Dua Hati Satu Cinta

Keras Kepala

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Edo geram. 

"Mauku Arman menceraikan Amira, sekarang juga." 

Serempak semua orang menatap Melly dengan mata melotot. Kecuali Amira yang sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia sudah mengira bahwa perempuan tak tahu malu itu sengaja menyulut api cemburu padanya agar menuntut cerai pada suaminya. 

Ah, terlalu berharga rumah tangganya untuk dikorbankan. Apalagi jatuh pada perempuan tak bermoral dan ambisius seperti Melly. Namun jika ia tetap memaksa suaminya untuk tetap mempertahankan dirinya, ia khawatir perempuan itu nekat menghancurkan keluarganya. Terlebih ada Mama dan Papa mertuanya yang begitu berharga buat Amira.

"Melly! Kamu sudah sangat keterlaluan! Tidak ada dalam perjanjian kita aku harus menceraikan Amira!"

"Tapi kamu sudah melanggar janjimu, Mas! Kamu bilang mau menemui keluargaku waktu itu, tapi mana? Kamu malah menyuruhku untuk tidak menemuimu selama sebulan. Kamu sengaja mengulur waktu agar kita nggak jadi menikah, kan?" 

Melly semakin kalap. Ia sudah tak peduli lagi dimana ia berada saat ini dan siapa yang ada di hadapannya kini. Padahal, jika dia wanita normal dan berpikiran positif, harusnya ia bersikap lembut agar bisa meraih hati kedua orang tua Arman. 

Sekarang, dengan sikap dan ucapannya justru semakin menambah stigma negatif yang melekat pada dirinya. Sehingga memungkinkan untuk mendapat restu, jauh panggang dari api. 

Kelakuannya ini justru menggambarkan bahwa dia perempuan yang tak layak menjadi istri dan ibu. Karena seorang wanita, harus bisa menjaga kehormatannya. Dari wanitalah, generasi terbentuk. Karena wanita sebagai ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Di tanganyalah, masa depan anak dipertaruhkan. 

Wanita yang menjadikan ilmunya untuk modal mendidim anak, kelak anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Sebagaimana para ulama besar yang tak lepas dari jasa ibunya. Beliau menjadi yatim diusia yang masih kecil. Namun berkat didikan ibunya, beliau mampu menghafal Al-Qur'an di usia 7 tahun. Lalu beliau menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquran, beliau masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Menghafalkan hadits atau suatu permasalahan.Keadaan beliaudi masyarakat berbeda, beliau tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Syafi'i kecil pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis. 

Tentu, kesuksesan para ulama tak akan terwujud ditangan para wanita model Melly. Yang memiliki hobi mengumbar aurat dan mencari perhatian dari laki-laki beristri dengan cara merendahkan harga dirinya. 

"Melly, dengar, aku bukan laki-laki lajang. Aku memiliki istri dan dua orang anak. Tidak mungkin mengambil keputusan sepihak. Ada hati yang harus aku jaga. Ada orang-orang yang harus mintai pertimbangan."

Melly merasa tertantang dengan penolakan Arman. Obsesinya untuk memiliki laki-laki itu makin menggebu. Apalagi semua orang yang ada di sini seakan memojokkannya, membuat perempuan dengan dandanan menor itu makin geram. 

Jika dengan caranya ini, dia tak bisa mendapatkan keinginannya. Maka ia mengubah strateginya. 

"Baiklah. Mumpung semua ada di sini, dan sudah tahu sejauh apa hubunganku dengan Arman. Tolong, restui kami," lirih Melly akhirnya. Ia mengubah raut wajahnya yang semula sinis menjadi sedikit lembut dan mengiba. Berharap kedua orang tua Arman luluh dan merestuinya. 

"Tidak!" jawab Mama Endah dan Papa Edo kompak. 

"Kenapa, Tan? Apa karena Amira tak mengizinkan? Bukankah seorang laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu? Tak apa kalau memang Arman tak mau menceraikannya." Melly menjeda kalimatnya. Menatap Amira dan Arman bergantian. "Aku rela jadi yang kedua."

"Tidak, saya tidak merestui! Arman hanya akan memiliki Amira. Tidak boleh ada perempuan lain yang menjadi istrinya. Saya tak mau punya menantu licik sepertimu!" ucap Papa Edo membuat Melly geram. Giginya gemelutuk menahan emosi. 

