Dua Hati Satu Cinta
Mengambil Keputusan
Kedua orangtuanya Arman juga berada ke Singapura saat ini. Dia diminta ke sana karena ada suatu hal. Belakangan Bagas dapat kabar dari salah satu pegawai Arman yang sering kontak dengan Bagas kalau pria itu terpaksa menikah dengan Melly. Bagas tak tahu apa penyebabnya. Kalau soal foto-foto itu, dia rasa masih bisa diatasi. Karena menurut hasil penyelidikan detektif sewaan Arman, semua hanya jebakan.
Tapi ternyata di luar pengetahuannya, Arman telah dijegal oleh orang-orang yang telah dibayar oleh Melly sehingga perusahaannya terancam bangkrut. Dan satu-satunya cara agar tetap beroperasi adalah bekerja sama dengan perusahaan Melly.
Entah bagaimana caranya perempuan itu mampu memengaruhi semua clien Arman sehingga banyak yang memutuskan kontrak dengan perusahaan Arman.
Bagas menghembuskan napas kasar mengingat betapa liciknya wanita itu. Hingga orang tua Arman yang begitu bijak dan sayang sama Amira rela mendukung pernikahan itu.
"Ra, sebenarnya mertuamu juga sedang di Singapura sekarang."
"Apa?!"
Amira melotot mendengar ucapan Bagas. Otaknya terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi hingga mertuanya ikut ke negeri seberang. Dan kenapa mereka tidak memberitahukan kepadanya sama sekali? 'Apa sekarang mertuanya juga sudah tak peduli lagi pada kedua cucunya?' batin Amira berbicara.
"Begini saja, Mbak, setelah keluar dari rumah sakit, Mbak Amira ikut kita aja ke rumah. Biar ada yang jagain dan antar jemput anak-anak," usul Nessa memecah lamunan Amira.
"Tidak, Nes. Itu tidak akan terjadi. Saat ini aku masih masa Iddah. Mana boleh keluar dari rumah itu tanpa seizin Mas Arman. Lagipula, aku nggak bisa tinggal sama ...," Amira melirik Bagas sekilas, lalu kembali berucap, "Mas Bagas, karena kami bukan mahram," ucapnya lesu sambil menunduk.
Bagas paham dengan apa yang dipikirkan Amira. Wanita itu tak akan bertindak diluar batas syara'. Namun membiarkannya tinggal sendirian dalam kondisi sakit dan mengasuh dua anak juga bukan tindakan yang bisa dibenarkan.
Kalau saja Amira masih punya orang tua atau kerabat, masalahnya tidak akan serumit ini. Sejak SMA, Amira sudah menjadi yatim piatu. Dia hanya anak tunggal dan terpaksa hidup sebatang kara. Perjuangannya untuk bisa masuk perguruan tinggi juga tak mudah. Untung dia termasuk cerdas sehingga bisa mendapatkan beasiswa untuk pendidikannya. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, ia bekerja paruh waktu di sebuah minimarket.
Wanita yang terbaring di brankar ini seolah tak pernah merasakan bahagia dalam hidupnya pasca kepergian dua malaikat pelindungnya. Disaat ia mendapatkan cinta dari seorang pemuda yang shaleh, ia dipaksa menikah dengan Arman karena ternyata kedua orangtuanya telah berhutang budi pada Mama Endah dan Papa Edo dulu.
Baru saja ia bisa menerima kehidupan rumah tangganya, ia harus berpisah karena pihak ketiga. Dan sekarang, ia harus menjalani hari-harinya dengan penyakit yang cukup serius. Andai saja Amira bukan wanita yang beriman, mungkin ia sudah mengambil jalan pintas seperti orang-orang depresi pada umumnya.
"Amira, mungkin apa yang dikatakan Nessa itu benar. Kamu tidak harus tinggal bersamaku. Kamu bisa tinggal di apartemenku bersama Nessa dan anak-anak. Nanti biar aku yang akan antar jemput anak-anak kalau sekolah. Kebetulan arah rumahku ke kantor melewati apartemen."
"Tapi, Mas. Aku nggak bisa merepotkan kalian terus. Lagipula, ... Mas sudah tahu kan? Aku masih dalam masa ..."
"Iddah?" potong Bagas.
"Ya."
"Alasan kamu syar'i, Ra. Tidak berdosa kamu keluar dari rumah itu. Karena jika kamu memaksakan diri tetap di sana tanpa bantuan orang lain, kondisimu akan semakin memburuk. Padahal kamu tidak boleh terlalu capek untuk saat ini. Lagipula kamu harus rutin HD seminggu sekali."
