Dua Hati Satu Cinta
Surat Cerai
"Mas?"
Amira celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Tak ada seseorang yang membersamai Bagas. Tidak mungkin ia menyuruh pria ini masuk sementara di dalam hanya ada dirinya.
"Amira, ada hal penting yang harus kusampaikan padamu."
"Iya, Mas. Tapi ... Nessa belum pulang. Apa tidak sebaiknya Mas tunggu Nessa dulu saja?"
Bagas mengangguk setuju walau sebenarnya ia sudah tak sabar untuk menyampaikan kabar ini. Dengan senyum mengembang, pria yang dengan tulus menolong Amira ini berbalik hendak meninggalkan Amira. Namun dari arah lift terlihat Nessa dan kedua putri Amira sedang berjalan menuju arahnya.
"Om Bagas ...!" teriak kedua malaikat kecil itu sambil berlari.
Serta merta Bagas berjongkok menyambut keduanya sambil merentangkan tangannya. Saking antusiasnya kedua anak itu menubruk Bagas, hampir saja pemuda itu terjengkang karena kurang keseimbangan. Untungnya dia masih bisa bertahan.
Tentu saja hal itu membuat mereka semua tertawa. Termasuh Amira yang tiba-tiba hatinya diselimuti kehangatan. Melihat kedekatan kedua putrinya seolah tak ingat lagi dengan keberadaan sang papa. Amira juga heran, kenapa kedua malaikat kecil itu tak pernah sekalipun menanyakan papanya.
"Anak-anak, salim sama Om terus masuk sini. Om-nya masih capek baru pulang kerja. Sini, sama Mama dulu. Ganti baju terus makan," ajak Amira yang disambut binar di mata kedua bocah itu.
Setelah mencium tangan Bagas secara bergantian, lalu mencium tangan Amira dan bergegas ke kamar. Mereka adalah anak yang penurut dan mudah diarahkan. Tak heran Nessa dan Bagas suka terhadap keduanya. Meski Amira sering ngedrop karena kondisinya yang makin melemah, mereka tak keberatan membantu mengurus dua bocil itu.
"Kakak ganti baju sendiri saja, Ma!" teriak si sulung sambil berlalu.
"Adek juga!" sambung si bungsu yang sudah tertelan pintu kamarnya.
Sementara kedua kakak beradik itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Mereka bersyukur bisa membantu Amira.
"O ya, Mas. Ada apa? Tadi katanya ...," tanya Amira yang langsung disambut anggukan oleh Bagas.
"Ada kabar baik, Ra. Namun ada juga kabar buruknya. Kamu ... mau dengar yang mana dulu?"
Amira tak paham dengan arah pembicaraan Bagas. Ia menatap Nessa seolah minta pendapat. Namun gadis itu hanya tersenyum sambil menggedikkan bahu. Seolah mengatakan, "terserah Mbak Amira saja mau yang mana dulu!"
Setelah berpikir agak keras, Amira meminta untuk menyampaikan kabar buruknya dulu. Sehingga ketika nanti hatinya goncang akan terobati dengan kabar baiknya.
"Oke, jadi kabar buruknya, tadi pengacara Arman memintaku untuk menyampaikan surat ini. Katanya kamu harus segera menandatanganinya."
Pemuda itu menyerahkan sebuah amplop putih berlogo timbangan. Tanpa membuka pun Amira sudah bisa menebak kalau itu surat gugatan cerai. Meski ia sudah mempersiapkan ini dari awal, tapi tetap saja hatinya berdenyut nyeri saat waktu ini tiba.
Dengan tangan gemetar, Amira menerima amplop itu dan membukanya. Sekuat tenaga ia menahan bendungan di matanya yang hampir menjebol pertahanannya.
Ia membaca deretan huruf itu dengan saksama. Maka dengan ditandatanganinya surat ini, pupus sudah harapannya untuk kembali rujuk dengan Arman.
"Kamu tak apa-apa, Ra? Kalau nggak kuat, menangislah. Setelah ini, tak boleh ada air mata lagi yang mengalir demi dia."
Ucapan Bagas menjadi penyemangat hatinya. Meski ia tak tahu kenapa pria ini begitu baik dan rela berkorban untuknya. Bukan tak tahu, lebih tepatnya takut menduga-duga.
Amira meminjam pulpen pada Bagas. Dengan tangan gemetar ia menggoreskan pena di atas kertas yang bertuliskan namanya. Dalam hati ia berdo'a semoga ini jalan yang terbaik buat dirinya dan kedua buah hatinya. Setelah ini, ia akan menutup rapat hati yang terbelah untuk nama Arman.
