Dua Hati Satu Cinta
Hati Menjadi Beku
Kehadiran sosok laki-laki tegap yang sedang dibicarakan membuat ketiga orang yang sedang bersedih itu langsung diam dan kompak memasang ekspresi datar.
Arman tak tahu apa yang sedang terjadi. Namun ia merasa kalau diamnya mereka karena dirinya. Dengan ragu-ragu ia melangkah mendekati istrinya yang masih sembab akibat menangis.
"Sayang, kenapa menangis? Ada apa pagi-pagi sudah di sini?" Tanya lelaki itu pada istrinya. Tangannya terulur untuk mengelus puncak kepalanya, namun Amira menepis tangan itu secara halus.
Pria itu membeku mendapatkan penolakan dari istrinya. Netranya menatap kedua orang tuanya bergantian. Seolah bertanya "ada apa?", tapi keduanya hanya diam dengan tatapan dingin.
Merasa dadanya kembali terbakar, Amira memilih untuk berdiri dan masuk toilet. Itu hanya alasannya saja untuk menghindari suaminya. Bagaimanapun, perasaannya masih terluka. Ia belum siap untuk berbicara dengan orang yang telah membuatnya nggak bisa tidur semalaman.
"Ma, ada apa? Kenapa Amira menghindariku?"
"Kamu masih bertanya ada apa setelah apa yang kamu lakukan semalam? Mama tak pernah mengajarimu menjadi laki-laki penghianat, Ar. Kenapa kamu tega mencoreng nama Mama dan Papa, hah?"
Mama Endah sudah tak mampu menahan gejolak emosi. Anak laki-laki yang dibanggakannya selama ini begitu tega menyakiti keluarganya.
Perempuan setengah baya yang melahirkan Arman ke dunia ini tergugu. Dadanya sesak memikirkan nasib menantu dan kedua cucunya. Kalau disuruh memilih, ia lebih memilih memepertahankan Amira sebagai menantu satu-satunya daripad Melly.
"Ma, dengerin Arman dulu, ... Arman nggak pulang semalaman bukan karena berhianat, tapi ...,"
"Tapi apa? Kamu mau bilang kalau semalam nggak sengaja ketiduran di hotel bersama Melly gitu?" sahut Mama Endah tanpa menunggu putranya menyelesaikan kalimatnya.
Mendengar ucapan Mamanya, kedua netra Arman membulat. Dari mana mamanya tahu kalau ia ketiduran di hotel semalam? Ia juga nggak habis pikir, Mamanya tega menuduh dirinya tidur bersama Melly. Padahal tadi pagi, saat bangun, ia tak menemukan perempuan itu di sana. Bahkan pakaiannya masih terpasang rapi tanpa ada satu kancing pun yang terbuka.
Meski, hatinya tetap tak percaya kalau perempuan itu tak ada di sana semalam mengingat catatan kecil yang ditinggalkan di atas nakas.
"Ma-Mama tahu dari mana Arman nggak pulang semalaman?" tanya Arman gagap. Bodohnya ia, menganggap kedua orang tuanya nggak bakalan tahu. Keberadaan Amira harusnya sudah bisa ditebak kalau perempuan itu yang mengadu pada kedua orang tuanya.
Dari arah kamar mandi, Amira berjalan menuju single sofa yang berada di sebelah Papa mertuanya. Terlihat sekali perempuan yang melahirkan dua anak Arman itu habis menangis terlalu lama. Hidungnya merah dan mata sembab.
Arman menatap istrinya dengan tatapan bersalah. Namun wanita yang sudah menemani hidupnya delapan tahun ini tak mau balas menatapnya. Ia hanya menunduk sambil memilin jemarinya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Hanya napas mereka yang bisa di dengar telinga masing-masing. Arman sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini.
"Amira, maaf semalam ... Mas ketiduran," lirihnya.
Wanita bermata bulat itu mendongak. Menatap suaminya yang gantian menunduk.
"Ketiduran sama Melly maksudnya, Mas? Apa waktu sebulan begitu lama hingga Mas sudah tak takut lagi dengan murka Allah?"
Seketika Arman mendongak. Netranya menyorot tajam pada manik Istrinya. Rahangnya mengeras, tak terima dengan tuduhan sang istri.
"Jangan asal nuduh kamu, Ra. Aku memang ketiduran di hotel. Tapi sendiri," elak Arman. Dia nggak habis pikir, istrinya bisa menuduh hal sekeji itu. Pria itu sendiri yakin kalau semalam tidak terjadi apa-apa. Ia juga merasa tidak tidur dengan siapapun. Terbukti saat bangun tadi, tak ada seorang pun di kamarnya.
