Dua Hati Satu Cinta
Penyesalan Arman
Arman mengacak rambutnya kasar. Tak percaya jika wanita yang sangat dicintai pergi meninggalkan rumahnya begitu saja. Bahkan kedua buah hatinya ikut pergi.
Dengan langkah lebar, pria itu melangkah tergesa ke dalam rumah. Netranya memindai seluruh penjuru ruangan. Terasa sangat dingin dan hampa. Rumah ini seperti telah ditinggalkan dalam kurun waktu yang lama.
Kedua matanya memicing saat foto-foto keluarga bahagianya dulu telah lenyap. Tak lagi menghiasi dinding rumah ini. Bahkan foto pernikahan yang sengaja ia pesang di ruang tamu itu pun tak ada. Seperti orang kesurupan, Arman segera berlari menuju kamarnya. Langkahnya panjang-panjang hingga melewati dua anak tangga sekaligus.
Kini tubuhnya merosot kala menyadari kamarnya juga telah kosong. Hanya tinggal tempat tidur berukuran besar dengan meja rias yang juga kosong. Hatinya masih tak percaya dengan pemandangan ini. Namun tak urung ia tetap mencari kepastian. Berharap masih ada sedikit harapan baginya.
Perlahan ia melangkah menuju lemari besar yang terdapat di balik pintu sebelah kamar mandi. Membukanya dan mendapati bagian tempat pakaian Amira telah kosong.
Tak patah semangat, pria itu berlari menuju kamar putrinya. Namun lagi-lagi ia harus kecewa dengan kenyataan ini. Semuanya telah tiada. Amira pergi membawa semua barang-barangnya. Begitupun dengan anak-anaknya.
"Amira, dimana kamu sekarang, Sayang? Apa kamu mau menghukumku? Tak apa, tapi tolong ... pulanglah. Jangan tinggalkan aku sendiri. Mari kita perbaiki semuanya dari awal."
Arman mengucapkan hal itu dengan perasaan kacau. Tubuhnya telah luruh di lantai. Kedua sikunya menumpu pada lutut dengan tangan mengacak rambutnya kasar.
Ia sangat menyesali keputusannya mengabaikan orang-orang yang dicintainya karena terlalu yakin mereka akan sabar menunggu. Pria itu sangat percaya diri bahwa Amira akan setia menantinya di rumah. Ia tak pernah menyadari jika kesabaran yang dimiliki Amira berbatas waktu. Ya, wanita itu telah membuktikan padanya bahwa ia bisa hidup tanpa dirinya.
Cukup lama Arman dalam posisi seperti itu. Meratapi nasibnya yang dirundung duka dan penyesalan mendalam. Bahkan uang dan kekuasaan yang ia miliki tak mampu membeli kebahagiaan. Untuk apa ia mendapatkan perusahaannya kembali jika akhirnya keluarganya hancur? Ia sendirian sekarang. Buat apa ia berjuang mati-matian mendapatkan kembali haknya di perusahaan setelah sempat direbut oleh Melly, jika orang yang disayang justru pergi meninggalkannya? Buat apa semua kekayaan yang dimiliki saat ini?
Hari-hari pria itu kini terasa sunyi. Ia hidup sendiri di rumah mewah itu. Tanpa istri dan buah hatinya. Hanya ada seorang ART yang akan datang setiap pagi, dan pulang setiap sore, juga seorang satpam yang menemaninya di rumah sebesar itu.
Ia telah menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaan Amira dan Bagas. Karena hingga saat ini, Bagas pun juga tak terlacak keberadaannya. Ia sempat menduga, pria itu lah yang menyembunyikan istri dan anaknya. Bukan. Bukan istri lagi. Mantan istri lebih tepatnya.
***
"Mbak Amira sangat cantik," puji Nessa yang saat ini sedang menunggu calon iparnya itu dirias.
Ya, hari ini Amira akan menikah dengan Bagas. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Amira menerima lamaran pria itu. Tentu saja ia tak langsung menerimanya mengingat ia sudah memiliki dua putri. Sedangkan Bagas masih perjaka.
Namun kebaikan dan dorongan dari keluarga Bagas telah meluluhkan hati Amira. Dan di sinilah ia sekarang. Di sebuah ruangan tempat ia dirias. Kedua putrinya juga ikut dirias. Meski hanya menggunakan gamis putih dan kerudung putih dengan rangkaian melati sederhana di kepala, Amira tampak sangat cantik hari ini.
Riasan minimalis yang terkesan natural membuat wajahnya tampak segar dan muda. Memang wanita itu masih muda. Usianya belum genap 30 tahun.
