Early Marriage

Perdebatan Tak Berujung

Pria itu tersenyum lebar, seolah baru saja mendapat kabar bahagia. Sungguh melihatnya tak merasa bersalah sedikit pun, membuat hati ini makin tercabik-cabik. Andai tak takut durhaka, sudah gue cakar-cakar mukanya yang ganteng itu. Biar jelek sekalian.  

 

Ketiga sahabat gue menyaksikan pertengkaran ini dengan antusias. Chika berkali-kali terlihat menata rambutnya yang dimodel churly. Dasar teman nggak ada akhlak. Bukannya bantuin malah keganjenan.  

 

Entah apa lagi yang diucapkan pria itu. Fokus gue teralih pada tiga cewek jomlo yang sayangnya sahabat gue itu. Tangan ini tiba-tiba ditarik oleh bang Alfin. Lalu gue diseret menjauh dari tempat itu.  

 

"Lepasin, bang!" Gue berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu. Namun dia bergeming. Langkahnya terus mengayun menjauh dari keramaian. Hingga kami sampai di sebuah taman yang sepi. Hanya ada satu dua orang duduk-duduk di sini. Menghela napas lelah, akhirnya gue pasrah. Menunggu apa yang akan dikatakan pria ini. Bahkan saat inni gue sudah mirip seorang anak yang ketahuan berbuat nakal oleh ayahnya. 

 

Gue duduk di sebuah kursi panjang dekat pohon palem. Sementara pria itu masih berdiri menjulang di hadapan gue. Nggak ada sepatah kata pun yang terucap. Namun tatapannya tak lepas dari manik cokelat gue. Apa-apaan ini, gue diseret ke sini cuma untuk saling tatap?  

 

Jengah. Akhirnya gue memutuskan untuk berdiri. Namun pria ini tiba-tiba berlutut di hadapan gue. Netranya tak lepas dari mata gue.  

 

"Nadia, apa sudah cukup waktu yang kuberikan untukmu? Bisakah kau akhiri acara mogok bicara denganku?" Pria itu menatap gue dengan tatapan mengintimidasi. Namun tetap lembut hingga membuat gue speacless. 

 

Hah? Gue melongo, gaes. Dari sekian banyak kalimat, ia memilih kata itu? Apa nggak ada basa-basi sedikit untuk membuka obrolan. Seperti kata "maaf", misalnya? Dia ini nggak paham atau pura-pura nggak paham, sih? Sepertinya memang perlu disekolahkan dulu biar paham caranya meluluhkan hati wanita. 'Dasar manusia kutub. Nggak peka!' maki gue dalam hati.  

 

"Nadia!" Ia menggenggam tangan gue. Mencoba untuk beradu tatap lagi, tapi gue menghindar. Dada gue rasanya mau meledak. Mencoba untuk melepas tangannya, tapi gue gagal. Genggaman itu makin erat, dan itu semakin membuat jantung gue tak terkendali. 

 

"Sebenarnya apa sih maumu? Setelah menyakiti gue, membawa perempuan lain ke rumah, terus menganggap gue nggak pernah ada, sekarang bilang supaya gue mengakhiri mogok bicara?" Gue memutar bola mata jengah. "Oh, dan satu lagi ... sejak kapan hubungan kalian berdua?"  

 

Gue tatap balik mata elang itu. Mencoba mengintimidasi. Tapi, pria itu justru seperti menahan senyum. Heh, dia pikir ada yang lucu apa? Emangnya gue badut? Kekesalan gue makin bertambah melihatnya semakin memerah menahan tawanya. Andai menimpuk suami nggak dosa, sudah pasti gue timpuk itu kepala pakai sepatu convers gue. 

 

"Hubungan ... maksudmu hubunganku sama Aisyah?" tanyanya dengan menaikkan alis sebelah. 

 

"Oh, jadi perempuan itu bernama Aisyah?" Gue tertawa sumbang. Sudah hampir seminggu tinggal seatap, bahkan namanya saja gue baru tahu.  

 

"Kamu ... cemburu?" 

 

"Nggak!"  

 

"Yakin?" ucapnya menyelidik. Kedua alisnya dimainkan naik turun. Sedang sudut bibirnya melengkung ke atas. Bahagia sekali dia menggoda istrinya yang lagi ngambek. Eh.  

 

"Maksudnya apa senyum-senyum? Bahagia banget ya hidup sama dia? Sampai lupa ada gue juga!"  

 

Dada ini sudah kembang kempis menahan kesal. Sementara dia hanya menanggapi dengan senyum. Kalau saja nggak takut durhaka dan masuk neraka, sudah gue sumpal itu mulut seksinya pakai batu di bawah gue.  

 

Dia berdehem. Lalu memposisikan dirinya di samping gue. Kedua tangannya memegang pundak ini dan membalikkan tubuh gue menghadapnya. Dengan jarak sedekat ini, jantung gue kembali berulah. Berdentam-dentam mengoyak dada hingga rasanya begitu menyakitkan. 

 

"Nadia, maafin abang ya? Abang bukannya nggak peduli sama kamu." Ia mengunci tatapan gue. "Abang hanya ingin memberi waktu buat kamu berpikir."  

 

"Harus gitu bawa perempuan lain ke rumah?"  

 

Dia tampak menghela napas pasrah. Seolah ada beban berat yang menghimpit dadanya. 

