Early Marriage
Terus Terang
Mati gue, sepertinya bakal ada badai setelah ini. Di saat yang sama, bang Rizal datang mencari. Mengatakan jika mami ingin bicara pada kami. Terpaksa gue berjalan dengan tangan terus digenggam pria ini. Berulang kali mencoba melepaskan, tapi lagi-lagi gue gagal. Sementara ketiga cewek dengan tingkat kepo yang tinggi ini terus mencolek gue dari belakang. Gue yakin, mereka meminta penjelasan atas apa yang mereka lihat ini.
"Mami," ucap gue setelah berdiri di depan ranjang yang ditiduri wanita paruh baya ini. Netra mami tertuju pada tangan kami yang saling bertautan. Senyumnya merekah melihat itu.
"Mami seneng lihat kalian akur begini," ucapnya lirih. "Nak Alfin, tolong jaga Nadia ya. Hukum saja kalau dia nakal," lanjut mami membuat bibir gue mengerucut. Sebenarnya siapa sih yang anak mami. Heran gue.
"Tentu, Mi. Alfin akan menjaga Nadia dengan baik," jawab lelaki yang sepantaran dengan abang gue ini. Lagi, senyum mami makin merekah. Netranya berkaca-kaca. Gue tahu dia terharu melihat kami dekat seperti ini. Ya, lebih baik mami mengira kami berbaikan daripada tahu kalau kami masih bertengkar.
"Sudah, kalian pulanglah, istrirahat. Mami sudah baikan. Biar papi dan abang yang jaga."
"Tapi, Mi ... Nadia mau jagain Mami," ucap gue merajuk. Tidak, gue nggak mau semobil bertiga dengan mereka. Bisa meledak dada gue melihat kemesraan mereka.
"Pulanglah!"
Gue menggeleng-geleng. Berharap diizinkan untuk tetap tinggal. Namun menantu kesayangan mami ini merangkul pundak gue dan membawa keluar. Terpaksa gue harus menahan sakit hati dengan pulang bersama.
Ketiga sahabat somplak gue masih setia menunggu di depan pintu. Mata mereka membola melihat gue yang masih dirangkul. Gue tahu mereka kepo akut. Tapi nggak mungkin gue jelasin sekarang.
Gue melewati mereka dengan bibir bergerak mengucap kata "maaf" tanpa suara. Menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada berharap mereka bisa mengerti situasi ini.
Kami bertiga berjalan menuju parkiran. Sepanjang jalan, tangan pria ini tak lepas dari pundak gue. Sementara perempuan yang bernama Aisyah itu berjalan di sebelah kanan bang Alfin. Kami sudah seperti keluarga poligami yang bahagia saja. Gue tertawa sumbang dalam hati. Tiba-tiba perut gue seperti diaduk membayangkan hal itu. 'Poligami di usia dini? Itu benar-benar gila,' batin gue bersenandika.
Bang Alfin membuka pintu penumpang samping kemudi. Meminta gue masuk dan duduk di sebelahnya. Ekor mata gue melirik perempuan berhijab ungu itu yang kemudian diangguki olehnya. Terpaksa gue masuk dan membanting pintu. Gue lirik sekali lagi perempuan bernama Aisyah itu. Dia sadar gue memperhatikan. Bibirnya melengkung ke atas menampilkan senyum manisnya.
Dalam hati gue kagum sama wanita ini. Selama hidup seatap dengan gue, nggak pernah sedikit pun nyiyir atau berkata kasar. Sikapnya ramah dan murah senyum. Meski gue selalu jutek, tapi dia berusaha menyapa. Lihatlah, dia begitu sempurna. Wajah ovalnya yang cantik, hidung mancung, alis tertata rapi dan bibir merah alami. Ditambah hijab syar'i yang membalut tubuhnya menambah nilai plus dalam dirinya. Pantas saja bang Alfin begitu memujanya.
Seketika ada panas yang membakar ruang hati gue. Membayangkan suami hasil perjodohan orang tua, lebih memilih wanita lain dari pada istri kecilnya. Meski gue belum bisa menerima perjodohan ini seratus persen, tapi gue juga nggak mau menyandang gelar janda di usia muda.
Udara panas yang membelai pipi tiba-tiba membuyarkan lamunan gue. Pria ini sudah berada begitu dekat dengan gue. Apa yang akan dia lakukan? Gue mencoba mendorong tubuhnya yang semakin tak berjarak.
"Mau apa, Lo?" ucap gue spontan. Entah, hingga saat ini gue belum bisa bersikap ramah padanya. Juga belum bisa ber-aku kamu dengannya.
