Early Marriage

Berubah

Kuliah hari ini terasa begitu membosankan. Entah karena mata kuliahnya yang kurang menarik atau karena suasana hati gue yang lagi badmood. Teman-teman mengajak jalan dulu sebelum pulang. Sebenarnya sangat ingin ikut mereka, sayangnya pangeran gue sudah standby di parkiran saat kami he dak berangkat. 

"Kok cemberut gitu, nggak suka ya Abang jemput?" 

Kepala gue memutar ke kanan, menatap pria berbaju navy ini lalu tersenyum. Penampilannya begitu segar dengan pakaian santai seperti ini. Apa dia sengaja supaya dilirik gadis-gadis di sini? Seketika dada gue terbakar membayangkan hal ini. 

"Sudah lama, Bang?" 

"Sepuluh menitan lah. Nungguin bidadari cantik seperti kamu mah, jangankan sepuluh menit, seharian juga Abang jabanin." Dia terkekeh. Tangannya tetap sibuk memutar kemudi, dengan pandangan fokus ke depan. Namun sesekali menatap gue dengan senyum mengembang. 

"Sekalian cuci mata ya, Bang?" 

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, menyebabkan jidat gue yang mulus harus berciuman dengan dashboard mobil. Mulut gue menganga, dengan tangan mengusap-usap jidat yang mungkin sudah benjol akibat benturan tadi. 

"Apa-apaan sih, Bang?" Gue sedikit emosi mengatakannya. Hari ini mood gue sudah buruk, ditambah lagi kejadian ini membuat gue makin sensi. 

"Kamu yang apa-apaan, Sayang. Abang menunggumu pulang, bukan untuk cuci mata. Lagian dosa lo memandang sesuatu yang tak halal." 

"Oh, bagus dong! Kirain mau ganjen sama ciwi-ciwi di kampus Nadia!" Gue melengos menghadap jendela, menatap ruko-ruko dengan segala pernak-perniknya. Sudut bibir gue melengkung ke atas. Ada yang menghangat di sisi hati terdalam gue mendengar pengakuannya. 

"Ciwi-ciwi? Apaan, sih?" Pria ini memalingkan tubuh gue menghadapnya. Tatapannya terpaku pada manik hitam gue. "Kamu meragukan Abang?" 

Ditatap dengan jarak sedekat ini membuat gue gelagapan. Dada ini berdesir menahan gejolak rasa yang kian menggila. Gue hanya bisa menggeleng tanpa kata. Tiba-tiba bibir seperti terkunci. Pesona pria ini benar-benar mampu merontokkan sendi-sendi keberanian gue. 

"Jangan berpikir macam-macam, Abang bukan tipe laki-laki yang suka jelalatan. Karena Abang tahu, mata ini nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Cukup istri Abang yang cantik ini saja yang menjadi fokus Abang," ucapnya sambil mencubit hidung bangir gue. 

Gue rasa, sekarang pipi gue sudah memerah. Kalimatnya yang puitis, terdengar sangat romantis di telinga gue. Sikapnya yang bisa begini mampu menjadi mood booster yang begitu ampuh.  

 

*** 

Ba'da Isya', gue langsung fokus mengerjakan tugas dari kampus. Bang Alfin tadi bilang pulang agak malam karena shalat jamaah di masjid, ia diminta untuk mengisi pengajian sekalian. Kadang gue malu jika berjalan dengan keluarganya yang sangat religius itu. Sementara gue, urakan dan pecicilan. Menutup aurat saja masih belum sempurna. 

Selesai mengerjakan tugas, gue membaca buku yang dibelikan Bang Alfin beberapa waktu lalu. Gue menyisir derwtan buku agama yang jumlahnya lebih banyak dari buku-buku kuliah gue. Mata ini jatuh pada sebuah buku yang berjudul "Jilbab, Antara Trend dan Kewajiaban". 

Lembar demi lembar gue lahap habis. Hingga tiba pada bab yang membahas secara khusus tentang perbedaan jilbab dan kerudung. Lalu berlanjut pada pembahasan kehidupan wanita di tempat khusus dan tempat umum. Otak gue berpikir keras mencerna setiap kimat yang tertulis di sana. Hingga gue mendapat satu kesimpulan bahwa muslimah wajib menggunakan jilbab dan khimar ketika keluar rumah. 

