Dua Hati Satu Cinta

Hati yang Retak

Suara ketukan pintu memaksa Arman mengalihkan pandangannya dari komputer. Sejak pagi ia tak beranjak dari kursi kebesarannya. Menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas yang harus segera ia selesaikan.

"Masuk!"

Seorang pria berjas hitam melangkah mendekati meja Arman. 

"Pak, ini hasil penyelidikan saya dua hari ini. Mereka baru menikah empat hari lalu."

"Apa? Jadi mereka beneran sudah menikah?"

"Iya, Pak. Dan sekarang mereka tinggal di kawasan elit yang ada di pinggir kota. Alamat lengkapnya sudah tercatat di berkas itu," ucapnya tegas. 

"Oke. Siapkan tiket pesawat untuk hari ini juga. Aku akan langsung terbang ke sana."

Sepeninggal ajudan kepercayaannya, Arman meneliti setiap lembar informasi yang baru diterimanya. Kedua tangannya meremas kertas itu dengan dada bergemuruh hebat. 

Ada nyeri yang merambat di setiap pembuluh darahnya hingga ke jantung, melihat foto bahagia mereka saat memamerkan buku nikah. Bahkan sakitnya saat mengetahui Melly hanya memanfaatkan dirinya demi kepentingan pribadi, hanya seujung kuku. Yang ini jauh lebih menyakitkan. Wanita yang dicintainya meski terlambat menyadari, terlihat begitu bahagia bersama sahabatnya. 

Pria beralis tebal itu menggeram frustasi. Mengutuki kebodohannya yang terjebak pada cinta masa lalu. Begitu besar pengorbanan yang ia lakukan untuk sebuah cinta semu. Karena faktanya, Melly masih memiliki hubungan dengan suaminya. Mereka hanya butuh dana untuk menopang perusahaannya agar tidak colaps. Bahkan mengetahui jika Melly tidak benar-benar cinta padanya pun sangat terlambat. 

Arman berjalan tergesa menuju lobi saat mendapat telepon dari orang kepercayaannya bahwa pesawat ke Surabaya akan berangkat dua jam lagi. Ia langsung menuju bandara tanpa pulang terlebih dahulu. 

***

Pria tinggi dengan pakaian formal menekan bel di samping pagar tinggi itu. Berulang kali ia memastikan alamat yang diberikan ajudannya. Setelah yakin, ia baru memencet tombol bergambar lonceng itu.

"Cari siapa, Pak?"

"Bagasnya, ada?"

"Ada, baru saja sampai rumah. Maaf, dengan Bapak siapa, biar saya sampaikan apa Tuan bisa menerima tamu atau tidak?"

"Katakan sahabatnya dari Jakarta. Dia pasti tahu."

"Baik, Pak!"

Satpam itu tampak memainkan gawainya lalu menempelkan di telinga. Terdengar ia mengatakan bahwa ada seorang pria yang ingin bertemu tuannya.

"Silahkan masuk, Pak?" ucap satpam membuka gerbang. 

Dengan langkah berat, Arman berjalan menuju pintu utama. Dadanya berdetak kencang seiring dengan jarak yang semakin terkikis antara dirinya dengan pintu utama. Sebelum mengetuk pintu, ia menarik napas panjang untuk menetralkan hatinya yang tiba-tiba sangat gugup. 

"Arman? Dari mana kamu tahu rumahku?" 

"Kenapa? Kaget? Apa kamu merasa seperti pencuri yang ketangkap basah?" ucap Arman sarkas. 

Matanya memicing dengan rahang mengeras. Sekuat tenaga mantan suami Amira ini menahan gejolak emosi yang meledak-ledak. 

"Tentu tidak. Silakan masuk. Ayo, duduk di sini," ajak Bagas santai.

Tak ada raut kaget atau takut sama sekali. Dia sudah memprediksi sebelumnya bahwa waktu seperti ini akan tiba. 

"Apa ini alasanmu menghilang selama ini? Menggantikan posisiku sebagai suami Amira?" 

To the point. Arman tak mau repot-repot sekadar menanyakan kabar. Ia sudah tak sabar memuntahkan lahar panas dari dalam dadanya agar gemuruh hebat yang menyiksanya segera hilang. 

"Apa selama ini kamu memang sudah mengincar Amira? Dan saat aku tersandung kasus dengan Melly, kamu memanfaatkan keadaan untuk bergerak? Ternyata kamu lebih licik dari yang kubayangkan. Heh?"

"Kamu salah sangka, Man."

"Apanya yang salah? Jelas-jelas sudah terbukti kamu menikahi Amira di saat aku tak ada. Bahkan kau bersembunyi di sini dan meninggalkan perusahaan begitu saja. Apa itu salah sangka?" 

Arman semakin memicing. Wajahnya memerah akibat menahan amarah. 