"Sudah, Mbak, ayo kita keluar!" ajak Nessa lembut.
Kedua putri Amira berjalan lebih dulu di depan kedua wanita itu. Detak jantung Amira berdegup kencang. Tangannya dingin karena keringat yang tak tahu tempat itu.
"Tenang aja, Mbak. Nggak usah gugup gitu," bisik Nessa seolah mengerti keadaan calon kakak iparnya ini.
Wanita berpakaian serba putih itu menyunggingkan senyum tulusnya pada sang calon adik ipar. Langkahnya semakin pelan tatkala di depan mereka sudah terpampang jelas tempat ijab qobul yang disetting secara syar'i. Ada hijab atau tabir yang membatasi tamu laki-laki dan perempuan.
Amira di dudukkan di sebuah kursi yang ada di pelaminan yang hanya bisa dilihat oleh tamu perempuan. Sedangkan di sebelahnya dengan hanya dibatasi tabir, ada sebuah kursi pelaminan lagi untuk mempelai pria.
Suasana menjadi hening ketika sang penghulu membuka suara. Ucapan lantang Bagas saat mengucapkan qobul terdengar merdu di telinga Amira. Seketika dadanya membuncah bahagia saat suara "sah" terdengar menggema di ruangan itu.
Setelah doa terucap, Amira ditemani sang adik ipar berjalan menuju tempat ijab qobul. Wanita itu menunduk malu. Sungguh tak pernah terpikirkan ia menikah dengan Bagas.
Setelah pernikahannya dengan Arman meski awalnya terpaksa, wanita beranak dua itu telah membuang jauh impiannya menikah dengan Bagas. Keduanya memang sempat ta'aruf. Bahkan Arman hampir mengkhitbahnya waktu itu. Namun, permintaan orang tua Arman yang memaksa Amira menikah dengan putranya membuat rencana pernikahan mereka batal.
Kini seolah Allah menjawab doa-doa Bagas, keduanya akhirnya disatukan dalam ikatan suci, mitsaqan ghalidzon" pernikahan.
Setelah menandatangani surat nikah, Bagas mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Amira. Lalu perempuan itu mencium tangan suaminya dengan takzim. Ada dia terselip indah dalam setiap interkasi kedua pengantin baru itu.
Bagas meletakkan tangan kanannya di atas puncak kepala sang istri. Tangan kiri menengadah ke atas lalu membaca doa yang diaminkan oleh sang pendamping.
Tatapan keduanya bertemu. Ada rasa bahagia membuncah di hati masing-masing. Setelah perjuangan panjang keduanya, kini Allah telah menyatukannya. Amira telah bebas dari penyakitnya meski kini tak lagi sempurna. Ia hanya memiliki satu ginjal hasil donor.
Namun semua itu tak jadi masalah bagi Bagas. Baginya, Amira tetaplah bidadari sempurna. Akhlak dan perilakunya benar-benar membuat siapapun ingin memilikinya. Karena ia adalah perempuan yang selalu menjaga diri dan kehormatannya. Menjaga agamanya dengan tetap berpegang teguh pada hukum-hukum syara'.
"Terimakasih karena kamu mau menerimaku, Ra. Semoga kamu bisa membersamaiku di dunia ini hingga akherat kelak," bisik pria itu membuat bulu kuduk Amira meremang.
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu, Mas. Dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaanku, kamu bisa menerima dengan ikhlas. Bimbing aku jika salah jalan. Ingatkan aku jika lupa dan melanggar kewajiban, Mas."
Wanita itu tersipu kala mengatakan keinginannya. Hal itu membuat dada Bagas berdetak semakin kencang. Meski bukan yang pertama, Amira merasa Bagas sebagai labuhan terakhirnya. Ia telah menyerahkan sisa hidupnya untuk sang suami dan akan berbakti kepadanya.
Senyum bahagia kedua mempelai menular pada seluruh tamu undangan. Atmosfer yang terbentuk di ruangan ini begitu menyenangkan. Tak ada yang tersenyum melihat dua pengantin itu.
Setelah melakukan sesi sungkem kepada orang tua Bagas, kedua mempelai kembali dipisahkan. Amira berada di pelaminan khusus perempuan. Begitupun sebaliknya.
Kedua putri Amira sangat manis. Tak ada yang rewel. Keduanya mengikuti prosesi sakral itu dengan duduk manis di samping Nessa. Hingga tiba-tiba si bungsu bangkit dan berjalan menuju Amira.
"Mama, adek lapar!"