"Sabuk. Aku hanya mau membantumu memasangkannya," ucapnya datar. Pipinya memerah. Hah, ini pemandangan yang sangat langka. Apa dia malu? Melihatnya semakin salah tingkah, gue tak sanggup menahan tawa. Dan ... akhirnya gue terbahak-bahak. Menahan perut dengan meletakkan tangan kiri dan menutup mulut dengan telapak tangan kanan.
Setelah reda, gue menoleh pada pria ini yang terpaku melihat tawa gue. Apa dia begitu terpesona melihat tawa cantik gue? Beberapa detik kami saling tatap. Hingga suara gawai dari dalam tas membuyarkan aksi pandang itu. Dari group genk jomlo.
Sudah gue duga bakalan seheboh ini. Mereka mencecar gue dengan berbagai pertanyaan.
@Chika
[Woy, Nadia kampret. Jawab ... jangan di read doang]
@Icha
[Lo punya utang banyak sama kita, Nad]
@Jeni
[Gue kira, kita teman. Nyatanya Lo nggak anggep kita ada]
Gue menghela napas panjang. Mencoba menetralkan dada yang mulai bergemuruh. Bukan gue nggak mau jawab, tapi gue hanya belum siap. Kenapa mereka tak bisa memahami posisi gue, sih? Seketika mata ini memburam.
***
Pagi ini gue bersiap ke kampus lebih pagi lagi dari kemarin. Semalaman gue merenung. Memikirkan langkah apa yang akan gue ambli selanjutnya. Hari ini, gue siap untuk membuka pernikahan gue pada teman-teman baik gue. Mengatakan fakta yang sesungguhnya terjadi selama liburan ini.
Dengan dada berdebar-debar gue melangkah menuju tiga teman gue yang sudah menunggu di depan gerbang kampus. Niat banget mereka mau mengintrogasi gue. Semakin dekat, langkah ini semakin berat. Seperti ada rantai besar yang membelenggu.
Mereka tampak tak sabar menunggu gue sampai. Akhirnya Jeni berinisiatif untuk menyongsong dan menarik tangan gue. Lalu mereka menyeret gue ke taman kampus yang masih sepi. Hanya ada satu dua orang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau sekadar selfie-selfie.
"Jelasin!" ucap Jeni setelah mendudukkan gue ke sebuah kursi panjang. Chika dan Icha berdiri di hadapan gue. Sementara Jeni duduk di samping kanan gue yang seperti terdakwa lagi disidang.
Sebagai ancang-ancang, gue menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. Hingga rasa sesak yang tiba-tiba muncul hilang bersama karbondioksida yang keluar.
"Kalian inget cerita gue yang dihukum mami saat pulang malam waktu itu?" Ketiga cewek yang sudah menjadi sahabat gue sejak SMA ini mengangguk kompak. "Hukuman gue selain ditarik semua fasilitas, ..." Gue jeda sesaat, menghirup udara dengan rakus. "Gue dipaksa nikah," pungkas gue lirih. Tanpa sadar, mata ini merebak dan mengaburkan pandangan.
"Apa? Lo dipaksa nikah?" teriak mereka kompak.
"Sssttt, bisa nggak sih kalian nggak usah toa. Malu tahu!" Bibir gue mengerucut. Rasanya ingin tenggelam saja ke perut bumi daripada semua mahasiswa sekampus tahu status gue sekarang. Seorang Nadia Antania yang terkenal menjauhi cowok karena berprinsip 'jomlo lebih baik', kini tiba-tiba menikah. Oh, tidak.
"Dan cowok yang kemarin di rumah sakit itu suami Lo?" Kali ini Chika yang bertanya.
"Sayangnya iya," jawab gue lesu.
"OMG, serius? Demi apa Lo dapat suami sekeren itu?" Teriak Chika heboh. Gue berusaha membungkam mulut toa cewek ini. Ya ampun, mimpi apa gue punya teman macam tukang obat kek gini.
"Lo bisa nggak sih, pelan-pelan aja ngomongnya? Nyesel gue ngomong sama kalian kalau nggak bisa jaga mulut," ucap gue sambil berdiri. Gue memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Namun tatapan memohon Jeni, membuat gue urung.
"Sory, Nad. Tolong jangan marah, ya? Kita cuma kaget aja, tiba-tiba lo dah nikah aja."
"Siapa yang sudah nikah?" Seorang pria datang tiba-tiba membuat kami semua bungkam.