hamil?"
Gue melangkah meninggalkan mereka yang masih terpaku menatap gue. Mungkin mereka menganggap gue halu atau bercanda. Tapi gaktanya memang gue sudah nikah, kan?
Selama di dalam kelas, gue harus menebalkan telinga mendengar berbagai celotehan teman-teman di kelas. Gue serasa menjadi artis dadakan yang dikerubuti oleh para wartawan. Satu per satu bertanya seputar pernikahan rahasia gue. Rasanya gue ingin lari saja dari sini biar tak lagi mendapat serbuan pertanyaan dari mereka.
Sebagian ada yang mengucapkan selamat, namun tak sedikit juga yang mencibir. Mengatakan gue nikah karena kecelakaan. Biarlah mereka mau bilang apa, toh dosa ditanggung sendiri. Kalau ini terjadi saat hubungan gue dengan Bang Alfin sebaik ini, mungkin gue akan marah dan melabrak mereka yang bermulut pedas mengalahkan cabe rawit itu. Namun karena sekarang gue sudah ikhlas menjalani pernikahan ini, gue nggak ambil pusing semua perkataan mereka.
Bukankah seharusnya para cewek itu senang saingannya berkurang satu? Mereka bisa bebas mengincar cowok-cowok populer di kampus ini, kan? Dengan catatan kalau mereka nggak takut dosa, ups.
"Pulang bareng kita-kita yuk, Nad. Sekalian mampir ke kafe. Dah lama kan kita nggak nongkrong dulu," usul Jeni saat kami sudah mencapai lobi. Kuliah kami telah selesai dan sekarang saatnya pulang.
"Sorry, Gaes. Bang Alfin melarang gue kemana-mana hari ini." Gue menangkupkan kedua telapak tangan sebagai tanda permintaan maaf karena tak bisa ikut mereka. Dari belakang gue merasa ada banyak orang yang mengikuti. Meski ini memang jam pulang, dan tujuan kami sama-sama ke parkiran, tapi perasaan gue mengatakan mereka kepo dengan gue. Mungkin ingin tahu perkataan gue tadi beneran atau bohongan.
Dari jauh, gue sudah bisa melihat mobil Bang Alfin. Meski pemiliknya masih di dalam, tapi gue merasa dia menatap ke arah kami. Dengan sedikit memepercepat langkah, gue meninggalkan teman-teman setelah berpamitan.
Bang Alfin turun dan membukakan pintu untuk istri tercintanya ini. Sebelum masuk, gue melirik sekitar. Benar saja, mereka semua menatap kami penih minat. Seperti paparazi yang menemukan buruan berita di hadapannya. Bahkan sebagian ada yang merekam aksi kami yang berbicara berhadapan.
Ini semua gara-gara Bang Alfin yang datang membawa setangkai mawar merah. Tentu saja aksinya ini menjadi tontonan gratis para mahasiswa yang memiliki tingkat kepo akut seperti mereka.
"Untuk bidadariku yang cantik," bisik Bang Alfin di telinga gue. Dilihat dari jauh, pasti akan menimbulkan salah paham. Posisi Bang Alfin seperti tengah mencium gue.
Sorak sorai para mahasiswa membuat Bang Alfin sadar jika perbuatannya telah memicu kegaduhan. Ekor mata gue menangkap sosok yang selama beberapa hari ini tak pernah bertemu. Tatapannya seperti ... cemburu?