Seketika diri ini merasa banyak dosa. Merasa sudah menutup aurat, dan ternyata belum sempurna. Ingatan gue berkelana pada hari-hari sebelum menikah. Dimana gue sering jalan dan nongkrong tanpa tujuan. Belum lagi kelakuan kami yang sering menggoda cowok-cowok cakep sekadar buat hiburan karena kalah taruhan. 

Ah, kenapa gue senekat itu ya dulu. Andai saja dari dulu gue sudah dipertemukan dengan Bang Alfin atau Kak Ais, mungkin gue nggak akan keblangsak seperti sekarang. Air mata gue jatuh tanpa sadar. Menyesali perbuatan di masa lalu. 

Perlahan gue bangkit. Melangkah menuju walk in closed. Membuka salah satu lemari yang selama ini belum pernah gue buka sama sekali. Mata kembali memburam melihat apa yang terpampang di depan gue. Tangan ini terulur maraih satu set gamis berwarna maroon dengan motif kotak-kotak sebagai variasi, lengkap dengan pasmina instan berwarna senada. 

Perlahan gue pakai gamis ini tanpa melepas baju tidur yang membalut tubuh. Lalu mengganti kerudung instan dengan pasmina. Berputar di depan cermin besar dan memandangi pantulan diri gue yang terlihat beda. Mata ini menatap takjub bayangan diri ini. Ah, pantas saja Kak Ais begitu anggun dan meneduhkan. Memang seperti inilah seharusnya muslimah menutup tubuhnya. 

Gue berjalan keluar sambil terus tersenyum. Membayangkan reaksi Bang Alfin melihat ini. Tepat saat kaki mencapai depan pintu, pria itu masuk kamar. Tatapannya langsung tertuju ke gue. Kami sama-sama terpaku di tempat. Untuk sesaat, hanya sorit mata kami yang bicara. Perlahan imam gue ini berjalan mendekat. Membunuh jarak diantara kami. 

"Masyaa Allah, kamu cantik sekali, Sayang," ucapnya sambil terus memuji. Bibirnya terus tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. 

"Apa ... Nadia pantas pakai seperti ini, Bang?" 

"Tentu saja, Sayang. Kamu sangat pantas. Kamu terlihat lebih anggun dan meneduhkan dengan pakaian syar'i ini." 

Tanpa aba-aba, pria berjenggot ini langsung mengangkat tubuh gue dan memutarnya. Kami tertawa bersama di ruangan ini. Untung kami cuma berdua saja. Mulai malam ini, gue berazam untuk mamakai pakaian seperti ini kalau keluar rumah. 

Dengan antusias, Bang Alfin menjelaskan syari'at tentang muslimah ketika keluar rumah. Mulai dari tata cara berpakaian hingga tata cara pergaulan. Gue mendengarkan semua nasehatnya dengan perasaan tenang. Gue seperti terlahir kembali. 

"Dan ini," Bang Alfin menunjuk deretan make up yang ada di meja rias gue. "Hanya boleh dipakai di depan suami. Kalau keluar rumah cukup pakai skin care saja tanpa make up." 

Gue tak membantah. Karena pasti ada alasan di balik itu. Dengan sabar gue terus dengarkan penjelasan bang Alfin. 

"Berhias untuk suami, balasannya pahala jika diniatkan ibadah. Tapi berhias untuk pamer kecantikan di luar rumah, balasannya dosa karena termasuk katogori tabaruj." 

Ternyata Islam menjelaskan masalah seperti ini begitu rinci. Selama ini gue pikir jika sudah melaksanakan shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, membayar zakat, sedekah, dan aktivitas amal lainnya sudah cukup untuk modal masuk surga. 

Namun pemahaman itu terlalu cetek. Ada banyak hal yang diatur dalam Islam. Agama sempurna yang tak ada bandingannya. 

"Kalau urusan ke kamar kecil saja Islam mengatur, apalagi urusan besar seperti sistem interaksi dengan sesama manusia, pasti ada aturannya, kan?" imbuh Bang Alfin. Benar juga apa yang dikatakannya. Ah, kemana saja gue selama ini. Hingga tak tahu apapun tentang ajaran agama sendiri. 

"Mau nggak Abang kasih tahu amalan yang mudah dan pahalanya banyak?" 

Dengan antusias gue langsung mengangguk. Tentu saja mau, siapa juga yang nggak mau dengan tawaran menggiurkan seperti ini. Bang Alfin tersenyum, lalu mendekat dan berbisik. 

"Melayani suami."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!