"Mas, bisakah aku minta tolong sekali lagi?"
"Tentu. Apapun untukmu, Ra."
"Tolong carikan aku pengacara untuk mengurus ini semua. Aku ... aku tak sanggup mengurusnya sendiri."
Bagas tersenyum dengan mata berbinar. Harapannya akan terkabul. Bukan dia bahagia atas derita Amira. Namun ia yakin ini adalah jalan terbaik supaya Amira tak terjebak pada pernikahan tak sehat ini.
"Kamu tenang saja, Ra. Aku pasti akan membantu menyelesaikan semuanya."
Beberapa saat suasana menjadi hening. Amira menunduk menyembunyikan deraian air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk ditahannya. Dadanya sakit mengingat rumah tangganya benar-benar hancur.
Perlahan ia menyusut air mata yang masih belum mau berhenti mengucur dari sudut mata indahnya. Lalu melirik ruang makan yang hanya di atasi partisi sepanjang 2 meter. Di sana kedua buah hatinya sedang makan dengan lahap. Tak ada yang membantu.
"Apa kamu menyesali keputusan ini, Ra?"
Pertanyaan Bagas membuatnya menoleh. Hidung mancungnya yang merah dengan kedua mata basah membuat hati Bagas mencelos.
"Tidak, Mas. Untuk apa aku bertahan dalam kapal yang sudah karam. Bukankah lebih baik aku meninggalkannya dan mencari kapal yang baru meski tanpa nahkoda?"
Bagas mencoba memahami kalimat Amira. Otaknya yang encer membuatnya cepat paham apa maksud dari ucapan itu. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Dalam hati ia berjanji untuk menjadi nahkoda bagi kapal Amira setelah ini.
Jalan baginya sudah terbuka lebar. Tinggal meminta restu pada Sang Pemilik kehidupan saja. Kedua orang tuanya telah setuju jika ia menggantikan posisi Arman. Namun ia juga tak mau buru-buru. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan wanita di hadapannya ini.
"Oh ya, Ra, barusan aku dapat telepon dari dokter, katanya sudah ada donor ginjal untukmu. Tapi ...," Arman tak melanjutkan kata-katanya. Sedikit berpikir apakah Akira akan menerimanya atau tidak.
"Benarkah? Alhamdulillah," ucap Amira dengan mata berbinar. Namun ia kembali lesu karena kalimat terakhir Bagas seperti ada sesuatu.
"Tapi apa, Mas?"
"Tapi nggak di sini. Dokter bilang, teman sejawatnya yang di Surabaya yang memberitahunya. Dia bilang, kalau mau langsung ke Surabaya saja. Nanti operasi dan pemulihan di sana sekalian. Dokter akan membuatkan surat rujukan dari sini kalau memang bersedia."
Amira kembali lesu. Bukan ia tak mau ke Surabaya untuk mendapatkan donor itu. Hanya saja ia memikirkan kedua putrinya. Bagaimana dengan mereka?
Tidak mungkin membawa keduanya ikut serta, sementara anak-anak harus tetap sekolah. Kalau ditinggal, siapa yang akan merawat keduanya. Seketika kebimbangan menyergap hatinya. Tidak, dia tak mungkin meninggalkan kedua putrinya. Namun kalau ia tak mengambil kesempatan ini, harapannya untuk bisa sembuh semakin jauh.
Saat ini kehidupannya dibantu oleh HD rutin. Yang semula seminggu sekali bertambah menjadi seminggu dua kali. Entah sampai kapan ia mampu bertahan. Padahal ia harus tetap hidup untuk demi anak-anaknya. Setidaknya sampai mereka besar.
Meski ia tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja dan menimpa siapa saja. Jangankan yang jelas-jelas sakit seperti dirinya, yang masih sehat dan muda sekalipun tak mampu mencegah jika sudah tiba waktunya.
Setidaknya ia sudah berusaha berjuang untuk mencapai kesembuhan. Tidak berpangku tangan sambil menunggu ajal datang. Kedua mata Amira terpejam dengan wajah menengadah ke atas.
Bagas tahu kegelisahan Amira. Ia mengusulkan untuk membawa serta kedua putrinya dan pindah sekolah di sana. Memulai hidup baru di Surabaya supaya bayang-bayang masa lalu bersama Arman tak lagi menghantui.
"Jika kamu setuju, aku akan segera menguruskan kepindahan anak-anak sekaligus mencari rumah kontrakan untukmu. Nanti, kamu bisa bayar ART untuk membantu mengurus mereka. Gimana?"