Meski sebagian sudut hatinya ragu, karena menemukan catatan kecil atas nama perempuan itu, tapi akalnya tetap menyangkal bukti itu.
"Maaf, Mas. Aku juga tak mungkin menuduh tanpa bukti," lirih Amira. Lagi-lagi air matanya tak mampu dibendung.
"Baik. Kalau kamu tidak percaya, tunjukkan buktinya padaku!"
Dengan tangan gemetar, Amira menyerahkan HP-nya yang sudah dibuka pada layar chat dengan Melly semalam.
Kedua mata Arman terbelalak melihat foto-foto dirinya terpampang jelas di sana. Ia terus menggeleng menyangkal apa yang dilihat kedua matanya. Jadi ini yang membuat Amira datang ke rumah Mamanya sepagi ini dengan mata sembab.
Kedua telapak tangan pria berjenggot itu mengepal erat. Manampilkan buku-buku jemarinya yang memutih. Dadanya serasa mau meledak menahan gejolak yang datang tiba-tiba.
"Amira, ini tidak benar, Sayang. Demi Allah aku dijebak!"
Tubuh Arman luruh di lantai. Ia merangkak menuju Amira dan bersimpuh di bawah kakinya. Meminta maaf dengan berlinang air mata.
Namun Amira bergeming. Tak sedikit pun wanita itu mengeluarkan suara. Dalam diamnya, ia menahan gejolak di dadanya yang sudah hampir meledak. Sebisa mungkin ia tak menyemburkan lahar panas di hadapan suami dan mertuanya meski hatinya ingin.
Andai Islam tak melarang seorang istri berkata kasar pada suaminya, sudah pasti ia mengumpat dan menyumpah-serapahi suaminya yang begitu tega berkhianat.
Tak mendapat respon dari sang istri, Arman pindah ke kaki Mamanya. Memohon maaf pada orang yang telah melahirkannya ke dunia. Nihil. Sikap wanita setengah baya itu sama dengan menantunya. Mereka bertiga seperti kompak mendiamkannya.
"Tolong, percayalah padaku. Itu semua fitnah. Wanita itu yang menjebakku. Ia mencampurkan sesuatu dalam minumanku hingga membuatku tiba-tiba pusing dan ngantuk tak tertahankan. Saat membuka mata, aku sudah berada di kamar hotel."
Dia mencoba menjelaskan kronologi kejadiannya meski ketiga orang itu tak menggubris. Setidaknya ia sudah berkata jujur.
"Amira, tolong percayalah padaku. Semalam tidak terjadi apa-apa antara aku dengannya. Mungkin ia sengaja memprovokasimu agar kamu melepaskanku."
Amira memicing. Lalu tatapannya berubah sendu. Pria yang dipercaya, ternyata nggak ada bedanya dengan laki-laki penghianat yang suka menyakiti istrinya diam-diam.
"Apa Mas juga ingin melepaskanku?"
"Ti-tidak! Aku tak akan pernah melepaskanmu, Amira."
"Lalu, kenapa kamu menemuinya? Padahal perjanjian kita sebulan. Apa sebegitu ngebetnya kamu sehingga tak tahan menunggu hari yang tinggal tiga minggu lagi?"
Pria itu terus meminta maaf. Menjelaskan bahwa apa yang dilihat istrinya dalam HP itu hanya fitnah. Bukan dia yang memintanya. Bahkan andai dia tahu kalau Melly ada di sana pada waktu yang sama, ia lebih memilih untuk tidak datang ke meeting itu bersama clien. Atau lebih memilih untuk segera kembali ke kantor saat meeting selesai.
Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Ia tak mampu untuk memutar waktu. Apapun yang terjadi semalam memang benar dia tertidur. Namun kebersamaannya dengan Melly menimbulkan tanda tanya besar di benaknya.
Dalam diam suara seseorang mengalihkan pandangan mereka. Di sana, di depan pintu muncul seseorang secara tiba-tiba. Kedatangannya seperti malaikat kematian yang mencabut nyawa. Tiba-tiba suasana menjadi lebih horor dari sebelumnya.
Perempuan itu menatap sinis pada Amira. Lalu, tanpa diminta, ia melangkah mendekati Arman dan meraih tangannya.
"Jangan kau rendahkan harga dirimu di depan wanita ini, Arman!"