"Aku bisa cari asisten untuk bantu-bantu di rumah, Mas."
"Apa Arman akan mengizinkanmu memasukkan orang asing ke rumah itu?"
Benar. Arman tidak akan pernah mengizinkannya. Dia sangat tak suka ada orang asing yang masuk ke rumahnya. Itulah sebabnya Amira tak bekerja. Supaya bisa mengurus rumah tangganya sendiri tanpa bantuan ART.
Wanita itu menarik tubuhnya agar bisa bersandar di kepala ranjang. Melihat hal itu, dengan cekatan Nessa membantunya.
Tatapan Amira bergantian menuju Bagas dan adiknya. Dia tak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan orang-orang baik ini. Dalam artian kembali dekat seperti ini. Mungkin inilah takdirnya. Berpisah dengan Arman dan bisa dekat kembali dengan Nessa yang sudah dianggap seperti adeknya sendiri.
"Gimana, Mbak? Setidaknya pikirkan juga nasib anak-anak. Mereka nggak mungkin bisa mengurus dirinya sendiri. Kalau mbak Amira menerima tawaran kami, aku akan dengan senang hati membatu mengurus mereka sampai mbak Amira sembuh."
Nelalui diakusi yang panjang, akhirnya Amira bersedia ikut ke apartemen sampai ia bisa mendapatkan donor ginjal sehingga ia bisa kembali mandiri tanpa harus menyusahkan orang lain.
***
Hari ini Amira audah diperbolehkan pulang dengan catatan harus radin kontrol. Dia juga diharuskan menjalani HD rutin seminggu sekali.
Sebelum ke apartemen Bagas, mereka mampir ke rumah Arman terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang Amira dan kedua putrinya. Tepat pukul empat sore, mereka tiba di apartemen. Hanya Nessa yang ikut tinggal di sana sesuai janjinya. Arman pulang ke rumah orangtuanya setelah semua kebutuhan Amira terpenuhi.
"Abang pulang dulu ya, Dek. Jaga mbak Amira dan anak-anak, kalau ada apa-apa langsung hubungi Abang!" pamit Bagas pada adiknya sebelum keluar.
"Ya, Bang. Bilang sama Mama sementara Nessa tinggal di sini. Tolong anterin barang-barang adik juga ya."
"Siap, tuan putri!"
Bagas melangkah menuju pintu setelah mengucapkan hal itu. Sementara Amira sudah tertidur lagi karena kelelahan.
Mulai hari ini kehidupan Amira tak lagi sama. Ia sudah tak bisa mandiri seperti dulu. Penyakit itu telah membatasi aktivitasnya. Ia tak mau kelelahan dan berakibat fatal seperti sebelumnya.
Untungnya kedua buah hati Amira sangat penurut dan nggak banyak tanya. Melihat mamanya sakit, mereka sudah mencoba untuk mandiri. Seperti mandi dan makan sendiri. Ia juga tak pernah rewel menanyakan papanya. Entah mengapa seolah mereka tahu kalau kedua orang tuanya telah berpisah. Hal ini membuat kehidupan selanjutnya akan lebih mudah.
Detik waktu terus berganti. Sudah dua bulan Amira tinggal di apartemen ini dan menjalani HD secara rutin. Bahkan sekarang jadwalnya ditambah dua kali seminggu. Pernah beberapa kali kedua kaki Amira bengkak secara tiba-tiba. Kata dokter, harus dilakukan HD lebih cepat. Akhirnya sekarang jadilah jadwalnya ditambah.
Sementara Arman hingga kini tak pernah ada kabarnya. Sekalipun tak pernah menghubungi Amira. Untuk sekadar menanyakan kabar putrinya pun tidak. Hal ini semakin memantapkan niat Amira untuk mengajukan gugat ke pengadilan.
Kini mereka sudah terbiasa hidup tanpa Arman. Ia juga masih bisa membiayai hidupnya dari hasil menulis. Bahkan beberapa novelnya sudah ada yang dikontrak PH untuk difilm-kan.
Suara bel menghentikan aktivitasnya menulis Amira. Saat ini ia sedang sendirian di apartemen karena Nessa sudah sebulan ini bekerja sebagai guru SMP. Selama Nessa mengajar dan kedua putrinya sekolah, Amira memanfaatkan waktu untuk menulis.
Dengan hati-hati, Amira berjalan menuju pintu. Setelah mengintip dari lubang khusus, Amira membukakan pintu itu.
"Mas?"