"Satu lagi! Kamu tak pantas bersanding dengan putraku. Lihat dirimu, sangat jauh dengan Amira yang bisa menjaga adab. Bahkan kamu tak memiliki sopan santun sama sekali," timpal Mama Endah.

Dibanding-bandingkan dengan Amira, amarah Melly memuncak. Mukanya memerah dengan kedua tangan terkepal di samping tubuhnya. Ia tak terima direndahkan seperti ini. Dengan mengiba, ia mendekati Arman dan mencengkeram lengannya. 

"Mas, tolong katakan pada kedua orang tuamu kalau kita saling mencintai, kita akan menikah dengan atau tanpa restunya kan, Mas?" 

Tatapan Melly menyorot tepat pada manik Arman. Ia beracting sedemikian rupa supaya Arman luluh dengan aksinya. 

"Kalau Mas nggak mau menikahiku, bagaimana kalau ternyata aku hamil, Mas?"

"Ha--hamil? Emangnya kamu sudah melakukannya sama siapa, Mel? Kalau kamu hamil, kenapa aku yang harus menikahimu? Minta saja pertanggungjawaban orang yang menghamilimu!"

Mulut Melly menganga mendengar ucapan Arman. Ia tak menyangka jika pria yang dicintainya itu menganggap dirinya melakukan hubungan dengan orang lain. Padahal, ia sengaja menjebaknya semalam agar Arman mau menikahinya. 

"Mas!" jerit Melly tak kuasa menahan gejolak di dadanya. "Aku minta pertanggungjawabanmu karena semalam kamu sudah meniduriku! Kenapa kamu tega melemparkan tanggungjawab pada orang lain?" 

Suara perempuan itu menggema memenuhi ruangan. Amira tak mau lagi menganggapi. Ia memilih diam sambil memijit kepalanya yang semakin nyeri. 

Sementara Melly masih terus saja mengomel pada Arman. Tujuannya hanya satu. Menjadi istrinya. Siapa sangka ia kalah cepat dengan Amira yang sudah datang lebih dulu. Tentu saja, Amira akan memengaruhi mertuanya. Dan dia tak ada kesempatan untuk merayu dan mengiba pada kedua orang tua Arman. 

Bahkan dia justru mendapat penghinaan dari mereka semua. Rencananya gagal. Untuk menjerat keluarga itu, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. 

Ia merasa sudah kehabisan akal. Namun, bukan Melly namanya jika menyerah begitu saja. Apapun yang terjadi, dia akan terus berjuang untuk mendapatkan pria itu. 

"Emang apa yang sudah kulakukan padamu semalam, Mel? Aku bahkan tidak tahu apa-apa."

"Kamu lupa semalam kita sudah tidur bersama?" 

"Omong kosong! Kamu menjebakku dengan menaruh obat tidur dalam minumanku. Dan kamu sengaja membawaku ke hotel dalam keadaan tak sadar. Lalu kamu melancarkan aksimu untuk menjebakku, kan? Kamu sengaja berpose seolah-olah kita tidur bersama dan mengambil gambar untuk kau sebarkan."

Arman bicara dengan sangat tenang. Hilang sudah perasaan yang mulai tumbuh kembali untuk wanita ini. Kali ini, ia tak mau terjebak ketiga kali. Ia harus sangat hati-hati mengambil keputusan. 

"Trikmu sangat kampungan dan murahan!"

Mendengar hinaan Arman, dadanya serasa terbakar. Wanita itu berlalu tanpa pamit. Langkahnya yang lebar membuat wanita itu oleng. Heels-nya tak sengaja menginjak pinggiran tangga menyebabkan kakinya terkilir. Sontak hal itu membuatnya terjatuh dan berguling dua kali. 

Menyaksikan atraksi dadakan Melly, semua hanya melongo dan menyembunyikan tawanya. Antara kasihan dan puas sekaligus. Tak ada seorang pun yang berinisiatif untuk membantunya. Termasuk Arman. Namun beberapa kali ia mencoba bangun tapi gagal, hati nurani Amira terpanggil. Ia segera bangkit dan menolong wanita itu. 

Awalnya Melly menepis tangan Amira yang terulur menawarkan bantuan. Namun karena berkali-kali dia bangkit tetap gagal karena ngilu, akhirnya menerima bantuan itu juga. Melly menarik tangan Amira sekuat tenaga. Menyebabkan Amira yang tenaganya belum pulih sempurna, tidak kuat mengimbangi.

Akibatnya ia ikut jatuh terjerembab di samping Melly. 

 

"Aaaa ...." 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!