"Aku menikahi Amira karena dia sudah tidak terikat lagi denganmu. Secara hukum negara dan agama status kalian sudah resmi bercerai. Amira juga tidak dalam masa iddah. Jadi semuanya sudah berjalan sesuai prosedur."

"Kamu tak meminta izinku!"

"Apa perlu? Aturan mana yang mengharuskan meminta izin "mantan" suaminya jika mau menikahi janda?"

"Karena aku mau merujuknya kembali setelah semuanya beres! Dan kau telah mengacaukan semuanya!?"

Suara Arman mulai meninggi. Amira yang sedang menemani kedua putrinya mengerjakan PR terpaksa keluar untuk melihat keributan di ruang tamu. Langkahnya terhenti ketika melihat punggung seseorang yang telah melukai hatinya. Ia mematung mendengar perdebatan dua pria dewasa di hadapannya.

Bagas menarik salah satu sudut bibirnya. Merasa lucu dengan ucapan Arman. Kyadi selama ini sahabatnya itu mengira Amira akan dengan senang hati menantinya kembali tanpa kepastian? Atau menyambut kedatangannya dengan hati terbuka meski pernah tersakiti, begitu? 

"Dan kamu pikir Amira akan kembali menerimamu setelah apa yang kamu lakukan padanya?" 

"Tentu saja! Dia sangat mencintaiku. Dia bahkan tak mau kehilangan aku waktu itu. Terlihat dari tatapan matanya yang tak rela aku menjatuhkan talak satu padanya." Terlalu percaya diri, membuat siapapun yang mendengarnya ingin muntah.

"Kamu salah, Mas," ucap Amira tiba-tiba menyela perdebatan mereka. 

Seketika tatapan dua pria itu jatuh pada wanita berhijab maroon di hadapannya tanpa kedip. 

"Ra, maafin Mas. Ayo kita rujuk kembali. Tinggalkan Bagas, dan kembalilah padaku," lirih Arman dengan kepercayaan diri yang mulai goyah.

"Semudah itu, Mas? Kamu pikir aku ini barang yang begitu mudah kau campakkan jika sudah bosan dan kau pungut kembali jika menginginkannya?"

"Bu--bukan gitu, Ra. Kita mulai dari awal demi anak-anak?" 

"Demi anak-anak? Lalu kemana saja waktu perempuan mencoba mengusik rumah tangga kita? Apa anak-anak tak pernah terpikirkan olehmu?"

"Ra, bukan gitu. Melly merongrong perusahaan. Dia mengancam akan menghancurkan perusahaan jika aku tak mau menikah dengannya. Aku hanya berusaha untuk menyelamatkan perusahaan. Setelah semuanya selesai, aku berniat memperbaiki rumah tangga kita lagi."

"Bahkan perusahaan lebih penting bagimu daripada kami."

Arman berdiri. Mengacak rambutnya lalu menatap Amira dengan tatapan mengiba. Satu langkah ia maju, membunuh jarak antara mereka. Namun dengan sigap wanita cantik itu mundur. 

"Justru semua perjuangan itu demi kalian. Supaya kalian nggak kelaparan, Ra. Tolong mengertilah."

"Kalau kamu berniat mau memperbaiki semuanya, kenapa menggugat cerai sampai pengadilan?"

Kini Arman mulai mengerti, kenapa Amira berani menikah kali. Ia berpikir dirinya yang melayangkan gugatan cerai itu. Padahal ia sama sekali tak melakukannya. Sepertinya Melly yang membayar pengacara untuk mengurus hal itu tanpa sepengetahuan dirinya. 

"Tidak, Ra. Aku tak pernah melayangkan gugatan. Bahkan terpikir pun tidak."

"Dan kamu pikir aku percaya, Mas? Tanda tanganmu tertera di sana," ucap Amira dingin. 

"Aku dijebak! Ia membuatku mabuk dan meminta tanda tangan!"

Amira tak habis pikir. Bahkan dia bisa berkali-kali terkena jebakan wanita ular itu tanpa sadar. Benarlah jika Islam mengharamkan khamr. Karena akibat yang ditimbulkannya ketika mabuk, sungguh luar biasa. Akal menjadi tumpul. 

Tak berlebihan jika minuman beralkohol itu disebut sebagai ummu jara'in (induk kejahatan). Karena mabuk bisa membuat manusia bisa berbuat apa saja. Seperti zina dan kemaksiatan lainnya. 

"Dan kamu selalu terjebak oleh orang yang sama. Tak pernah belajar dari kesalahan!"

"Ra, aku tahu kesalahanku tak termaafkan. Tapi, tolong mengertilah. Ayo kita mulai lagi dari awal. Aku akan membahagiakanmu."

"Hatiku sudah terlanjur hancur, Mas. Kaca yang pecah tak bisa kembali utuh seperti semula. Begitupun dengan hatiku."

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!