 

"Ais baru pulang dari Kairo. Ia ingin mengenalmu karena pas kita nikah dia nggak bisa pulang. Tak bisakah kamu berteman dengannya? Dia itu baik lo, rajin ibadah, pinter masak, sopan dan humble sebenarnya. Kamu kan bisa belajar masak sama dia, kenapa harus marahan begini sih?" 

 

Sepertinya gue sudah gila. Dengan entengnya dia memuji wanita lain di depan gue. Lalu apa tujuannya meminta gue berhenti mogok bicara kalau ujung-ujungnya gue juga yang kembali merana.  

 

Gue tetap tak menanggapi ucapannya. Memutar kepala agar tak bertatapan dengannya lagi. Darah ini rasanya sudah mendidih. Menggelegak ingin ditumpahkan menjadi cacian. Untungnya gue masih bisa menahan diri dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. 

 

"Sudah ya, kalau tujuan abang bicara cuma untuk membuat gue berdamai sama perempuan itu, maaf. Gue nggak bisa! Lebih baik gue pulang ke rumah mami saja." Gue mencoba berdiri, tapi dia menahan dengan menekan pundak ini agar gue kembali duduk. 

 

"Nadia, apa kamu tak ingin tau siapa Aisyah itu?" 

 

Gue melotot. Lagi-lagi perempuan itu yang dibahas. Rasanya pengen muntah mendengar semua omong kosong ini. Apa tidak ada topik yang lebih menarik untuk dibicarakan, mengungkapkan perasaannya misalnya. Ah, kayaknya gue terlalu berharap. 

 

"Untuk apa? Sudah jelas kan abang lebih sayang dia dibanding gu--" seketika tangan ini menutup mulut yang tak tahu diri ini. Hampir saja gue mengatakan sesuatu yang membuat pria itu makin besar kepala. 'Huh, dasar Nadia. Lo itu sebenarnya sudah suka kan sama suami ganteng Lo ini?' maki hati kecil gue.  

 

Sudut bibir pria pemilik sepasang lesung pipi ini kembali tertarik ke atas. Matanya berbinar mendengar ucapan gue yang tanpa sengaja itu.  

 

"Fix, kamu cemburu, Nadia."  

 

"Tidak!" 

 

"Akui saja kamu cemburu," ucap lelaki itu membuat gue mengerucutkan bibir. Enak aja dibilang cemburu. Kata orang cemburu itu tanda cinta, kan? Sedang gue, boro-boro cinta, yang ada benci setengah mati. 

 

"Oke, sekarang maumu gimana supaya nggak marah lagi?" 

 

Pria itu seperti habis mendapat durian runtuh. Senyumnya terus dikulum. Wajahnya berbinar cerah. Apa membuat gue kesal sangat membahagiakan buat dia? Dasar suami nggak ada akhlak.  

 

"Gue mau pulang."  

 

"Baiklah, kita pulang bareng," ucapnya santai. 

 

"Gue mau pulang ke rumah mami." 

 

Gerakan pria itu terhenti. Dia yang sedang berdiri dan hendak mengamit lengan gue, menatap tajam diri ini. Mengambil napas dalam dan mengembuskan perlahan. Kelopak matanya menutup beberapa detik bersamaan dadanya yang mengempis. Wajahnya menengadah ke langit. Lalu kembali membuka. 

 

"Kamu istriku, tidak halal seorang istri pergi dari rumah suaminya tanpa izin."  

 

"Dan kamu suamiku, tidak halal seorang suami menyakiti hati istrinya sedemikian dalam," balas gue.  

 

"Jadi sekarang kamu sudah mengakuiku sebagai suami?" Kelopak mata lelaki ini mengedip-ngedip genit. Sangat tak cocok dengan kepribadiaannya yang kaku dan datar. 

 

Emosi gue makin memuncak. Sepertinya pembicaraan ini tak menemukan titik terang. Gue tetap kekeuh dengan pendirian gue. Dan dia tetap memaksa gue untuk ikut dengannya. Saat kami terus bersitegang mempertahankan pendapat masing-masing, ketiga sahabat gue mendekat. Sepertinya mereka melihat adegan adu mulut kami tadi. Terlihat jelas dari wajah-wajah penasaran mereka.  

 

"Nadia, si-siapa dia?" 

 

Sontak gue mejaga jarak dengan pria ini. Namun pria ini tampaknya sengaja ingin membuat gue malu. Tangannya merangkul bahu kanan ini dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh gue. Tentu saja hal itu membuat ketiga teman gue histeris. Mata mereka melotot dengan mulut menganga.  

 

”Ka--kalian pacaran?" ucap mereka kompak.  

 

"Tidak!" 

 

"Ya!" jawab kami bersamaan, membuat ketiga cewek jomblo itu saling pandang. Lalu menatap gue curiga.  

 

"Nadia, Lo membohongi kita?"  

 

Gue menggeleng kelabakan. Berusaha melepas rangkulan pria ini yang telah membuat mereka salah paham. Gue cubit pinggangnya sambil berbisik. "Lo telah membuat sahabat gue salah paham." 

 

Pria itu tersenyum, lalu melepas rangkulan tangannya. "Sebenarnya saya ini su--" Gue langsung membungkam mulut lelaki ini dengan tangan. Enak saja mau melanggar perjanjian. Awas saja kalau sampai ngomong, gue pecat jadi suami. Eh. 

 

Namun tatapan ketiga dara itu makin membuat bulu kuduk gue berdiri. Mati gue, sepertinya bakal ada badai setelah ini.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!